
Alisha membaringkan tubuhnya dengan lemas ke atas ranjang. Masih dengan dress warna marun yang tadi dikenakan saat makan malam, ia merebahkan badan dengan posisi meringkuk berbantal telapak tangan.
Padahal tak biasanya dia begitu. Tanpa mengganti pakaian, tanpa membersihkan wajah, lupa beribadah malam dan kehilangan selera berselancar di sosial media.
Gadis itu membiarkan setitik air bening menetes dari sudut mata. Hanya itu yang bisa ia lakukan ketika tak ada yang bisa mendengar keluh kesahnya. Ada yang nyeri di ulu hati setelah terjadinya pertemuan dua keluarga malam ini.
Tanggal pertunangan sudah ditetapkan. Itu berarti Dante akan menjadi milik Lara selamanya.
Dasar laki-laki. Bulshit.
Alisha menjadikan ini sebagai malam penentuan. Siapa yang akan Dante pilih untuk dijadikan pendampingnya. Apakah dirinya. Atau Lara. Tapi ternyata kata-kata pemuda itu hanya omong kosong belaka. Dante tidak benar-benar mencintainya. Malam ini Dante bahkan tidak melakukan apa-apa. Tidak membujuknya untuk bersama lagi, juga tidak membuktikan ucapannya dengan berbicara serius pada semuanya.
Alisha merasa hatinya patah. Ia dihantam kecewa yang teramat berat. Kehadiran Marcel bahkan tak mempengaruhi pendirian Dante. Dante sama sekali tak merasa cemburu melihat dirinya diperlukan sangat manis oleh Marcel. Bahkan sebaliknya, Dante terlihat enjoy berada di tengah-tengah dua keluarga, enjoy berada di samping Lara, juga bahagia menanti hari H penyatuan cinta mereka.
Saat Lara pergi ke kamar kecil pun ia tak memanfaatkan kesempatan untuk sekadar meliriknya. Dante bahkan turut keluar ruangan entah untuk keperluan apa.
Tiba-tiba ada sebuah tanya yang bercokol di benaknya. Kenapa Dante begitu plin-plan? Mudah sekali ia berubah perasaan. Lantas apa artinya pernyataan cinta Dante padanya beberapa waktu lalu? Apakah kepala Dante terbentur hingga ia tak sadar dengan apa yang dibicarakan?
Alisha tak mau sok idealis. Sebagai seorang gadis, memangnya siapa yang tidak ingin dijadikan tuan putri oleh anaknya, dijadikan anak oleh orang tuanya, dan diterima baik oleh keluarganya? Alisha melihat semua itu dari keluarga Dante. Ia melihat keramahan dari mata Niken saat menatapnya. Melihat kerikuhan Robby saat tak sengaja bersitatap, seperti menyimpan rasa bersalah yang dalam. Juga bentuk perhatian Dante meski selalu bersikap dingin.
Bolehkah ia egois? Memiliki Dante sepenuhnya tanpa mempedulikan perasaan Lara? Dirinya lah yang sejak awal bersama Dante, tapi kenapa harus Lara yang bahagia dengan dia?
__ADS_1
Ingin menangis sejadi-jadinya, tetapi ia sadar itu tak bisa mengubah keadaan. Ia telah salah menggantungkan harapan. Bukan Dante yang jahat. Hanya saja, bapernya yang salah tempat.
Saat pagi hari pun Alisha memulainya dengan krisis semangat. Ia hanya tersenyum tipis ketika menghampiri Marcel yang datang menjemputnya.
Oh Marcel. Padahal mereka tak ada hubungan apa-apa, tetapi pemuda itu selalu baik terhadapnya. Mengantar dan menjemputnya tanpa rasa lelah. Selalu meluangkan waktu saat dirinya membutuhkan. Sungguh, ia merasa tak enak hati pada Laudya karena sering meminjam pacarnya.
Meskipun Laudya selalu mengatakan tak ada masalah, tetapi tetap saja ia merasa tidak enak. Alisha sendiri belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Laudya. Hanya beberapa kali say hello melalui sambungan video call saat Laudya dan Marcel sedang mengobrol.
Marcel dan Laudya memang menjalani hubungan pacaran jarak jauh. Marcel di Indonesia sedang Laudya di Kanada. Gadis itu kuliah di sana. Marcel sangat mempercayai Laudya, dan begitu juga sebaliknya. Alisha bahkan selalu dibuat iri oleh keromantisan keduanya.
"Al, bisa mampir ke suatu tempat dulu, nggak? Aku mau menemui seseorang di sana." Marcel bertanya pada Alisha dalam perjalanan mereka mengantar Alisha. Gadis itu tak keberatan. Sehingga Marcel membelokkan mobilnya di tempat yang ditentukan.
Tanpa sepengetahuan keduanya, sebuah mobil mengikuti mereka sedari mereka keluar area kampus. Seorang pemuda yang memakai topi dan kaca mata hitam itu turun dari mobilnya dan mengikuti dengan senyap.
***
"Aku langsung balik ya, Al," kata Marcel setelah menghentikan laju mobilnya. Kini ia menatap gadis di sisinya.
"Nggak mampir dulu?" tanya Alisha sembari melepas pengait seat belt.
"Enggak. Udah sore."
__ADS_1
"Oke. Hati-hati, ya. Besok-besok nggak usah jemput deh, aku bisa berangkat sendiri kok."
"Jangan. Kita kan searah. Sekalian aja."
"Aku nggak enak ngerepotin kamu terus, Cel."
"Siapa yang kerepotan sih, Al. Aku seneng bisa bantu kamu, kok."
Alisha mendesah pelan. Marcel orangnya keras kepala. Sepertinya percuma saja jika mereka terus berdebat.
Marcel tersenyum penuh kemenangan, lalu kemudian ia pun pamit. "Ya udah. Aku cabut ya."
"Hati-hati." Alisha langsung berbalik badan ketika mobil Marcel melaju. Ia memang meminta Marcel mengantarnya hanya sampai di depan gerbang. Toh pemuda itu juga tidak berniat mampir.
Ia melangkah masuk dengan pelan. Sama sekali tak terpikirkan jika hal yang buruk tengah mengancam.
Benar saja. Sebuah mobil muncul dari arah belakang. Alisha mendengar itu. Namun, saat menoleh ke belakang tiba-tiba saja sesosok jangkung sudah berdiri dengan jarak dekat.
Topi, masker dan kaca mata hitam yang dikenakan membuat Alisha sedikit kesulitan untuk mengenalinya. Baru juga hendak membuka mulut untuk bertanya, jemari kokoh orang itu sudah mencekal pergelangan tangan Alisha.
Rasa panik ditambah tidak adanya persiapan membuat Alisha begitu mudah dilumpuhkan. Jeritannya pun tenggelam lantaran mulut sudah dibekap dengan tangan. Memberontak pun percuma sebab dirinya kalah tenaga. Hingga dengan begitu mudahnya pria itu membuatnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Kejadiannya terjadi begitu singkat. Alisha yang terjerembab gagal melepaskan diri. Sehingga, mobil pun melaju tanpa ada seorang pun yang tahu jika Alisha kini diculik.