Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Air mata bodoh


__ADS_3

Alisha mengemas empat bolu gulung terakhir sebelum menatanya ke dalam kotak box. Ia mengambil tas selempang lalu berpamitan pada Wanda.


"Bu, Alisha antar kue ke warung Bu Lastri dulu. Ibu istirahat, ya. Jangan sentuh perkakas kotor bekas bikin kue. Jangan nyapu juga. Alisha nggak lama, kok. Cuma ke Bu Lastri, habis itu pulang. Pesanan kue hari ini udah kelar."


Rentetan pesan panjang itu ia sampaikan seusai mencium punggung tangan sang ibu. Sedangkan Wanda hanya tersenyum lembut sambil menggeleng lemah lantaran tak memiliki celah untuk menyela. Barulah ketika Alisha diam dan tersenyum, ia mengusap puncak kepala sang putri lalu berbicara.


"Kalau semua kamu yang kerjakan sendiri, lalu Ibu harus apa? Masa Ibu hanya diam berpangku tangan sedangkan kamu setiap hari berjibaku dengan semua pekerjaan?" Wanda menjeda sebentar ucapannya, lalu tersenyum lembut pada Alisha. "Biarkan Ibu melakukan kegiatan kecil, Alisha. Itung-itung berolahraga."


"Ibu bisa berolahraga dengan jalan-jalan kecil sampai di depan gerbang," sahut Alisha. "Nggak perlu beberes juga. Alisha nggak mau Ibu tambah sakit karena Ibu belum pulih benar." Wajah cantik itu berubah muram saat menggenggam tangan sang ibu, lalu mata beningnya menatap Wanda dengan tatapan memohon. "Nurut sama Alisha ya, Bu. Demi kebaikan kita bersama."


Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa Wanda lakukan selain mengangguk mengiyakan. Selanjutnya, ia melepas kepergian sang putri sembari melambaikan tangan.


Teriknya sinar surya pukul sebelas hari itu nyatanya tidak menyurutkan semangat Alisha untuk mengais rupiah. Cita-cita besar untuk memiliki toko kue sendiri ampuh menjadi pemantik saat rasa lelah itu datang dan meredupkan semangat.


Alisha kian menyukai kesibukan. Itu adalah cara jitu untuk mengalihkan diri dari kesepian. Saat sepi, Alisha hanya bisa termenung meratapi nasib. Dan tanpa sadar bayangan Dante akan muncul lagi, membuat rasa sesak itu datang lagi.


Layaknya matahari yang mencintai bumi. Ia perlu menjaga jarak agar tidak melukai. Begitulah Alisha yang memilih meninggalkan Dante. Ia sudah melihat sendiri bagaimana kehidupan Dante yang sekarang jauh lebih baik daripada saat bersamanya waktu itu.


Itukah yang dinamakan cinta? Sebuah pengorbanan yang dilakukan diam-diam. Alisha berusaha ikhlas walau pada kenyataannya rasa ikhlas itu adalah sebuah kebohongan besar. Karena yang ada, semuanya berawal dari terpaksa yang kelak akan jadi terbiasa.


Alisha mendesah panjang untuk menetralkan perasaan. Sambil tetap mengayuh sepeda ia mengusap keringat yang mengembun di pelipisnya.

__ADS_1


Warung nasi Bu Lastri sudah terlihat dan sebentar lagi ia sampai. Alisha harus memasang wajah seceria mungkin agar tak menimbulkan rentetan tanya dari wanita yang menjadi saksi kebersamaannya dengan Dante. Bahkan saat memarkirkan sepedanya pun Alisha tak memperhatikan kondisi sekeliling, di mana mobil mewah berharga milyaran itu lebih dulu terparkir cantik di sisi kiri warung.


Seperti biasanya, suasana warung kali ini terasa lengang oleh kedatangan pengunjung. Para pelanggan yang kebanyakan adalah pegawai perkantoran memang belum keluar dari tempat kerja. Ekor matanya menangkap dua sejoli yang sedang duduk makan di sudut ruangan. Namun, Alisha enggan memperhatikan karena lebih memfokuskan diri pada urusannya sendiri. Sang pemilik warung pun tak menunjukkan batang hidungnya saat dirinya tiba, entah apa yang dilakukan Bu Lastri di belakang sana.


Karena terburu-buru, Alisha berinisiatif menaruh sendiri kue pesanan Bu Lastri yang dibawanya. Toh, ia sudah terbiasa seperti itu. Untuk uang pembayarannya, Bu Lastri bisa memberinya esok hari saat pengantaran lagi.


"Bu, kue bolu gulungnya udah datang, nih! Aku taruh di tempat biasa, ya!" serunya sambil menatap pintu belakang warung, lalu kemudian berjalan ke arah meja untuk menaruh kuenya di sana.


"Alisha ya?" Suara Bu Lastri terdengar samar dari arah belakang warung. "Tunggu sebentar!"


Alisha tersenyum ramah menyambut kedatangan Bu Lastri yang tergopoh menghampiri.


"Hari ini Bu Lastri pesan bolu gulung empat, kan? Tuh, udah saya susun di meja," ujar Alisha sambil menunjuk meja di sebelah kirinya.


"Sama-sama, Bu." Alisha mengangguk. Sebenarnya ia hendak langsung pamit. Namun, melihat Lastri hanya mematung dengan tatapan aneh, Alisha mengurungkan niat dan menatap wanita itu dengan dahi mengernyit. Terlebih lagi saat mata Lastri melirik ke arah belakangnya, yang mau tak mau membuat kepalanya menoleh mengikuti arah pandang Lastri.


Deg.


Jantung Alisha berdentum hebat. Ia melihat dia tengah duduk di sana. Makan siang bersama saudari tirinya. Dia ... orang yang ingin ia lihat bahagia.


Tapi, betulkah ia bahagia melihat Dante bahagia dengan yang lainnya? Lantas mengapa hatinya terasa perih melihat Dante memperlakukan Lara dengan begitu manisnya?

__ADS_1


"Sayang, kamu cobain deh ayam goreng aku. Rasanya enak banget, loh." Dante menyodorkan sendok berisi makanan ke arah Lara yang tengah terbengong menatapnya. Sementara Lara yang ditodong demikian hanya bisa membuka mulut dan mengunyah makanannya.


"He'em enak," ujar Lara dengan keadaan mulut penuh makanan.


"Mau lagi?" tanya Dante dengan manis.


Namun, Lara yang belum menekan makanannya hanya bisa menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan. Gadis itu lantas menoleh pada Alisha, di mana gadis itu masih berdiri terpaku menatap getir pada adegan romantis yang sengaja Dante pertontonkan itu.


Hingga saat suara Lara menggema menyebutkan namanya, barulah Alisha sadar dan terseret dari lamunannya.


"Al, makan bareng, yuk," ajak Lara.


Alisha tergagap lalu tersenyum canggung. Rasa malu langsung menyeruak menyadari diri kedapatan tengah cemburu pada kebahagiaan orang lain. Buru-buru ia tersenyum kecut sambil geleng kepala. Mana mungkin ia sanggup berada di antara orang yang dicinta dan saudari tirinya.


"Makasih banyak, Ra. Tapi maaf aku nggak bisa. Ibu aku sedang tidak sehat dan lagi sendirian di rumah."


"Jadi ibu kamu masih sakit?" Lara bertanya dengan wajah sedih dan dibalas anggukan oleh Alisha.


"Iya, Ra. Aku permisi dulu, ya. Terima kasih buat ajakannya."


Tanpa menunggu jawaban Lara, Alisha berbalik badan lalu berlalu begitu saja. Tanpa menoleh ke belakang, tanpa sedikit pun menatap Dante. Untuk apa mempermalukan diri menatap pemuda itu, toh Dante juga tak peduli terhadapnya lagi. Dante telah menjadi orang asing sejak penolakan itu terjadi.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, bulir bening jatuh tanpa diminta. Air mata bodoh yang untuk orang yang tak menganggapnya ada. Sakit. Sangat sakit.


__ADS_2