Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Pemeran pengganti yang tak diinginkan


__ADS_3

Pagi itu Alisha menghampiri Lara di kamarnya. Entah mengapa meski jarum jam sudah menunjuk di angka tujuh, Lara masih belum bangun juga dari tidurnya. Padahal semestinya hari ini gadis itu bangun pagi sekali, mengingat masih banyak yang harus diurusnya menjelang hari pertunangan.


"Ra, bangun dong. Kamu nggak boleh santai-santai gitu. Ingat kan, ini tuh hari sibuk kamu, tau!" Alisha menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh Lara.


Gadis yang masih memejamkan mata itu langsung menggeliat saat hawa dingin AC menyentuh kulitnya yang hanya berbalut piyama tipis dengan potongan minim.


"Lara," panggil Alisha lagi. Gadis itu berkacak pinggang sambil menatap Lara dengan menggeleng kepalanya pelan.


"Apa sih, Al. Aku masih ngantuk! Badanku lemes." Tanpa membuka mata, Lara meraih bantal guling untuk kemudian dipeluknya.


"Kamu sakit?" Alisha mendadak panik. Ia buru-buru merangkak naik ke ranjang menghampiri Lara sebelum kemudian menyentuh dahinya. "Agak hangat sih. Tapi kamu nggak demam, kan?"


"Dikit, Al. Semalam aku nggak bisa tidur. Tenggorokanku sakit banget," terang Lara dengan suara parau. Itu membuat Alisha benar-benar yakin jika kondisi Lara memang sedang tidak sehat.


"Mau kupanggilkan dokter?" tawarnya.


"Tidak." Lara menggeleng lemah. "Aku cuma butuh istirahat saja."


"Terus persiapan kamu gimana? Tinggal satu hari menuju pertunangan loh, Ra. Masih ada beberapa hal yang harus diurus. Hari ini kamu harus ke hotel untuk melihat sejauh mana persiapan mereka sekaligus gladi resik."


"Bisa minta tolong kamu buat wakili aku nggak?"


"Astaga Lara." Alisha menepuk dahinya sendiri. "Ini untuk pertunangan kamu loh, Al. Masa iya untuk gladi resik juga harus aku yang wakili? Harus kamu sendiri yang melakukan itu, Lara! Jangan aku."


"Alah. Cuma latihan jalan gitu doang nggak perlu latihan segala kali, Al. Aku tuh udah biasa jalan anggun di pesta besar. Aku udah biasa jadi pusat perhatian. Tanpa gladi resik aku juga udah bisa. Udah luwes. Plis ... kamu gantiin aku, ya ...." Lara memohon dengan tatapan memelas.


"Tapi apa kata mereka nanti, Ra? Mama, papa dan orang tuan Dante. Hari ini mereka semua juga akan ada di sana, loh."


"Biar aku yang bilang sama mama. Aku akan minta pengertian dia. Kamu lihat sendiri kan, hari ini aku bener-bener lemas. Kalau dipaksakan datang malah takutnya besok aku nggak bisa bangun. Plis ...."


Alisha menghela napas dalam. Melihat saudarinya mengiba seperti itu ia jadi tidak tega. Ia pun akhirnya menyetujui dengan nada ketus dan terpaksa. "Oke. Kali ini aja. Asal jangan pas acara tunangan beneran aja ya kamu minta wakili aku! Bahaya!" Alisha berucap asal sambil menyelimuti tubuh Lara. Gadis itu sama sekali tak memiliki maksud apa-apa dengan ucapannya barusan. Sementara Lara yang mendapat perlakuan lembut dari Alisha juga tampak menikmatinya. Alih-alih tersinggung, ia malah tersenyum santai tanpa membuka mata.


Lara menyadari, semenjak mereka berbaikan, Alisha begitu antusias membantu persiapan acara tunangannya. Gadis itu memang ulet dan tak kenal lelah. Ia begitu cepat kaki ringan tangan. Ini adalah hari terakhir melakukan persiapan. Namun, sayang kondisinya benar-benar tidak memungkinkan.


"Sebentar lagi Dante datang loh, Ra. Entar aku harus ngomong apa sama dia?"


"Nggak usah ngomong apa-apa. Tinggal ikutin aja dia mau pergi ke mana," jawab Lara masih dengan posisinya.


"Kok gitu?"


"Kan kamu yang wakili aku, Alisha dodol!"


Mendengar kata dodol membuat Alisha sontak membulatkan mata. Kurang ajar benar punya saudara. Udah dibantu susah-susah, malah ia dikatain 'dodol'.

__ADS_1


"Apa melotot gitu!" ketus Lara yang melihat ekspresi Alisha.


"Aku kesel sama kamu! Kamu tuh nyebelin! Sukanya ngerepotin!" ketus Alisha kesal.


"Kamu yang lebih nyebelin!" balas Lara pula tak mau kalah. Melihat Alisha menyebik ia malah tertawa jahat. Ia kemudian berucap dengan nada menggoda pada saudarinya. "Udah sana siap-siap. Keburu Dante datang. Aku khawatir Dante sampai ubanan gara-gara nungguin kamu dandan doang."


"Sialan. Memangnya dandanku memakan waktu sampai puluhan tahun!" Alisha mendengkus. Tak ingin lama-lama berdebat dengan Lara, ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Tentunya diiringi tawa di bibir Lara.


Beberapa saat kemudian Alisha mendengar pintu kamarnya diketuk kemudian suara seorang wanita menyusul terdengar.


"Alisha. Kamu di dalam, Sayang?" tanya seseorang. Itu adalah suara Helena.


"Iya, Ma!" sahutnya dari dalam.


"Boleh Mama masuk?"


"Boleh, Ma."


Alisha menghentikan kegiatannya yang tengah merapikan kamar tidur kemudian bergegas membukakan pintu menyambut Helena.


"Al, kamu lagi ngapain? Lagi sibuk?" tanya Helena seraya melangkah memasuki kamar Alisha.


"Enggak, Ma. Cuma lagi beberes ranjang aja. Benerin sprei sama lipat selimut."


"Apaan sih, Ma. Kan Alisha memang udah terbiasa tanpa maid."


Helena hanya tersenyum sembari melabuhkan bokongnya di tepian ranjang Alisha yang terlihat sudah rapi. Sementara itu, Alisha yang juga melangkah pelan menuju kursi rias tampak menunggu mama tirinya untuk bicara.


"Al, Mama mau minta bantuan kamu sedikit, boleh?" tanya Helena hati-hati setelah beberapa saat diam.


"Tentu saja boleh, Ma. Memangnya apa yang bisa Alisha lakukan?"


"Kamu tau sendiri kan, gimana susahnya Lara diajak kerja sama."


Alisha mengangguk.


"Dan sekarang, dia malah pake acara kurang sehat segala. Mana hari ini harus ke hotel buat acara gladi resik, pula." Helena diam sejenak lalu menatap Alisha dengan lekat. "Kalau nggak melakukan gladi resik, Mama nggak enak sama keluarganya Dante. Tapi memaksa Lara untuk berangkat juga sepertinya sangat tidak mungkin. Al ... kamu mau kan wakili Lara sekali ini saja?" pintanya setengah memohon.


"Memangnya nggak pa-pa kalau Alisha wakili ya, Ma? Nanti respon keluarga Dante gimana?" Alisha malah balik bertanya. Bukannya tidak mau, hanya saja ia perlu memastikan tidak ada satu pihak pun yang tidak suka.


"Alisha bukannya nggak mau, Ma," sambungnya lagi. "Alisha hanya khawatir keluarga Dante tidak suka. Lagi pula Lara bilang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian dan berjalan anggun. Dia juga sering datang ke acara pertunangan. Bukankah tidak ada masalah jika gladi resik itu tidak dilakukan? Alisha yakin, besok Lara pasti bisa melakukan semuanya dengan baik."


"Mama pikir juga gitu, Al. Tapi keluarga Dante tetap menginginkan gladi resik ini dilakukan. Karena bukan hanya Lara dan Dante saja yang melakukan. Ada pihak lain yang perlu persiapan. Ada pembawa acara, pemberi sambutan, dan ada artis yang menghibur."

__ADS_1


Alisha mendesah pelan. "Terus gimana, Ma."


"Dengan terpaksa, kamu yang harus mewakili Lara supaya gladi resik ini tetap terlaksana. Kamu mau, kan?"


Akhirnya Alisha mengangguk pelan meski merasa berat. "Demi Lara Alisha mau, Ma."


"Bagus." Helena tersenyum senang sambil mengacungkan jempolnya. "Sekarang buruan siap-siap, ya. Nanti biar Mama yang bicara dengan keluarga Dante."


"Baik, Ma."


Setelah kepergian Helena, Alisha lantas bersiap-siap tanpa semangat. Lagi-lagi ia harus berdekatan dengan orang yang ingin ia hindari. Kenapa begini, sih? Ini benar-benar mempersulitnya menata hati.


Beberapa saat kemudian Alisha kembali mendengar pintu kamarnya diketuk. Suara salah satu pelayan di rumah itu kemudian menyusul.


"Non Alisha, Tuan muda Dante sudah datang."


"Ya, Bi. Sebentar lagi saya turun," balasnya.


Setelah dirasa penampilannya sudah cukup rapi Alisha segera turun untuk menemui Dante. Semakin jauh ia melangkah debaran jantungnya juga makin kencang. Ia bisa merasakan dingin di telapak tangan. Bahkan basah oleh keringat. Padahal dirinya tidak merasakan gerah.


Senyumnya Helena langsung menyambutnya ketika Alisha tiba. Helena dan Dante sendiri tengah duduk di sofa ruang tengah. Mengobrol sambil menunggunya. Alisha hanya melirik sekilas pada Dante yang terlihat menautkan alis saat menatapnya. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, Alisha enggan menerka-nerka. Ia lebih memilih bersikap biasa sambil duduk di sisi Helena, seperti instruksi wanita itu sendiri.


"Dante ...." Helena mengalihkan perhatiannya dari Alisha ke arah Dante lalu menyebut nama pemuda itu dengan sedikit ragu. Sementara Dante yang terlihat tenang langsung menanggapi panggilan wanita itu dengan sopan.


"Ya, Tante," balasnya dengan tatapan fokus ke arah Helena.


"Jadi gini, Dante. Lara kan sedang tidak enak badan. Semalam dia demam dan badannya masih panas. Dia bahkan belum beranjak dari kasurnya, apalagi pergi ke hotel untuk melakukan gladi resik. Sedangkan Dante juga tau, keluarga kalian mewajibkan gladi resik ini dilakukan. Dante ...."


Helena memanggil Dante lagi tapi kali ini dengan nada sangat hati-hati.


"Tidak masalah kan, jika gladi resik ini Lara diwakili oleh Alisha?"


Dante sontak menggeser pandangannya ke arah Alisha, lalu ekspresinya terlihat berubah. Entah hanya perasaan Alisha saja atau memang kenyataannya? Wajah Dante terlihat menunjukkan ekspresi kecewa. Namun, meski begitu ia tampak menyembunyikan kekecewaan itu.


Hah, seketika Alisha merasa menyesal telah menerima permintaan Helena. Harusnya ia mencari-cari alasan untuk menghindar. Biarkan saja urusan gladi resik ini mereka yang selesaikan. Toh ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia.


"Gimana Dante. Nggak pa-pa, kan?" tanya Helena memastikan sebab Dante hanya diam memperhatikan Alisha dengan raut tidak suka.


Dante sontak mengalihkan pandangan pada Helena. Wanita itu sempat khawatir Dante akan menolaknya. Namun, tiba-tiba Dante menyunggingkan senyum kemudian menganggukkan kepala.


"Iya, Tante. Nggak masalah siapa pun yang mewakili Lara."


Kata-kata Dante itu cukup membuat Helena lega. Namun, berbeda lagi dengan perasaan Alisha. Entah mengapa, ia merasa tidak tenang. Takut sekaligus cemas kalau-kalau Dante bertindak di luar dugaan. Tatapan tidak suka pemuda itu merupakan bukti nyata. Ia merasa menjadi pemeran pengganti yang tak diinginkan.

__ADS_1


__ADS_2