Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Marcel


__ADS_3

"Saya tau kenapa Nona terburu-buru ingin berangkat ke kampus. Pasti karena cemburu melihat kebersamaan mereka berdua, kan?" tebak Lisa setelah mereka sampai di tempat kuliah Alisha. Gadis berkemeja putih berpadu jeans warna hitam itu melirik Alisha sembari tersenyum nakal. Namun, reaksi menjengkelkan justru ditunjukkan oleh Alisha sesuai dengan yang ia duga.


"Sok tau kamu."


"Perlukah saya lakukan sesuatu untuk memberi mereka pelajaran?"


"Jangan!" Alisha menyahut cepat seraya menghentikan langkah. Ia menatap maid-nya dengan tajam. "Memangnya kamu ini siapa, Lisa? Apa hak kamu memberi pelajaran mereka?"


"Saya maid Anda, Nona. Saya harus mengakui semua yang terbaik untuk Anda."


"Tapi tidak begitu juga, dong! Itu namanya kamu jahat."


Lisa hanya diam mendengar kemarahan nonanya. Tak terlihat marah, ataupun kesal. Ia justru menunduk penuh sesal.


Melihat itu Alisha langsung diam dan menghela napas. Ia tahu Lisa memiliki niatan baik. Hanya saja ia tidak suka dengan cara gadis itu yang terkesan menghalalkan segala cara jika ia menyetujuinya.


"Ah sudahlah. Yuk ke kelas," ajak Alisha kemudian. Ia meraih pergelangan tangan Lisa dan hendak menariknya.


Namun, saat hendak melangkah, ada sesuatu yang menghalanginya hingga ia pun menabrak.


"Aoww!" Alisha memekik. Ia yang menabrak tapi ia juga yang kesakitan bercampur terkejut. Lengan kanannya membentur lengan kokoh seseorang hingga ia terpental ke belakang. Arah pandangnya tertuju pada sesuatu yang terjatuh dari pegangan orang yang ia tabrak.


Ini kesalahannya. Ia melangkah tanpa melihat jalan padahal banyak orang yang lalu lalang. Buru-buru saja Alisha berjongkok memunguti beberapa buku tebal yang teronggok di bawah. Setelah mengusap dan memperlakukan benda itu dengan baik, ia pun bangkit seraya menyodorkan itu pada orang di depannya.


"Maaf, maafkan saya. Ini salah saya." Sejenak Alisha masih menunduk dengan tangan terulur ke depan untuk menyerahkan. Sayangnya masih belum mendapatkan tanggapan, ia pun mau tak mau mengangkat pandangan.


Bibir Alisha nyaris ternganga melihat pemandangan di depannya. Seorang pemuda berperawakan tinggi tengah berdiri tegak menatapnya sembari bersedekap dada. Mata indahnya menyipit. Alis tebalnya bahkan sampai nyaris bertautan. Membuat yang ditatap jadi salah tingkah.


"Kamu siapa? Anak baru, ya?"

__ADS_1


"I-iya. Baru beberapa hari kuliah di sini." Alisha tergagap.


"Oh, pantes. Masih terasa asing di mata aku." Pemuda itu tersenyum kecil sembari menerima buku miliknya. Ia kemudian berucap dengan ramah. "Thanks, ya."


"Saya yang salah. Maaf," ucap Alisha lagi dengan nada tak enak hati.


"It's okay," balas si pemuda dengan santai.


"Permisi." Karena tak tahu harus bicara apa lagi, Alisha memutuskan pamit.


"Tunggu!"


Alisha yang sudah berlalu dua langkah sontak berhenti dan menoleh. Lisa yang sejak tadi diam memperhatikan kini ikut pergerakan nonanya. Ia berhenti tepat di sisi kirinya.


"Iya. Ada apa?"


"Ke kelas. Memang mau ke mana lagi?"


"Setelah nabrak orang mau pergi gitu aja?"


"Lah, memang aku harus apa?"


Si pemuda tersenyum menanggapi kepolosan Alisha. Ia berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangan dengan sikap percaya dirinya. "Kenalin, aku Marcel."


Agak gugup Alisha menyambut uluran pemuda itu. "Aku Alisha," katanya kemudian.


"Nama yang cantik," puji Marcel tanpa melepaskan tangan Alisha. Sementara si gadis hanya bisa tersenyum kecut sebab merasa nama yang disematkan ibunya saat dia bayi itu biasa saja. Menurutnya Marcel sangat berlebihan untuk ukuran seseorang yang baru mengenal.


"Saya Lisa."

__ADS_1


Marcel terpaksa melepaskan pertautan tangannya dengan Alisha lantaran disela oleh gadis di sebelah Alisha. Gadis yang menyebut dirinya Lisa itu mengulas senyum meski wajahnya menunjukkan sikap yang tegas.


"Marcel." Pemuda itu berucap singkat, kemudian melontarkan pertanyaan pada kedua gadis di depannya. "Apa kalian berteman?"


"Iya. Dia temanku." Alisha menyahut. "Nggak ada dia aku seperti orang hilang."


Marcel malah tergelak. "Aku sudah lama kuliah di sini. Kalau kamu mau aku bersedia mengajakmu berkeliling mengunjungi setiap sudut kampus ini."


"Ah tidak perlu. Aku bisa bersama Lisa saja. Terima ka–"


"Bisa, bisa!" Lisa yang justru menjawab penuh antusias. Memotong kata-kata Alisha sebelum gadis itu menyelesaikannya. Terang saja sikap seenaknya sendiri itu mendapat hadiah cubitan kecil Alisha di lengan kirinya serta tatapan penuh isyarat, tetapi bagi Lisa itu tidak berarti apa-apa.


"Lisa kamu apa-apaan sih? Jangan sembarangan," bisik Alisha sengit pada Lisa, tetapi gadis itu justru tetap menyunggingkan senyuman.


"Jangan ditolak Nona. Dia adalah teman pria pertama Nona," balas Lisa pula dengan berbisik di telinganya.


"Aku tidak perlu teman lagi. Bagiku keberadaanmu sudah lebih dari cukup."


"Jangan bohong. Jangan lupakan juga jika cepat atau lambat saya juga akan pensiun menemani Nona."


"Apa yang kalian bicarakan di depanku? Bisik-bisik pula. Lancang sekali kalian berani menggibah seseorang di depan mata seperti ini." Marcel yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya angkat bertanya lantaran penasaran dua gadis di depannya hanya bisik-bisik sejak tadi. Niatnya juga hanya bercanda, sehingga tetap menyunggingkan senyum meski melontarkan pertanyaan demikian.


"Ah tidak. Alisha bilang senang sekali jumpa teman sepertimu."


Senyum Marcel mengembang mendengar penuturan Lisa, tetapi reaksi berbeda justru ditunjukkan Alisha.


"Lisa!" Lagi, Alisha mencubit lengan Lisa, tetapi maid-nya itu tak menggubris.


"Aku titip dia dulu, ya. Aku harus pergi sebentar untuk sebuah urusan." Tanpa menunggu jawaban Marcel, Lisa berlalu pergi meninggalkan keduanya. Tentunya setelah mengedipkan sebelah mata ke arah Alisha.

__ADS_1


__ADS_2