Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Entahlah


__ADS_3

Dante tengah duduk di kursi teras kontrakan Alisha saat gadis itu tiba. Pemuda itu mengalihkan perhatian dari ponselnya ke arah Alisha, lalu mengulas senyum pada gadis itu.


"Belum pulang?" tanya Alisha ramah, lalu menempati kursi kosong di samping Dante.


"Apa perlu aku jawab?" Dante menanggapi pertanyaan retoris Alisha dengan sebuah pertanyaan pula. Ia menatap Alisha sambil mengerlingkan kedua mata.


"Kenapa? Nungguin honor, ya?" tanya Alisha dengan nada bercanda. Murni hanya canda. Tak sedikitpun berniat menyinggung perasaan Dante.


"Bukan. Tapi nungguin orangnya yang kasih honor tepatnya," tegas Dante dengan wajah serius. Matanya lekat menatap bola mata bening milik Alisha, hingga membuat Alisha tersenyum malu-malu. Dante bisa melihat dengan jelas semburat merah yang tampak samar di pipi mulus gadis cantik itu.


Namun, meski sudah dibuat berdebar-debar begitu oleh Dante, Alisha tetap bisa menimpali kata-kata pemuda di depannya itu dengan jokes.


"Yang ditungguin kan sekarang udah datang, nih. Udah ada di depan mata. Terus, mau diajak ke mana? Masa iya mau dianggurin aja?"

__ADS_1


Dante tergelak mendengar candaan Alisha. Ia memaling sesaat lalu kembali memandang gadis itu dengan diiringi senyuman. "Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja."


Alisha terperangah. Sikap Dante yang sangat perhatian itu benar-benar membuat hatinya merasa hangat. Jika hanya dengan tatapan saja Dante sudah membuat hatinya luluh lantak, bisa dibayangkan jika pemuda itu memanjakan dirinya dengan perhatian setiap saat? Salahkah jika ia jadi berharap banyak?


"Aku baik-baik saja, Dan. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Alisha meyakinkan.


Dante mengangguk seolah-olah paham sebelum kemudian melayangkan pertanyaan. "Tadi itu siapa?"


"Kan tadi sudah kubilang kalau itu bestie aku."


"Iya. Tapi kaya harta belum tentu menjamin rasa bahagia. Betul, nggak?"


Dante tersenyum menanggapi perkataan Alisha. Kata-kata Alisha memang ada benarnya. Ia yang pernah dimanjakan oleh harta nyatanya merasa lebih adem dengan kondisi sekarang meski hanya memiliki uang yang pas-pasan. Makan seadanya. Yang penting selalu bersama dengan orang yang dicinta.

__ADS_1


Entah bagaimana reaksi gadis itu nanti jika tahu kenyataan bahwa ia sendiri adalah anak orang kaya. Ia berencana menutup rapat hingga nanti saatnya tiba.


Selanjutnya, Dante memilih mengganti topik pembicaraan tanpa ingin tahu lebih banyak mengenai pembicaraan Alisha dan Lara demi menghindari kecurigaan gadis itu. Toh iu bukan urusannya.


Namun, dalam hati ia salut terhadap Alisha yang tetap jadi diri sendiri meskipun memiliki sahabat kaya raya. Hanya saja, ia masih heran dengan pekerjaan sampingan Alisha. Mengapa memilih pekerjaan haram?


Entahlah.


Terlepas dari itu semua, dalam hati Dante sedikit menyangsikan pekerjaan Alisha. Pasalnya, tak ada yang mencolok dari penampilan Alisha beserta harta benda yang gadis itu punya. Dengan tarif besar yang dipasang Alisha dalam sekali waktu kerja, harusnya gadis itu tinggal di sebuah apartemen dan hidup layak. Tidak perlu lagi banting tulang membuat kue. Memangnya dikemanakan uang sebanyak itu?


Astaga. Dante mengerjap sambil menggeleng pelan. Ia berusaha menghalau pemikiran liar yang tiba-tiba hinggap di kepala. Alisha sangat baik terhadapnya. Lalu, pantaskah jika ia selalu berpikiran buruk terhadap Alisha?


Mungkinkah gue yang terlalu berburuk sangka? Walaupun hati masih ragu sebab fakta yang gue lihat udah cukup jelas adanya.

__ADS_1


***


__ADS_2