Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Belum muhrim


__ADS_3

Melirik kaca spion kanan, Dante lantas memukul stir mobilnya dengan marah. Alisha tampak biasa-biasa saja saat melihatnya, bahkan bersikap selayaknya orang asing yang belum saling mengenal di hadapannya.


Jujur, Dante memang sengaja memaki Alisha saat gadis itu berada di tengah jalan tadi. Ia ingin melihat keterkejutan di wajah Alisha setelah memperlihatkan penampilannya yang berbeda dengan sebelumnya. Ia ingin menunjukkan bahwa kehidupannya yang sekarang jauh lebih baik dari saat bersama gadis itu.


Namun, yang terjadi apa? Ia hanya dibuat jengkel dan kesal akan kenyataan yang terjadi. Pasalnya, boro-boro Alisha memandangnya kagum dan menyesal telah memberi penolakan, gadis itu justru tak acuh dan enggan menatapnya.


Mungkinkah Alisha sudah tahu jika sebenarnya gue anak orang kaya, atau memang gadis itu sangat mahir menguasai keadaan? Gue pikir dia bakalan terperangah lihat mobil yang gue bawa. Tapi nyatanya apa! Sial.


Menginjak pedal gas, Dante membawa mobilnya melaju kencang menjauhi perkampungan kumuh yang sempat menjadi tempatnya berpijak beberapa waktu lalu. Bukan hanya Alisha saja yang telah menggoreskan perihnya luka, tetapi juga daerah yang menjadi tempat bertemu mereka itu. Karena di setiap sudut yang pernah ia singgahi memiliki kenangan tersendiri bersama Alisha.


Entah demi apa ia nekat melalui jalan ini. Jalan yang bahkan arahnya bertolak belakang dari tempat tujuannya. Jelas, untuk memanas-manasi Alisha lah, tepatnya. Namun, sepertinya ia salah sasaran. Bukannya Alisha yang merasa panas, tetapi justru dirinya yang merasa terbakar.

__ADS_1


Benar-benar membagongkan!


Setelah menempuh setengah jam perjalanan, Dante membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah mewah berpagar menjulang. Rumah yang sebenarnya tak ingin ia singgahi tetapi harus ia singgahi. Sebab di dalam sana, ada seorang gadis yang tengah menantinya untuk diajak jalan.


Benar saja. Lara yang sudah tampil cantik dengan balutan dress cantik warna peach sudah berdiri di teras depan untuk menyambutnya datang. Melihat itu bukannya tersenyum senang, Dante justru mendengkus sebal. Jika saja bukan Narendra yang meminta ia tak ingin datang kemari. Bersikap seperti orang yang sedang kasmaran dan menjemput calon tunangannya untuk diajak jalan.


"Hai, Sayang," sapa Lara dengan sikap ceria ketika Dante berjalan ke arahnya. Gadis itu memasang senyum secerah mentari dan langsung menggamit lengan Dante tanpa sungkan begitu pemuda itu berdiri di depannya. Tak peduli dengan ekspresi tak suka Dante, ia kembali menambahkan sembari memanyunkan bibirnya manja. "Kok nyampenya lama banget, sih? Aku udah lebih setengah jam loh, berdiri di sini. Nungguin kamu."


"Lepas. Belum muhrim, jadi nggak bisa sentuh-sentuh sembarangan!" ketus Dante dengan wajah tak bersahabat.


Lara mengepalkan tangannya tanpa sepengetahuan Dante. Bagaimana pun juga ia adalah anak gadis dari keluarga terhormat. Perlakuan Dante benar-benar membuatnya sakit hati. Tidak bisakah pemuda itu bersikap manis sedikit saja mengingat kelak mereka akan membangun rumah tangga? Atau, paling tidak sedikit saja Dante berpura-pura meski saat ini belum tumbuh rasa cinta di antara keduanya?

__ADS_1


Ingin rasanya Lara memukul kepala Dante dari belakang. Namun, sepertinya itu tak masuk akal hanya karena sebuah kekesalan. Toh ia memiliki sebuah rencana besar yang pastinya tak boleh gagal. Alhasil, Lara hanya bisa menghembuskan napas panjang demi menghalau kejengkelan.


Sabar, Lara. Sabar. Lara mengusap dadanya pelan. Selanjutnya, ia pun menyusul Dante yang lebih dulu masuk ke dalam rumah, sambil pasang wajah ceria seolah tak terjadi apa-apa.


"Pagi, Om," sapa Dante saat menemui Narendra yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Meskipun tidak ada hati terhadap Lara, tetapi sebagai calon menantu ia perlu bersikap sopan terhadap calon mertuanya. Ia harus menjaga hubungan baik antar dua keluarga sebab perjodohan ini terjadi juga atas kemauannya.


"Dante." Meletakkan ponselnya ke atas meja, Narendra lantas berdiri menyambut Dante. "Apa kabar?" Pria berusia matang itu mengulurkan tangannya demi mendapat sambutan salam dari sang calon menantu.


"Baik, Om," balas Dante seraya menyalami Narendra.


"Silahkan duduk. Kamu kelihatan segar dan bertenaga, ya. Persis seperti jaman Om masih muda dulu."

__ADS_1


Tak tahu harus menanggapi pujian Narendra dengan cara apa, Dante hanya mengulum senyum tanpa berucap apa-apa. Apalagi kini Lara sudah muncul dan tiba-tiba duduk di sampingnya. Membuat air mukanya sedikit berubah saat itu juga. Dante tetap memaksakan senyumnya, setidaknya sampai ia membawa Lara keluar dari rumah itu.


__ADS_2