Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Permintaan Lara


__ADS_3

Alisha dan Narendra tiba di rumah ketika Lara keluar dari kamar. Lara sendiri sudah kembali sejak tadi. Ia sengaja menunggu papanya sebab ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Maka ketika melihat mobil Narendra tiba, ia segera turun untuk menyambutnya.


Melihat keakraban dan wajah ceria keduanya membuat batin Lara bertanya-tanya, gerangan apa yang membuat mereka bahagia?


"Kalian dari mana saja? Kok lama?"


"Dari rumah Dante, Sayang. Mama yang minta supaya antar kue oleh-olehnya."


"Rumah Dante? Kok Papa nggak ajak Lara aja?" Lara membelalak. Seketika perasaan tak nyaman menyeruak.


"Kan tadi Papa udah ajak, tapi kamu bilang nggak bisa dan malah suruh Alisha menggantikan. Ya sudah, akhirnya kami berangkat. Dari pada Mama kesal karena amanahnya nggak dijalankan," jelas Narendra.


"Iya tapi kenapa lama-lama sih, Pa! Apa aja yang kalian lakukan di sana?" Lara mulai gusar. Ia menatap Narendra dan Alisha bergantian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Terang saja gadis itu merasa posisinya tak lagi aman. Jika Alisha bisa berlama-lama di rumah Dante, berarti keluarganya menerima gadis itu dengan tangan terbuka. Ia juga bisa pastikan jika Alisha berjumpa dengan Dante. Itu pasti. Dan pertanyaan yang berputar-putar di otaknya, mereka melakukan apa!


"Ih, nanyanya kok kayak gitu sih. Papa dan Om Robby ya sudah barang pasti ngobrol-ngobrol persoalan pria, lah. Kalau Alisha jelas ketemu sama Tante Niken. Makan-makan sambil ngobrol seru. Mereka cepat akrab. Ada Dante juga, lagi. Iya kan, Sayang." Narendra tersenyum pada Alisha ketika menjelaskan apa saja yang dilakukan gadis itu. Nada suaranya terdengar ceria. Andai saja Narendra memahami ekspresi takut di wajah Alisha, ia mungkin tidak akan pernah bercerita seperti itu. Jelas saja Alisha merasa takut. Sepasang iris Lara menatapnya tajam penuh ancaman.


Lara mengetatkan rahan dan mengepalkan tangan. Makan-makan? Ngobrol seru? Ia bahkan tak pernah seakrab itu. Selama ini Niken hanya sebatas tersenyum saja saat jumpa dengan dia. Cipika-cipiki dan memuji, tetapi itu hanya sebagai formalitas belaka. Bukan karena tulus dari hatinya. Ia bisa menilai itu. Sedangkan Alisha? Baru sekali jumpa tetapi sudah merebut seluruh perhatian Niken. Lara benar-benar sakit hati.


Kejadian ini benar-benar kian menguatkan keinginannya. Ia menunggu Narendra untuk bicara serius tentang pertunangannya dengan Dante. Ia ingin segera dipercepat. Memang, beberapa saat lalu ia masih agak ragu. Namun, berbeda dengan sekarang. Setelah apa yang Alisha lakukan terhadapnya.


Memang, Alisha pernah berjanji tak akan mendekati Dante lagi. Tapi hati orang siapa yang tahu? Bisa saja saudari tirinya itu merebutnya diam-diam.


Bagaimanapun juga ia tak ingin Alisha lebih bahagia dari dirinya. Lebih unggul dari dirinya. Dalam hal apa pun juga. Ia sudah cukup sakit dengan terpaksa berbagai papa dengan Alisha. Berbagi rumah, bahkan kasih sayang mamanya juga ikut terbagi bersama Alisha. Ia ingin Alisha merasakan apa yang ia rasakan.


Tidak perlu dengan cara kotor untuk melukainya. Ia hanya perlu menyakiti dengan elegan, yaitu merebut Dante dengan cara halus. Mungkin, sejauh ini Alisha bisa berlakon baik-baik saja. Namun, ia yakin gadis itu tidak akan kuat pada akhirnya. Sebab, benar-benar melepaskan sesuatu yang paling berharga akan membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya. Sangat tersiksa dan tidak akan ada obatnya.


Lara menyeringai samar melihat wajah pucat Alisha. Alisha, Alisha. Sekarang lo bisa merasa menang dari gue. Nggak pa-pa, nikmati aja dulu. Karena sebentar lagi lo akan merasakan penderitaan yang sebenarnya.


"Papa ...." Lara memanggil lembut Narendra lalu merangkul lengan kirinya. Ia menatap papanya dengan wajah penuh harap. "Ada sesuatu yang ingin Lara bicarakan. Ini sangat penting."

__ADS_1


"Bicara lah, Sayang. Papa akan dengarkan."


"Ini bukan sekadar pembicaraan biasa, Papa. Ini sebuah permintaan yang harus dikabulkan."


"Wah, sepertinya ini masalah serius, ya. Apa ini termasuk sebuah paksaan?" Narendra tertawa sumbang. Kini ia mengamati putrinya sembari menyipitkan mata.


"Aku nggak keberatan Papa menarik kesimpulan seperti itu. Tidak ada salahnya mengabulkan sesuatu yang anaknya minta, bukan? Hitung-hitung sebagai tanda kasih sayang Papa. Aku kan anak Papa juga."


Entah mengapa Alisha merasa ada yang tidak beres dengan Lara. Ekspresinya, lirikannya yang tajam meski bibirnya yang menyunggingkan senyum pada Narendra. Ada nada sindiran saat bicara. Sudah jelas terlihat jika gadis itu cemburu pada dirinya. Alisha memutuskan buru-buru pamit karena berpikir Lara tak ingin mendengar pembicaraan mereka.


"Pa, Alisha masuk kamar dulu, ya."


"Oke, Sayang. Mandi dulu ya. Jangan langsung tidur." Narendra berpesan.


"Enggak. Alisha langsung mandi, kok."


Seperti yang Alisha duga, Lara baru mau bicara setelah dirinya tidak ada. Gadis itu membawa papanya untuk duduk santai di sebuah sofa.


"Hey, kenapa terburu-buru sekali, Sayang? Kenapa jadi tidak sabaran begini, heum? Bukankah memang sebentar lagi kalian akan benar-benar bertunangan? Ini kita sedang dalam proses persiapan loh. Ada banyak hal yang perlu diurus, dan itu nggak bisa selesai dalam waktu sekejap mata. Bukankah kau menginginkan acara pertunangan meriah dan ingin mengundang banyak orang? Untuk itu kita harus reservasi hotel, urus ini itu dan sebagainya. Bahkan gaun yang akan kau kenakan di hari itu juga belum selesai dibuat. Ada apa ini, Sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi? Sini cerita semuanya sama Papa, biar kita cari jalan keluarnya sama-sama."


"Pokoknya Lara mau hubungan Lara dan Dante cepet-cepet diresmikan gitu aja!"


"Iya, Papa tau. Tapi ini kedengarannya mendesak sekali. Toh ini masih tanggal dua. Sedangkan acara yang kita rencanakan waktu itu masih kurang sepuluh hari lagi. Orang-orang papa dan Om Robby udah terlanjur booking hotel untuk tanggal itu, Sayang. Enggak bisa diubah-ubah sembarangan."


"Papa kan ada uang. Tinggal reservasi hotel yang lainnya aja! Nggak perlu yang mewah. Kalau perlu dilaksanakan di rumah juga nggak pa-pa. Nggak usah undang banyak orang seperti rencana awal! Lara cuma pengen cepet-cepet ikat Dante dengan sebuah hubungan resmi, pa ...!"


Narendra mengerutkan keningnya. Semakin Lara merengek, maka semakin heran pula dirinya. Alih-alih mengikuti keinginan anaknya, ia justru melontarkan sebuah tanya bernada curiga.


"Sayang ... jujur sama Papa. Apa kalian sudah pernah berhubungan dan kau kini sudah berbadan dua?"

__ADS_1


Lara sontak membelalak. Bagaimana mungkin papanya akan terpikirkan hal semacam ini. Boro-boro hamil. Disentuh saja enggak pernah.


"Ihhh, bukan gitu lah Pa! Biarpun sering jalan sama cowok, gini-gini Lara ini masih suci!" Lara mendengkus kesal sambil memanyunkan bibirnya. Sedangkan Narendra justru tertawa geli bercampur lega melihat tingkah laku putrinya.


"Terus kenapa?" tanya Narendra kemudian. Bagaimana pun juga ia perlu memastikan.


Lara diam sejenak sebelum menjelaskan. Gadis itu menunduk, seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat. Sementara itu Narendra memilih diam memperhatikan. Tidak mendesak. Memberi waktu pada putrinya untuk bicara dengan tenang, hingga Lara mengangkat pandangan dan mulai berbicara.


"Lara ... Lara hanya ingin semuanya terjadi sesuai rencana, Pa. Lara nggak mau pertunangan ini batal. Menurut Lara lebih cepat dilaksanakan akan lebih baik baik juga hasilnya."


"Tapi kan nggak perlu tergesa-gesa, Nak," sela Narendra.


"Nggak tergesa-gesa, Pa. Hanya dipercepat!" sahut Lara.


Sejenak, keduanya sama-sama diam. Saling pandang.


"Kenapa? Ada sesuatu yang kau khawatirkan?"


Lara tertunduk dalam. Tak menjawab pertanyaan papanya.


"Dante nggak akan ke mana-mana, Sayang. Dante akan menikah sama kamu. Sabar sedikit, ya. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Tunggu sampai waktunya tiba, dan saat itu semua persiapan sudah pasti matang. Papa tahu kamu. Kau selalu menginginkan acaramu berjalan dengan sempurna."


"Dante tidak ke mana-mana itu tidak menjamin dia tidak akan berubah pikiran, Pa! Bagaimana jika ceweknya yang nyamperin Dante ke rumahnya! Merayu Dante! Membujuk Dante supaya membatalkan pertunangan kami!" Lara menjeda ucapannya selagi mengambil napas. Karena terbawa emosi ia sampai meninggikan nada bicara. Kini ia beringsut merapat pada Narendra, dan berbicara pelan dengan sorot mengiba. "Pa ... Lara nggak mau kehilangan Dante, Pa. Asal Papa tau, kebanyakan orang yang menusuk dari belakang, itu adalah orang terdekat kita."


Mata Narendra membeliak. "Apa maksud kamu, Lara! Apa kau sedang membicarakan Alisha?" Terang saja benaknya langsung tergambar nama itu. Siapa lagi yang Lara maksud dengan orang terdekat jika bukan Alisha? Terlebih gadis itu baru saja beberapa saat lalu menyambangi rumah calon besannya. Tetapi itu terjadi atas kehendaknya. Bahkan Lara sendiri yang meminta Alisha menggantikannya.


"Aku tidak menuduhnya, Pa! Aku hanya berjaga-jaga!"


"Mana mungkin Alisha berbuat seperti itu, Lara. Dia itu saudarimu!"

__ADS_1


"Mungkin Alisha tidak akan berniat merebut Dante dari Lara, tetapi bagaimana jika Dante sendiri yang tergoda? Tidak menutup kemungkinan bukan?" pungkas Lara dengan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Tanpa sepatah kata lagi, ia pun beranjak pergi dengan wajah kesal.


Mungkin Lara kesal karena belum mendapatkan persetujuan dari papanya. Tetapi gadis itu tak tahu jika ada sepasang telinga yang tadi diam-diam mendengarkan pembicaraan. Ialah Alisha, yang kini tengah berdiri di samping guci besar dengan tangan meremas dada dan mata yang berembun.


__ADS_2