
Acara makan malam bersama dua keluarga itu berlangsung lama sebab dibarengi dengan perencanaan perjodohan kedua putra-putri mereka. Para orang tua beserta calon tunangan wanita terlihat bahagia, sementara pemandangan lain justru terlihat dari calon tunangan pria.
Ya, Dante merasa tak nyaman berada di sana, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia seperti terjebak meski semua berawal dari kemauannya sendiri. Ia tak banyak bicara. Hanya memaksakan senyum dan sesekali menjawab sambil mengangguk saat ditanyai calon mertuanya.
Ada banyak pertanyaan yang berjejal di otaknya. Entah mengapa ia merasa semua yang terjadi akhir-akhir ini seperti memiliki keterkaitan. Mulai dari perubahan sikap Alisha, penolakan gadis itu terhadapnya, juga acara perjodohan ini. Mungkinkah ini hanya kebetulan saja? Atau memang sesuatu yang disengaja?
Entahlah. Dante belum bisa memastikan apa-apa. Ia memang merasa ada sesuatu yang aneh dengan cepat dan mudahnya proses perjodohan ini.
Bagaimana tidak? Seperti halnya dia, sebelumnya Lara juga sempat menolak mati-matian perjodohan ini. Lantas, bagaimana mungkin gadis itu menunjukkan kesiapan di saat dirinya juga tak memiliki pilihan lain? Lara bahkan terlihat sangat bahagia saat ini. Sangat jauh dari ekspektasinya yang berpikir gadis yang akan menjadi jodohnya itu akan hadir dengan wajah berbalut kesedihan.
Benar-benar di luar dugaan.
***
Pandangan Lara tak lepas dari sosok di seberangnya. Pemuda dengan balutan jas blazer warna terang yang sengaja menyingsing bagian lengannya. Sosok sama dengan pemuda yang beberapa waktu lalu sempat berkenalan dengan dirinya, tetapi kali ini dengan penampilan yang jauh berbeda. Kali ini dia terlihat sangat berkelas dengan segala yang berharga mahal. Bisa dijamin, mata para gadis tak akan berkedip begitu melihatnya.
Sayangnya, Lara menerima perjodohan itu bukan murni lantaran terpesona. Ia memiliki niatan lain di baliknya. Tentu saja ini merupakan rencana besar yang tak diketahui banyak orang. Termasuk orang tuanya.
Setidaknya rencana terselubung itu sedikit mengobati kekecewaan. Pasalnya, pemuda bernama Dante yang kelak akan menjadi suaminya itu rupanya sosok pria dingin yang sulit sekali ditaklukkan.
Jika pria lain langsung bertekuk lutut padanya hanya dalam sekali kedipan mata, Dante justru sama sekali tak menunjukkan perhatiannya sekalipun Lara telah menunjukkan pesonanya. Kecantikan rupa dan keindahan penampilan sama sekali tak berarti apa-apa.
Namun, Lara tak patah arang. Ia telah memiliki segudang cara untuk menarik perhatian Dante meskipun pemuda itu merasa terpaksa.
__ADS_1
***
Waktu bergulir sangat lambat bagi Alisha ketika melewati hari-hari tanpa Dante di sampingnya. Terhitung sudah sepekan sejak peristiwa menyakitkan itu terjadi. Kini Alisha terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia lebih kuat dan tegar setelah melalui proses berat tanpa orang yang dicinta.
Kenapa terasa berat? Jelas, karena ia harus mengubah kebiasaan secara drastis. Keberadaan Dante rupanya berimbas besar pada kehidupannya. Secara tak langsung Dante telah membuatnya jadi bergantung. Sehingga saat Dante tidak ada, Alisha menjadi kelimpungan. Gadis itu merasa hari-harinya kini terasa hampa. Dan jika wajah Dante kembali hinggap di benaknya, ia hanya bisa menitikkan air mata.
Beruntung, Alisha dikelilingi orang-orang baik yang mampu menguatkan dirinya. Bukan hanya ibu dan teman-teman, tetapi kehadiran sang penolong bernama Mayang beserta suaminya yang bernama Brian itu juga mampu mengalihkannya dari kesedihan.
Pasangan suami istri yang sangat serasi itu adalah orang-orang yang sangat baik. Mereka tak pernah memandang kasta dalam pergaulan. Menolong tanpa menginginkan imbalan. Benar-benar tulus dari hati.
Mayang yang tengah hamil itu bahkan tak segan mengunjungi Alisha dan sang ibu di kontrakan mereka. Sedangkan Brian si suami siaga selalu setia mendampingi istrinya. Keadaan menyedihkan kontrakan tempat Alisha tinggal sama sekali tak menyurutkan semangat mereka. Berkali-kali Mayang menawarkan bantuan, tetapi Alisha selalu menolaknya.
Alasannya simpel. Alisha tak ingin memanfaatkan kebaikan orang-orang seperti mereka. Ia yakin, dengan usaha keras, kelak ia akan berhasil hidup layak dan mengangkat derajat ibu kandungnya.
Lagi-lagi ia harus menguatkan diri sebab setiap tempat yang ia lewati memiliki kenangan tersendiri bersama Dante.
"Bisa. Aku harus bisa. Aku harus bisa bahagia seperti Dante bahagia bersama Lara." Entah ini untuk keberapa kalinya Alisha berusaha menguatkan diri. Memang sesederhana itu patokan bahagianya. Ialah dengan melihat Dante bahagia.
Entah bagaimana bisa ia yakin benar bahwa Dante dan Lara bahagia. Terang saja. Pemuda mana yang sanggup menolak pesona Lara? Gadis itu sangat sempurna dan memiliki segalanya. Sangat tidak seimbang jika dirinya di bandingkan dengan Lara.
Jika saja ia mau bersikap egois, mungkin sekarang ia sedang bahagia bersama Dante meski tanpa restu orang tua Dante. Tetapi sayangnya, perkataan Lara waktu itu membuat terenyuh dan jiwa sebagai saudaranya meronta-ronta. Jika dituntut untuk mengorbankan cinta atau persaudaraan, maka Alisha memilih mengorbankan cinta sebab nalurinya sangat menyayangi Lara, entah sebagai sahabat, maupun sebagai saudara.
"Apa kau tahu Dante itu siapa?"
__ADS_1
Waktu itu, selepas Robby menemui Alisha untuk memberi peringatan agar menjauhi putranya, Lara menemui Alisha dengan wajah bersimbah air mata.
"Dia adalah calon suamiku," lanjut Lara lagi dengan tatapan berapi-api. "Dia ninggalin aku demi kamu! Padahal apa kurangnya aku, hah! Apa salah aku sampai-sampai dicampakkan orang tua dan calon jodoh aku! Dan kamu–" Lara menuding Alisha penuh kemarahan. "Kamu sengaja memikat Dante agar jatuh cinta sama kamu. Demi apa? Untuk melengkapi penderitaan aku! Kau sudah merebut hati Papa! Tiba-tiba datang sebagai anak! Lalu kau akan mengambil Dante juga? Ambil, Alisha! Ambil semuanya! Aku bisa sendirian. Aku nggak butuh kalian semua!"
"Lara!" Alisha mencegah Lara yang sudah berbalik badan itu untuk pergi. Jujur, dia memang mencintai Dante, tetapi Alisha tak ingin menyakiti hati Lara. Semuanya terjadi begitu saja, bahkan sebelum dirinya mengetahui semuanya. Tangisan pilu Lara semakin menambah sesak dada Alisha. Alisha ingin mengembalikan keadaan seperti semula meski harus mengorbankan perasaannya.
"Aku nggak mau itu semua, Lara." Alisha yang mulai menangis menggenggam erat tangan Lara agar gadis itu tidak pergi. "Aku tidak mau Papa. Aku tidak mau harta. Aku juga tidak mau Dante. Aku hanya mau hubungan kita membaik seperti semua, Lara. Aku ingin kamu yang dulu."
Alisha menjeda ucapannya karena tangis yang tak bisa ditahan. Ia mengusap air mata dan mengatur napas agar bisa bicara dengan tenang.
"Aku akan menjauhi Dante demi kamu, Lara. Aku bahkan akan menghindari Papa setiap kali pria itu mengajakku untuk bertemu. Tapi aku mohon, maafkan aku." Alisha memohon sambil menangkub tangannya di depan dada. Dan ... sandiwara itu pun dimulai.
Alisha mengusap wajahnya dengan kasar. Setiap kali mengingat peristiwa itu air matanya selalu berlinang tanpa diminta. Ia kembali mengayuh ontel sepedanya dengan kuat. Pengantaran kue dengan jarak dekat ia tempuh dengan sepeda tinjak untuk menekan biaya pengeluaran.
Teriknya matahari siang itu bahkan tidak berhasil menyurutkan semangatnya. Bahkan karena saking bersemangatnya, Alisha sampai tak melihat jalan berlubang di depannya. Ia menerjang lubang itu begitu saja hingga mengakibatkan sepedanya itu oleng dan ia nyaris terjatuh.
Meski dirinya tetap aman, tetapi sayangnya tidak demikian dengan barang bawaannya. Kotak kardus berukuran sedang yang berisi kue pesanan pelanggan itu jatuh ke jalan dengan posisi terbalik. Sebagian masih aman berada di dalam kotak, tetapi sebagian lagi berhamburan di tengah jalan.
Beruntung, kue kering itu dikemas dalam plastik bening yang tebal, sehingga tidak pecah dan masih bisa diselamatkan. Alisha bernapas lega saat memeriksa kantung pertama yang dipungutnya.
Namun, ketika hendak mengambil beberapa yang lainnya, Alisha tersentak saat tiba-tiba klakson mobil terdengar dari arah belakang dan mengejutkan. Alisha yang dalam posisi berjongkok bahkan tak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri sebab mobil mewah itu seperti muncul tiba-tiba. Mungkin karena Alisha terlalu fokus pada barang bawaannya sehingga tak menyadarinya.
Dalam keadaan terdesak dan tidak berdaya, Alisha hanya bisa memekik seraya menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan. Kedua matanya juga ikut refleks terpejam. Pasrah, ia hanya bisa meringkuk di tengah jalan.
__ADS_1