
"Alisha ...."
Niken beringsut maju, lalu membelai lutut Alisha yang bersentuhan dengan lututnya itu dengan lembut. Ekspresi tak menyangka masih tercetak jelas di wajahnya. Sebelumnya Alisha bercerita panjang lebar tentang kehidupannya yang terpisah dari papa kandungnya, dan dirinya mendengarkan dengan penuh perasaan.
"Tante bener-bener nggak nyangka kalau kamu putrinya Mas Narendra juga. Beneran. Mungkin Dante juga sama kayak Tante, nggak nyangka. Iya kan, Sayang? Diam-diam Om Narendra punya dua putri, loh. Cantik-cantik lagi."
Dante yang semula ikut terbawa suasana dengan reaksi haru sang mama, langsung mendengkus lirih ketika Niken meliriknya sambil menggoda.
Jelas ia begitu bukan karena menyangkal kata-kata Niken, melainkan karena kepergok mengamini kata-kata mamanya yang menyangkut kecantikan Alisha. Lebih-lebih lagi, tepat di saat itu Alisha ikut-ikutan menatapnya pula.
Namun, baik Niken maupun Alisha sepertinya sama-sama tak mempermasalahkan sikap Dante itu. Sudah terbiasa mungkin. Keduanya malah lanjut mengobrol asik sambil menikmati kue bawaan Alisha.
"Gimana rasanya? Enak kan?" Niken bertanya sambil memperhatikan Alisha yang sedang menikmati kue.
Gadis itu mengunyah penuh penghayatan, lalu mengangguk mantap. "Enak, Tante. Enak banget."
Niken mengulas senyum. "Tuh, kan. Tante jamin nggak ada yang berani menyangkal kelezatan kue ini. Lain kali kamu main ke sini dan cobain resep ini sama-sama yuk. Tante yakin kue bikinan kita pasti bakal lebih enak dari aslinya."
"Sip, Tante. Aku pasti bakal sering-sering ke sini." Tanpa sadar Alisha menyanggupi ajakan Niken. Dan ketika ia menoleh pada Dante tepat di saat pemuda itu juga menatapnya, barulah Alisha menyesali kata-kata yang barusan ia ucapkan.
Sering-sering ke sini? Bukankah itu sama saja dengan sering-sering menemui Dante? Astaga. Apa-apaan aku ini? Pantesan aja muka Dante kelihatan heran gitu pas lihat aku.
"Eh, maaf Tante, tapi Alisha nggak bisa janji. Sepertinya belakangan ini Alisha bakalan sibuk banget, deh."
Niken yang sudah sempat semringah mendadak pasang wajah kecewa. "Kok nggak bisa janji? Memangnya sibuk apa sih, Al? Masa main ke sini sebentar aja nggak bisa?"
Alisha tersenyum kecut. "Anu, Tante ... Alisha baru ingat kalau dapat tugas kuliah banyak."
Tiba-tiba ekspresi wajah Niken berubah antusias. "Kalau gitu tugasnya bawa ke sini aja. Kerjain bareng-bareng sama Dante. Jelek-jelek gini Dante itu pinter loh. Iya kan, Dante."
Niken menatap wajah putranya, berusaha meminta dukungan. Sementara orang yang ditatap justru membulatkan bola mata, lalu bertanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Apa tadi Mama bilang? Aku jelek?"
"Iya," jawab Niken enteng, kemudian mengedikkan dagunya. "Kenapa? Memangnya masalah?"
Sejenak Dante terperangah sebelum kemudian memprotes dengan keras. "Astaga Mama! Jelas masalah, lah! Muka ganteng kayak artis gini kok dibilang jelek! Sebenarnya aku ini anak kandung apa anak pungut, sih?"
"Anak kandung."
"Tapi kenapa aku seperti dianakpungutkan?"
Niken terkekeh geli melihat tingkah kesal anak kesayangannya. Baginya Dante terlihat sangat menggemaskan seperti waktu kecil dulu. Dan sifatnya juga tidak berubah. Masih suka tidak terima jika dibilang jelek di hadapan teman-temannya.
"Karena sifat sombong itu nggak baik, Dante," jelas Niken kemudian. Bibirnya menyunggingkan senyum, sementara putranya justru memanyunkan bibir. Itu adalah jawaban yang sama setiap kali Dante mempertanyakan.
Dante yang sempat terlupa jika ada Alisha di sana pun menoleh ke arah gadis itu. Ia pun mendengkus lirih. Bagaimana tidak kesal. Rupanya Alisha tengah menunduk sambil mengatupkan bibirnya sangat rapat. Jelas sekali jika gadis itu tengah menahan tawanya agar tidak meledak.
"Apa! Apa yang lo ketawain!" ketusnya kemudian.
"Enggak kok. Aku nggak lagi ketawa," sangkalnya.
"Bohong."
Tanpa menunggu jawaban Alisha, Dante bangkit lalu beranjak pergi. Entah mau ke mana. Yang jelas wajahnya masih terlihat tak bersahabat.
Kedua wanita beda usia yang masih duduk di sofa itu menatap punggung Dante yang bergerak menjauh. Dan saat pemuda itu menghilang di balik pintu, keduanya saling pandang dan tertawa bersamaan. Tapi tak lama kemudian Alisha buru-buru menghentikan tawa dan membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Hal itu tentu saja tak luput dari perhatian Niken dan membuat wanita itu bertanya-tanya.
"Ada apa, Al?"
"Maaf karena saya jadi ikutan ketawa, Tante. Saya tau itu nggak sopan dan nggak pantas."
"Nggak sopan gimana?"
__ADS_1
"Itu ...." Alisha melirik ke arah pintu di mana Dante keluar dari sana. "Anak Tante sedang kesal, saya justru malah terbahak. Sepertinya Dante sangat marah," imbuhnya dengan nada tidak enak.
Niken terkekeh mendengar pengakuan Alisha. "Dante memang gitu orangnya, Al. Udah ah, nggak usah dipikirin. Tante ini mama kandungnya. Tante pasti tau lah, marahnya dia itu seperti apa. Dan asal kamu tau ya, ekspresi Dante tadi tidak sedang marah, loh." Niken sedikit berbisik ketika bibirnya mendekati telinga Alisha.
Alisha sendiri langsung menoleh menatap Niken dengan kening yang berkerut. "Kalau nggak sedang marah memangnya lagi apa, Tante?"
"Dia sedang malu," bisik Niken lagi dengan ekspresi meyakinkan. Alisha sendiri langsung terperangah. Sementara Niken menimpalinya dengan senyuman kemudian sekali lagi meyakinkan. "Iya, dia sedang malu. Jarang-jarang loh tuh anak mau disuruh-suruh seperti tadi. Malahan sampai ikut nimbrung obrolan wanita."
"Oh ya?"
"Iya. Tante juga heran. Pas Lara ke sini malah Dante tinggalin ngurung diri di kamar. Giliran Alisha yang ke sini kok ditungguin sama dia? Ya, biarpun pasang wajah judes kayak tadi, tapi kelihatan sekali kalau dia ada perhatian sama kamu." Niken menjeda ucapannya sembari mengamati Alisha dari ujung kaki hingga kepala. "Tante curiga deh, jangan-jangan Dante suka sama kamu, lagi?"
Alisha membelalak. "Apaan sih, Tante. Dante kan calon tunangan Lara. Ya nggak mungkin lah."
***
Alisha sedikit bernapas lega saat Niken pamit untuk mengangkat panggilan dari ponselnya. Gadis yang wajahnya sempat memerah lantaran malu itu memperhatikan punggung ramping Niken yang bergerak menjauh, lantas menghela napas panjang demi menetralkan perasaan.
Untung saja Niken tidak membesar-besarkan kecurigaannya, sehingga tak bertanya terlalu jauh mengenai keanehan yang terjadi pada Dante.
Entahlah seperti apa perasaan Alisha saat ini. Niken adalah ibu sekaligus wanita yang sangat baik. Bahkan terhadap dirinya yang baru saja wanita itu kenal. Bisa menjadi menantunya sungguh merupakan sebuah anugerah yang terindah. Ia tak bisa pungkiri jika cinta dalam hatinya hanya untuk Dante semata.
Namun, di sisi lain, Alisha tak boleh bersikap egois dengan merebut Dante dari Lara. Jikapun Dante juga mencintainya, tetapi banyak hati yang akan terluka. Orang tuanya juga pasti tak akan terima. Dan hati Lara akan hancur sehancur-hancurnya.
Alisha menutup wajahnya pelan menggunakan telapak tangan. Sejenak saja ia ingin memejamkan mata, berusaha mencari ketenangan lantaran jantungnya terus saja berdebar-debar. Demi apa pun, ia ingin semuanya baik-baik saja. Sekalipun dirinya harus mengorbankan kebahagiaan. Sudah cukup baginya bisa bertemu dengan sang papa. Ia hanya perlu berbakti, dan kebahagiaan akan datang pada saatnya nanti.
Baru juga dirinya sedikit merasa tenang, sebuah suara jentikan tangan terdengar di rongga telinganya. Ia segera menurunkan tangan dan membuka kelopak mata. Berpikir jika Niken lah yang kembali.
Namun, Alisha malah terlonjak saat yang ada di depannya bukanlah Niken seperti yang sempat ia pikirkan. Justru wajah rupawan yang menatapnya penuh kecemasan dengan jarak yang teramat dekat.
"Al, lo kenapa nutupin wajah? Lo nggak nangis kan?"
__ADS_1