Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Pembicaraan Ayah dan Anak


__ADS_3

Keberadaan Dante rupanya cukup ampuh mengusir kesedihan yang Alisha rasakan. Gadis itu kini terlihat lebih baik dari sebelumnya. Setelah berhasil membuat Alisha tertawa, Dante lantas mengantar putri Wanda itu pulang ke kontrakannya.


Keesokan harinya Alisha memutuskan untuk kembali menerima pesanan kue. Tak guna terus menerus terpuruk dalam kekecewaan. Bagaimanapun juga ia butuh biaya untuk kelangsungan hidup mereka. Persetan dengan Narendra yang mengklaim dirinya sebagai papa. Toh Alisha berniat tak ingin menerima apa pun yang diberikan Narendra.


Wanda yang berdiri di ambang pintu dapur hanya tertegun sedih memandang putrinya yang tengah sibuk membuat adonan kue. Sudah berhari-hari sejak kejadian itu, Alisha menjadi berubah sikap. Gadis itu lebih banyak murung dan melamun. Matanya yang selalu menampakkan keceriaan kini menunjukkan kilatan kemarahan.


Berkali-kali Alisha menolak bertemu dengan Narendra. Ia selalu menghindar dengan segala cara setiap kali pria itu tiba. Alhasil, Wanda hanya bisa meminta Narendra untuk sabar dan meyakinkan Narendra akan membujuk putrinya pelan-pelan.


Terlepas dari itu semua, terselip rasa syukur di hati Wanda, setidaknya putrinya itu tidak melampiaskan amarahnya secara brutal. Meskipun sedikit banyak perubahan sikap Alisha itu mengganggu komunikasi mereka.


"Alisha," panggil Wanda sembari mendekat.


Alisha menoleh, lalu membalas panggilan ibunya dengan sopan. "Iya, Bu. Ada apa?"


Wanda mengulas senyum tipis sambil duduk pada lantai keramik mengambil tempat tepat di sisi putrinya. "Apa kamu masih marah?"


"Pada siapa?" Sebelum menjawabnya, Alisha lebih dulu memastikan pertanyaan ibunya.


"Papa."


Alisha langsung mendengkus begitu sebutan 'papa' itu terlontar dari bibir Wanda.


"Cukup, Bu! Dia bukan papa aku!" sinis Alisha tanpa memandang Wanda.


"Mau kamu menghindar seperti apa pun darah Narendra sudah mengalir di tubuhmu, Nak. Kamu tidak bisa pungkiri itu."


"Terserah apa kata Ibu. Tapi aku nggak butuh dia. Hanya ada Ibu di sampingku itu sudah lebih dari segalanya. Kalau ibu mau balikan lagi sama dia ya udah balikan aja. Tapi bagiku dia bukan siapa-siapa." Alisha memang membenci Narendra. Namun, ia tidak ingin bersikap egois dengan mengajak ibunya menghindari pria itu juga. Walaupun dia sendiri tidak yakin jika Wanda benar-benar bisa memaafkan Narendra.


"Alisha ...." Wanda meraih tangan kiri Alisha lalu menggenggamnya dengan lembut. Ia hendak menasihati putrinya pelan-pelan. "Ibu sudah tidak memiliki rasa apa pun terhadap Narendra. Kami sudah berpisah lama. Tidak ada alasan untuk balikan. Tapi ...." Wanda mengucapkan kata 'tapi' dengan penuh penekanan.


Alisha menatap ibunya lekat-lekat, menunggu wanita itu melanjutkan pembicaraan.


"Berbeda lagi jika urusannya menyangkut kamu, Nak. Dia papa kamu. Dia berhak merawat kamu dan memberikan penghidupan yang layak. Jangan menjadi anak durhaka dengan menolak kehadirannya."


"Durhaka?" Alisha mengulangi satu kata dari kalimat Wanda dengan nada meremehkan. "Seumur hidup Alisha saja tak pernah merasakan kasih sayangnya, mana bisa durhaka, Ibu? Yang ada tuh dia yang dzolim terhadap istri dan anaknya. Nggak pernah ada sejak aku masih dalam kandungan tiba-tiba meng-klaim gitu aja ketika aku besar. Benar-benar nggak modal," dengkus Alisha.


"Tapi dia ingin menebus kesalahannya, Nak. Paling tidak, beri dia kesempatan," bujuk Wanda lagi.

__ADS_1


Alisha menatap heran pada Wanda. "Bu, kenapa ibu ngotot banget minta aku maafin orang itu, sih? Di sini tuh Ibu yang paling dirugikan sama dia! Ibu yang udah dia buat menderita selama dua puluh tahun! Harusnya tuh Ibu dendam, bukannya malah memaafkan!"


"Alisha." Wanda menegur putrinya yang saat ini tengah buang muka. "Sudah Ibu bilang, ini bukan kesalahan papamu sepenuhnya. Ibu juga turut andil dalam hal ini."


Wanda terdiam sejenak dengan pandangan menerawang jauh. Ia akhirnya mulai menceritakan bagaimana perpisahan dirinya dengan Narendra dulu bermula.


Cinta memang bisa datang pada siapa saja dan kapan saja. Tak peduli miskin dan kaya. Begitu pula dengan Narendra muda yang memutuskan menjatuhkan hatinya pada gadis sederhana bernama Wanda.


Rupanya perjalanan cinta mereka tak semulus harapan keduanya. Orang tua Narendra yang berasal dari keluarga bangsawan tak memberi restu cinta putranya. Narendra sendiri adalah tipe pemuda yang keras kepala. Ia tak segan untuk membangkang ketika merasa berada di jalan yang benar.


Sebuah keputusan besar pun ia ambil. Diam-diam Narendra menikahi Wanda meski tanpa persetujuan orang tuanya.


Sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai, pada akhirnya bau busuk akan tercium juga. Begitu juga dengan pernikahan yang sekuat tenaga Narendra sembunyikan. Akhirnya diketahui juga oleh orang tuanya.


Dengan kekuasaan yang dimiliki, Kakek nenek Alisha berhasil memisahkan Narendra dengan Wanda. Seorang gadis bahkan telah mereka persiapkan sebagai jodoh pengganti untuk Narendra.


Saat itu Narendra tak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa menikah lagi di bawah ancaman kedua orang tuanya. Tidak main-main, ancaman itu adalah nyawa Wanda, istrinya.


Narendra melalukan itu bukan tanpa pertimbangan. Diam-diam ia menyusun rencana. Memasang taktik mundur untuk melawan. Kelak ia akan membawa pergi Wanda dan hidup bahagia jauh dari keluarga kayanya.


Namun, sayangnya yang terjadi justru di luar perhitungan Narendra. Saat dia kembali ke kediaman Wanda, istrinya itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Bahkan muncul desas-desus jika Wanda telah meninggal.


Meski merasa ada kejanggalan, tetapi Narendra menerima dengan senang hati kelahiran putrinya dan mencurahkan seluruh kasih sayang untuk Lara.


***


Alisha berlari kecil menerjang gerimis yang sore itu mengguyur kota Jakarta. Sampai di sebuah kafe, ia bergegas masuk dan mencari tempat duduk. Ia segera memesan kopi panas untuk sekadar mengingatkan badan.


Tak berapa lama menunggu, seorang pramusaji datang dan membawakan pesanannya. Alisha mengucapkan terima kasih sebelum pramusaji itu beranjak pergi.


Alisha menikmati kopinya sambil sesekali mengarahkan pandangan ke pintu masuk kafe. Ia mendesah pelan lantaran orang yang mengajaknya ketemuan belum juga datang.


"Dasar. Tidak bisa menghargai orang lain. Apa memang ini kegemarannya? Membuat orang lain menunggunya tanpa kepastian!" Dia bergumam kesal sambil mengaduk kopinya yang masih setengah bagian. Hingga sebuah suara berat terdengar menyapanya dari arah kanan.


"Alisha."


Gadis yang awalnya menunduk itu sontak mendongak. Wajah cantik itu menatap malas pada sosok yang kini duduk mengambil posisi di seberangnya.

__ADS_1


"Sudah lama sampai?" Pria itu bertanya dengan begitu ramahnya. Bahkan senyuman bahagia tak pernah lepas dari bibirnya.


"Lumayan," jawab Alisha sekenanya. "Tapi tak ada secuilnya dari waktu yang Anda lewatkan untuk ibu saya," sambungnya dengan senyuman sinis.


"Maafkan Papa untuk itu, Alisha."


Ya, Alisha sepakat bertemu dengan Narendra atas bujukan Wanda. Ia sudah lelah menolak hingga akhirnya menyerah dan setuju bertatap muka asal tidak di kontrakannya.


"Jangan minta maaf sama saya! Kita tuh nggak ada hubungan apa-apa, ya! Sana, minta maaf sama ibu saya!"


Pria penuh wibawa itu pun menjawab. "Sudah Papa lakukan, Al."


Narendra tersenyum getir melihat tanggapan Alisha terhadapnya. Ia tahu putrinya adalah gadis lembut. Alisha tak sekasar itu. Alisha memiliki hati yang mulia. Karena dirinya lah sikap sang putri jadi berubah drastis terhadapnya.


"Asal Anda tahu, ya! Maaf saja nggak cukup!"


"Papa tau, Sayang. Papa harus menebus kesalahan. Maka dari itu Papa mohon, bukalah hati Alisha untuk memaafkan Papa dan beri kesempatan untuk menebus kesalahan."


"Nggak usah panggil sayang!" Entah mengapa Alisha sangat tidak nyaman dengan panggilan itu.


"Tapi kamu memang kesayangan Papa."


"Cih!" Alisha mendecih. Namun, itu tidak mempengaruhi perasaan Narendra. Pria itu justru tersenyum, lalu meraih tangan Alisha yang mengepal di atas meja untuk kemudian dielus penuh kelembutan.


"Alisha, mungkin kamu nggak akan percaya jika selama ini Papa tetap berusaha mencari kalian."


Alisha terdiam. Matanya menatap tangan Narendra yang menggenggam kepalan tangannya. Sebenarnya ia merasa muak dan ingin segera melepaskan. Namun, ia sudah berjanji pada Wanda untuk berusaha bersikap baik pada orang yang katanya adalah papanya. Maka sekarang ia berusaha menahan diri untuk tidak berlaku buruk.


"Tak perlu menjelaskan lagi, Alisha tentunya sudah sangat paham bagaimana perasaan Papa, kan? Sebelum ini hampir setiap hari kita bertemu dan bercerita. Papa sangat jujur mengenai perasaan Papa kendati waktu itu belum tau jika Alisha anak Papa. Alisha pastinya tahu istrilah kontak batin orang tua dengan anaknya, kan?"


Narendra menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Alisha. Lalu kemudian melanjutkan sepatah kata dengan penuh keyakinan.


"Itulah kita. Sejauh apa jarak yang membentang. Tetapi Papa bisa merasakan kita ada hubungan meski hanya dalam sekali pandang."


Kata-kata Narendra yang terucap tulus itu rupanya mampu meluluhkan hati Alisha. Gadis itu diam-diam membenarkan setiap perkataan papanya. Bagaimana ia bisa merasa nyaman saat mereka berdekatan. Bagaimana ia bisa terkagum-kagum pada orang asing yang baru dikenal.


Siapa yang menyangka jika orang yang selama ini Narendra ceritakan adalah Alisha dan Wanda.

__ADS_1


Namun, sebelum keduanya kembali melanjutkan pembicaraan manis antara ayah dan anak, suara mengejutkan dari arah luar pun terdengar marah dan lantang.


"Owh, jadi begini kelakuan kalian di belakang aku!"


__ADS_2