Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Siapa Boy?


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Lara berbelok ke sebuah butik setelah beberapa lama menempuh perjalanan. Lara mengajak Alisha masuk sambil menggandeng tangan. Sambil berjalan gadis itu bercerita.


"Ini adalah butik langganan aku dan Mama. Bajunya di sini cantik-cantik. Limited edition. Kalaupun tidak suka model baju yang ada di sini kita juga bisa memesan. Kamu pasti tau sendirilah dengan istilah ada harga pasti ada rupa."


Alisha hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi cerita bernada ceria saudari tirinya.


Saat keduanya masuk ternyata mereka sudah disambut. Seorang wanita tinggi semampai layaknya model memeluk dan cipika-cipiki bersama Lara dengan gaya elegan. Keduanya terlihat sangat akrab saat saling sapa.


"Apa kabar, Cantik?"


"Baik, Aunty."


"Kau sudah dewasa ternyata. Sebentar lagi bertunangan dan akan segera menikah. Semoga kau bahagia, Sayang."


"Terima kasih, Aunty."


"Kembali kasih, Cantik. Hai. Ini siapa?" Wanita itu menggeser pandangan pada Alisha lalu bertanya pada Lara.


"Oh iya, Aunty. Kenalin, ini Alisha. Saudara tiri aku. Alisha, ini Aunty Selena, pemilik butik ini." Lara menatap Selena dan Alisha bergantian.


"Halo, Alisha. Kamu cantik sekali." Selena memeluk Alisha lalu cipika-cipiki, persis seperti dengan yang ia lakukan pada Lara. Hanya bedanya, Alisha sedikit kaku lantaran belum terbiasa.


"Terima kasih, Aunty." Alisha tersenyum rikuh. Ia memanggil Selena mengikuti bagaimana Lara memanggilnya. Keduanya saling pandang lalu tersenyum bersamaan. Selena terlihat tidak terkejut ketika Lara membawa Alisha. Ia sudah lebih dulu mendengar cerita tentang Alisha dari bibir sahabatnya sendiri, Helena.


"Aunty, gimana gaun buat aku? Apa udah siap?" tanya Lara, membuat Selena yang tengah memperhatikan Alisha seketika menoleh ke arahnya.


"Tentu saja sudah, Cantik. Aunty ada beberapa gaun yang aduhai buat si cantik Lara. Dina!" Selena memanggil nama salah satu karyawannya. Beberapa pelayan butik kemudian membimbing Lara menuju ruang ganti. Tinggallah Alisha bersama dirinya berdua di sana.


Tak ingin gadis lugu itu canggung, Selena mengajak Alisha mengobrol sambil melihat-lihat gaun rancangannya. Alisha terlihat takjub dengan pakaian indah itu yang kesemuanya berharga fantastis. Selena sendiri sudah mendapatkan pesan dari Helena agar memilihkan satu gaun untuk Alisha juga. Hingga akhirnya, wanita itu mengambil satu gaun berwarna gold dengan model simpel yang girly.


"Alisha, sepertinya yang ini cocok deh buat kamu."


Alisha yang awalnya sibuk melihat-lihat sontak berbalik badan dan menghadap Selena yang berada di belakangnya. Seketika mata gadis itu pun berbinar.


"Cantik banget, Aunty," ucapnya takjub.


"Benar. Kamu pasti semakin cantik mengenakan gaun ini. Cobalah," titah Selena.

__ADS_1


Alisha mengangguk senang. Gadis itu bersikap patuh ketika Selena membimbingnya ke ruang ganti.


Sementara itu di ruang ganti lain, Lara tengah tersenyum semringah saat melihat gaun cantik desain Selena yang nantinya akan ia kenakan di hari pertunangan. Gadis itu menghadap cermin, lalu menempelkan gaun itu pada tubuhnya tepat di bagian depan. Ia bahkan mengabaikan ponselnya yang terus bersuara dari dalam tas jinjing mahal yang tadi dibawa.


Walaupun awalnya seperti tak terpengaruh, tetapi lama kelamaan gadis itu merasa terusik juga. Ia menggerutu kesal sembari mengambil ponselnya di sana.


Mata gadis itu membeliak setelah membaca nama pemanggil yang tertera.


"David? Mau ngapain sih dia ini?" Lara bergumam geram. Wajahnya menampilkan ekspresi tak bersahabat. Untuk beberapa saat ia hanya mematung memandangi layar ponsel yang berkedip-kedip, sampai suara ring tone benda pipih itu berhenti dengan sendirinya.


"Nona tidak mau mengangkatnya? Barangkali saja itu penting. Saya mendengar ponsel Nona tadi sudah berdering lebih dari lima kali," ujar pelayan butik yang bernama Dina itu. Namun, alih-alih mendapat respon positif, ia malah dibentak oleh klien dari bosnya itu.


"Mau angkat atau enggak itu urusan saya ya, Mbak! Nggak usah ikut campur, deh!"


"I--iya, Nona. Maafkan saya." Gadis itu menunduk dalam penuh rasa bersalah. Kemudian ia memilih menyingkir lantaran hendak memberikan privasi kepada Lara.


Lara memijit pelipisnya sepeninggal gadis itu. Napasnya berembus kasar. Gara-gara David ia jadi marah-marah pada orang yang tidak salah. Rupanya kekesalan Lara belum berhenti sampai di situ saja. Ia semakin bertambah pusing setelah membaca pesan singkat dari pemuda itu.


Sial. Lara mengumpat dalam hati. Ia menaruh kembali gaunnya begitu saja, kemudian berjalan pelan menuju bilik ganti pakaian yang lainnya. Ketika itulah Selena melihatnya dan langsung membelalak lantaran heran.


"Belum, Tante. Alisha mana ya?"


"Ada di dalam. Dia sedang mencoba gaunnya." Tangan Selena menunjuk ke arah bilik.


Pandangan Lara terarah ke sana lalu bergegas membuka tirai. Sejenak gadis itu tertegun melihat penampilan Alisha yang sudah mengenakan gaun pilihannya. Cantik. Elegan. Sangat cocok dengan Alisha.


"Lara. Ada apa?" Alisha yang terkejut pun pada akhirnya memutuskan bertanya. Lara yang mematung sesaat sontak mengerjapkan-ngerjapkan mata.


"Al, kau bisa membantuku, kan?"


"Tentu saja. Memangnya apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Alisha tak keberatan.


"Bisa kau wakili aku fitting gaun? Aku harus pergi sekarang."


Bukan hanya Alisha yang membelalak. Tetapi Selena juga.


"Why, Cantik? Ada apa? Kau mau ke mana, Sayang?"

__ADS_1


"Lara harus pergi, Aunty. Ini mendesak."


"Apa yang terjadi, Lara? Apa ada yang serius? Fitting baju tidak akan lama. Kau mau pergi ke mana?" Alisha pun tak tinggal diam. Ia menatap Lara dengan cemas.


Lara terlihat menyesal. Ia lalu menatap Alisha dengan ekspresi memohon. "Bantu aku sekali ini saja, Al."


"Tapi masalahnya, fitting baju mana bisa diwakilkan? Kita memiliki ukuran pakaian masing-masing."


"Ukuran tubuh kita sama, Alisha. Sepertinya tidak ada masalah jika ukuran gaunku disesuaikan dengan ukuran tubuhmu. Plis."


Lara kembali memohon. Dan Alisha tak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu benar-benar pergi setelahnya.


"Apa yang terjadi, heum? Kenapa Lara seperti itu?" Selena bergumam sembari menatap punggung Lara yang kemudian menghilang. Kemudian ia melanjutkan dengan nada penuh harap. "Aku harap dia tidak akan lari seperti ini di hari pertunangannya nanti."


***


Fitting baju tetap dilakukan meski Lara tak ada di sana. Beruntung Alisha sangat mudah diajak kerja sama, sehingga tidak menyulitkan Selena untuk melakukan tugasnya.


Wanita berusia di atas kepala empat itu memandang kagum pada Alisha. Gadis itu sangat cantik mengenakan gaun rancangannya.


"Kamu cantik sekali, Alisha. Kamu mirip seperti bidadari," pujinya dengan mata yang berbinar.


"Aunty bisa saja. Ini pasti karena gaun rancangan Aunty yang sangat cantik," Alisha balas memuji. Namun, jelas itu bukan hanya pujian semata. Gaun rancangan Selena memang sangat cantik.


Semula, Alisha berpikir Lara memilih sebuah gaun biasa untuk dikenakan di hari pertunangan. Namun, nyatanya gaun yang dipilih Lara tak ubahnya dengan gaun pengantin saja. Gaun berwarna putih model mermaid itu bertabur payet dan berlian Swarovski.


Bukan hanya terlihat mewah saja, tetapi harganya memang sangat mahal. Alisha bahkan tak sanggup menerka-nerka harganya berapa. Bertanya pada Selena sepertinya juga tidak sopan. Lara benar-benar ingin pertunangannya berjalan dengan sempurna. Dan kesempurnaan bagi gadis itu adalah kemewahan.


Rupanya Selena tak puas hati hanya dengan meminjam tubuh Alisha sebagai media mengepaskan ukuran gaun itu saja. Ia malah mendandani wajah gadis itu dengan make-up ala pengantin. Menata rambutnya sedemikian rupa dan memakaikan mahkota kecil yang memang kelak akan dikenakan Lara. Bagaimana gadis itu tidak terlihat seperti pengantin sungguhan coba? Alisha sendiri bahkan merasa tak bosan memandangi dirinya sendiri melalui pantulan cermin. Ia merasa pangling hehe.


Saat Selena dan Alisha tengah sibuk menata ujung gaun yang menjuntai, salah satu anak buah Selena bergerak sigap menyapa seseorang dengan gaya sopan khas karyawati butik. Sepertinya ada seseorang yang datang. Alisha tak terlalu mempedulikan sebab tengah sibuk melihat ke arah bawah, tepatnya tepian gaun Lara yang dipenuhi renda dan payet.


Sementara hal sebaliknya justru dilakukan Selena. Sebagai pemilik butik, tentunya ia harus bersikap ramah dan menyambut siapa saja yang datang. Seperti sekarang ini. Ia buru-buru meninggalkan Alisha demi menyambut tamunya.


"Hai, Boy! Kau datang juga rupanya. Aunty senang, sekali. Aunty nyaris putus asa karena nggak ada model pria untuk cobain jas pertunangan kamu."


Tubuh Alisha menegang pada posisinya mendengar kata-kata pertunangan. Bola matanya ikut membulat. Memangnya siapa orang yang Selena panggil dengan sebutan Boy?

__ADS_1


__ADS_2