
Tabungan yang terkuras membuat Alisha bekerja lebih keras. Capek tak lagi dirasakan. Lelah tak bisa dijadikan alasan. Sebab, yang ada di benaknya hanyalah cuan. Cuan dan cuan. Tak ada waktu untuk hal lainnya. Sehingga Alisha sama sekali tak menolak setiap kali ada pesanan. Sebanyak apa pun itu, selagi dirinya mampu.
Biar saja ia dibilang mata duitan. Toh ia mendapatkan uang itu dari jerih payahnya sendiri.
Saat itu matahari sudah tergelincir ke ufuk barat. Alisha baru selesai mengantar semua pesanan. Seperti biasa, ia mengayuh sepeda ontelnya dengan santai sembari menikmati jalanan sore di sekitar tempat tinggalnya. Sesekali ia tersenyum dan menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan. Ia memang gadis berhati mulia. Tak jarang memberikan sisa kuenya pada orang yang membutuhkan.
Keberadaan orang-orang baik di sekitarnya ternyata cukup ampuh mengalihkan ingatan Alisha pada Dante yang kini sudah bahagia bersama Lara. Alisha lebih merasa tenang setelah berusaha untuk' ikhlas.
Benar kata Sena. Mengingat-ingat Dante hanya membuang-buang waktu saja. Ia butuh bahagia. Ia juga masih memiliki ibu yang butuh diperhatikan. Teruslah berkarya dan semangat membesarkan usaha.
"Bukankah lebih baik berdiri di atas kaki sendiri daripada mengandalkan orang lain? Tapi jangan niru gue, ya? Lo itu terlalu suci buat jadi kupu-kupu malam kayak gue," kata Sena waktu itu. Dan Alisha hanya menanggapinya dengan gelak tawa.
Bagaimana mungkin iblis betina membisikkan sesuatu yang baik terhadap manusia. Sena sadar dirinya adalah pendosa. Namun, ia tidak mau membawa Alisha untuk ikut serta, juga belum siap untuk melakukan pertaubatan. Alisnya paham itu. Ini benar-benar membingungkan.
Terlalu sibuk dengan kelana angannya sendiri, Alisha sampai-sampai tak melihat sebuah Rubicon warna merah yang terparkir di depan gerbang. Sampai ketika Alisha memarkirkan ontelnya di depan rumah, ia baru menyadari ada sesuatu di luar perkiraan.
Seingatnya, tadi ia meninggalkan ibunya sendirian di rumah seperti biasanya. Namun, suara obrolan yang terdengar dari dalam membuatnya bertanya-tanya.
Alisha menautkan alisnya. Suara laki-laki yang sayup terdengar itu membuat Alisha merasa tidak nyaman. Dia bukanlah tipe manusia yang begitu mudah menaruh kecurigaan. Maka, meski dengan langkah ragu, bergerak mendekati pintu untuk memastikan.
__ADS_1
Benar saja. Sosok Narendra tengah duduk di seberang ibunya. Pria itu sontak mengalihkan pandangan saat menyadari kedatangannya.
"Alisha?" panggil Narendra.
Tak ingin terlibat pertemuan dengan pria itu lagi, Alisha segera berbalik badan berniat untuk lari. Narendra yang sudah hapal kebiasaan putrinya akhir-akhir ini pun bergerak cepat menyusul Alisha.
Sial. Sebuah batu berukuran sedang menghalangi langkah Alisha. Gadis itu tersandung, lalu terhuyung ke depan. Ia terjatuh di bebatuan. Rasa nyeri langsung menjalar di area lututnya. Sambil terduduk di pelataran Alisha meringis menahan sakit.
Entah secepat apa langkah Narendra saat mengejar, hingga pria itu sudah ada di belakang Alisha. Menyadari itu Alisha segera bangkit untuk menjauh. Bukan karena benci. Tetapi demi menepati janjinya terhadap Lara. Ia tak bisa mengkhianati permintaan gadis itu untuk menjauhi sang papa.
"Alisha tunggu!" panggil Narendra lagi. Dan kali ini pria itu sukses meraih tangan sang putri.
Hati Alisha sangat sakit harus bersikap seperti ini. Jujur, dari lubuk hati yang terdalam, Alisha sudah memaafkan sang papa. Ia ingin memberikan pria itu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Namun, keadaan menuntutnya melakukan tindakan yang berlawanan.
"Dengarkan Papa, Nak. Papa ingin bicara," mohon Narendra.
"Aku tidak mau! Tolong, jangan memaksa," lirihnya memohon sambil mengusap sudut mata. Ia tetap berusaha melepaskan diri tetapi Narendra menahannya. Hingga, sebuah suara yang memanggil dari arah lain, sukses menghentikan pergerakannya.
"Alisha!"
__ADS_1
Alisha langsung menoleh ke sumber suara, dan mendapati Lara tengah berlari kecil menyusulnya.
"Lara?" Alisha seperti tak percaya. Bagaimana bisa Lara ada di sana? Bukankah tadi hanya ada papanya saja?
"Al, jangan pergi. Dengarkan dulu Papa bicara," ujar Lara dengan napas terengah setelah berdiri di hadapannya.
Alisha yang masih tak mengerti hanya bisa menatap Lara bingung, selanjutnya berganti menatap Narendra saat pria itu juga membuka suara.
"Sayang, ikutlah bersama kami. Beri Papa kesempatan untuk menebus kesalahan di masa lalu."
Kata-kata Narendra membuat Alisha tergemap. Ia bahkan merasa tak percaya dengan apa yang didengar. Benarkah Narendra memintanya ikut bersama? Ke rumahnya yang megah?
Pandangan Alisha lantas bergeser pada Lara. Gadis itu tersenyum manis, mengangguk meyakinkan.
Janggal. Itulah yang ada di benak Alisha. Bukankah beberapa waktu lalu Lara terang-terangan memintanya menjauhi Narendra? Lantas, untuk apa tiba-tiba dia datang bersama papanya? Secepat itukah dia berubah pikiran?
Melihat ekspresi ragu pada wajah Alisha, Lara kemudian meraih tangan Alisha untuk sekali lagi meyakinkan.
"Maaf, aku sempat egois sama kamu. Aku yang ingin menang sendiri. Aku yang ingin memiliki Papa kita sendiri. Tapi sekarang aku sadar, kamu juga memiliki hak yang sama terhadap Papa! Sebagai gadis manja yang selama ini tahunya aku adalah anak tunggal, wajar kan jika aku bersikap demikian. Waktu itu aku sangat shock. Tapi percayalah, sekarang aku sudah berdamai dengan keadaan."
__ADS_1
Keseriusan Lara, juga dukungan Wanda, akhirnya mendorong Alisha untuk menerima ajakan papanya. Namun, ada satu hal yang membuat Alisha merasa berat. Ialah ibunya. Bagaimana dengan Wanda jika dirinya meninggalkan rumah? Sementara ia tahu sendiri jika Wanda sudah melepaskan diri dari Narendra. Sepertinya sangat mustahil jika wanita itu ikut serta bersama anaknya.