Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Tersesat


__ADS_3

Alisha berjalan sendirian melewati ruangan demi ruangan tanpa sekat di rumah Dante. Awalnya masih santai, tetapi lama-kelamaan lebih cepat, sambil sesekali celingukan menoleh ke kiri dan kanan.


Sial. Alisha tersesat. Dalam hati gadis itu mengumpat. Bisa-bisanya ia begitu percaya diri mengiyakan usul Robby dan papanya untuk mengantarkan kue bawaannya itu sendirian ke dapur. Memangnya dia tahu di mana letak dapur? Sedangkan masuk rumah Dante juga baru sekali ini.


Ia semakin panik lantaran sudah berjalan sejauh itu, tapi belum menemukan satu pun seorang pelayan. Ke mana mereka? Sangat mustahil jika rumah sebesar dan semegah ini tak memiliki asisten rumah tangga.


Sampai di ujung lorong, Alisha menemukan sebuah pintu berukuran lebar yang tertutup rapat. Mungkinkah itu dapur? Walaupun sebenarnya ragu, ia tetap nekat mencari tahu. Perlahan sekali, ia memutar kenop pintu. Tidak terkunci rupanya, dan itu membuatnya mantap untuk mendorong.


Sial. Gadis itu buru-buru menutup pintu saat mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya. Ruangan itu bukanlah dapur, melainkan sebuah kamar tidur yang entah milik siapa. Untunglah tidak ada siapa-siapa di sana. Setidaknya tidak ada yang memergokinya tersesat di rumah orang.


Tak tahu arah dan tujuan membuat Alisha semakin kebingungan. Demi apa pun ia ingin kembali ke ruang tamu. Tapi sialnya ia lupa arah jalan kembali. Terlalu banyak ruangan yang dipisahkan dengan koridor, mungkin bertujuan untuk menjaga privasi.


Alisha berusaha menenangkan pikiran. Mungkin dengan pikiran yang tenang ia bisa mencari jalan yang benar. Ini persis seperti dirinya saat pertama kali di rumah papanya. Beruntung saat itu Lisa hadir dan mengajarinya banyak hal.


Oh Lisa, aku merindukanmu, huhuhu .... Andai kau ada di sini.


Lisa benar-benar membuatnya ketergantungan. Terbukti dengan ketidakberadaannya gadis itu, Alisha sangat kelimpungan. Di saat seperti ini ia sempat kepikiran untuk menelepon papanya di ruang tamu.


Oh tidak tidak. Bukankah ini sama saja mempermalukan diri sendiri di hadapan Om Robby? Mendesah pelan, Alisha kembali menyimpan ponselnya. Ia harus menemukan dapur tanpa ada yang tahu jika sebelumnya sempat tersesat.


Dengan tekad yang kuat, Alisha berjalan pelan sambil mengingat-ingat rute yang sebelumnya ia lalui. Berhasil keluar dari lorong kamar membuat gadis itu merasa tenang. Ia bergegas menghampiri ruangan yang mendapat cahaya matahari. Mungkin itu area belakang. Bisa saja tak jauh dari sana adalah dapur.


Hey, bukankah itu seorang pelayan? Alisha melihat ada seorang wanita berpakaian serba hitam dengan bawahan rok span tengah menyapu halaman. Matanya berbinar senang. Mungkin ini adalah pertolongan Tuhan untuk hambanya yang sedang kesusahan.


Aku harus menghampirinya. Aku harus tanya sama dia!


Tanpa memperhatikan area sekitar, Alisha setengah berlari ke arah orang itu. Dan ternyata ....


Brakkk!


Tubuh Alisha menghantam sesuatu yang tak terlihat, sehingga ia terpental ke belakang. Sakit terasa di kening dan bagian tubuh lain. Ia hanya bisa memekik dan memejamkan mata. Memasrahkan diri andai kata tubuh menghantam lantai granit yang keras di bawahnya.


Alisha memang merasakan tubuhnya melayang. Namun, anehnya bukan mendarat di lantai granit. Tubuhnya tidak sakit. Loh, kok aneh. Bahkan sebuah tetesan air yang terasa dingin mengenai area wajahnya. Hujan kah?


Penasaran, Alisha sontak membuka kelopak matanya. Sepasang iris tegas langsung menyambutnya dengan jarak teramat dekat.


Dante? Alisha nyaris memekik. Untuk sejenak dua pasang mata itu saling bertukar pandang. Sebab, di detik berikutnya Alisha berusaha melepaskan diri dan menjauhkan diri dari Dante.


Kikuk bercampur malu, sampai-sampai Alisha lupa ini rumah siapa. Ia malah memarahi Dante dengan ketusnya.


"Ngapain kamu di sini! Pegang-pegang tanpa izin pula."

__ADS_1


Alisha sempat melihat mata Dante membola sebelum pemuda itu balas mengumpatnya.


"Hey, harusnya juga gue yang nanya itu sama Lo! Ini rumah gue!" geramnya dengan tangan menunjuk tegas ke arah lantai.


Seketika Alisha tersadar dan kian malu bukan kepalang. Gadis itu hanya bisa menunduk dalam. Memejamkan mata dan menggigit bibir bawah. Andai dia punya jurus menghilang, ia ingin menghilang saat ini juga.


"Hey! Lo bukan patung, kan?"


Alisha tersentak dan langsung mengangkat pandangan. Ia mendapati Dante tengah bersedekap dada dan menatapnya dengan kepala dimiringkan.


"Ngapain lo di sini?" Dante bertanya lagi dengan dagu yang terangkat.


Duh, ngaku nggak ya? Tapi kok malu-maluin banget. Alisha membatin. Matanya masih menatap Dante dengan ngeri.


Senyum meledek Dante akhirnya tersungging. Pemuda itu kemudian tertawa sambil menyugar rambutnya yang basah ke arah belakang.


"Nggak bisa jawab dia rupanya. Berarti fix, lo itu penyusup yang diam-diam masuk."


Dante menatap Alisha tajam lalu meraih pergelangan tangan gadis itu. Terang saja Alisha membelalak. Dante bukannya memegang dengan lembut, malahan mencekal dan menariknya dengan kuat.


"Eh apa-apaan sih?" protes Alisha.


"Diam!" bentak Dante. "Gue mau bawa lo ke pos scurity! Biar lo dikasih pelajaran di sana. Enak aja main masuk-masuk rumah orang sembarangan. Lo harus dapat hukuman yang setimpal dan jangan harap bisa lolos gitu aja!"


"Jangan Dante! Plis jangan!" Alisha berusaha melepaskan tangannya walaupun percuma.


"Apaan jangan-jangan! Lo harus dikasih pelajaran. Ngapain coba masuk-masuk rumah orang?"


"Aku ... ak-aku ... aku tersesat."


Sontak Dante menghentikan langkah dan menoleh ke arah belakang. Ke arah Alisha dengan wajah paniknya. Pandangannya turun ke arah bawah, di mana tangannya mencengkram pergelangan Alisha dengan erat. Seketika ia melepaskannya karena berpikir gadis itu kesakitan. Terbukti dari warna pergelangan tangannya yang seketika memerah, juga dengan cara Alisha yang mengusap pelan sambil menggigit bibir bawah.


"Maksud lo?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur dengan nada heran.


"Ta-tadi ... aku datang bersama Papa sambil bawa kue hadiah dari Mama." Alisha sontak bungkam dengan mata yang membola. Ia teringat akan suatu hal. "Kue? Kotak kueku di mana?" Wajah malu tadi berubah kebingungan. Alisha sempat menatap Dante, lalu langsung mengedarkan pandangan ke lantai. Ia terbelalak mendapati kotak kuenya teronggok di sana, dengan posisi sudah terbalik.


Gegas Alisha menghampiri kemudian berjongkok. Membalikkan kotak itu dengan hati-hati dan membuka tutupnya dengan perasaan cemas.


Dante yang masih berdiri di sana memperhatikan tingkah gadis itu dalam diam. Dan seperti dugaannya, Alisha memekik histeris lantaran kue tart yang dibawanya kini tak lagi berbentuk cantik seperti semula.


"Kuenya! Kuenya rusak, huaaaa! Kuenya rusak ...." Gadis itu sontak menoleh ke arah Dante dengan tatapan penuh tuduhan. "Ini gara-gara kamu! Kuenya jadi rusak, huaaa ...!"

__ADS_1


Dalam hati Dante ingin tertawa melihat tangis lebay Alisha. Tapi tak mungkin ia tertawa di atas kesediaan Alisha. Ia harus tetap terlihat cool dan tak peduli. Alhasil, ia hanya mendengkus dan pura-pura tak terima.


"Kok gue?"


"Iya lah! Tadi kamu kan yang nyeret aku ke sana!" Alisha menunjuk ke arah belakang Dante.


"Tapi lo sendiri yang ngejatohin kotak kuenya!" tuding Dante tak mau kalah.


Alisha terdiam. Setelah diingat-ingat, ternyata Dante benar. Kotak kue itu terlepas dari pegangan saat ia menghantam dinding kaca, dan kemudian ia tak ingat apa-apa. Fokusnya sudah berganti pada lantai granit rumah ini. Fokusnya sudah hilang karena hanya terarah pada pemilik rumah ini.


Sial. Apa kata papa nanti kalau sampai tau kuenya rusak? Huaaaa ...! Pengen nangis ...!


Melihat Alisha hanya menunduk sedih akhirnya membuat Dante jadi tidak tega. Ia perlahan mendekat dan bertanya dengan nada pelan.


"Lo tersesat?" Dante menebak. Dan Alisha mengiyakan dengan anggukan kepala. "Jadi sebenarnya lo mau ke mana?"


"Dapur." Alisha menjawab pelan tanpa mengangkat pandangan. "Katanya mama kamu lagi ada di dapur. Terus papaku sama papa kamu suruh aku nyusul ke dapur."


"Dan lo mau gitu aja!" sahut Dante dengan kesal. Alisha lagi-lagi menjawab dengan anggukan. "Yakin banget lo bisa nemuin dapur tanpa petunjuk lebih dulu!"


Dikatai seperti itu oleh Dante, Alisha hanya bisa diam dan semakin menunduk dalam. Kata-kata pemuda itu memang benar.


Setelah menghela napas berat, Dante melanjutkan bicara. "Lain kali, tanya dulu arah yang jelas biar nggak tersesat nantinya. Ayo, gue antar."


Alisha mengangguk patuh. Tanpa sepatah kata, ia pun bangkit dan mengikuti langkah Dante. Tentunya tanpa melupakan kotak kue meskipun bentuknya tak secantik awal.


Sambil menyusuri koridor, Alisha menyempatkan mata untuk melihat-lihat area yang dilewatinya. Rupanya rumah orang tua Dante bernuansa modern tropis. Banyak tanaman di sekeliling bangunan yang luasnya hektaran. Kaca tebal menjadi bahan baku sebagai besar dinding luar, sehingga pemandangan luar rumah, kelihatan jelas dari dalam.


Alisha bahkan baru menyadari jika Dante hanya mengenakan jubah mandi. Rambutnya juga masih basah. Mungkin pemuda itu baru saja selesai berenang. Di sisi kanan mereka memang ada kolam renang dengan ukuran lebar dan panjang. Di sekitarnya juga ada taman yang ditumbuhi bunga berbagai warna yang ditanam di dalam pot berbagai bentuk dan ukuran. Rumah ini benar-benar sangat asri.


"Ma! Mama!"


Alisha terkejut saat tiba-tiba Dante berseru. Mungkinkah memang begini cara pemuda itu memanggil mamanya? Lantas di mana orang yang dipanggil mama itu?


Di saat batin Alisha masih bertanya-tanya, tiba-tiba saja mereka sudah menyeberangi ruangan yang berbeda. Sebuah ruangan berukuran luas tanpa pintu dengan desain cantik dan terdapat banyak perkakas di dalamnya. Apa lagi jika bukan dapur?


Tampak beberapa asisten rumah tangga tengah berkumpul di sana dengan kesibukan masing-masing. Saat Dante masuk, mereka serempak memberi hormat. Sementara Dante dengan gaya cool nya tetap melangkah ke depan seperti tertuju pada satu orang.


"Ma." Dante memanggil lagi.


"Ada apa Dante? Mama sedang bikin kue."

__ADS_1


Deg.


Suara itu? Kenapa seperti tidak asing?


__ADS_2