
Usai mematut diri di depan cermin, Alisha mengambil tas tangan yang sudah disiapkan Lisa lalu beranjak keluar kamar. Maid-nya itu sudah lebih dulu turun meninggalkan kamar, menyiapkan mobil dan segala keperluannya.
Jujur, Alisha sebenarnya tidak suka terlalu diperhatikan seperti ini. Ia sudah mengeluh terhadap Narendra tetapi hanya ditanggapi dengan gelak tawa. Bagaimanapun Alisha harus terbiasa dengan perubahan gaya hidupnya. Itu penting untuk dirinya sebagai bekal masa depan. Banyak yang perlu dirinya pelajari dari Lisa.
Senyum penuh semangat yang ia bawa dari kamar itu memudar ketika melihat siapa yang datang. Alisha sontak menghentikan langkah dan tertegun memandangi sosok yang sudah menduduki salah satu kursi di meja makan.
Dante?
Pemuda itu hanya meliriknya sekilas, kemudian melanjutkan mengobrol dengan Narendra yang sedang menyapanya.
"Sayang, kenapa berdiri di situ? Ayo kemari. Kita sarapan sama-sama." Narendra yang menyadari kedatangan Alisha langsung memanggil ketika melihat sang putri hanya berdiri saja.
__ADS_1
Alisha tak menjawab dengan kata. Hanya anggukan kecil lalu melangkah mendekat dengan gerakan pelan. Ia menempati kursinya dengan hati-hati dan menyunggingkan senyum seperlunya mengingat jika sarapan baru akan dimulai setelah kehadirannya.
Sungguh, perasaannya sedang tak karuan saat ini. Tentu saja karena ada dia. Dante. Ini seperti kejutan saja, sebab Alisha sama sekali tidak menyangka akan kedatangannya.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya hatinya seperti terbakar. Ialah kemesraan Dante dan Lara yang terkesan sengaja dipertontonkan. Meski demikian, Alisha tak ingin terlihat cemburu di depan keluarganya. Ia berusaha bersikap biasa saja seolah-olah tak pernah mengenal Dante dan tak terjadi apa-apa sebelumnya. Itu harus. Ia percaya, kelak juga dirinya akan terbiasa.
Helena bergerak cekatan mengambilkan menu sarapan untuk semua anggota keluarga layaknya ibu rumah tangga yang baik pada umumnya. Wajahnya juga terlihat berseri-seri dengan senyuman yang tak pernah pudar. Begitu juga dengan Narendra. Pria itu terlihat lebih bercahaya dari biasanya. Alisha yang diam-diam mengamatinya akhirnya ikut merasa bahagia.
Akan tetapi, jika sudah begini ia jadi merindukan ibunya di sana. Tatap muka dan bicara melalui sambungan panggilan video nyatanya sama sekali tak membuat ia puas. Justru rasa rindu itu kian menggebu-gebu. Narendra langsung memberinya banyak kegiatan setelah pindah tempat tinggal, tak ayal, hal itu membuat waktunya banyak tersita dan mengurangi waktu untuk melepas rindu pada ibunya.
"Kenapa buru-buru, Sayang? Baru juga jam tujuh." Narendra melirik arlojinya di pergelangan ketika Alisha hendak bersalaman.
__ADS_1
"Lisa sudah terlalu lama menunggu di luar, Pa. Kasihan. Lagi pula aku sangat bersemangat untuk kuliah, aku nggak mau terlambat sampai di sana." Alisha beralasan.
Narendra tersenyum seraya mengusap puncak kepala putrinya. Senyuman bahagia dan penuh kekaguman. "Kamu memang anak yang baik," ucapnya kemudian.
"Hati-hati ya, Al," ucap Helena saat gadis itu mencium punggung tangannya.
"Iya, Ma."
"Bilang pada Lisa untuk tidak mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Bahaya!" pesan Helena lagi dan dibalas senyuman lebar oleh Alisha. Gadis itu mengalihkan pandangan pada Lara kemudian menyampaikan sepatah kata sebelum benar-benar berlalu.
"Ra, aku duluan ya."
__ADS_1
"Oke," jawab Lara singkat seraya mengacungkan jari jempolnya.
Lantas bagaimana dengan Dante yang tidak mendapatkan perhatian Alisha sama sekali? Entahlah. Pemuda itu tetap bersikap dingin sekalipun ada yang terasa nyeri di ulu hati.