Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Saudara selamanya


__ADS_3

Kelopak mata yang semula terpejam rapat itu kini perlahan mulai terbuka. Lara mengerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Menyadari dirinya terbaring di ruangan bernuansa putih membuatnya yakin dirinya kini telah mati.


Sepi. Beginikah rasanya orang mati? Lantas di mana keberadaan malaikat membawa cambuk itu? Bukankah setiap manusia yang mati pasti akan ditanyai semua amal ibadahnya selama hidup di dunia?


Lara merasakan bulu kuduknya bergidik ngeri. Ia bahkan belum sempat bertobat. Ia belum meminta maaf pada Alisha. Begitu juga pada orang tuanya. Sudah barang pasti malaikat akan langsung melemparnya ke neraka tanpa diinterogasi lagi.


Sungguh mengenaskan. Lebih dari dua puluh tahun hidup di dunia ia hanya berakhir sia-sia. Hanya bisa melakukan dosa.


Masih sibuk dengan pikirannya mengenai kematian, tiba-tiba Lara mendengar seseorang berbicara.


"Lara? Akhirnya kamu siuman juga. Syukurlah ... aku merasa lega."


Lara menoleh kemudian membelalak. Benarkah yang ia lihat? Itu bukanlah malaikat seperti yang dipikirkannya, melainkan wajah Alisha yang menatapnya dengan ekspresi penuh syukur.


"Alisha? Kamu ikutan mati juga?" Ia akhirnya menguraikan sebuah tanya yang membuat Alisha tercengang untuk sejenak.


"Mati? Apaan sih Lara, kamu ini ada-ada aja." Di saat Lara merasa tegang, Alisha justru tertawa kencang.


"Iya, mati." Lara meyakinkan. Sedangkan Alisha masih saja tertawa.


"Kita masih hidup, Lara. Kamu sedang terbaring di rumah sakit. Karena tadi kamu pingsan, makanya aku bawa ke sini," terang Alisha.


"Rumah sakit?" lirih Lara. Dan dibalas anggukan oleh Alisha.


Entah apa yang dipikirkan, tiba-tiba Lara meraba-raba lehernya.


Tidak putus. Kepalanya masih tersambung dengan badan. Rupanya ia bukan mati lantaran dipenggal? Ia masih hidup sampai sekarang? Astaga, apa begini dahsyatnya efek dari rasa takut itu?


"Lehermu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Alisha dengan wajah cemasnya.


Lara menekan ludahnya kasar, kemudian menggeleng cepat. Ia kemudian menatap Alisha dengan rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Al, bagaimana aku bisa sampai kemari?"


"Ah, itu nggak penting. Yang penting sekarang kamu masih hidup dan baik-baik saja." Meski Alisha memasang wajah ceria saat berkata, tetapi tetap saja itu belum cukup membuat Lara merasa puas.


"Al, jujur sama aku. Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan pada orang-orang itu? Jika bukan karenamu, mana mungkin mereka semudah itu meninggalkanku meski aku dalam keadaan pingsan. Mereka mengincarku. Kau pasti sudah melakukan hal hebat sehingga mereka lari terbirit-birit, kan?"


Alisha tersenyum tulus sembari mengusap punggung tangan Lara lembut. "Semua yang terjadi atas izin Allah, Lara. Termasuk pertolongan yang kamu dapatkan ini. Ini adalah pertolongan Allah melalui diriku sebagai perantaranya. Aku hanya manusia biasa, Ra. Aku tidak sehebat yang kau kira."


Mata Lara berkaca-kaca. Ada sesuatu yang ia rasakan, tapi entah apa. Perasaannya campur aduk antara malu, bahagia, dan ingin menangis. Sikap Alisha yang tulus dan apa adanya itu membuatnya benar-benar terharu. Bisa-bisanya gadis itu menyelamatkan dia sedangkan Lara sendiri selalu jahat terhadapnya. Alisha terlihat ceria seolah-olah tak pernah terjadi hal buruk di antara mereka berdua.


"Al, kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu tetap baik sama aku sementara aku selalu jahat sama kamu?"


"Karena kita adalah saudara, Lara. Kita kakak beradik sekalipun terlahir dari rahim yang berbeda," ujar Alisha sambil mengusap sudut mata Lara yang berair.


Lara terisak. Andai Alisha tahu ia bukanlah putri kandung Papa Narendra, apakah Alisha masih tetap baik terhadapnya?


"Kenapa malah nangis, Ra? Apa ada yang sakit? Perlukah kupanggilkan dokter?"


"Yang sudah lalu biarkan berlalu ya, Ra. Sekarang kita buka lembaran baru."


Tanpa bisa ditahan lagi, Lara merengkuh tubuh Alisha. Gadis itu memeluk saudarinya lalu tangisnya pecah di sana.


Alisha hanya tersenyum lembut dengan mata berkaca-kaca. Diusapnya punggung berguncang Lara itu dengan lembut penuh sayang.


"Mau bagaimanapun kamu atau aku, yang jelas sampai kapan pun kita tetap saudara, Lara. Terima kasih karena kamu sudah rela berbagi mama papa. Terima kasih juga karena kamu sudah menerimaku dengan baik di rumah kita."


Lara makin sesenggukan. Pelukan Lara bahkan masih belum ia lepaskan.


"Mulai sekarang, kita harus berbagi suka dan duka bersama, Ra. Tegur aku bila aku melakukan kesalahan. Aku juga akan menasihati kamu jika kamu juga berbuat salah."


"Terima kasih, Al." Lara mengurai pelukannya, lalu menatap Lara dengan senyum haru di antara derai air mata. "Kamu adalah saudara sekaligus sahabat yang terbaik di dunia. Maafkan aku yang selalu jahat."

__ADS_1


"Aku juga tidak sebaik yang kamu kira, Lara. Kita damai, ya."


Lara mengangguk antusias. Keduanya pun kembali berpelukan lalu tertawa bersamaan.


***


Helena tampak heran melihat kedatangan kedua putrinya secara bersamaan. Terang saja ia heran, sebab melihat Alisha dan Lara bercanda adalah sesuatu yang sangat langka. Ini bahkan kali pertama mereka.


"Hai. Dua anak gadis Mama pulangnya bersamaan? Tumben banget, Sayang? Ada angin apa ini?"


"Ih, Mama kepo," sahut Lara masih dengan senyumannya.


"Yang pasti angin segar dong, Ma." Kini Alisha yang menjawab dengan nada gurauan. Ia menghampiri sang mama yang tetap tersenyum sekalipun wajahnya dipenuhi kabut kebingungan. Diciumnya punggung tangan wanita itu dengan takzim.


"Lara sayang Mama," celetuk Lara pula usai mencium punggung tangan Helena. Mata Helena membeliak. Secara spontan ia lalu memeluk Lara dan menciumi pipinya penuh sayang. Wajah penuh rasa bersalah itu bahkan tak mampu ia sembunyikan.


"Mama juga sayang kamu, Nak," ujar Helena dengan suara bergetar menahan tangisan. Ia lantas menoleh ke arah kiri, tepat di mana Alisha berdiri di sana sembari menatap ia dan Lara penuh haru. Tangannya kemudian terulur, lalu dengan penuh kesadaran, dipanggilnya sang anak tiri dengan nada penuh sayang. "Kemari, Alisha."


Seperti magnet yang menarik sebuah besi. Alisha mendekat begitu saja lalu menyambut uluran tangan Helena. Dan kemudian wanita paruh baya itu langsung memeluk erat dua putrinya tanpa aba-aba.


"Maafkan Mama putri-putri Mama. Mama sangat sayang pada kalian berdua." Helena mengecup pipi Alisha dan Lara secara bergantian. Mulai sekarang, dua putrinya itu sama derajatnya. Tak ada pembeda. Tak ada yang dispesialkan. Ia akan berusaha berbagai kasih seadil-adilnya.


Ketika sedang bersantai berdua di kamar Lara malam harinya, tiba-tiba Alisha menanyakan sesuatu hal yang sejak tadi coba ia tahan.


"Ra, apa hubunganmu dengan David?"


"David?" Lara malah balik bertanya dengan alis bertaut heran.


"Iya, David. Dia yang membantuku membawamu ke rumah sakit. Tapi sayangnya dia tak bisa menjagamu sampai kamu siuman. David terpaksa pergi lantaran ada sesuatu hal yang harus dikerjakan."


Tenggorokan Lara seperti tercekat. Ia sama sekali tak menyangka pemuda itu masih mau memperhatikannya. Ia semakin bersyukur lantaran dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu sayang padanya.

__ADS_1


__ADS_2