
Entah sudah berapa lama Alisha berada di sini, di tepi danau buatan dan duduk pada sebuah kursi besi panjang. Matanya menatap kosong ke arah air danau yang tenang. Rambut panjangnya sesekali terbang diterpa embusan angin sore yang menyejukkan.
Tak banyak yang ia lakukan hari ini. Semua pesanan kue ia tolak. Pesanan hari kemarin juga ia batalkan sepihak. Ia hanya ingin bersantai sejenak. Sekadar melepas penat sembari berusaha menelaah fakta mengejutkan yang baru saja ia ketahui.
Mengingat wajah Narendra membuatnya merasa mual seketika. Bisa-bisanya pria itu hidup enak setelah menyengsarakan ibu dan dirinya. Benar-benar memuakkan.
Jelas, ia tahu bagaimana Narendra yang sebenarnya. Pria berusia matang itu telah menceritakan segalanya tentang dia, tentang keluarganya, bahkan tentang kehidupan rumah tangganya. Sebagai gadis yang awam akan kehidupan pernikahan, terang saja membuatnya merasa iba.
Namun, setelah mengetahui fakta sebenarnya, ditambah ingatan lekat bagaimana awal mula mereka berjumpa, rasa iba itu seketika menjadi jijik. Bahkan yang lebih parahnya, ia nyaris saja menjadi ... ah sudahlah! Alisha bahkan malu pada dirinya sendiri setiap kali mengingat kejadian itu lagi.
Entah berapa kali Narendra telah berganti wanita hanya untuk memuaskan nafsunya. Berapa kali ia mengkhianati janji suci pernikahan. Alisha seperti tak percaya ia memiliki seorang ayah pria hidung belang. Andai saja ada yang mengatakan dirinya gadis bodoh, Alisha tak keberatan lantaran menolak harta berlimpah yang sempat Narendra tawarkan.
Tuhan ... sesakit inikah rasanya kecewa? Rupanya ku mengangumi seseorang yang telah membuat ibuku hancur sehancur-hancurnya.
Alisha tersenyum getir meratapi nasibnya sendiri. Ia bahkan berharap ini cuma mimpi yang segalanya akan lenyap ketika besok ia bangun pagi.
Ketenangan yang membungkus Alisha dalam kesendirian itu seketika buyar lantaran kedatangan seseorang. Dante yang mengenakan hoodie warna gelap muncul dari arah belakang dengan napas terengah akibat berlari-larian.
"Alisha."
Pemuda itu menyebutkan nama si gadis dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Rupanya kamu di sini? Ngapain bikin panik orang aja, sih? Hp pakai dimatikan segala! Aku sama Tante Wanda sampai nyariin kamu ke mana-mana, tau!" omel Dante seraya duduk di samping Alisha. Tangan kanannya lantas bergerak menyeka keringat yang mengembun di pelipisnya.
__ADS_1
"Ngapain di cari ke mana-mana? Terang aja nggak ketemu! Orang akunya ada di sini." Alih-alih merasa bersalah lantaran menyusahkan orang, Alisha justru berucap ketus sambil pasang wajah jutek.
Dante mendengkus kesal sambil geleng kepala. Ia tak habis pikir oleh sikap gadis di sampingnya. Sadar jika ini bukan kebiasaan Alisha membuatnya menatap gadis itu lekat. Mata sembab Alisha sukses membuatnya langsung terhenyak.
"Hey! Kamu habis nangis?" Ia meraih dagu Alisha dan memaksa gadis itu menatapnya.
"Apaan sih, Dan. Lepas, ah!" Alisha menepis kasar tangan Dante lalu buru-buru membuang muka. Pastinya untuk menyembunyikan mata sembabnya. Namun, itu percuma. Sebab Dante telah lebih dulu melihatnya.
"Al, kamu ada masalah apa, sih? Cerita dong sama aku. Aku siap dengerin, kok," bujuk Dante hati-hati sambil merapatkan posisi duduknya.
Bergeming, Alisha tak menanggapi perkataan Dante.
"Al," panggil Dante lagi. Sayangnya, Alisha masih belum terpengaruh oleh panggilannya.
Dante membuang napas panjang lantaran nyaris putus asa. Rasa penasarannya belum juga terjawabkan. Pagi-pagi sekali Alisha mengabarinya untuk tidak datang sebab tidak ada kue yang akan diantarkan. Lalu kemudian, Wanda menghubunginya penuh kepanikan. Dan sekarang, ia mendapati mata Alisha sembab seperti baru menangis dua hari dua malam. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu?
"Setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda, begitu juga dengan caranya dalam menghadapi permasalahan. Ada yang cuek. Ada yang sensitif. Bahkan ada juga yang lebih enak dipendam sendirian." Dante menjeda ucapannya sebentar dan memandang Alisha penuh ketulusan, lalu kemudian berusaha meyakinkan. "Tapi kan kamu ada aku, Al. Aku siap bantu permasalahan kamu apa pun itu."
"Aku nggak akan pernah men-judge kamu dengan kata-kata kotor apa pun itu. Aku bakalan dukung kamu. Aku tau kamu bukan gadis yang lemah. Dengan cara kamu nyembunyiin wajah kayak gini, dengan cara kamu menyendiri di sini untuk mencari ketenangan, itu udah nunjukin seberapa hebatnya kamu berusaha menguatkan diri sendiri. Aku tau kamu nggak pengen libatin orang-orang terkasih kamu ke dalam masalah ini, kan? Tapi kamu jangan lupa fitrah kamu sebagai wanita, Al. Kamu tetap butuh bahu pria sebagai sandaran. Dan sekarang bahu aku ada di sini, di samping kamu. Kamu bisa manfaatkan itu sekarang."
Dante menepuk bahunya sendiri lagi-lagi demi meyakinkan Alisha akan keseriusan omongannya. Bukan cuap-cuap belaka. Ia berbicara demikian juga bukan asal-asalan. Terlebih dahulu ia membaca situasi dan berusaha memahami. Berharap dapat mengetuk hati Alisha hingga mau berbagi cerita.
Ia telah mencari Alisha ke beberapa tempat sesuai yang dikatakan Wanda, tetapi nihil hasilnya. Lantas ia baru teringat jika Alisha pernah bercerita sering mengunjungi danau buatan ketika sedang ada masalah. Dante benar-benar merasa lega saat menemukan Alisha di sana. Namun, meski demikian ia sama sekali tak tahu menahu masalah yang menimpa Alisha itu apa. Sebelum dirinya memutuskan kemari pun Wanda tak memberinya informasi.
__ADS_1
Karena Alisha masih bergeming, Dante kembali melanjutkan upaya membujuknya.
"Lari dari apa yang menyakiti kamu akan semakin membuatmu merasa sakit, Al. Lebih baik jangan lari. Hadapilah itu semua. Peluklah luka itu sampai kamu sembuh dengan sendirinya."
Dante menasihati Alisha begitu bijak seolah-olah dirinya tak pernah lari dari masalah. Ia sampai lupa awal mula dirinya berada di sini itu karena apa. Karena melarikan diri.
Meski kelihatannya diam tak memberi tanggapan, tetapi ternyata Alisha mendengarkan dengan baik semua kata-kata Dante. Nasihat yang pemuda itu sampaikan sama sekali tak meleset dari sasaran. Semuanya itu benar.
Sekalipun ia berusaha tegar, sekalipun ia sudah terbiasa dalam kesusahan, tetapi ia tetap wanita yang membutuhkan bahu pria untuk bersandar. Seumur hidup tak pernah merasakan sandaran bahu ayahnya, bahkan patah hati sebelum merasakan cinta pertama membuatnya lupa akan fitrahnya sebagai seorang wanita.
Tentu ia tak ingin mempermalukan diri di hadapan Dante dengan menceritakan bagaimana ayah kandungnya, menceritakan bagaimana ia memiliki cerita hidup yang sangat menyedihkan. Ia hanya butuh sandaran untuk menumpahkan kesedihan. Toh pemuda itu sendiri yang telah menawarkan.
Mungkin semua orang yang mengenalnya akan mengatakan Alisha adalah sosok gadis yang mandiri. Akan tetapi, benarkah ia tak membutuhkan laki-laki? Sejujurnya apa yang orang-orang katakan itu adalah salah besar. Alisha bahkan merasa kasihan pada dirinya sendiri lantaran harus nyenengin diri sendiri dengan embel-embel 'mandiri'. Karena apa? Karena nggak ada cowok yang bersedia nyenengin dia hanya karena dia gadis tak berpunya.
Sangat miris, bukan? Bisa dikatakan ia haus kasih sayang hingga tak tahu rasanya dibahagiakan.
Dante adalah pemuda pertama yang bisa menerima dia dengan apa adanya. Hanya pemuda ini yang bisa memberinya kenyamanan. Ia tak pernah berharap muluk untuk dijadikan Dante sebagai pasangan. Cukup melihat wajah ceria pemuda itu baginya sudah merupakan kebahagiaan.
Tanpa Dante sangka, saat dirinya mendengkus kesal sembari buang muka lantaran nyaris menyerah membujuk Alisha, suara isak justru terdengar dari arah samping kanannya. Ia sontak menoleh dan mendapati bahu Alisha berguncang hebat bersamaan dengan tangisnya yang pecah.
Dante terkesiap mendapati wajah Alisha yang basah. Bagaimana tidak terenyuh jika ia tak pernah melihat Alisha sesedih ini sebelumnya. Dante bukan tak pernah melihat wanita sedang menangis. Bukan juga tak pernah merasa iba melihat orang lain dalam kesedihan.
Namun, entah mengapa tangis gadis di sampingnya ini terdengar sangat memilukan. Seperti menyimpan ribuan luka tak kasat mata. Lebih-lebih jika menilik ke belakang, Alisha yang ia kenal adalah tipe gadis yang periang. Gadis ini tak pernah mengumbar kesedihan hanya untuk menarik simpati seseorang.
__ADS_1
Ini adalah kali pertama Alisha menunjukkan kesedihannya ... dan itu membuat Dante lebih terluka.
Tanpa pikir panjang, Dante merengkuh tubuh Alisha ke dalam pelukan. Ia bukan hanya merelakan bahunya untuk dijadikan sandaran, melainkan menyerahkan dadanya sebagai tempat Alisha menumpahkan air mata.