
"Bisa kau atur pertemuanku dengan gadis ini?"
Jonathan mengernyit selagi menatap foto dari ponsel Robby, atasannya. Jiwa keponya langsung meronta-ronta seketika. Demi apa sang CEO sekaligus pemegang saham tertinggi perusahaan tempatnya bekerja itu ingin menemui gadis belia yang terlihat sederhana?
"Maksud Bapak?"
Robby hanya menajamkan pandangannya ketika sang asisten bertanya. Sehingga pria yang berusia lebih muda dari dirinya itu buru-buru meralat pertanyaan.
"Emmm maaf. Maksud saya atas dasar kepentingan apa, Pak. Supaya lebih enak saat mengurusnya, begitu maksud saya."
"Aku ingin bicara dengan dia," jawab Robby singkat tanpa memandang muka Jonathan. Ia malah menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
Sementara Jonathan, meskipun masih belum paham dengan maksud sang Tuan, tetapi ia tetap mengangguk patuh seperti biasanya saat mendapat perintah. "Baik, Pak."
Seolah tengah memikirkan suatu hal, Robby terdiam sambil memutar bola mata. Sesaat kemudian ia pun mengarahkan pandangan pada Jonathan yang masih setia menekuri layar ponselnya untuk memandangi foto itu. Sebuah pertanyaan bernada ingin tahu lantas meluncur begitu saja.
"Apa kau pernah melihat dia?"
Jonathan sontak mendongak menatap atasannya. Pria dewasa yang masih betah melajang itu memberikan jawaban setelah berusaha mengingat-ingat.
"Sepertinya tidak, Pak."
Robby mengangguk maklum. Ia kemudian mengungkapkan sebuah fakta yang membuat Jonathan melebarkan mata seketika. "Aku sudah mengantongi informasi tentang dia."
***
Alisha sudah terlihat sudah rapi sepagi ini. Gadis sengaja bersiap-siap lebih awal sebab hendak mengantarkan sendiri pesanan kue dari seseorang. Ia terlihat sangat ceria. Lingkar hitam yang muncul di area mata lantaran begadang bahkan tidak ia pedulikan.
Ponselnya tiba-tiba berdering saat gadis yang mengenakan kemeja kotak-kotak itu sebagai outfitnya itu menyusun kotak kue ke dalam kardus besar. Segera ia menghentikan kegiatan demi menerima panggilan seseorang.
"Kamu jadi antar pesanan kue itu sendiri?" tanya seseorang di seberang sana begitu Alisha menyapanya.
"Iya dong, Dan. Kenapa?" Alisha melontarkan tanya setelah mengurai jawaban.
"Aku temenin aja gimana?" tawar Dante setelahnya. Ada nada cemas yang mewarnai pertanyaan pemuda itu.
__ADS_1
"Apaan sih, Dan." Alih-alih menerima tawaran Dante, Alisha justru terkekeh.
"Aku serius, Al," sahut Dante penuh keseriusan. Entah mengapa ia merasa ada yang janggal. Bagaimana bisa ada orang memesan kue sebegitu banyak tapi menolak dimintai alamat sekalipun si pemesan kue telah mengirim uang pembelian.
"Iya, Dan. Aku ngerti," sahut Alisha paham seraya menggamit ponselnya di antara kepala dan bahu. Ia menggunakan tangannya melanjutkan mengepak kue kering untuk mempersingkat waktu. "Tapi kan kamu lagi sibuk nyari kerja buat masa depan. Aku nggak mau ganggu kamu, Dan. Lagian kita nggak bisa bawa kue-kue ini pakai motor. Pesanannya sangat banyak. Aku udah sewa taksi buat angkut semuanya, sekalian akunya juga. Kamu nggak usah khawatir ya. Aku pasti baik-baik aja."
Alisha tersenyum penuh haru sekalipun Dante yang berada di seberang sana tak bisa melihat ekspresinya. Ia bahkan bisa membayangkan raut cemas pemuda itu seperti biasanya. Namun, mau bagaimana lagi. Ia harus mendukung pemuda yang diam-diam dicintai itu menyongsong masa depan yang lebih baik.
"Ya udah, terserah gimana mau kamu aja." Dante akhirnya mengalah tanpa sedikitpun rasa marah. Alisha yang di sini tampak menyunggingkan senyum lega. "Kamu hati-hati ya."
"Iya Dante, aku pasti hati-hati."
***
Setelah menurunkan muatannya, taksi yang mengantar Alisha langsung pergi dari sana. Di sebelah empat kardus besar berisi aneka macam kue-kue buatannya, Alisha duduk di sebuah kursi kayu. Ia sudah sampai di tempat janji bertemu. Sengaja datang lebih awal agar tidak membuat orang itu menunggu.
Hingga beberapa lama menunggu tanpa ada kepastian, Alisha mulai dibuat gelisah. Nomor si pemesan tak bisa dihubungi. Juga tak ada alamat yang bisa didatangi.
Gadis itu semakin tidak tenang. Sempat terbesit di benaknya jika Alisha menjadi korban penipuan. Namun, mungkinkah ia tertipu sedangkan si pembeli telah mengirimkan pembayaran secara lunas di awal.
Rupanya kesabaran Alisha membuahkan hasil. Nomor dengan nama si pemesan tertera di layar saat ponselnya berdering beberapa saat kemudian. Tak berniat membuang waktu lagi, ia segera menerima panggilan dan menyapa seseorang di seberang sana.
"Halo, Nyonya. Anda ada di mana sekarang? Saya sudah berada di tempat kita janjian beserta kue-kue pesanan Anda."
"Maaf, karena saya datang agak terlambat," sahut suara wanita di seberang sana. "Bisa minta tolong datangi saya ke suatu tempat? Saya ingin memberi Mbak bonus tapi sekarang sedang ada meeting."
"Sebenarnya saya tidak keberatan, Nyonya. Tapi bagaimana dengan kue-kue Anda?" tanya Alisha memastikan.
"Biar saja Kuenya di sana, Mbak. Nanti sopir saya yang akan ambil ke sana. Bagaimana, Mbak bisa kemari, kan? Tempatnya nggak jauh kok dari tempat kita janjian."
Alisha mengangguk meski seseorang yang berbicara dengannya tidak melihat. "Baik, Nyonya."
Tanpa rasa curiga, Alisha segera mendatangi tempat yang disebutkan wanita itu. Ia memasuki sebuah kafe dan menempati salah satu meja kosong. Ia sengaja menolak tawaran pramusaji dengan alasan menunggu teman. Namun, hingga beberapa lama menunggu, wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda kemunculan.
Hingga ... beberapa saat kemudian seorang pria berusia sebaya dengan Narendra datang mendekat.
__ADS_1
Melihat pria asing berdiri memandangnya membuat Alisha mengernyit tak percaya. Ia memindai penampilan sang pria dari atas hingga bawah. Dari stelan jas mahal yang dikenakan, ia bisa menilai pria itu bukanlah berasal dari kalangan bawah.
"Kau yang bernama Alisha?"
Sontak Alisha tergemap. Dari mana pria itu mengetahui namanya sedangkan mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
Alisha berhasil menguasai diri dari keterkejutan hingga mampu bangkit berdiri dan menjawab pertanyaan pria itu dengan sopan.
"Benar Tuan. Saya Alisha."
Pria itu menipiskan bibir dengan ekspresi yang tidak bisa Alisha mengerti. Kemudian tanpa kata melabuhkan bokong menempati kursi kosong di seberang Alisha.
Sedangkan Alisha sendiri masih berdiri mematung memandang heran pada pria di depannya. Ia nyaris membuka suara untuk bertanya tetapi urung dilakukan, sebab si pria telah lebih dulu memperkenalkan dirinya.
"Kenalkan. Saya Robby. Papanya Dante."
Seperti petir menyambar di siang bolong. Kata-kata Robby membuat Alisha terkejut bukan kepalang. Tanpa sadar ia membelalakkan mata dengan mulut sedikit ternganga. Bagaimana bisa pria kaya itu memperkenalkan diri sebagai papanya Dante sedangkan sepanjang yang ia tahu, Dante adalah pemuda miskin yang berasal dari kampung?
Mungkinkah Dante berbohong?
Mental Alisha langsung mengerdil seiring pandangan meremehkan itu Robby tunjukkan saat memindai penampilannya.
"Katakan. Berapa banyak yang kau butuhkan untuk bisa menjauhi anak saya?"
Alisha langsung membelalak marah ketika pertanyaan itu Robby lontarkan dengan santainya.
"Maaf. Maksud Tuan apa, ya?" Ia memilih bertanya tak mengerti demi menutupi rasa malunya diri yang terhina. Sedangkan Robby sendiri hanya tersenyum remeh menangkap sejejak amarah dari pertanyaan Alisha.
"Nggak perlu pura-pura tidak mengerti. Saya sudah hapal sifat gadis-gadis seperti kamu yang hanya ingin memanfaatkan kebaikan anak saya. Kau mendekati Dante hanya untuk mendapatkan pengakuan. Setelah dia menjatuhkan hati dengan sepenuhnya, kau ingin memanfaatkan dengan mengeruk kekayaannya. Begitu, bukan?"
Tangan Alisha mengepal demi melihat senyuman sinis seorang Robby. Pria itu bukan hanya menuduhnya secara kejam, tetapi jelas-jelas ini sebuah fitnah jahat. Ia bahkan tak tahu sama sekali seperti apa latar belakang keluarga Dante. Lantas bagaimana ceritanya dia ingin mengeruk kekayaan pemuda itu?
Belum cukup Robby membuat sakit perasaan Alisha, pria itu kembali menghantamnya dengan sebuah kejutan besar.
"Asal kamu tahu, kamu sangat-sangat tidak sepadan dengan putra saya. Dante telah memiliki jodoh yang jauh lebih baik dari kamu. Maaf, ini bukan membicarakan tentang harta. Melainkan akhlak seorang wanita." Tiba-tiba Robby menoleh ke arah pintu dan menyebutkan sebuah nama seperti sedang memanggilnya.
__ADS_1
"Lara!"