Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Ketakutan Lara


__ADS_3

Tak seperti biasanya, pagi ini Alisha bangun tidur kurang bersemangat. Hari pertunangan Dante dan Lara semakin dekat, ia seperti belum siap melepaskan pria pujaan hatinya itu untuk Lara.


Aneh bukan? Alisha bahkan merasa bingung pada dirinya sendiri. Cinta, tapi enggan memperjuangkannya. Sebenarnya dia ini egois, atau terlalu lemah dan pasrah akan keadaan? Entahlah. Alisha juga menyadari dirinya tak punya pendirian. Saat bersama Dante, rasa ingin memiliki pemuda itu sangat kuat. Namun, ketika teringat akan Lara, maka dirinya merasa jadi saudari paling jahat sedunia.


Alisha tak tahu mana yang harus ia turuti. Kata hati, atau logika? Ia hanya berusaha hidup sebagai mana mestinya. Toh ia sudah terbiasa memeluk luka.


Saat turun ke lantai dasar, tiga penghuni lain rumah itu sudah duduk di meja makan. Tersenyum kikuk, ia pun ikut bergabung dan menempati kursi kosong yang biasanya ia tempati.


Selama santap sarapan, tak ada obrolan yang berarti. Hanya celoteh ringan dari bibir Helena yang berusaha mengambil hatinya dan Narendra. Alisha yang tak tahu apa-apa mulai merasa heran dengan sikap diam yang Lara tunjukkan belakangan ini. Selama dirinya tak ada, memangnya apa yang sudah terjadi?


"Alisha. Apa saja kegiatanmu hari ini?" tanya Narendra setelah menghabiskan sarapannya.


"Seperti biasanya, Pa. Kuliah. Habis itu lanjut les dan lainnya."


Narendra mengangguk. "Mau berangkat bareng Papa sekalian?" tawarnya kemudian.


"Boleh," jawab Alisha tanpa pikir panjang. Gadis itu tersenyum dan mengangguk senang. "Lara mau bareng juga?" Ia menoleh pada Lara, menawari gadis itu dengan senyum lebar. Sayangnya, sudah seantusias seperti itu Alisha menawari, tetapi saudarinya terlihat tak tertarik.


"Enggak, deh. Makasih."


Senyum tanggung yang tercetak di bibir Lara sedikit menyengat hati Alisha. Pasalnya, senyum itu terlihat seperti sedang meremehkan. Memang apa salahnya jika mereka pergi sama-sama? Alisha bahkan sudah membayangkan mereka bertiga bisa berbincang hangat sepanjang perjalanan menuju kampus. Jika hubungan mereka akur, ia sama sekali tak keberatan melepas Dante untuk Lara selamanya.


Namun, jika melihat sikap Lara yang seperti ini, bagaimana ia bisa mengikhlaskan Dante? Lara bahkan sama sekali tak menunjukkan penyesalan setelah beberapa waktu menculiknya. Jangankan meminta maaf, menunjukkan itikad baik saja tidak. Kurang baik apa dirinya selama ini?


Alisha bahkan menutupi segala kebusukan Lara dari papanya. Bukan karena ingin mencari muka. Ia hanya ingin menjaga nama baik gadis itu sekaligus menjaga hubungan baik antara mereka. Tapi jika hasilnya tetap seperti ini, maka pengorbanannya sungguh sia-sia.


Lara beranjak mendahului Alisha dan papanya. Alisha sendiri tak mau ambil pusing sebab mengira gadis itu memang terburu-buru seperti biasa. Kebetulan hari ini Dante juga tidak datang menjemput Lara. Baguslah. Setidaknya ia tak perlu berjumpa dengan pemuda itu. Sudah cukup Dante membuatnya merasa gelisah dan tidak tenang.


Saat berjalan menuju mobil bersama dengan Narendra, Alisha dibuat heran dengan keberadaan mobil Lara yang masih terparkir cantik di tempatnya. Mobil lainnya juga masih lengkap di sana. Memang gadis itu menuju kampus dengan mengendarai apa?


"Pa, kok mobil Lara masih ada di rumah? Memangnya dia ke kampus naik apa?" Gadis itu akhirnya bertanya pada Narendra. Pria itu pasti tahu sebab Narendra adalah papanya. Namun, jawaban dari pria itu kemudian malah membuatnya mengernyit heran.


"Entah. Papa juga nggak tau."


"Hah?" Alisha menatap Narendra seperti tercengang. Sementara yang ditatap justru menaiki mobilnya dengan sikap biasa saja.


"Pa. Gimana Papa bisa setenang itu di saat Lara tidak jelas pergi ke kampus dengan mengendarai apa? Kalau dia jalan kaki terus kenapa-kenapa di jalan bagaimana?"


"Alisha ..., Lara itu sudah besar. Papa yakin dia pasti bisa jaga dirinya sendiri."


Alisha terperangah. Ia nyaris melayangkan kalimat protes, tetapi Narendra buru-buru menyelanya dengan nada tegas.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana sambil berkacak pinggang seperti itu, Sayang? Cepat naik dan Papa antar kau ke kampus!"


Alisha berdecak sebal. Namun, meski begitu ia tetap patuh dan mengikuti kata-kata papanya. Dari ekor matanya, Narendra bisa melihat bibir Alisha yang mengerucut. Ia memilih diam dan pura-pura tidak tahu. Ia masih enggan menceritakan pada putrinya tentang kekecewaan mendalam yang ia rasakan.


Lagi pula ide menghukum Lara itu bukan tercetus dari bibirnya. Itu semua murni keinginan Helena yang sudah putus asa mengetahui sepak terjang putrinya yang sangat bar-bar di luaran. Mungkin itu juga cara Helena untuk mempertahankan hubungan mereka. Narendra sendiri seolah-olah tak peduli. Hatinya sudah seperti mati rasa sebab terlampau sering Helena sakiti.


"Belajar yang serius ya, Sayang. Jangan kecewakan Ibumu dan Papa. Raih cita-citamu setinggi langit." Narendra berpesan saat putrinya itu mencium punggung tangannya. Ia kemudian mengusap lembut puncak kepala Alisha.


"Pasti, Pa. Alisha akan giat belajar."


"Bagus anak Papa."


Alisha melambaikan tangan melepas kepergian papanya. Tak sedikit pula yang turut memperhatikan pemandangan langka itu. Memangnya siapa yang tidak mengenal Narendra? Selain pengusaha sukses, pria itu juga orang tua dari Lara. Lantas, di mana putri yang satunya?


Saat mobil Narendra mulai menghilang dari pandangan, tatapan mata Alisha justru beralih pada objek lainnya. Lara baru sampai di area kampus dengan berjalan kaki. Rambutnya berantakan dan wajahnya berkeringat. Kenapa sebegitu kacaunya? Memangnya gadis itu habis berlarian?


"Lara?" Alisha berinisiatif menyapa, tetapi Lara justru mengabaikannya. Alhasil, Alisha hanya bisa mengamati pergerakan Lara yang berlalu melewatinya dengan mulut ternganga.


Dua peristiwa tentang Lara pagi ini membuat pikiran Alisha menjadi tak tenang. Terus terang, ia benci permusuhan. Lara yang tiba-tiba jadi pendiam benar-benar tak mau memandang wajahnya. Gadis itu selalu menghindar setiap kali didekatinya. Hingga akhirnya, munculah sebuah ide di benak Alisha.


***


Matahari siang itu bersinar sangat cerah. Cuaca panas yang menyengat membuat seorang gadis yang berjalan mengendap-endap itu berkeringat. Lara mengusap dahinya yang basah menggunakan punggung tangan. Selain kakinya pegal, tenggorokannya juga terasa kering kerontang.


Dalam keadaan tak memiliki apa-apa seperti sekarang, ia tak memiliki seorang teman. Mereka yang mendekat hanya menginginkan traktiran. Dan ketika dirinya tak memiliki uang, mereka menjauh bersamaan. Sedih, kecewa dan putus asa. Gadis itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Andai bukan lantaran sebuah pembuktian pada sang mama jika dirinya mampu bertahan, mungkin sejak awal menjalani hukuman Lara sudah menyerah dan angkat tangan.


Lara mengusap wajah basahnya saat ojek online yang dipesannya datang. Ia buru-buru naik ke boncengan lalu meminta kang ojol itu segera melesat.


Gadis itu menoleh ke belakang dan bernapas lega saat tak mendapati seorang pun yang melihatnya. Ketika dalam masa-masa sulit seperti ini hanya satu wajah yang selalu diingat dan membuatnya geram. Siapa lagi jika bukan Alisha. Lara ingin memberi pelajaran gadis itu jika suatu saat nanti mendapatkan kesempatan.


Perjalanan yang awalnya terasa normal pada akhirnya terganggu oleh beberapa pengendara motor yang tiba-tiba muncul dari belakang bersamaan. Lara mengerutkan kening, merasa bingung oleh aksi beberapa pemotor berjaket serba hitam yang seolah mengelilingi dan mengepung dirinya. Pengendara motor yang berjumlah lima orang itu mengambil posisi di depan, di samping dan juga di belakang ojek motor yang Lara tumpangi. Kemudian salah satu di antara mereka berseru ke arah Lara.


"Turun lo!"


Seketika Lara menyadari satu hal. Mereka adalah para preman yang kemarin mengancamnya. Sial. Mereka rupanya tak main-main. Sekarang malah berusaha menghentikan Lara.


"Mbak, mereka siapa?" Kang ojek bertanya dengan nada cemas. Pria itu tak kalah takutnya dengan Lara.


"Aku tidak tau. Cepat tambah kecepatan dan lari dari mereka!" titah Lara. Namun, pria berjaket hijau itu menolak mentah-mentah.


"Saya nggak bisa, Mbak. Kenapa Mbak tidak turun saja dan menyelesaikan sendiri masalah Anda? Tolong, jangan bawa-bawa saya. Saya tidak tau apa-apa!"

__ADS_1


"Tolong saya sekali ini saja, Pak. Tambah kecepatan dan lari dari mereka! Saya akan berikan apa pun yang Bapak minta." Lara berusaha membujuk setengah mengiba, walaupun ia tak tahu kelak memberi pria itu upah berapa.


"Maaf, Mbak. Saya nggak bisa." Tanpa izin Lara, pria itu benar-benar mengurangi kecepatan dan mengisyaratkan ingin berhenti. Dia pemotor di sisi kiri yang melihat kode itu langsung menyieih untuk memberikan celah pria itu menepi.


"Tolong jangan berhenti, Pak. Tolong bantu saya." Lara memohon dengan sangat. Bahkan jika gadis itu sampai menangis sekalipun, tukang ojek itu takkan mau mengabulkannya. Baru diintimidasi sedemikian saja pria itu sudah takut setengah mati. Apalagi jika ia benar-benar terlibat? Bagaimanapun juga ia masih sayang nyawa dan keluarga. Ia hanya ingin mencari nafkah.


"Turun!" titahnya setelah motor berhenti.


"Pak, tolong ...." Lara benar-benar ingin menangis.


"Tidak!" tolak si pria. Ia berusaha membuang rasa iba. Didorongnya tubuh Lara yang seperti enggan turun dari motornya hingga gadis itu tersungkur lantaran tidak siap.


Lara meringis saat merasakan sakit pada pantat dan telapak tangan. Dua orang pemotor itu bahkan berhasil menahannya sebelum ia berhasil kabur.


"Kena kau!" ujar salah satu dari mereka setelah mencekal Lara. Gadis itu benar-benar menangis meratapi nasibnya. Ia menatap nanar pada tukang ojek yang sudah melesat pergi. Kedatangan tiga pemotor lain itu kian membuatnya ketakutan. Dikeroyok lima orang berbadan kekar membuatnya ciut nyali. Ia sudah seperti kelinci kecil di antara lima harimau besar. Ia hanya bisa menunggu waktu kapan dirinya akan diterkam.


"Mana uang yang kemarin lo janjikan?" bentak salah satu dari mereka. Lara mengenal pria itu. Dia adalah ketua dari empat preman yang lainnya.


Cengkeraman kuat di lengan Lara membuat gadis itu kesakitan. Namun, itu masih belum sebanding dengan rasa takut yang ia rasakan. Dengan bibir bergetar, ia pun menjawab. "Nggak ada, Bang. Kasih saya waktu sebentar lagi."


"Kurang ajar! Enaknya kita apain ini anak?" Pria itu meminta pendapat pada temannya. Itu bukan sebuah ide gila hanya untuk menakut-nakuti Lara saja, melainkan sebuah keseriusan sebagai bentuk kekecewaan.


"Ampun, Bang. Jangan sakiti saya ...." Lara memohon dengan tangisnya.


"Diam!" hardik si pria yang membuat gadis itu seketika berjingkat.


"Penggal saja lehernya!" usul salah satu teman yang membuat Lara membulatkan mata. Kejadian ngeri langsung membayang di otaknya.


Namun, salah seorang lagi kemudian menyahut. "Jangan! Keenakan dia mati cepat. Gimana kalau kita perkosa dan aniaya dulu. Bukankah dia lumayan? Setidaknya kita tidak membuangnya sia-sia!"


Lara ingin pingsan saat itu juga. Usul kedua nyatanya lebih mengerikan. Diperkosa beramai-ramai lalu dianiaya bukankah sama saja dengan berakhir kehilangan nyawa. Bahkan kematiannya akan sangat hina sebab tubuhnya tentu saja berlumuran noda. Lalu kemudian pria ketiga memberi usulan yang tak pernah Lara duga.


"Kenapa tidak kita sandra dia saja? Dia anak orang kaya. Kita tinggal menghubungi orang tuanya dan mereka akan menebus gadis ini dengan uang yang banyak. Kita akan kaya, Teman!"


Krik ... krik.


Mereka berlima diam sejenak dan saling pandang. Tak lama setelah berpikir, akhirnya bibir mereka menyunggingkan senyum dengan bola mata berbinar senang.


"Benar juga lo bilang!" ujar sang ketua sambil menepuk bahu temannya. Wajahnya terlihat sangat antusias. "Kita minta tebusan yang sangat besar. Jika mereka tidak datang, terpaksa organ tubuh gadis ini kita jual."


"Setuju!"

__ADS_1


Seketika Lara merasakan pandangannya gelap, sebelum kemudian ia ambruk dan tak sadarkan diri.


__ADS_2