Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Gara-gara Sena


__ADS_3

Alisha berdiri di depan cermin besar setelah hatinya sedikit merasa tenang. Wanda sudah beranjak keluar sesaat sebelum menyuruhnya berisitirahat. Namun, alih-alih mematuhi titah ibunya, Alisha justru bangkit dan berkaca.


Setelah melihat penampilannya dari ujung rambut hingga kaki, dari samping kanan juga kiri, Alisha kemudian mendesah pelan. Wajah polos itu mendadak kembali muram saat menyadari sesuatu hal.


Ia sangat tidak menarik dari segi apa pun. Sangat berbanding terbalik dengan Lara yang keren dari segala hal. Penampilannya, kecantikan rupa yang dimiliknya. Ia tidak ada apa-apanya.


Pantas saja Dante langsung terpesona kepada Lara. Pemuda itu bahkan cepat sekali move on setelah ditolaknya.


Alisha mendengkus lirih lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Merebahkan tubuh di sana, ia kemudian berangan.


"Seandainya aku terlihat cantik dan berkelas, mungkinkah Dante mau menatapku lagi seperti waktu itu?"


"Mata itu menatapku penuh cinta, dan memberikan perhatian melebihi seorang teman."


Terdiam, Alisha mengusap sudut matanya yang basah. Kenapa hatinya selalu sakit setiap kali mengingat kenangan manis itu.


Benar-benar miris. Di saat Dante dan Lara sedang bahagia bersama di sana, ia justru meratapi kegagalannya sendirian.


Ketika tengah tenggelam dalam pedihnya luka, Alisha tersentak saat ponselnya berdering dan menyadarkan. Buru-buru Alisha meraih benda pipih itu dan melihat nama Sena tertera di sana.


"Halo, Sen," sapanya setelah menerima panggilan dan menempelkan ponsel itu ke daun telinga.


"Kok lemes gitu? Lo habis nangis, ya?" Pertanyaan itu sukses membuat Alisha tersenyum. Memang Sena sedang tidak menghiburnya, tetapi lebih dari itu, Sena selalu tahu apa pun yang dirasakannya bahkan hanya melalui suara di telepon saja.


"Enggak. Gue cuma lagi capek aja," sangkal Alisha.


"Gosah bohong. Sini kalau mau curhat. Hari ini gue free. Jadi kita bisa ngobrol seharian."


"Ngobrol seharian? Memang bibir lo tahan?" Alisha tersenyum kecut meragukan, sekalipun Sena tak bisa melihat mimik wajahnya dari sana.


"Cih, gak percaya. Sini, buktiin sendiri."

__ADS_1


Alisha tergelak sambil mematikan ponselnya. Ternyata ada gunanya juga punya teman gila. Kehadiran Sena setidaknya mampu menghibur kesedihannya. Candaan gadis itu mampu mengurangi sakitnya luka. Dan telepon dari Sena barusan seperti menariknya ke permukaan di saat dirinya tenggelam.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Alisha sampai di kontrakan Sena. Gadis manis yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu telah menyambut kedatangan Alisha di teras kediamannya. Hanya mengenakan tank top yang dipadu dengan bawahan hot pants, Sena terlihat sensual meski rambut ditata ala kadarnya.


"Datang juga, lo akhirnya. Sini masuk!" titahnya lalu melangkah lebih dulu.


Alisha membuntuti Sena di belakangnya.


"Gue heran deh sama lo," ujar Sena setelah mereka duduk di sofa. "Kalau memang cinta ngapain sok jadi pahlawan kesiangan sih? Jadinya gini, kan! Elo kesakitan tapi nggak pernah dianggap Dante!"


"Apaan sih Sen. Gue nggak gitu kok."


"Nggak gitu gimana? Tuh lihat di kaca! Mata lo tuh sembab! Lo pasti habis nangis, kan!" desak Sena sambil menuding Alisha.


Kalau sudah begini apa yang bisa Alisha lakukan? Berdebat dengan Sena pun percuma saja. Selama ini dia tidak pernah menang.


"Sen, menurut lo sebagai perempuan, nilai gue ini di mata cowok itu berapa ya?" Tanpa mengiayakan atau menampik tuduhan Sena, Alisha malah melontarkan sebuah tanya. Sena pun mau tak mau mengamati penampilan Alisha lantaran gadis itu bertanya dengan serius.


"Mau nilai berapa nih? Satu sampai sepuluh atau seratus sampai seribu?" tanya Sena memastikan dulu.


"Nah itu tau!" seloroh Sena yang membuat Alisha mendelik.


"Tuh kan, beneran cuma tujuh ...!" Alisha memasang wajah miris sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. "Pantas aja Dante mudah sekali berpaling."


Sena tertawa melihat Alisha yang seperti ingin menangis saja. "Eits, jangan sedih dulu!" sergahnya kemudian. "Nilai segitu tuh kalau elo lagi kucel, belum mandi, dan cuma tampil apa adanya kayak gini! Tapi ... lo bisa gue kasih nilai seribu kalau udah mandi, udah wangi, dan sedikit mengubah penampilan supaya lebih berkelas. Ya ... kayak gue gini." Sena tersenyum bangga sambil menunjukkan dirinya dengan jemawa.


Namun, alih-alih kagum, Alisha justru berdecih sambil sesaat membuang muka sebelum kemudian melirik penampilan Sena.


"Gue nggak heran kalau lo itu cantik, Sena!" dengkusnya. "Lo kan perawatan tiap hari! Duit lo juga banyak, lagi. Jadi apa yang bikin lo mikir ribuan kali buat perawatan diri. Buat lo sih sama sekali nggak berat kalaupun tiap hari harus keluar masuk salon kecantikan."


"Ih, jangan salah, Alisha. Keluar masuk salon itu nggak perlu bayar. Kecuali kalau lo perawatan." Sena tersenyum sambil memainkan alisnya.

__ADS_1


"Diiih!" Alisha kesal. "Maksud gue ya gitu, Sen! Keluar masuk buat perawatan, bukannya pengen ngadem doang!"


Sena tergelak. "Iya, iya. Gue bercanda. Biar lo nggak sedih terus, Al." Ia menepuk pundak Alisha sebagai bentuk kepedulian.


"Iya. Gue ngerti, Sen."


Sena tersenyum sambil mengangguk. Sesaat kemudian matanya berbinar saat kepikiran sebuah ide di benaknya.


"Mau ikut gue, nggak?" tanyanya antusias.


"Ke mana?"


"Belanja dan make-over lo."


"Hah!"


***


"Da-da ...! Gue balik dulu ya." Sena meninggalkan Alisha yang terduduk lemas di kursi teras dengan langkah anggun usai melambaikan tangan. Di tangan kirinya, ada beberapa paper bag beragam merk seperti yang teronggok di sisi kanan Alisha. Mereka berbelanja barang yang sama, tetapi kini ekspresi wajah keduanya sangat jauh berbeda.


Alisha mengembuskan napas kasar setelah melirik ke arah kanan. Bibirnya melengkung ke bawah, lalu matanya sedikit memerah.


Huaaa! Bukan hanya batinnya yang menjerit, tetapi isi dompetnya juga ingin menangis. Ia sudah merogok kocek agak dalam untuk membeli barang-barang itu. Tabungannya selama beberapa bulan nyaris habis hanya untuk itu. Lantas, apa kabar dengan impian besarnya itu? Kedai kue sederhana untuk ibu?


Aaaaa! Alisha mengentak-entakkan kakinya pada lantai. Kesal bercampur sesal.


"Astaga. Nyari duitnya setengah mati. Ngabisinnya setengah sadar. Bisa-bisanya aku kalap gegara lihat diskonan? Ya Tuhan." Tubuh Alisha tersandar lemas. Matanya menerawang jauh ke depan.


"Ini gara-gara Sena!" gerutunya kemudian. Bisa-bisanya menyalahkan teman sedangkan dirinya sendiri yang silau mata. Sok mampu dengan menolak traktiran Sena. Begini kan jadinya? Tabungannya ludes hanya karena sekali jalan.


Bisa-bisanya ia ingin menyamai Lara yang memang sudah kaya sejak lahir. Yang harga sepasang sepatunya saja cukup untuk sebulan makan. Salahnya sendiri pula yang sok-sokan menolak uang pemberian Narendra. Harusnya saat itu juga ia menerima uang sogokan Robby yang tidak sedikit itu.

__ADS_1


Tapi etapi ....


Alisha menjitak dahinya sendiri lantaran pikirannya sudah ngelantur. Ngapain juga mikirin orang kaya? Malah bikin jiwa miskinnya meronta-ronta. Percuma juga merasa iri. Sepatutnya dia sadar diri yang harus nguli dulu baru bisa makan.


__ADS_2