
Honda Brio warna merah melaju kencang menembus gerimis dan membelah jalanan ibu kota. Pengemudinya menatap tajam mobil Mercedes warna hitam yang melaju kencang di depannya. Ia harus cepat. Ia tak boleh kehilangan jejak.
Sampai pada sebuah kafe, mobil yang ia ikuti itu memasuki pelataran dan mengehentikan mobilnya di sana. Sesosok pria matang yang masih gagah lantas keluar dari mobilnya. Pengendara Honda Brio bisa bernapas lega. Sepertinya pria yang ia ikuti itu tak menyadari keberadaannya. Narendra melangkah masuk dengan ekspresi tanpa curiga.
Gadis berambut cokelat itu segera mengikuti si pria dengan langkah mengendap-endap. Dirinya memang tidak ingin kehilangan jejak. Namun, alangkah baiknya ia tetap berhati-hati agar upayanya untuk membongkar tidak akan gagal total.
Melihat pria yang ia buntuti itu menghampiri seseorang yang sudah menempati salah satu meja, ia tersenyum penuh kepuasan. Kali ini upayanya untuk menangkap basah bisa dipastikan akan berjalan lancar. Target sudah masuk dalam perangkap. Sayang sekali, dari tempatnya berada saat ini, ia tak bisa melihat wajah seseorang yang tengah pria itu ajak bicara dengan jelas.
Dengan posisi duduk membelakangi, anehnya dia merasa perawakan wanita itu seperti tidak asing lagi. Bahkan sekalipun di muka bumi ini bertebaran pakaian dengan model dan warna yang sama, ia tetap yakin jika dress motif bunga yang dipasangkan dengan blazer warna hitam itu adalah milik seseorang yang ia kenal.
__ADS_1
Merasa tak percaya, ia menggelengkan kepalanya demi menghalau pikiran buruk yang tiba-tiba hinggap.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, sikap si pria yang begitu lembut terhadap si wanita membuat si penguntit jadi meradang. Tak sepatutnya dua orang tanpa ikatan saling berpegangan tangan di tempat umum. Terlebih dengan latar belakang si pria yang bukanlah orang biasa saja. Pria itu rentan mendapat sorotan dari para pencari berita.
Tak bisa menahan diri lagi, ia bergegas mendatangi. Ia harus menghentikan semuanya sebelum terlambat.
Wajah si wanita semakin terlihat jelas seiring langkah kaki yang mendekat. Ia menggemertak marah sambil mengepalkan jemari tangan. Kemudian tanpa sungkan menyapa keduanya dengan cara yang tidak diduga.
Narendra dan Alisha kompak menoleh ke arahnya. Seperti terkejut, mereka refleks menarik tangan masing-masing lalu berdiri.
__ADS_1
"Lara?" Keduanya menyebut namanya secara bersamaan.
"Iya! Ini aku!" Lara berucap lantang dengan mengangkat dagu penuh keangkuhan. Teriakannya mampu menarik atensi semua orang yang ada di sana hingga kompak memperhatikan mereka bertiga.
"Aku mencium aroma penghianatan yang kental." Lara tersenyum sengit sambil memperhatikan Alisha dan Narendra bergantian.
"Kau, adalah Papa yang selalu aku banggakan. Dan kau! Adalah sahabat yang paling aku andalkan." Telunjuk Lara menuding Alisha setelah sesaat menunjuk Narendra. "Bagaimana mungkin kalian bisa bersekongkol untuk menusuk aku dari belakang! Apa salah aku, hah!"
Kata papa yang terlontar ketika Lara menuding Narendra sukses membuat Alisha membelalak. Demi Tuhan, ia tak pernah tahu sosok papa yang selalu sahabatnya ceritakan selama ini. Jika memang benar demikian, bukankah status mereka adalah saudara tiri?
__ADS_1
"Lara, Papa bisa jelaskan, Nak." Narendra yang sama terkejutnya dengan Alisha akhirnya angkat bicara. Ia berusaha membujuk putrinya yang tampak terpukul oleh kebersamaan dirinya dengan Alisha. Namun, ia merasa putrinya terjebak dalam kesalahpahaman hingga ia perlu segera meluruskan. Sayangnya itu percuma. Lara sudah kadung murka dan beranjak pergi membawa tangisnya.
Suara riuh rendah dari orang-orang sekitar mendadak membicarakan mereka dengan keburukan. Semua yang ada di sana bahkan memandang jijik pada Alisha dan Narendra.