
Dengan tangan menopang dagu, Lara menatap tajam Dante yang duduk di kursi seberangnya dengan wajah cemberut. Namun, alih-alih merasa bersalah pada Lara, Dante justru tetap memainkan ponselnya dengan sikap tak peduli. Ia duduk menyandarkan punggung, sementara kakinya dibiarkan menggantung pada pegangan kursi dengan santainya sambil sesekali digoyang-goyang.
Sudah tiga jam mereka berada di kafe kelas menengah ke atas tempat gaulnya anak muda itu, tetapi tak ada percakapan yang terjadi sejauh ini. Dante pun tak menyentuh hidangan serta minuman yang dipesankan Lara untuknya. Tidak hauskah dia?
Menurunkan tangan dan mencondongkan tubuhnya ke depan, Lara lantas memanggil Dante dengan nada lembutnya setengah berbisik. "Dante ...."
Alih-alih menjawab dengan kata, Dante hanya menatap Lara sekilas saja, lalu kembali menekuri layar ponselnya.
Melihat bagaimana reaksi Dante, Lara sontak menggemertakkan giginya lalu memekik tertahan. "Dante!"
"Apa sih!" sambar Dante dengan ekspresi tidak suka.
"Sampai kapan kita akan seperti ini?" Lara berusaha merendahkan intonasi suara saat bicara, menahan diri agar kemarahan tidak meledak.
Terang saja ia geram bercampur kesal. Sudah dandan secantik mungkin, tetapi teman kencannya mengabaikannya begitu saja. Dia itu manusia, bukanlah patung berbentuk manusia yang mengenakan pakaian mahal. Seingat Lara, Dante juga tidak sedang amnesia hingga melupakan dirinya yang duduk di sana. Lantas, kenapa pemuda itu masih juga enggan menatapnya?
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya Dante dengan kening yang berkerut, bersikap seolah-olah tak mengerti. Padahal ia tahu betul bagaimana perasaan Lara saat ini.
"Dante ...." Lara masih menyebut nama Dante dengan lembut, melapangkan dadanya untuk bersikap sabar meskipun sebenarnya ingin menelan Dante bulat-bulat. "Sebentar lagi kita kan tunangan, bisa gak sih, kamu bersikap sedikit lembut sama aku? Sedikiiiit, aja. Gak usah banyak-banyak." Lara sengaja menunjukkan tangannya yang menyatukan ujung jempol dengan telunjuk, meyakinkan kata 'sedikit' yang baru saja diungkapkannya, berharap Dante mau memahami dan mengikuti keinginannya. Namun, jawaban yang kemudian terlontar dari bibir Dante justru membuatnya makin kesal.
"Sorry. Gue nggak bisa."
Lara membelalak. Mulutnya juga sedikit ternganga. Giginya kemudian menggemertak saat pemuda di depannya tetap asyik memainkan ponselnya.
"Nggak bisa! Maksud kamu apa, hah!" Lara menatap Dante nyalang dan tanpa sadar menggebrak meja, tetapi Dante menyikapi kemarahan Lara dengan bahasa tubuh yang biasa saja.
"Itu karena sikap kamu yang keterlaluan, Dante! Bisa gak sih, perlakuan aku dengan lebih manis? Ya walaupun belum cinta, tapi kamu bisa mencobanya, kan? Bohong dikit juga gak pa-pa kok. Aku gak masalah!"
"Bohong ...?" Dante mengulang sepenggal kata dari kalimat Lara tadi dengan nada meremehkan. Ia menurunkan kaki untuk berpijak ke lantai, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Lara seperti mencemooh. "Lo minta gue membohongi perasaan? Lo mau, cuma gue jadiin mainan?"
Demi apa pun, kata-kata Dante bagai sembilu yang menyayat hati. Kata 'mainan' yang Lara dengar itu seperti kalimat melecehkan. Yang umumnya digunakan pemuda playboy terhadap gadis ******. Sedangkan di sini jelas konsepnya berbeda. Dante yang menerima sendiri perjodohan mereka. Benar-benar menyakitkan.
__ADS_1
"Terus ... mau kamu apa Dante! Kalau nggak cinta ngapain mau dijodohkan? Ngapain mau dinikahkan!" pekik Lara sambil menahan tangisnya sekuat tenaga. Meski begitu ia tetap mengangkat dagu dan membalas tatapan Dante dengan tajam.
"Mau dijodohkan itu bukan berarti cinta, Lara." Dante mendesah pelan seraya menaruh ponselnya di atas meja. Kini ia kembali memfokuskan pandangan pada Lara. Berbicara setenang mungkin agar tak memperkeruh suasana. "Gue nerima perjodohan ini cuma buat nunjukin bakti gue sama Papa doang, kali. Nggak lebih."
Dante menjeda ucapannya saat melihat keterkejutan di wajah Lara. Gadis itu ternganga, lalu menggeleng tak percaya.
"Gue emang gini orangnya," lanjut Dante lagi. "Nggak bisa dipaksa-paksa kalau untuk urusan perasaan. Okay, anggap aja gue ini robot yang mau lo ajak ke mana aja, juga bisa dimanfaatkan buat ngapain aja. Tapi maaf. Kalau untuk bersikap manis seperti orang yang lagi bucin, gue nggak bisa," tandasnya.
"Tapi ... sebentar lagi kita tunangan terus nikah, Dante. Mana mungkin kita bisa hidup bersama tanpa adanya rasa cinta?" lirih Lara dengan suara bergetar. Bola mata beningnya mulai menunjukkan riak-riak yang kemudian meluber membasahi wajah.
Kata orang, senjata seorang wanita adalah air mata. Mungkin dengan menangis Lara pikir Dante akan merasa iba dan mengubah pemikirannya.
Ia sudah sempat merasa bangga saat Dante sedikit mengurai senyuman tulusnya meski tipis. Sepertinya usahanya itu berjalan lancar. Namun, sial. Ia salah memperkirakan. Kata-kata Dante selanjutnya justru membuat Lara kian geram.
"Ya, kalau lo nggak tahan bisa batalin perjodohan! Gampang, kan?" Menepuk pundak Lara penuh perhatian, Dante lantas berlalu begitu saja. Meninggalkan Lara yang mengepalkan tangan sambil menundukkan kepala.
__ADS_1