Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Selamat tinggal pada dunia?


__ADS_3

Helena terkejut melihat Lara kembali ke rumah dengan langkah terburu-buru, padahal gadis itu berpamitan belum genap sepuluh menit lalu.


"Lara? Ada yang ketinggalan?"


Yang ditanyai hanya membisu sambil berlalu. Sementara Helena semakin dibuat heran dengan sikap Lara yang terkesan menyembunyikan muka.


Kesal, Helena menatap putrinya tajam sambil mengepalkan tangan. Seharusnya gadis itu menerima hukuman, tetapi bisa-bisanya Lara tak mengindahkan kata-katanya.


"Lara! Mama sedang bertanya! Bisa-bisanya kamu mengabaikan Mama." Helena akhirnya berteriak lantang lantaran geram. Pandangannya tak bergeser dari sosok sang putri yang seketika itu mematung di anak tangga.


Masih dengan kemarahan, Helena lantas menghampiri putrinya dengan langkah cepat, kemudian membentak.


"Kenapa kembali ke rumah sebelum berangkat kuliah! Kenapa juga itu pake nyembunyiin wajah? Kamu nangis ya!"


Lara yang semula berusaha menahan air mata akhirnya luruh juga di hadapan mamanya. Gadis itu menoleh pada Helena dengan wajah yang basah.


Mata Helena membeliak. Ditariknya lengan sang putri dengan kasar hingga posisi Lara tepat menghadap ke arahnya. "Astaga Lara. Kenakalan apa lagi yang kamu buat? Sudah berulah apa lagi kamu sepagi ini!" Alih-alih merasa iba, Helena justru menuduh putrinya yang tidak-tidak.


"Ma. Bisa nggak sih, nggak curiga terus sama Lara?" lirih gadis itu tak terima.


"Gimana Mama nggak curiga? Semakin dipercaya kamu justru semakin keterlaluan, Lara! Sekarang cepat berangkat kuliah. Kasihan Dante yang sudah jauh-jauh jemput kamu. Buruan!" sentak Helena.


Dengan perasaan kesal dan geram, Lara melangkah pelan hendak meninggalkan Helena. Namun, baru beberapa langkah gadis itu beranjak, Helena kembali memanggilnya hingga terpaksa Lara berhenti untuk mendengarkan Helena bicara.


"Mulai sekarang fasilitas kamu Mama tarik untuk sementara waktu! Mobil. Semua kartu. Dan uang jajan kamu juga Mama potong."

__ADS_1


Lara hanya bisa mengepalkan tangan mendengar keputusan mengejutkan mamanya. Hanya bulir air mata yang tahu bagaimana perasaannya. Kurang hancur apa dia sekarang? Pertunangannya dipastikan batal. Dante sudah tahu kesuciannya sudah terenggut, bahkan sebelum ia bertransaksi dengan preman itu kemarin. Dan kini, semua fasilitas mewahnya juga ditarik.


Apa lagi yang bisa ia banggakan? Papanya yang kaya raya ternyata bukan papa kandungnya. Ia tak ubahnya hanya numpang hidup pada kekayaan papa Alisha, orang yang dibencinya belakangan ini. Ia bahkan tak memiliki harga diri lagi. Satu-satunya yang bisa ia pertahankan adalah sikap ego demi gengsi dan menutupi rasa malu.


Lara nyaris lupa jika dirinya sedang dalam masa hukuman. Ia sudah mendekati mobil kesayangannya tapi kemudian teringat jika kuncinya diminta oleh Helena. Sial. Sekarang ia harus mengendarai apa untuk sampai ke tempat kuliah? Helena benar-benar menyiksanya dengan menarik seluruh fasilitas, termasuk sopir untuk mengantar.


Terbiasa hidup mewah membuat Lara tak mengenal apa itu hidup susah. Sehingga, ketika dirinya dihadapkan pada situasi sulit seperti sekarang, gadis itu merasa seperti dunianya mau runtuh saja. Lara selalu ingin menangis setiap kali mengingat semuanya.


Ini pertama kali dirinya menumpang pada angkutan umum ibu kota. Lara yang tak sabaran bahkan harus diuji dengan menunggu lama angkutan itu tiba. Ia harus berbaur dengan orang yang tak pernah ia kenal dengan berbagai macam penampilan dan aroma badan. Menghirup udara pengap yang sama. Berdesakan. Bahkan bahunya terasa pegal lantaran harus berdiri berpegang. Lara belum tahu benar bagaimana kehidupan dunia luar, sehingga gadis itu tak tahu mana transportasi umum yang nyaman dan gampang.


Demi apa dia rela hidup tersiksa seperti sekarang?


Entahlah.


Tabungan? Cih. Selama ini Lara bahkan tak pernah sekalipun terpikirkan untuk menabung. Uang orang tuanya sangat banyak. Usahanya di mana-mana. Untuk apa ia harus menabung jika harta orang tuanya tak akan habis meskipun digunakan berfoya-foya sampai anak cucu mereka. Begitu pikir Lara dulu.


Sekarang gadis itu baru merasakan dan menyesal setengah mati. Tak ada yang bisa diharapkan dari dirinya lagi. Helena bahkan tidak mengurusinya. Wanita itu justru sibuk dengan misinya untuk merebut kembali perhatian Narendra. Apa lagi jika bukan dengan cara menyiksanya?


Minta bantuan teman? Ah, Lara bahkan tak memiliki teman dalam kesedihan. Mereka yang mengaku teman Lara hanya datang di saat senangnya. Lara bahkan tak memiliki keberanian untuk menghubungi David. Pemuda itu pasti sama dengan Dante. Jijik melihat dirinya yang sebenarnya.


Mengusap dahi yang berembun oleh peluh, Lara menatap ke arah depan dengan pandangan tak percaya. Area kampus masih sangat jauh dari tempatnya berdiri setelah turun dari angkutan. Ia menunduk menatap ke bawah. High heels yang ia kenakan sangat tidak sesuai jika dipakai untuk jalan sejauh itu. Bisa dipastikan kakinya akan lecet dan pegal.


Seketika gadis itu pun ingin menyerah dan menangis. Dan lagi-lagi ia menyalahkan takdir yang begitu kejam. Kenapa ia harus merasakan ini?


Di tengah keputusasaannya Lara merasakan ada sesuatu menyentuh tangannya. Awalnya pelan, tetapi lama-lama terasa semakin kuat dan berujung sebuah tarikan. Gadis itu terkejut hingga nyaris berteriak. Sayangnya sosok pria itu dengan cekatan membekap mulutnya lalu membawa Lara ke tempat yang terlindung.

__ADS_1


Awalnya Lara terlihat panik lantaran merasa terancam. Namun, setelah mengenali sosok pria berpakaian preman itu, ia pun menghela napas dan mengusap dadanya lega.


"Ngagetin aja, sih! Aku kira kalian itu penculik, tau!" geramnya.


"Lah, Bos lupa kalau kita memang penculik?" Pria itu terkekeh.


"Sialan." Lara mendengkus sambil mengusap pergelangan tangan.


"Bos, bayaran gue mana?" Pria itu menadahkan tangan.


Lara menghentikan pergerakan tangan, lalu menatap si pria dengan garang. "Bayaran apaan! Orang kerja aja nggak beres juga."


"Nggak beres gimana? Heh–" Si pria menarik lengan Lara lalu menatap gadis itu dengan tajam, lalu kemudian mendesis dengan nada ancaman tak terbantahkan. "Lo jangan coba-coba lari dari tanggung jawab, ya. Gue udah lakuin apa pun yang lo suruh. Gue pastikan lo nggak akan hidup tenang sebelum hak gue terbayarkan."


Lara menelan ludahnya susah payah. Bulu kuduknya bergidik ngeri mendengar penuturan pria itu. Ia memberanikan diri membalas tatapan si pria demi menutupi kegugupannya. Jangan sampai terlihat lemah agar dirinya tidak ditindas.


"Heh, lo pikir gue apaan! Lo pasti gue bayar, kok. Tenang aja!" ketus Lara seraya menarik tangannya dari cekalan si pria.


"Ya kalau gitu mana!" Lagi-lagi pria itu menadahkan tangannya.


"Entar! Enggak sekarang. Gue nggak ada uang tunai," kilah Lara.


"Oke. Tapi awas ya kalau bohong. Gue kasih waktu sampai entar malam. Kalau itu duit belum gue terima, maka ...." Si pria menjeda ucapannya lalu menggunakan telunjuknya untuk menggaris leher, seolah-olah si pria sedang mengisyaratkan akan menghabisi Lara jika gadis itu tak membayarnya.


Tiba-tiba napas Lara terasa sesak. Ia tak pernah setakut ini sebelumnya. Dengan kaki gemetaran dan peluh yang menetes, Lara memandangi punggung si pria yang bergerak menjauh itu dengan wajah pucat. Untuk sekarang ia memang bisa bernapas lega, tetapi nanti dan selanjutnya? Entahlah. Mungkinkah ia harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia?

__ADS_1


__ADS_2