
"Sial."
Alisha mendengar Dante mengumpat di sampingnya. Entah pada siapa. Ia bahkan tidak merasa melakukan salah. Bersamaan dengan itu kaca mobil di sisi kirinya naik hingga tertutup rapat. Jelas saja ia bingung dan menatap Dante dengan penuh tanda tanya.
"Kok ditutup?" tanyanya dengan kening berkerut. Dan Dante yang acuh tak acuh itu hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat.
"Debu."
Debu? Alisha mendengkus lirih seraya memanyunkan bibir. Rupanya Dante mengumpati debu. Aneh. Marah kok sama debu. Akhirnya dia hanya bisa diam dan pasrah. Toh dia tidak benar-benar kepanasan. Ngotot menurunkan kaca lagi juga percuma, sebab di sini ia hanya numpang saja. Banyak tingkah di mobil Dante bisa-bisa dia diturunkan di tengah jalan. Biarpun sekejam-kejamnya Dante, Alisha berharap hal itu tidak akan kejadian.
Lampu hijau menyala dan Dante langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rumah Wanda tak jauh lagi dengan tempat mereka berada kini, dan Alisha sudah menunjukkannya arahnya dengan benar.
"Apa yang lo bawa?" tanya Dante tiba-tiba.
"Bawa apa?" Alisha malah balik bertanya dengan ekspresi bingung.
"Ya elah. Ditanya bukannya jawab malah balik nanya!" ketus Dante sambil sejenak melempar pandangan ke arah lain. Sayangnya Alisha masih belum mengerti juga akan maksud pertanyaannya, hingga ia pun terpaksa meralat pertanyaan itu supaya lebih jelas. "Lo mau ketemuan sama nyokap, kan? Lo nggak bawa buah tangan apa-apa gitu?"
Bukan tanpa alasan Dante bertanya demikian. Ia melihat sendiri Alisha tak membawa apa pun juga sejak keluar dari rumahnya selain tak mungil tempat dompet dan ponsel. Benar saja, ditanyai seperti itu Alisha hanya menjawabnya dengan gelengan lemah dan wajah penuh sesal.
__ADS_1
"Dasar. Anak nggak tau diri, lo!" Dante pun memaki. Membuat mata Alisha langsung membeliak tak percaya. "Berapa hari lo nggak ketemu sama nyokap? Masih punya muka, nemuin dia tanpa bawa apa-apa? Dan tadi lo bilang apa? Mau mampir dulu ke suatu tempat? Memangnya mau ke mana?"
Alisha hanya diam sembari menunduk sedih. Entah mengapa mulut jahat Dante selalu berbicara fakta dan tebakan cowok songong itu selalu ada benarnya. Ia seperti tertampar. Namun, tidak serta-merta semua kata-kata Dante itu benar.
Semula Alisha sudah merencanakan lebih dulu membeli bunga segar untuk diberikan pada ibunya. Namun, lantaran Dante yang mengantar, dia jadi tak enak hati untuk minta ini dan itu seperti pada sopirnya. Bukan tidak mungkin Dante akan keberatan jika ia meminta pemuda itu menunggunya sementara beli bunga. Alisha tak ingin dikatai 'ngelunjak'. Ia hanya ingin menghindari sesuatu yang membuat pemuda itu kesal.
Alisha membeliak saat Dante melewati belokan ke arah rumah ibunya. Ia mengalihkan pandangan dari jalan itu ke arah Dante dengan panik.
"Loh, kok lurus? Rumah ibu itu di daerah sana, Dante! Harusnya tadi belok!"
Dante tak menggubris protes Alisha. Ia tetap mengendarai mobilnya dengan sikap santai dan pandangan lurus ke depan.
Alisha mendengkus kesal. Ia membuang pandangan ke luar jendela sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pikirannya juga jadi tak keruan. Panik, takut, khawatir. Entah apa yang direncanakan pemuda itu sampai-sampai melenceng dari tujuan sebenarnya.
"Ikut nggak?" Pemuda itu menawarinya. Dante yang berdiri di luar mobil setengah membungkuk demi bisa melihat wajah Alisha. Namun, justru penolakan bernada ketus yang dilontarkan oleh gadis itu.
"Ogah."
"Ya udah." Dante berucap datar. Sikap Alisha sama sekali tak menyinggung perasaannya. Pemuda itu kemudian berjalan meninggalkan Alisha entah ke mana. Alisha yang sudah kadung kesal tampaknya enggan mencari tahu sebenarnya apa yang Dante lakukan. Ia memilih diam tanpa melihat-lihat suasana sekitar.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dante kembali. Alisha yang tengah melamun dikejutkan dengan suara pintu mobil yang dibuka dari luar. Ekor matanya bergerak malas ke arah kanan, dan seketika membeliak melihat apa yang dibawa Dante. Saat itulah ia menyadari mobil Dante berhenti di mana.
"Nih, bawa." Dante berujar seraya memberikan sesuatu dari tangannya.
Alisha yang terbengong-bengong tanpa sadar menerima itu dengan mulut setengah ternganga. Mengamati benda itu dengan seksama lalu membawanya ke pelukan. Memandangi Dante yang sedang memasang seat belt, ia pun bertanya dengan polosnya.
"Kok beli buket bunga? Gede banget pula. Buat siapa?"
"Ya buat nyokap lo, lah. Masa buat lo."
Alisha terdiam. Tak tahu mesti berkata apa. Ia kembali menatap bunga yang dibawa, kemudian bergumam. "Cantik banget."
"Ya iya, lah."
Alisha menunduk seraya mengusap pelan kelopak mawar merah itu. Ada bulir bening yang nyaris menetes di sela senyumannya. Ada sesuatu yang menghangat dalam hatinya. Entah ia harus menyebut Dante apa. Tidak peduli tapi masih perhatian. Jika tidak sayang, tapi mengapa masih mempedulikan?
Entahlah. Yang jelas, hanya satu kata yang bisa Alisha ucapkan dengan wajah penuh haru biru.
"Makasih ya."
__ADS_1
Mendengar itu, Dante yang sudah menjalankan mobilnya seketika menoleh ke kiri dan menatap Alisha sejenak. Ada rona haru yang terpancar dari wajah cantik itu. Alisha bukanlah tipe gadis yang pandai berdrama untuk menutupi perasaannya. Dan Dante bisa menilai jika gadis itu benar-benar bahagia dan rasa terima kasih itu benar-benar tulus dari hatinya. Bagaimana mungkin dirinya tidak ikut serta bahagia?
Mengangguk pelan dan tersenyum tipis, ia pun menjawab, "Sama-sama."