
"Kenapa malah merem gitu? Sini, salim dulu sama Mama."
Alisha sontak membuka mata. Tindakan di luar dugaan justru dilakukan oleh Helena. Wanita itu menyunggingkan senyum seraya menjulurkan tangan demi mendapatkan salaman. Jelas saja ia terperenyak. Kenapa wanita itu bisa berubah sikap? Agak aneh, memang.
Seolah paham akan pikiran Alisha, Helena kembali menambahkan tanya. "Bukankah aku juga mamamu?" Ia menjeda sejenak, mengamati ekspresi anak tirinya. Gadis itu mengangguk tipis dan itu membuatnya tersenyum. "Kalau gitu perlakukan aku sebagai mana mestinya. Kau pasti seperti ini juga pada ibumu, kan?"
"I-iya, Ma. Assalamualaikum," ucap Alisha sedikit gagap. Tangannya bergerak cepat menyalami Helena lalu mencium punggung tangannya..
"Waalaikumsalam," balas Helena dengan senyuman manis. Ia bisa merasakan suhu dingin pada telapak tangan anak tirinya. "Tanganmu dingin sekali. Apa kau sedang sakit?" tanyanya pura-pura penasaran. Meskipun sebenarnya sangat paham dengan apa yang dirasakan Alisha.
Alisha menggeleng cepat. "Tidak. Saya baik-baik saja. Mungkin karena suhu AC mobil yang diatur terlalu dingin."
"Owh, begitu." Helena manggut-manggut paham. Ia kemudian celingukan setelah menyadari sesuatu hal. "Lara mana? Kok belum pulang? Kalian nggak barengan?" Ia menatap Alisha penuh tanya. Sehingga Alisha pun terlihat kebingungan lantaran sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan akan keberadaan Lara.
"Tadi di kampus Alisha nggak gabung sama Lara, Ma. Jadi nggak tau sekarang Lara ada di mana. Maaf." Alisha berucap lirih penuh sesal lantaran berpikir wanita di depannya akan murka. Namun, lagi-lagi reaksi Helena justru di luar dugaannya.
__ADS_1
"Jadi Lara tadi sama sekali nggak temani kamu?" Alisha menggeleng saat Helena menanyakan itu. Membuat Helena mendengkus kesal. "Keterlaluan sekali itu anak. Pasti di kampus dia malah sibuk pacaran, kan?"
Alisha hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Helena. Ia tak tahu mesti berkata apa. Mengingat Lara sama halnya dengan mengingat-ingat Dante. Sakitnya seperti mencubit luka sendiri.
Masih terbayang di benaknya bagaimana sikap Dante terhadapnya tadi. Dingin dan tampak marah. Sama sekali tak melunak meski keadaannya kini telah berubah. Apakah Dante masih dendam? Seharusnya pemuda itu tak perlu memendam dendam jika memang sekarang sudah bahagia. Bukankah berdamai itu jauh lebih indah? Alisha akan lebih bahagia jika Dante bahagia bersama Lara.
Pandangan Helena langsung beralih ke arah belakang Alisha ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Nah, itu dia anaknya datang. Baru juga diomongin," ujarnya seraya menunjuk. Alisha bisa melihat ekspresi wanita itu begitu antusias saat menyambut putrinya.
"Siang, Tante." Dante menyapa Helena. Sangat sopan. Bahkan sampai bersalaman dan mencium punggung tangan.
"Mama ...!" Giliran Lara berhambur memeluk Helena dengan manja. Sementara Helena menyambutnya dengan suka cita.
"Dasar anak nakal. Kenapa tadi kamu nggak nemenin Alisha?" Helena mencubit gemas ujung hidung Lara, kemudian kembali menambahkan. "Bukankah kau tahu dia baru pertama kali masuk kuliah? Harusnya kamu ajak dia berkeliling, Lara, biar Alisha mengenali tempat kuliahnya."
__ADS_1
"Alisha, nggak pa-pa, Ma." Itu bukan suara Lara yang membela diri. Alisha lah yang menyahut tidak enak hati. Ia melirik Lisa sebentar selagi menambahkan. "Ada Lisa yang menemani Alisha setiap waktu. Lagipula Lara juga punya kepentingan sendiri, Ma. Dia sibuk dengan mata kuliahnya."
"Tuh kan, Ma. Alisha aja bisa ngertiin aku. Tapi kenapa Mama marah-marah melulu!" Lara memanyunkan bibirnya pura-pura kesal. Membuat sang mama akhirnya mencubit pipi mulusnya dengan gemas.
Melihat kehangatan ibu dan anak itu tak pelak membuat Alisha teringat pada ibunya. Seketika dadanya terasa sesak akibat rindu yang bergolak.
Sungguh, bukan keinginannya berpisah seperti ini. Wanda yang memaksa dan meyakinkan dirinya akan baik-baik saja. Nyaris meneteskan air mata, Alisha memutuskan pamit dari sana. Sebelum semua yang ada di sana sempat melihat dan mempertanyakan.
"Ma, Alisha masuk kamar dulu, ya."
"Okay." Helena mengalihkan pandangan pada Lisa kemudian memberi perintah. "Temani Alisha."
Lisa membungkuk patuh. "Baik, Nyonya." Ia kemudian berjalan membuntuti Alisha yang sudah lebih dulu berlalu.
Ada sepasang mata yang pura-pura abai tapi diam-diam memperhatikan. Pura-pura tak peduli tapi diam-diam penasaran.
__ADS_1