Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Nikah beneran yuk


__ADS_3

POV Dante


Aku mengetatkan rahang usai memutus sambungan telepon. Kesal, lantaran Papa menghubungiku hanya untuk mengingatkan perihal fitting baju.


Sia-sia saja usaha yang kulakukan untuk menghindar. Mulai dari bangun tidur di pagi buta, terjebak macet dalam perjalanan ke kantor Papa, sampai harus menelpon Lara untuk membatalkan rencana.


Namun, setelah semuanya berjalan lancar dan kupikir aku bisa tenang, masalah kembali datang hingga aku berada di sini sekarang.


Seorang wanita menyambutku dengan ramah begitu pintu butik dibuka. Aku hanya meresponnya dengan anggukan kecil dan senyum tipis sebagai bentuk kesopanan. Pandanganku mengedar ke sekeliling. Lengang. Mungkin Lara ada di dalam, mencoba gaun pilihannya.


Seketika itu juga Tante Selena muncul dan menyambutku dengan gaya elegan khasnya. Ia meraih jemariku dan membimbingku masuk ke sebuah ruangan.


"Hai, Boy! Kau datang juga rupanya. Aunty senang, sekali. Aunty nyaris putus asa karena nggak ada model pria untuk cobain jas pertunangan kamu."


"Maaf kalau aku udah bikin Aunty nyaris putus asa," ucapku pura-pura tak enak hati.


"Tak apa, Tampan. Yang penting kau sudah datang. Oh iya, lihatlah gaun calon tunangan kamu. Cantik, bukan?" Tante Selena menunjuk baju yang dikenakan seorang gadis. Gadis itu berdiri membelakangi kami. Mungkin itu Lara. Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali menatap Tante Selena.


"Aku percaya. Gaun rancangan Aunty kan memang cantik-cantik semua," kataku memuji. Sungguh, ini dari hati. Gaun rancangan Tante Selena memang tak bisa diragukan lagi. Ia desainer ternama di Indonesia yang sudah terjun ke pasaran manca negara. Tak sedikit pula para artis yang menggunakan pakaian rancangannya untuk acara-acara besar.


Mendengar pujianku, wanita bertubuh bak model itu terkekeh sambil menepuk bahuku pelan. "Ah, kau bisa saja. Tunggu ya, Tampan. Aunty ambilkan dulu stelan jas kamu."


Aku mengangguk kecil. Sebuah sofa empuk yang tersemat tak jauh dari sana menjadi pilihanku untuk melabuhkan pantat. Aku duduk di sana selagi menunggu Tante Selena. Aku juga mengeluarkan ponsel untuk sekadar membalas pesan. Salah satunya pesan Papa yang terus saja mendesakku untuk datang. Sekalian saja aku kirim foto punggung bagian belakang Lara. Biar dia puas hati.


Lara? Tumben sekali tuh anak kalem. Nggak biasanya seperti ini. Dia nggak noleh sama sekali semenjak aku datang. Ah tapi bodo amat, lah. Emangnya aku peduli.


Tante Selena muncul dengan stelan jas warna silver di tangannya. Itu adalah jas untukku. Untuk mencoba jas itulah alasanku datang kemari.


Tante Selena mengutarakan maaf padaku karena telah membuatku menunggu. Ia terlihat tak enak hati. Aku pun menanggapinya dengan santuy.


Ada fakta mengejutkan yang kemudian aku tahu. Rupanya Lara tidak ada di sini dan memerintahkan seseorang untuk mewakili dirinya.


Kurang ajar sekali, bukan. Fitting baju saja dia berani sekali mengutus perwakilan. Kenapa tidak sekalian saja saat pertunangan? Jujur, aku geram. Aku memang tidak cinta dia, tetapi ini jelas-jelas sebuah tindakan meremehkan. Pantas saja gadis itu tak menyapaku, ternyata dia bukan Lara.


Awalnya aku tidak peduli pada siapa pun orang yang bersedia menjadi pengganti Lara. Namun, setelah Tante Selena memaksaku melihat detail gaun rancangannya, mau tak mau pandanganku terarah pada sosok gadis berkulit cerah itu.


Dari belakang, posturnya seperti mirip seseorang. Tapi entah siapa. Aku malas menduga-duga. Namun, tiba-tiba saja Tante Selena menyebutkan satu nama, dan aku dibuat membelalak karenanya.


"Alisha."


Alisha? Benarkah itu Alisha? Aku memperhatikannya dengan seksama. Lebih tepatnya menanti dia berbalik badan agar bisa melihat wajahnya. Namun, gadis itu masih bergeming, sehingga Tante Selena harus memanggilnya sekali lagi.


"Alisha. Coba berbalik badan, Sayang. Dante ingin melihat bagian depan gaun yang kau kenakan."


Aku menantinya dengan jantung berdebar-debar. Alisha siapakah yang Tante Selena maksudkan? Mungkinkah Alisha si dia?


Selanjutnya, waktu berjalan terasa lamban. Aku semakin tak sabaran, tetapi berusaha untuk tetap tenang. Kulihat punggung gadis itu bergerak pelan, mungkin sedang menghela napas panjang. Tak lama kemudian tangannya mulai mengangkat gaun, dan aku mulai menghitung mundur. Tiga ... dua ... satu.


Gadis itu benar-benar berbalik badan. Dan aku pun terperangah. Dia bukanlah Alisha yang kukenal. Namun, dia adalah dewi dari khayangan yang turun ke bumi dan menjelma sebagai seorang wanita. Aku bahkan yakin, ketika menciptakan dia, Tuhan melakukannya dengan sepenuh hati hingga hasilnya secantik ini.

__ADS_1


Detik-detik selanjutnya dunia seperti berhenti berputar. Hanya sosok bergaun putih itu yang terlihat di mataku. Kata-kata Tante Selena hanya serupa dengungan yang tak bisa kucerna sampai ke otak. Sebab duniaku sudah terfokus pada satu titik. Yaitu si pemilik wajah indah itu, dan si pemilik senyum malu-malu bak bulan purnama itu.


Seketika aku memahami sebuah kata-kata bijak yang berbunyi, 'Selalu berbaik sangkalah pada apa pun, karena bisa jadi, sesuatu yang tak kau sukai itulah yang terbaik untuk kamu.' Seperti halnya aku ini. Sesuatu yang kuhindari ternyata adalah harapan yang selalu ku-aamiini.


***


Dante mematut diri di depan cermin setelah stelan jas tunangannya sudah tersemat di badan. Seperti biasanya, ia selalu terlihat rupawan, tanpa cela dan tanpa kekurangan. Hanya saja beberapa saat lalu ia gagal menguasai diri sebab matanya hanya terpaku pada sosok pengganti sang calon tunangan yang sejati.


Sial. Ia mengumpat dalam hati. Andai saja Alisha bukanlah model sementara yang menggantikan Lara.


"Dante. Kau sudah selesai, Tampan?"


Dante sontak menoleh ke tirai, lalu menjawab setengah kencang. "Sudah, Aunty."


"Ayo dong keluar. Aunty mau lihat."


Dante tak menjawab dengan kata. Ia memilih membuka tirai dan menunjukkan penampilannya.


Mata Selena berbinar kagum. Bukan hanya Selena saja, tetapi sosok lain yang berdiri di belakang Selena. Alisha. Gadis itu sejenak tertegun, lalu buru-buru membuang muka saat kedapatan oleh Dante tengah mencuri pandang kepadanya.


"Kau gagah sekali, Sayang. Kau semakin tampan," puji Selena. Wanita itu kemudian menarik tangan Alisha untuk disandingkan dengan Dante. Seketika senyumnya mengembang melihat keduanya. "Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Kalian mirip pengantin sungguhan yang hendak naik ke pelaminan."


"Aamiin," ujar Dimas tanpa sadar yang membuat Alisha membelalak. Gadis itu menatap Dante dengan ekspresi tak percaya, dan seketika membuat pemuda itu menyadarinya.


Saat itu juga batin Dante tak henti merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya kelepasan mengamini kata-kata Selena. Benar-benar ya. Mau ditaruh di mana muka malunya?


Akan tetapi, bukan Dante namanya jika tidak bisa menguasai situasi. Sudah kepalang tanggung. Alisha sudah mendengar jelas bagaimana dia mengaminkannya. Maka, hanya kata-kata ketus lah senjata ampuh yang bisa menepis pemikiran Alisha.


"Ish, siapa juga yang lihatin kamu!" ketus Alisha pula. "Yang ada juga harusnya aku yang nanya! Kamu ngapain bilang aamiin? Kenceng banget lagi."


Tuh kan.


"Heh, apa karena pakai gaun mewah kek gini lo jadi besar kepala? Sampai telinga ikut senewen juga? Tadi itu gue bilangnya amit-amit, kali. Ngapain lo dengernya aamiin, hey?"


Alisha membelalak tak terima. Alasan Dante yang terkesan mengada-ada. Ia merasa pendengarannya masih sangat baik. Rasanya tidak mungkin kalau tadi salah dengar. Kecuali, Dante lah yang beralasan demi menutupi rasa malunya.


Sejujurnya Alisha ingin melawan tuduhan Dante. Ia tak terima jika pemuda itu memutar balikkan fakta yang ada. Demi menghargai dirinya sendiri dan Tante Selena yang sudah sangat baik, ia pun memilih mengalah dan menelan kembali kalimat umpatan untuk Dante mentah-mentah.


Alisha memilih meninggalkan Dante setelah mendengkus lirih. Ia duduk pada sebuah sofa sambil memainkan ponsel genggamnya. Selena sendiri sudah beranjak pergi guna menyiapkan kamera untuk mengabadikan penampilan keduanya. Aneh memang, mengingat jika Alisha dan Dante bukanlah pasangan sesungguhnya. Namun, mau bagaimana lagi. Lagi-lagi Alisha dan Dante tak kuasa untuk menolak.


Dari kejauhan, rupanya diam-diam Dante memandangi Alisha dengan penuh kekaguman. Gadis itu benar-benar terlihat puluhan kali lebih cantik dari biasanya. Itu sebuah fakta yang tak bisa ia bantah. Detail payet dan berlian Swarovski yang membuat gaun berkilauan di bawah cahaya itu semakin menambah kecantikan Alisha kian paripurna.


Dante tergagap saat kedapatan oleh Alisha tengah memperhatikannya suatu ketika. Dan lagi-lagi pemuda itu memasang wajah ketus untuk menutupi rasa malunya. Alisha pun tak mau kalah. Ia berhasil mengancam Dante melalui sebilah gunting yang teronggok di atas meja.


Pemuda itu mengerti apa maksud Alisha. Ia membelalakkan mata sebagai bentuk ancaman balasan. Alisha yang tak mau kalah hanya tersenyum licik sembari geleng kepala. Ujung gunting yang runcing ia arahkan ke gaun yang dikenakan. Seperti yang ia inginkan, Dante membelalak panik oleh ulah nakalnya.


Akhirnya Dante mendekati Alisha setelah memastikan tak ada siapa pun di antara mereka. Bukan apa-apa sih, hanya sekadar berjaga-jaga. Dante yang sudah dekat bergerak sigap menangkap pergelangan tangan Alisha.


"Jangan macam-macam," ujarnya memperingatkan.

__ADS_1


"Biar. Siapa suruh fitnah orang. Udah bagus aku mau bantuin calon tunangan kamu, eh malah kamunya gitu ke aku." Alisha menggerutu.


"Terus maunya apa?" tanya Dante tanpa melepaskan tangan Alisha.


Alisha diam memandangi Dante yang membungkuk di depannya. Hanya sejenak, sebab jika lama-lama ia tak kuat. Buru-buru ia menunduk lalu geleng kepala.


"Kok geleng? Mau kamu apa, heum?" Kali ini nada bicara Dante sedikit melembut. Sebutan lo gue bahkan berubah jadi aku kamu.


Alisha menatap heran pada Dante yang kini berjongkok di depannya. Entah ini benar atau matanya yang salah menilai. Tatapan Dante memancarkan kehangatan. Tatapan yang sama seperti waktu itu. Waktu di mana mereka selalu berdua ke mana-mana. Waktu yang sampai saat ini selalu ia rindukan.


"Nggak ada." Hanya itu jawaban Alisha. Tanpa memandang muka.


"Yakin?"


"Hem."


"Tapi mata kamu mengatakan nggak tuh."


Alisha mendongak dan mendapati bibir Dante menyunggingkan senyum. Astaga, ia terpesona, tapi ia juga tak boleh lupa. Dante milik orang, dan dirinya adalah calon saudara ipar.


Oh iya, mumpung Dante mendesak, sepertinya tidak ada salahnya jika ia katakan yang sebenarnya. Bagaimana pun juga ia harus akhiri ketegangan tak penting ini. Toh kelak mereka akan jadi saudara.


"Dante," lirih Alisha.


"Ya."


"Benar kamu mau tau apa aku inginkan?"


"Ya. Katakanlah."


"Dante, sejak kita bertemu untuk yang kedua kali, kenapa kamu berubah sikap sama aku?"


"Berubah gimana?" Dante malah balik bertanya seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Kamu jadi dingin. Galak. Sama aku kayak nggak kenal."


"Terus?"


"Kok terus?" Alisha memasang wajah kesal. "Ini aku mau tanya sebenarnya salah aku apa? Kamu marah? Kamu kesal? Apa salahku tidak termaafkan?"


"Nggak gitu juga, Al."


"Terus apa?"


Dante terdiam dengan tatapan lekat pada iris bening Alisha. Haruskah ia katakan jika Alisha adalah sebilah pedang yang telah mematahkan hatinya? Haruskah ia katakan jika sebongkah daging di rongga dada ini terluka parah dan tak ada obatnya?


"Dante ... kita memang belum lama kenal. Tapi aku tau watak kamu seperti apa. Kamu sebenarnya baik, dan pengertian. Aku pengen kita kayak dulu lagi, Dante ... berteman baik dan bertegur sapa sewajarnya. Sebentar lagi kita jadi saudara ipar, dan bisa dipastikan lebih sering ketemuan. Aku nggak mau kita bermusuhan Dante, aku maunya kita baikan. Plis, mau ya."


"Tapi, aku maunya kita bukan hanya jadi saudara, tuh. Gimana dong?"

__ADS_1


"Bukan hanya jadi saudara? Maksudnya?" Dahi Alisha berkerut tak paham. Namun, sebuah permintaan yang Dante kemukakan selanjutnya, sukses membuatnya membelalak lantaran tidak masuk akal. Ia bahkan berpikir telinganya salah dengar.


"Kita nikah beneran yuk. Kamu mau kan jadi istri aku?"


__ADS_2