
"Lara tunggu Papa!" Narendra yang berinisiatif menyusul Lara ke luar langsung menarik pergelangan putrinya itu untuk menahan. Gadis itu tak menolak. Namun, tak juga bersahabat.
"Tunggu untuk apa, Pa? Untuk menunjukkan sugar baby Papa itu sama aku?" Lara menggeleng kuat-kuat sebagai bentuk penolakan yang teramat. "Aku nggak sebaik itu, Pa. Aku nggak sebaik itu. Kupastikan, aku akan menjadi pembenci kalian sampai mati! Aku nggak mau bertemu dengan kalian lagi!"
Bola mata Lara bergeser ke arah Alisha yang muncul dengan langkah pelan menyusul dirinya dan Narendra. Seketika itu pula, aura dendam langsung menguar dari tatapannya.
"Dasar serigala berbulu domba." Ia bergumam sinis tanpa mengalihkan pandangan dari Alisha. Kemudian sisi rapuhnya muncul ketika sedih tak dapat dibendung. "Tuhan ... skenario apa yang sedang engkau siapkan untuk diriku, hah! Dua orang yang kusayang mengkhianati aku dalam waktu yang bersamaan. Mereka menusukku dari belakang dan menjalin cinta secara diam-diam. Hatiku hancur Ya Tuhan ... hatiku sakit!" Lara terduduk di tanah dengan air mata yang berderaian. Gadis itu tergugu sembari menutup wajah dengan telapak tangan.
"Lara dengarkan Papa, Nak. Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan." Narendra menyusul sang putri berjongkok dan merangkul bahu Lara penuh sayang. Ia ingin menjelaskan tetapi Lara enggan mendengarkan.
"Kau tahu jika nama adalah doa. Apakah ini tujuanmu memberiku nama Lara agar aku puas mengecap luka?" Tuduhan itu terlontar bersamaan dengan tatapan berkilat benci dari seorang putri terhadap ayahnya. Narendra hanya menelan ludah sekalipun tuduhan Lara tidak ada benarnya. Dulu sang istrilah yang memberi bayi mereka nama. Dan ia hanya ikut saja.
Clara Silva Narendra. Narendra hanya turut andil menyematkan namanya pada nama belakang putri mereka. Sejak kecil memang gadis itu lebih suka dipanggil Lara? Lantas, di mana letak salah Narendra? Mungkin ia tak pernah menyangka jika Lara akan mempermasalahkan nama panggilannya.
"Itu tidak benar, Lara."
"Bohong! Selama ini dirimulah yang selalu menciptakan luka. Kau yang membuat aku dan mama menderita!" tuding Lara penuh dendam. Ia lantas beralih menatap Alisha yang mematung di belakang, lalu bangkit dengan gerakan cepat hendak menampar saudari tirinya. Lara ingin memberikan gadis itu sebuah pelajaran.
__ADS_1
Memejamkan mata, Alisha yang menangis dalam diam hanya bisa pasrah oleh apa yang dilakukan sahabat yang ternyata adalah saudaranya. Ia rela sekalipun Lara menghajarnya. Ia bahkan sudah sepenuhnya menyiapkan diri andai Lara benar-benar melakukan itu.
"Tenangkan dirimu, Lara!" Narendra menangkap tangan putrinya di waktu yang tempat. Lara gagal menampar Alisha dan itu membuatnya kian meradang.
"Lepaskan aku pria brengs*k!" Lara meronta ingin melepaskan diri saat tubuh kokoh Narendra menahannya. "Biarkan aku menghajar jal*ngmu itu dulu! Biar dia tau rasanya dikhianati! Biar dia tau sakitnya hatiku ini!"
"Lara dengarkan Papa–"
"Diam!" bentak Lara sambil mengangkat jari telunjuknya. Memberi peringatan tegas agar Narendra tetap diam.
Keheningan pun tercipta dibawah guyuran gerimis yang melanda. Meski tak sedikit manusia yang menonton keributan mereka bertiga layaknya drama rumah tangga yang tak boleh dilewatkan.
"Serigala berbulu domba. Meski berusaha sekuat tenaga menutupi sifat aslimu, kelak akan terbongkar bagaimana belangnya kamu! Kau hanya jal*ng miskin yang terobsesi ingin kaya. Kau menjerat pria kaya hanya untuk mengeruk hartanya saja!"
Sungguh itu tuduhan yang sangat menyakitkan. Alisha yang sudah hancur sejak awal kini dibuat remuk redam oleh tudingan tidak benar saudari tirinya. Belum lagi pandangan miring dari orang-orang yang ada di sana.
"Lara!"
__ADS_1
"Apa!"
Lara menatap tajam Narendra yang berupaya memperingatkannya. Pria itu dibuat tak tega saat melihat air mata Alisha. Dua gadis itu adalah putrinya. Demi apa pun, ia tak ingin memihak salah satu di antaranya.
"Mau marah! Marah aja Pa! Bela wanitamu itu! Kau benar-benar manusia berhati iblis. Kau hanya diperbudak oleh nafsu sampai-sampai tak mempedulikan perasaan Mama! Dasar pria jahat!"
Gigi Narendra menggemertak. Tangannya terkepal kuat. Nalurinya sebagai ayah pun bekerja cepat ketika dilihatnya Lara bergerak mendekati Alisha. Tangan gadis itu pun mengepal. Narendra langsung pasang badan melindungi Alisha yang hendak ditampar Lara.
Plak!
Lara mendelik saat tamparannya justru mengenai wajah Narendra. Bahkan Alisha masih aman saja di belakang tubuh papanya.
"Pukul Papa sebanyak apa yang kau mau, Lara. Tapi jangan pernah kamu hakimi Alisha karena dia tak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa!"
Air mata Lara kembali berjatuhan selagi dirinya menggeleng tak percaya. Tangannya tak bisa ditahan untuk tidak melakukan kekerasan terhadap Narendra diiringi kata-kata kotor keluar dari bibirnya. "Sadar, Pa! Dia membuatmu tersesat jauh! Seandainya Papa punya perasaan, pasti akan memihak putri Papa sendiri daripada jal*ng!"
"Stop mengatainya jal*ng, Lara!" Narendra menangkap tangan Lara lalu menahan posisi gadis itu. "Papa berhak membelanya karena dia adalah anak Papa. Paham!"
__ADS_1
Duaar!
Suara Narendra seperti petir yang menyambar. Lara membelalak, dibalut keterkejutan yang teramat. Gadis itu ternganga tak bisa berkata-kata. Hanya gelap. Pandangannya kabur. Lalu teriakan penuh kepanikan pun menggema. Hingga ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.