Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Memiliki rasa tapi tak mampu menyatakannya


__ADS_3

"Dante." Alisha menggeram kesal.


"Apa sayangku?"


Alisha memejamkan mata sambil menggemertakkan giginya. Ia kemudian menoleh pada Dante dan menatap pemuda itu penuh peringatan.


"Jangan cari masalah," ujarnya memperingatkan.


"Enggak! Siapa yang cari masalah?"


"Kamu!"


"Mana ada."


Alisha mendengkus kesal. "Jangan genit gitu! Kalau Lara tau bagaimana?"


"Kan aku bilang itu malah bagus, Alisha. Aku nggak perlu susah-susah cari alasan buat batalin pertunangan sama dia."


Alisha terdiam. Ia menatap iris tegas Dante semakin dalam.


"Kenapa diam?" tanya Dante heran. "Ngeliatin akunya gitu amat. Kenapa? Kamu terpesona, ya?"


Alisha membeliak, lalu spontan membuang muka. "Apaan sih!" ketusnya kemudian.


Dante yang melihat Alisha kikuk hanya diam dan mengulum senyum penuh kebahagiaan. Ia tahu gadis itu masih memiliki rasa cinta, tetapi entah apa yang membuat Alisha belum mau membuka pintu hati untuknya.


"Sebentar lagi kalian akan bertunangan, Dante .... Persiapan juga sudah matang. Aku harap kamu nggak akan mengecewakan." Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Alisha mampu mengucapkan kata-kata itu. Nadanya terdengar lirih dan bergetar. Tatapan sendunya tak beralih dari Dante hingga beberapa saat.


Sementara Dante dengan pembawaan tenangnya hanya tersenyum tipis sembari mengangguk samar. Ia hapal betul bagaimana tabiat Alisha. Percuma saja dirinya menekan, sebab Alisha adalah tipe gadis yang teguh pendirian.


"Aku janji, aku nggak akan pernah mengecewakan. Kamu nggak usah khawatir, Alisha. Pertunangan akan terjadi sebagai mana mestinya. Aku nggak akan kabur. Aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati."

__ADS_1


Entah Alisha harus sedih atau senang. Jawaban Dante memang sesuai dengan apa yang ia harapkan, tetapi anehnya kenapa ada yang terasa nyeri di dalam dada? Melihat sikap Dante yang terkesan pasrah, kenapa hal itu justru membuatnya merasa tidak rela?


Ya Tuhan, apa beginikah rasanya patah hati?


"Syukurlah. Aku merasa lega. Aku turut merasa bahagia melihat kalian bahagia." Senyuman Alisha tersungging getir.


"Itu harus," balas Dante antusias. Melihat sikap Alisha yang masih abu-abu, tiba-tiba terlintas sebuah ide di benaknya. Sepertinya ia perlu memberikan Alisha sebuah pelajaran agar gadis itu bisa memahami perasaannya sendiri. "Kamu itu calon ipar aku, Alisha. Jadi udah semestinya kamu ikut bahagia juga atas kebahagiaanku, kan?"


Meski hatinya seperti remuk redam, tetapi Alisha tetap memaksakan senyuman. Rasa kecewa mulai mendominasi dirinya. Kenapa Dante bisa semudah itu berubah pikiran?


Dante ... andai kamu ngerti gimana perasaan aku," batin Alisha sedih. Aku bukannya nggak cinta sama kamu. Aku bukannya nggak mau menikah sama kamu. Kamu menyatakan cinta kepadaku di saat rencana pertunangan kalian akan digelar. Apa kamu ingin aku dicap oleh masyarakat sebagai perebut kekasih orang? Lebih-lebih lagi kekasih saudari tiriku sendiri?


Jika memang kamu cinta, maka tunjukan padaku sejauh mana keseriusan kamu, Dante. Demi Tuhan, aku tidak rela kamu jatuh dipelukan Lara. Mungkin aku lebih buruk dari Lara, tetapi Lara juga tak sebaik yang kamu kira. Buka matamu lebar-lebar, Dante. Lara nggak layak untuk jadi pendamping kamu.


Andai kamu tahu alasanku menolak dirimu, aku hanya ingin melihat bagaimana kamu memperjuangkan aku. Memperjuangkan perasaan kamu. Salahkah bila aku ingin melihat keseriusan kamu?


"Al? Kok bengong?" Dante menjentikkan jarinya di depan wajah Alisha. Membuat gadis itu tersentak lantaran terkejut. Dante tersenyum sambil mengangkat alisnya, lalu kemudian menggoda. "Cie cie ... kamu melamun ya?"


"Ngelamunin apa kalau boleh tau?"


"Bukan hal penting." Alisha menggeleng, lalu kemudian menunduk. Saat mengangkat pandangan, barulah ia bertanya pada Dante dengan nada memastikan. "Dante, jadi kamu udah mantap dengan pertunangan ini?"


"Iya. Tentu saja." Dante menjawab yakin. Perubahan air muka Alisha membuatnya harus menahan tawa. "Kamu saja terang-terangan nolak aku. Jadi tidak ada lagi yang bisa kuharapkan dari kamu, kan?"


Aku bahkan udah pancing kamu sedemikian rupa, Alisha. Ayolah, katakan bersedia tunangan sama aku, batin Dante penuh harap. Namun, lagi-lagi ia harus menelan rasa kecewa lantaran Alisha tak mau membuka mulutnya untuk bicara.


Saat keduanya saling pandang tanpa bicara, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari ujung sana.


"Alisha. Dante! Kalian berdua di sana?"


Berbeda dengan Dante yang tetap terlihat tenang, Alisha justru terkesiap melihat papanya datang.

__ADS_1


"Itu Papa, Dante. Bagaimana kalau Papa salah paham?" tanyanya panik.


"Nggak usah panik gitu, Al. Nyantai aja kenapa sih? Toh kita nggak melakukan apa-apa," hibur Dante.


Semakin Narendra mendekat, maka jantung Alisha semakin berdetak cepat. Ia buru-buru bangkit dari duduknya. Menatap wajah Narendra yang bergerak mengikis jarak dengan perasaan tidak tenang.


"Dante, kamu belum pulang?" tanya Narendra setelah dekat dengan mereka. Ia memang sengaja keluar untuk mencari Alisha. Ia memang merasa tidak tenang lantaran gadis itu tak kunjung kembali setelah ia perintahkan mengantar Dante keluar beberapa saat tadi.


"Belum, Om. Soalnya Alisha nahan saya pulang," jawab Dante yang seketika mendapat hadiah pelototan mata dari Alisha. Gadis itu tak terima ia dijadikan kambing hitam oleh Dante.


"Oh ya?" Alih-alih marah, Narendra justru bertanya antusias pada Alisha. "Kenapa Sayang? Ada hal sangat penting yang ingin kamu bicarakan sama Dante?"


Bibir Dante tersenyum samar. Ia begitu menantikan momen ini.


Ayolah, Al. Bilang pada papamu jika kamu yang lebih cocok jadi pendamping aku. Jangan tunda lagi. Jangan tunggu aku diambil orang baru kau akan menyesal.


"Alisha ...." Gadis itu menjeda ucapannya. Giginya tanpa sadar menggapit bibir bawah.


"Ya?" Narendra seperti tidak sabar. Lebih-lebih lagi Dante.


"Alisha hanya ingin bertanya tentang mata pelajaran kuliah, Pa."


Seketika Dante mendesah kecewa. Harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Padahal ini momen langka yang tak bisa dilewatkan. Ia yakin Narendra sangat menyayangi Alisha. Ia bahkan bisa pastikan Narendra akan mengabulkan segala permintaan Alisha. Tapi gadis itu malah menyia-nyiakannya.


"Owh gitu. Tapi kenapa harus di sini, Sayang? Bukankah lebih nyaman jika membahas kuliah di dalam rumah saja? Di sini banyak nyamuk. Nanti kulit kamu bentol-bentol."


"Ish, Papa. Nggak segitunya kali."


Narendra tertawa mendengar penyangkalan putrinya. "Iya iya. Papa percaya. Tapi sekarang masuk dulu yuk. Ngobrolnya di dalam rumah aja. Biar lebih enak sambil minum kopi dan ngemil. Kalian masih mau mengobrol, kan?"


"Nggak kok, Pa. Udah selesai." Alisha bahkan mendahului Dante menjawab pertanyaan papanya. "Iya kan, Dante?" Alisha melirik pada Dante. Meski bibir gadis itu tampak tersenyum, tetapi dari tatapannya menyiratkan ketidaksukaan.

__ADS_1


"Iya, Om. Udah malam juga." Mau tak mau Dante mengikuti keinginan Alisha meski sebenarnya ia belum rela untuk pulang. Akhirnya ia pun berpamitan.


__ADS_2