Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Ingin cemburu, tapi siapalah aku?


__ADS_3

Alisha berjalan lesu ke luar dari ruang kelas siang itu. Pelajaran yang diterima hari ini tak bisa masuk di otak sama sekali. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Dante yang mendadak mudah berubah sikap belakangan ini. Terkadang baik, tetapi di lain waktu kembali dingin dan garang seperti macan ketika berpapasan.


Rasa tak nyaman langsung hinggap di hatinya. Seharusnya ini jadi alasan kuat untuk membenci Dante, tetapi yang ada kenapa malah sebaliknya? Gara-gara sikap baik Dante semalam itu ia malah jadi terbayang-bayang. Maunya pemuda itu sebenarnya apa coba? Ingin mempermainkannya kah? Kalau memang sudah bersama Lara seharusnya Dante tak lagi melibatkan diri dalam masalahnya.


Memang susah jadi orang yang gampang bawa perasaan ke dalam setiap hal. Jadinya begini kan, menumbuhkan sebuah harapan.


Sementara itu, Lisa yang menemaninya seperti biasa, sedang pergi menuju kantin untuk membelikannya minuman dingin. Entah mengapa ia sangat malas mengunjungi tempat itu hari ini. Ia memutuskan pergi ke perpustakaan kampus untuk membaca buku saja. Sepertinya dengan begitu bisa sedikit mengalihkan ingatannya dari cowok tengil itu.


Sebuah tepukan pelan di pundak kanan sukses memulihkan Alisha dari lamunannya. Gadis sedikit berjingkat lalu menoleh lemah ke samping kirinya guna mencari tahu siapa di sana.


"Dipanggil-panggil kok nggak nyahut? Pasti lagi mikirin cowok ya." Marcel dengan wajah riangnya mencoba menghibur Alisha dengan berseloroh. Membuat gadis itu sontak tersenyum kecut lalu berpaling seraya memberikan sebuah sangkalan.


"Mana ada mikirin cowok! Kalau mikirin kamu sih iya."


"What! Suer kamu mikirin aku?" Marcel bertanya antusias dan menatap Alisha dengan seksama. Namun, jawaban yang dilontarkan Alisha kemudian berhasil membuatnya tergelak.


"Iya. Tapi bo'ong, wekk." Alisha menjulurkan lidahnya lalu berjalan cepat meninggalkan Marcel sambil tertawa.


"Dasar cewek. Suka amat nge-prank orang." Marcel geleng kepala sambil berkacak pinggang menatap punggung Alisha. Setelah itu ia menyusul Alisha yang sudah berjalan di depannya.


"Mau ke mana, sih? Buru-buru amat?" tanyanya setelah berjalan bersisian sambil membenahi tas ransel yang tersampir di bahunya. Sementara Alisha, hanya menjawab singkat pertanyaannya tadi.


"Perpus."


"Kok sama."


"Apaan?" Alisha mengerutkan keningnya ketika menatap Marcel.

__ADS_1


"Aku juga mau ke perpus."


"Ya udah, barengan aja."


"Oke. Siapa takut!" balas Marcel antusias.


Tak berapa lama, keduanya sampai di perpustakaan. Mereka memilih buku tanpa bersuara, lalu mencari kursi kosong setelah mendapatkannya.


"Kamu baca buku apaan?" tanya Marcel setelah keduanya duduk berseberangan. Namun, alih-alih menjawab, Alisha justru menaruh telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar Marcel tidak berisik. Pemuda itu langsung paham dan sontak mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.


Lisa akhirnya datang dengan membawa dua botol air mineral dingin berukuran sedang. Setelah berkeliling mencari-cari nonanya, ia mendapati Alisha sedang serius membaca sebuah buku tebal yang entah berjudul apa. Rupanya gadis itu tak sendirian. Ada Marcel di sana yang juga tengah fokus membaca.


Dengan senyap ia berjalan menghampiri Alisha dan duduk di sampingnya. Ia menyentuh lengan Alisha selagi menyodorkan minuman yang dibeli barusan. Gadis itu mengangguk lalu menerima botol minum dari tangannya. Tak menunggu lama bagi Alisha untuk meneguk isinya hingga menyisakan setengah bagian.


"Sst. Sst." Marcel mendesis sambil mencondongkan badannya ke depan. Alisha yang menyadari itu langsung menatapnya dengan alis terangkat sebagai pengganti tanya. "Buat aku mana?" bisiknya kemudian.


"Buat kamu kalau nanti haus," kata Alisha sangat pelan.


"Saya sudah minum, Nona. Ini buat Anda saja." Lisa berbisik.


Alisha melirik kesal pada Lisa sembari menghela napas. Melihat gadis itu hanya tersenyum, ia kembali meletakkan botol minumnya ke tempat semula kemudian melanjutkan membaca.


Sementara itu di pintu masuk, sepasang muda-mudi tampak datang dari arah luar. Si gadis tampak antusias sementara si pemuda tampak sebaliknya. Terlihat dari wajahnya yang terus saja ditekuk sejak masih di luar tadi.


Namun, setelah melihat seseorang yang sedang duduk di meja ujung dengan pandangan fokus pada buku, ekspresi pemuda itu seketika berubah. Perhatiannya pun langsung tercurah pada gadis ber-blazer merah itu. Padahal hanya bagian belakang tubuhnya saja yang kelihatan, tetapi ia langsung bisa menerka itu siapa karena sudah saking hapalnya.


Alisha? Dia di sini juga ternyata.

__ADS_1


"Kamu mau baca buku apa?" tanya Lara yang datang bersamanya dengan wajah tanpa dosa. Gadis itulah yang tadi memaksanya pergi ke sana. Padahal Dante sendiri harus buru-buru pergi menemui dosen, tetapi Lara sama sekali tak mau tahu akan alasannya. Benar-benar pemaksa. Padahal belum juga sah menjadi tunangan.


Seketika ia menyadari suatu hal. Pantas saja Lara yang tak hobi membaca itu hari ini ngotot mengajaknya ke perpustakaan. Ternyata ini tujuannya? Untuk pamer kemesraan. Mengingat kejadian yang sudah-sudah, ia akan bersikap mesra setiap kali berpapasan dengan Alisha entah itu disengaja atau tidak. Rupanya Lara memanfaatkan hal ini untuk kepentingan pribadinya.


Sialan. Dante membatin.


Benar saja. Lara mengajak Dante duduk di meja yang berdekatan dengan Alisha setelah menemukan buku yang diinginkan. Mau tak mau ia harus bersikap mesra pada Lara untuk menyempurnakan akting di depan Alisha.


Demi apa pun, Dante sangat membenci situasi semacam ini. Lebih-lebih lagi ia melihat Marcel juga ada di sana. Duduk berseberangan dengan Alisha. Keduanya terlihat akrab saat berbincang pelan membahas isi buku yang dibaca Alisha. Itu terlihat dari Alisha yang mengangguk paham setelah Marcel menjelaskan.


Sudah sedekat itukah mereka? Sampai-sampai harus membahas pelajaran bersama-sama. Atau mungkin Alisha menjadikan Marcel sebagai guru privat tanpa sepengetahuannya, mengingat jika kecerdasan Marcel memang di atas rata-rata.


Kurang ajar. Maunya dia apa coba? Mau ambil kesempatan gitu kah?


Awalnya, baik Alisha, Marcel dan juga Lisa tak menyadari kedatangan Dante dan Lara. Ketiganya masih asyik dengan buku Alisha hingga beberapa saat kemudian. Namun, karena di perpustakaan bukannya membaca dan Lara malahan sibuk mengajak Dante mengobrol, terang saja suara berisik gadis itu mengundang perhatian orang-orang pengguna perpustakaan termasuk Alisha dan Marcel juga. Dalam waktu sekejap Dante dan Lara sukses menadi pusat perhatian.


Alih-alih malu dan merasa bersalah, Lara malah meminta maaf sembari tertawa. Meski sempat kesal dan merasa terganggu, akhirnya semua kembali pada aktivitas semula yaitu menekuri buku mereka.


Ada desir aneh saat Dante bersitatap dengan Alisha sesaat tadi. Walau hanya sejenak, meski dengan wajah dingin, tetapi meninggalkan goresan perih di dada. Gadis itu terlihat tak acuh dan kembali fokus pada bukunya dan juga Marcel. Bahkan lebih dekat dari sebelum melihatnya tadi.


Dada Dante seperti terbakar melihat kedekatan mereka. Baik Alisha maupun Marcel sama saja. Alisha tak canggung menepuk lengan Marcel dengan manja saat pemuda itu menggodanya. Bahkan Marcel juga tak segan mengacak rambut Alisha ketika merasa gemas pada gadis itu.


Ya Tuhan, melihat sepupu sendiri bermesraan dengan gebetan, ini jenis ujian biasa atau ujian Nasional? Aku nggak sanggup, Tuhan. Batin Dante terus saja menjerit.


Misi Dante membuat Alisha cemburu buyar seketika. Alih-alih Alisha yang cemburu, justru darahnya yang mendidih karena tindakan gadis itu. Fokus Dante pada Lara buyar. Tatapannya hanya tertuju pada gadis bernama Alisha yang seolah-olah yang menganggapnya ada. Ia bahkan tak mendengar saat Lara berkali-kali memanggilnya.


Ingin cemburu, tapi siapa lah aku? Hanya sosok peran pembantu yang tak penting dalam ceritamu.

__ADS_1


__ADS_2