
Alisha menutup wajahnya menggunakan telapak tangan saat mengingat hal mendebarkan yang terjadi di rumah Dante beberapa saat lalu. Kini ia dan Narendra tengah berada di dalam mobil di perjalanan menuju pulang.
Masih terbayang di benaknya bagaimana Dante bersikap tidak normal. Kadang ketus, kadang ngambek dan kadang menunjukkan perhatian. Bahkan ia jadi tahu jika Dante rupanya sangat manja terhadap sang mama. Aroma parfum pemuda itu bahkan masih tercium meski tak lagi berada di dekatnya. Seolah-olah wangi maskulin itu masih menempel di hidungnya.
Menatap ke luar jendela, Alisha diam-diam mengulum senyumnya. Lagi-lagi karena ingat tingkah Dante. Ia yang sempat terlonjak lantaran terkejut oleh kedatangan Dante, memilih memakan kue untuk menyembunyikan rasa groginya. Namun, sial. Tangannya yang gemetaran saat menyuap ke mulut justru membuatnya belepotan. Dan hal itu tak luput dari perhatian Dante hingga membuat pemuda itu angkat bicara.
"Udah gede gitu makannya masih kayak anak TK!"
"Hah?" Alisha menghentikan kegiatan makannya, lalu menatap Dante dengan kening yang berkerut.
"Celemotan tuh!" tunjuk Dante ke bibir Alisha. Gadis itu sepertinya mengerti hingga refleks menyentuh salah satu sudut bibirnya. Alih-alih merasa puas, Dante justru terlihat sebal.
"Bukan di situ!" pekik Dante. Dan seketika membuat Alisha menghentikan gerakan tangannya. Dante yang tak sabaran berinisiatif mengambil tisu dan bergerak mengusap bibir Alisha tanpa sungkan. Tahukah kalian? Meski wajahnya terlihat sebal, tetapi Dante mengusapnya dengan penuh kelembutan. Bagaimana jantung Alisha tidak berdebar-debar, coba?
Alisha mematung dengan bola mata membulat lantaran diperlakukan seperti itu. Dengan jarak yang terlampau dekat pula. Anehnya, Dante sama sekali tak terpengaruh oleh reaksi Alisha. Ia tetap mengusapnya dengan tenang. Seluruh perhatian pemuda itu seperti hanya tertuju di bibirnya saja.
Andai bisa meminta, Alisha ingin waktu berhenti berjalan sebentar saja. Ia ingin memandangi wajah rupawan Dante. Menyentuhnya dan membelainya tanpa pemuda itu tahu.
Sayangnya, hal itu sepertinya tak akan terjadi sebab Niken datang di saat itu juga dan melihat semuanya. Dante yang serius mengusap, dan Alisha yang diam membelalak, sepertinya kompak tak menyadari kehadiran wanita itu.
Niken tersenyum dalam diam. Batinnya sontak saja menarik kesimpulan. Sangat mustahil jika Dante dan Alisha belum pernah mengenal sebelumnya jika melihat pemandangan di depannya. Ia hanya perlu sedikit bersabar untuk mengorek informasi dari putranya.
"Ekhem!" Niken berdeham dan itu sukses membuat Alisha gelagapan. Tanpa wanita itu sangka, ternyata Dante justru tetap bersikap tenang.
__ADS_1
"Mama ini kenapa tiba-tiba datang tanpa suara sih? Tuh lihat, jadi bikin Alisha kaget kan!" rutuk Dante sambil menunjuk Alisha.
"Tanpa suara gimana sih Dante? Jelas-jelas Mama bersuara. Barusan Mama batuk-batuk, kan?" sangkal Niken sambil tersenyum. Ia bergerak mendekat lalu duduk di tempatnya semula. Ia menatap Alisha yang kelihatan kikuk di sampingnya. Rupanya sudut bibir gadis itu masih kotor oleh bercak dari krim kue.
Dante hanya mendengkus menanggapi alasan mamanya. Ia kembali memperhatikan Alisha dan melihat masih ada noda di bibirnya.
"Sini lo!" titahnya supaya Alisha bergerak mendekat. Tangannya menyodorkan tisu baru untuk mengelap. Sayangnya Alisha menolak. Gadis itu menggelengkan kepala sambil bergerak mundur ke belakang. "Sini gue lap! Masih kotor itu!"
"Biar aku sendiri aja!" tolak Alisha.
"Biar gue aja!" Dante pula bersikeras.
Karena berada di bawah tekanan Dante dan disaksikan Niken, mau tak mau Alisha pun mengalah. Ia memasrahkan diri saat Dante mendekat dan mengusap bibirnya. Sepertinya pemuda itu tulus dan mengesampingkan kemarahannya.
"Di sini nggak ada kaca. Lo nggak akan tau bagian kotornya di mana," gumam Dante tanpa menatap mata Alisha. Pandangannya hanya tertuju di bibirnya saja.
Andai saja ...
"Al, kamu kenapa?" Pertanyaan Narendra membuyarkan lamunan putrinya. Alisha sontak menoleh dengan sisa senyum di bibirnya.
"Ya, Pa? Ada apa?" tanyanya dengan wajah polos. Sepertinya gadis itu tidak benar-benar mendengar kata-kata papanya.
Narendra mengulas senyum. "Papa tadi tanya ... kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Oh itu. Alisha baik-baik aja kok, Pa. Memangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa sih. Cuma Papa lihat, dari tadi kamu senyum-senyum sendiri."
Mata Alisha membeliak. Rupanya tingkah konyolnya tak luput dari perhatian sang papa. Seketika ia merasa cemas, jangan-jangan papanya curiga.
"Kenapa? Kamu sedang bahagia, ya?" tanya Narendra penasaran, dengan bibir menyunggingkan senyum dan mata menyipit penuh selidik.
Alisha terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. Namun, kata-kata Narendra kemudian sukses membuatnya bernapas lega.
"Pasti karena kebaikan Tante Niken, ya?"
"Hehe ...." Alisha hanya bisa tersenyum kecut menanggapi tebakan Narendra. Masih beruntung papanya tidak curiga. Narendra malah tersenyum dan merangkulnya untuk bersandar di pundak.
"Tante Niken memang orangnya sangat baik. Siapa pun yang jadi menantunya pasti akan bahagia. "Kau pasti senang kalau Lara bahagia, bukan?"
Deg. Tiba-tiba ada sesuatu yang perih di dalam dadanya.
Seketika Alisha tersadar dengan kenyataan yang ada. Lara lah yang kelak akan bahagia menjadi menantu Tante Niken. Lara lah yang kelak akan menjadi istri Dante. Lara lah yang kelak akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Bukan dirinya. Gadis yang tak pantas mendapatkan bahagia.
Seketika Alisha merutuki diri sendiri dalam hati. Bisa-bisanya ia sempat mengkhayal berada di tengah-tengah Dante dan Niken. Tertawa dan tersenyum seperti tadi. Mendapatkan perlakuan manis seperti tadi. Padahal kenyataannya itu semua hanya mimpi yang tak akan pernah terjadi.
Tiba-tiba setitik air menetes dari sudut matanya. Alisha buru-buru menyeka agar tidak diketahui oleh sang papa. Sebuah belaian lembut terasa hangat di bahu kirinya, tetapi itu sama sekali tak berhasil membuat perasaannya lebih baik. Apa lagi kata-kata yang terucap dari bibir Narendra selanjutnya. Itu seperti batu yang menyumpal rongga paru-parunya. Sangat menyesakkan.
__ADS_1
"Kau tahu, Sayang? Pertunangan Lara dan Dante akan dipercepat. Dan bisa jadi, mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Papa yakin mereka akan hidup bahagia selamanya. Dan Papa harap, kau segera mendapatkan pria terbaik dan cepat-cepat menyusul mereka juga. Papa sudah membayangkan yang indah-indah. Melewati masa tua dengan bahagia. Berkumpul bersama dengan anak-anak dan cucu Papa. Sungguh ... Papa sudah tak sabaran menantikan hari itu."
Selain tersenyum di antara air mata, apa lagi yang bisa Alisha lakukan? Mana mungkin ia tega menghancurkan impian indah papanya dengan merusak suasana. Ada nada penuh semangat saat Narendra mengucapkan. Begitu antusias. Dan yang jelas, itu merupakan pengharapan semua orang tua. Hanya saja ... bisakah ia betul-betul mencintai orang lain jika hanya ada Dante seorang di hatinya?