Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Pertemuan dua keluarga


__ADS_3

Lara melengkungkan bibir hingga membentuk sebuah senyuman. Ia tengah mematut diri di depan cermin. Polesan make up berharga mahal rupanya ampuh menyamarkan pucat pada wajahnya. Sebuah gaun malam indah tanpa lengan telah melekat di badan. Rambut ditata sedemikian rupa menjadi penyempurna penampilannya.


Ia menarik pegangan laci dan mengeluarkan sebuah foto tanpa bingkai dari sana. Memandangi sosok tampan yang tersenyum tanpa bisa diajak bicara, sebuah seringai licik kemudian tersungging di bibirnya.


"Dia datang bagai pelita yang menerangi jiwa. Memberi setitik cahaya dalam hidupku yang gulita. Memberi kehangatan hingga menyisakan rasa nyaman.


Tapi, siapa sangka.


Setelah aku terlena, dia justru dengan sangat rakus memanfaatkannya.


Api kecil yang dibawanya ternyata mampu membakar jerami alasku menaruh harapan.


Dia nyaris merenggut segalanya. Sekarang takkan kubiarkan manusia laknat seperti dia bisa berbahagia di atas penderitaanku.


Tunggu sampai aku memberikan kejutan manis untuk kamu ...."


Senyuman jahat terukir jelas setelah gumaman penuh dendam itu terlontar. Lara menyimpan foto itu lagi setelah puas memandangi. Kemudian meraih tas mahal dari atas meja rias lalu melangkah anggun ke luar kamar sebab sang papa telah menunggunya di lantai bawah.


Entah apa yang direncanakannya kali ini.


***


Senyum manis Lara tak pernah pudar di sepanjang perjalanan. Ia duduk di jok belakang Mercedes hitam yang dikemudikan sang papa. Sedangkan wanita cantik yang telah melahirkannya ke dunia duduk manis di depannya. Tepatnya di samping kiri Narendra.


Jujur, ia tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Ia mendambakan keluarga yang utuh–dalam konteks yang benar–sejak lama. Hidup rukun saling cinta dan selalu ada untuknya kapan saja.


Jika hanya dengan menerima perjodohan itu ia bisa mengubah keadaan jadi lebih baik, Lara menyesal kenapa tidak melakukannya sejak dulu?

__ADS_1


Mobil lantas berbelok ke sebuah restoran mewah di ibu kota dan berhenti di lobinya. Seorang pria lantas menyambut mereka saat turun dan mengambil alih kemudi untuk diparkirkan.


Narendra membawa istri dan anaknya ke sebuah ruangan khusus yang sudah dipesan untuk menemui seseorang. Kedatangan keluarga sosialita itu pun tak urung jadi pusat perhatian. Seperti biasa, mereka akan menampilkan pemandangan yang membuat iri semua orang. Gambaran keluarga bahagia yang begitu diidamkan. Namun, tak ada dari mereka yang mengetahui fakta sebenarnya.


Dua orang yang tengah duduk bersebelahan itu kompak berdiri begitu keluarga Narendra datang. Senyuman manis dan sambutan hangat tak urung mereka tunjukkan.


"Narendra. Apa kabar?" Robby merentangkan tangan demi mendapat pelukan Narendra. Gayung bersambut. Narendra memeluknya ala sahabat sambil menepuk pelan bahunya.


"Baik, Kawan. Maaf sudah membuat kalian menunggu lama," jawabnya tak enak hati setelah mengurai pelukan.


"Ah, memangnya siapa yang sudah lama menunggu, hah? Kami juga belum lama sampai, kok," ujar Robby merendah.


Para wanita pun saling sapa tak kalah hangat. Niken memindai penampilan Lara setelah mengurai pelukan dengan Helena.


"Apa benar ini Lara? Putrimu yang dulu kecil itu?" Niken mengalihkan pandangan pada Helena dengan binar tak percaya seolah menuntut penjelasan. Namun, tak bisa ditepis lagi tatapan takjub dari sepasang netranya terhadap kecantikan Lara.


"Bukan hanya cantik, Lena. Tapi cantik banget." Niken bergegas menghampiri Lara, memeluk gadis itu dengan hangat, lalu menggenggam kedua tangannya setelah mengurai pelukan mereka. "Apa kabar, Lara? Kamu baik, kan?"


"Sangat baik, Tante," jawab Lara sopan seraya menyunggingkan senyuman.


"Baguslah." Niken mengembuskan napas lega. "Tante sangat senang akhirnya kamu menerima perjodohan ini. Tante sangat bahagia. Kamu tahu, Lara, Tante benar-benar menyesaaal sekali ... untuk saat ini anak Tante belum bisa hadir di tengah-tengah kita. Tapi Tante bisa pastikan tak lama lagi dia akan pulang. Kamu yang sabar ya, Lara." Wanita dengan tutur kata lembut itu mengusap pelan bahu Lara. Mimik wajahnya menunjukkan sesal yang dalam.


"Pasti, Tante. Lara akan sabar nungguin anak Tante pulang."


Kali ini Niken memasang wajah haru. "Kamu benar-benar gadis yang baik, Lara." Diusapnya pelan rambut indah gadis itu dengan tangan kanan. Dalam hati ia merutuki sikap sang putra yang memilih menerima hukuman daripada dijodohkan. Andai putranya tahu gadis yang dijodohkan dengannya itu cantik jelita, mungkin dia akan menyesal sebab telah mengambil keputusan yang salah.


Obrolan hangat pun berlanjut di meja makan. Tawa dan canda menghiasai kebersamaan. Dua keluarga itu sangat kompak sejak lama. Mereka banyak terlibat kerja sama bisnis dan sering pula menjalin pertemuan.

__ADS_1


Sayangnya, mereka memiliki kesamaan pula dalam hal lain. Yaitu memiliki anak yang sama-sama keras kepala. Muda-mudi yang dijodohkan sejak lama itu bahkan belum mengenal satu sama lainnya. Belum pernah berjumpa. Hanya sebuah foto yang sempat Narendra perlihatkan pada putrinya.


Saat sedang mengambil gelas berisi air putih tiba-tiba Lara menumpahkan isinya. Entah gugup atau bagaimana, air putih itu membasahi jas mahal Robby yang ada di sampingnya.


Lara buru-buru meminta maaf seraya mengusapkan kain lap bersih ke bagian baju yang basah. Gadis itu terlihat sangat menyesal. Berulang kali ia meyakinkan jika ia tak sengaja melakukannya.


"Tidak masalah, Lara. Ini hanya sedikit basah. Tak perlu dipikirkan, ya." Sebagai calon mertua yang baik Robby memaklumi ketidaksengajaan calon menantunya. Ia tersenyum lembut demi menenangkan gadis cantik yang tampak panik itu. Lara adalah menantu idaman sekalipun ini baru awal perjumpaan. Gadis itu memiliki sifat lembut dan sopan. Lebih-lebih lagi ia menyadari kesalahannya.


Pria bijaksana itu pun bangkit dari duduknya setelah berpamitan hendak ke toilet.


"Mau kuantar, Sayang?" tawar Niken penuh kesungguhan. Namun, Robby segera menolak dan memerintahkan istrinya untuk tetap di tempat dan menemani calon besan.


Tak ada yang menyadari senyuman licik dari bibir satu-satunya gadis yang ada di sana. Diam-diam ia memperhatikan punggung Robby yang bergerak menjauh. Ia buru-buru memasang wajah datar sebelum berpamitan pada mamanya.


"Ma, aku mau ke toilet sebentar, ya."


"Mau Tante temani?" Niken dengan spontan menawarkan.


"Nggak, Tante ... terima kasih. Lara bisa sendiri, kok. Cuma sebentar aja."


Niken mengangguk paham. Ia menghargai penolakan Lara. Tiga orang yang masih berada di meja makan itu membiarkan Lara beranjak dan melanjutkan perbincangan yang sempat terjeda.


Tak ingin membuang kesempatan langka yang susah payah ia rancang, Lara mempercepat langkahnya demi bisa menghentikan Robby. Ia harus membicarakan sesuatu yang penting ini hanya berdua. Jangan sampai Narendra melihatnya atau semua rencananya akan berantakan.


"Om, Om Robby."


Robby langsung berhenti begitu mendengar namanya diserukan. Saat berbalik badan, ia dibuat tersenyum saat mendapati Lara tengah tergopoh-gopoh mendatanginya.

__ADS_1


"Ada apa, Lara? Apa kau masih menyalahkan dirimu sendiri karena kejadian tadi?" Robby berpikir Lara mengikutinya lantaran rasa bersalah. Namun, sepertinya pria itu salah paham.


__ADS_2