
Walaupun lebih banyak diam, tetapi Alisha juga sama paniknya dengan orang tuanya. Pertengkaran kecil yang sempat terjadi antara Narendra dan Helena membuat suasana semakin memanas. Beruntung kedua orang itu bisa dengan mudah ia dan ibunya lerai.
Mereka kembali duduk dan menenangkan diri. Alisha memutuskan merapat pada papanya. Sesekali ia mengusap bahu pria itu untuk sekadar menenangkan. Tanpa ia duga, Narendra melontarkan sebuah kalimat yang membuatnya bergidik.
"Alisha," panggil papanya itu dengan tatapan penuh arti.
"Ya?" Bulu kuduk Alisha terasa berdiri. Ia menatap ketiga orang tuanya dengan tatapan ngeri.
"Kali ini Papa mohon dengan sangat. Gantikan Lara bertunangan dengan Dante, Sayang."
"A-apa?" Suara Alisha tercekat. Ia nyaris tak percaya kata-kata itu terlontar dari bibir papanya.
"Benar, Alisha. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan kita semua," sahut Helena pula.
Alisha sontak mengubah posisi duduknya. Gadis itu kemudian menggeleng kuat-kuat sebagai bentuk penolakan. "Enggak. Alisha nggak bisa," tegasnya.
Ekspresi Helena terlihat kecewa. Ia menatap Alisha dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa tidak bisa, Alisha. Alasanmu apa?"
"Sebelumnya maaf kalau Alisha jadi anak pembangkang kalian semua. Alisha punya alasan kuat, Pa, Bu, Ma." Alisha menatap ketiga orang tuanya bergantian ketika memanggil nama mereka. "Bagi Alisha, pertunangan ini hanya satu langkah menuju pernikahan. Ini sudah sama sakralnya dengan pernikahan. Lantas bagaimana mungkin hal sesakral ini harus dibuat mainan-mainan? Tukar-tukaran posisi? Di sini Lara dan Dante yang akan bertunangan, Pa. Bukan Alisha. Posisi Lara tidak bisa digantikan begitu saja, meskipun Alisha adalah saudarinya! Jangan pernah samakan pertunangan dengan fitting baju ataupun gladi resik yang bisa Alisha lakukan seperti kemarin-kemarin. Itu jelas beda. Sekali lagi maaf. Alisha bener-bener nggak bisa."
Helena mendesah putus asa. Wanita itu akhirnya kembali menitikkan air mata. "Pikirkan sekali lagi, Alisha. Ini demi keluarga kita dengan keluarga Dante. Mama mohon, selamatkan nama baik kami."
***
Setelah perdebatan alot akhirnya Alisha bersedia diajak kerja sama. Gadis itu kini sedang menunggu konfirmasi dari papanya yang tengah membicarakan masalah ini dengan keluarga Dante. Bagaimanapun juga keluarga besan harus tau jika putri mereka lari di hari pertunangan. Tentang adanya indikasi penculikan, orang-orang suruhan Narendra tetap mencari keberadaan Lara sampai gadis itu ditemukan.
"Bagaimana, Sayang?" Helena langsung menyambut Narendra dengan pertanyaan ketika pria itu muncul.
Diam-diam Alisha melirik sang papa. Dari mimik wajah yang ditampakkan, sepertinya hasil pembicaraan mereka tak sesuai dengan harapan.
"Robby mengatakan dirinya sangat kecewa," jawab pria itu masih dengan ekspresi semula.
Helena terdengar mendesah pelan. Wanita itu kembali menampakkan wajah mendungnya. "Apa Dante juga sama?" tanyanya lagi.
"Iya." Narendra mengangguk membenarkan.
Bukan hanya Helena yang merasa semakin tertekan. Alisha bahkan tertunduk dalam dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi aku ada kabar baik," lanjut Narendra yang membuat ketiga wanitanya seperti mendapatkan angin segar.
"Apa itu?" desak Helena.
"Mereka menyetujui rencana kita demi menyelamatkan wajah dari rasa malu."
"Itu artinya?" potong Helena dengan mata melebar penuh arti, yang seketika mendapat anggukan dari Narendra.
Seketika Helena ingin tersenyum dan menangis bersamaan. Ia bergegas mendekati Alisha dan menangkub kedua sisi pipi putri tirinya.
"Alisha, kau tidak berubah pikiran kan, Sayang? Kamu ikhlas membantu kami, kan?"
Alisha mengatupkan bibir menahan tangis. Namun, meski begitu ia tetap berusaha tersenyum dan mengangguk yakin.
"Syukurlah. Mama sangat berhutang budi kepadamu, Sayang," tutur Helena dengan nada bergetar.
Tak ada waktu lagi untuk melanjutkan drama. Mereka harus bergegas menjalankan opsi kedua yang terjadi di luar rencana. Gaun yang sudah disiapkan untuk pertunangan bahkan raib entah ke mana. Belum lagi Alisha yang masih polos tanpa riasan.
Helena bergerak cepat mengerahkan seseorang untuk mencarikan gaun indah untuk Alisha sementara gadis itu menjalani serangkaian riasan. Keluarga besar Dante juga mulai mempersiapkan segalanya. Semua orang menjalankan perannya masing-masing. Semua orang terlihat sibuk di hari itu.
"Nona, bisakah Anda menarik sudut bibir ke arah kanan?" pinta sang MUA sesaat setelah selesai merias Alisha.
"Hah?" Alisha mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Tersenyum." Wanita cantik itu menunjukkan senyumnya sembari menaik-turunkan alis. "Seperti ini," ujarnya dengan nada gurauan.
"Owh, senyum maksudnya?"
"Iya. Kau sangat cantik. Tapi sayang kurang berseri lantaran senyummu tidak terbit sejak tadi. Kau harus tahu, senyuman wanita itu akan menguatkan auranya."
Alisha hanya tertegun. Andai saja ini hari pertunangannya jelas ia takkan berhenti tersenyum bahagia. Tapi kali ini keadaannya beda. Ia hanya wanita pengganti dari saudarinya.
"Lihatlah dirimu, Sayang. Kau sangat cantik sekali." Sang MUA mengisyaratkan agar Alisha menatap dirinya dari pantulan cermin.
Alisha mengerjap tak percaya. Mungkinkah itu dia? Sepanjang menjalani riasan, pikirannya berkelana entah ke mana. Ia bahkan tak memperhatikan wajahnya. Dan kata MUA tadi memang benar. Tak ada senyum di wajah cantiknya.
"Alisha, kau sudah siap?" Helena yang baru datang, bertanya memastikan. Ia memegangi bahu putri tirinya dari belakang, lalu tersenyum kagum melihat pantulan Alisha dari cermin. "Kau cantik sekali, Alisha. Kau benar-benar sangat cantik."
Tak bisa berkata-kata, Alisha hanya bisa memaksakan senyumannya. Pandangannya kemudian beralih pada pantulan sosok Wanda yang baru muncul lalu berdiri di sisi kirinya.
"Sayang, fokuskan diri pada acara hari ini. Bayangkan jika benar-benar dirimu lah orang yang akan bertunangan hari ini. Kau adalah bintangnya. Kau yang paling bersinar di antara yang lainnya. Semua pasang mata hanya akan tertuju padamu. Kau akan menjadi pusat perhatian. Maka, bersikaplah seperti seorang dewi. Kau sangat cantik, Sayang. Kau benar-benar cantik." Bahkan suara Wanda pun bergetar dan matanya berkaca-kaca. Wanita itu lantas memeluk putrinya penuh sayang.
Alisha nyaris menitikkan air mata. Ini adalah situasi yang tidak ia suka. Melenceng dari perhitungan. Sangat jauh, bahkan tak pernah ia bayangkan.
Kenapa jadi begini? Demi apa pun, ia ingin menghajar Lara jika gadis itu ditemukan. Ia ingin meluapkan amarahnya pada gadis itu. Setelah semua yang terjadi, bisa-bisanya Lara kembali membuat ulah dan menyusahkan semua orang. Membuat sedih orang tuanya.
Baiklah. Untuk sementara lupakan dulu masalah pelampiasan. Yang terpenting adalah sekarang. Ia harus fokus pada acara lamaran meski kepalanya semakin pusing setiap kali membayangkan bagaimana reaksi Dante saat pertama melihat wajahnya.
Alisha hanya bisa berdoa agar Dante bisa meredam amarahnya sebentar saja. Hanya sampai acara lamaran itu usai dan setelahnya pemuda itu boleh menghukum dirinya sesuka dia. Tak masalah sekalipun dirinya harus kembali direndahkan oleh Dante, asalkan orang tuanya tak mendapatkan malu lantaran perbuatan Lara.
Alisha duduk di sebuah kursi di ruang tunggu. Suara pembawa acara sudah terdengar, pertanda acara sudah dimulai. Semakin waktu berjalan, semakin jantungnya berdebar kencang. Telapak tangannya ikut basah. Keringat dingin bercucuran. Bahkan pembicaraan dua teman yang berada di sisi kiri dan kanan tak mampu ia dengar. Pikiran Alisha malah melanglang buana entah ke mana.
__ADS_1
Sementara itu di luar sana, acara sudah dimulai dengan aman terkendali. Serangkaian awal acara sudah terlewati, termasuk acara sambutan dari dua pihak keluarga. Suara tawa bahkan riuh terdengar ketika acara permainan dimulai. Yaitu ketika Dante diminta menebak sosok yang berada di balik kain.
Tampak keterkejutan di wajah Dante saat mendapati sosok di balik kain itu bukanlah gadis pujaannya, melainkan wanita tua yang sedang tertawa menampilkan giginya yang tinggal dua.
Terang saja semua tertawa, termasuk Dante yang saat itu merasa terkecoh oleh permainan. Tentu saja hal itu sedikit mengurangi rasa gugup yang berusaha ia sembunyikan di balik wajah penuh pesonanya.
Sementara itu di ruangan lain di sisi ballroom, Alisha masih membeku dengan ketegangannya. Ia tergagap saat seseorang mengintruksikan untuk berdiri.
"Mbak Alisha, siap-siap ya. Sebentar lagi Mbak berjalan ke luar."
"Hah?" Alisha malah bengong.
"Bentar lagi nama lo dipanggil," ujar sang teman yang menggandeng lengannya di sisi kanan.
"Jalannya santai aja ya, Mbak. Pelan-pelan dan anggun. Jangan lupa untuk selalu tersenyum. Ingat, semua pasang mata tertuju ke arah Anda." Wanita itu mengingatkan.
Akhirnya tiba saatnya. Alisha merasa tubuhnya seperti melayang saat dua temannya mulai membawanya berjalan. Alunan musik romantis seperti sengaja diputar untuk mengiringi langkahnya menuju jurang yang sangat dalam. Tubuhnya seperti sangat ringan hingga Alisha merasa dirinya mudah sekali goyah. Mungkin ia sudah limbung andai tak ada dua gadis yang mengapitnya di sisi kanan kiri.
Ia bisa merasakan wajahnya memucat saat melihat begitu banyak orang di ruangan berukuran sangat luas itu. Saking pusingnya, Alisha bahkan tak bisa mengenali mereka satu persatu.
Namun, saat dua temannya mengantar dirinya sampai di area utama, barulah tampak olehnya satu sosok yang paling bersinar di antara yang lainnya. Sosok tubuh tinggi yang berdiri dengan tegap. Sosok dengan balutan kemeja batik yang tengah memandangnya dengan tatapan ... kagum? Sosok itulah yang tak mengalihkan pandangannya meski dirinya sudah menunduk malu-malu.
"Bagaimana Mas Dante, apa dia gadis pujaan Anda?" tanya sang pembawa acara yang seketika menginterupsi suara bising di sekitar. Seketika hening. Sebelum kemudian suara Dante terdengar jelas dan penuh keyakinan.
"Ya. Dia pujaan hati saya."
Alisha menelan ludah. Andai ini nyata, mungkin ia adalah gadis paling bahagia di dunia.
"Baik, kalau begitu, tunjukkan aksi yang menegaskan bahwa Mas Dante menginginkan dia. Yakinkan dia dengan kesungguhan hati Mas Dante."
Dengan penuh wibawa, Dante tersenyum dan mengangguk. Ia memandangi Alisha lalu menyebut nama gadis itu dengan lembut.
"Alisha."
Alisha langsung menoleh pada Dante dan balas menatap pemuda itu. Namun, terlihat sekali jika dirinya masih belum sepenuhnya menguasai situasi. Ia seperti sulit percaya jika Dante benar-benar menyebutkan nama dirinya. Ia bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum meski semua orang telah berkali-kali mengingatkan. Tegang. Hanya itu yang terlihat dari wajahnya.
"Alisha," ulang Dante. "Di hari ini .... Di kesempatan indah ini .... Dengan disaksikan oleh seluruh dunia dan dengan kesadaran penuh ... izinkan aku menjadi bagian dalam hidup kamu ... menjalani hidup bersama dalam suka maupun duka.
Izinkan aku menjadikanmu ratu di hatiku dan juga belahan jiwa ini.
Maukah kau menerimaku apa adanya?
Saling menjaga tanpa ada batasan waktu?"
Hening. Meski Dante sudah berucap penuh perasaan dan penghayatan dari hati yang terdalam, Alisha hanya bergeming sambil menatapnya tak percaya. Hingga, suara sang pembawa acara mampu menarik atensi gadis itu.
Bisa dijelaskan kenapa Anda diam saja? Apa karena pernyataan cinta Mas Dante itu masih belum bisa meyakinkan?"
Alisha hanya tersenyum canggung. Sungguh, bukan itu yang ia pikirkan. Ia bahkan nyaris menitikkan air mata lantaran saking meyakinkannya pernyataan cinta Dante barusan. Sampai-sampai hal itu membuatnya takut. Takut bawa perasaan dan akhirnya berharap jadi kenyataan.
Alisha melempar pandangan pada orang tuanya. Narendra, Wanda, dan Helena secara bergantian. Ketiganya sama-sama tersenyum sangat manis seperti sedang memberinya sebuah dukungan. Namun, sayangnya ia tidak bisa. Beban jiwa ini terlalu berat untuknya.
Alisha merasa tak sanggup jika ini hanya pura-pura. Ini terlalu manis untuk sebuah kepura-puraan. Hingga akhirnya ... ia menjatuhkan tatapan kepada Narendra kemudian menggelengkan kepalanya penuh sesal. Sebuah kata-kata lirih akhirnya terdengar sebelum kemudian ia berbalik badan.
"Maaf."
Namun, belum sempat Alisha melangkah jauh, sebuah jemari kokoh berhasil mencekal pergelangan tangannya dan kemudian terdengar suara merdu yang mengalun dan menginterupsi pergerakannya.
Dengarkanlah,
wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Dante menghentikan senandungnya. Sebuah lagi berjudul "Janji suci" milik Yovie and the Nuno menjadi pilihannya. Ditatapnya dengan lekat wajah Alisha yang masih merasa tak percaya. Mata berkilau indah itu seperti menyelami kesungguhan hatinya. Kian dalam, semakin dalam, hingga nampak riak-riak air di sana.
Kali ini Dante tak akan membiarkan Alisha lepas lagi. Ia benar-benar menunjukkan kesungguhannya. Bagaimana perasaan itu memang sudah ada sejak lama. Tak akan hilang. Tak pernah surut. Dan akan selalu ada sampai kapan pun juga.
Semua orang yang ada di sana ikut larut dalam suasana. Mereka ikut terbawa perasaan. Mereka semua ikut menanti Alisha memberikan jawaban.
Tiba-tiba dari arah sana terdengar seseorang menyerukan sebuah nama.
"Alisha!"
Gema suara itu mau tak mau menarik atensi pemilik nama. Alisha menoleh ke arah pintu dan sontak membelalak melihat apa yang ditangkap indera penglihatannya.
Lara? Benarkah itu Lara?
Ya. Alisha tak salah lihat. Lara muncul dengan senyuman secerah mentari. Dia tak datang sendirian. Ada David yang menemani. Keduanya bergandengan tangan dengan sangat mesra.
Apa-apaan ini?
__ADS_1
Seketika Alisha menyadari suatu hal. Pandangan seluruh tamu undangan yang terkesan tak ada keanehan. Nama yang tertulis pada dekorasi yang bertunangan.
Bukankah itu namanya dan Dante?
Dan lihatlah kebaya modern yang ia kenakan. Terlihat seperti senada dengan batik yang Dante kenakan. Kenapa ia merasa semua ini ada unsur kesengajaan? Kenapa semua yang harusnya perlu persiapan matang justru sangat mudah didapatkan? Semua takkan terjadi jika bukan karena memang sudah disiapkan.
Alisha mengalihkan pandangannya, meneliti reaksi para orang tuanya. Kenapa mereka semua tampak biasa saja melihat kemunculan Lara? Bukankah gadis itu yang menimbulkan masalah dengan tiba-tiba menghilang di acaranya?
Senyuman Lara?
Ya. Senyuman Lara itu terlihat sangat jelas jika gadis itu mendukung upaya Dante menyatakan perasaan cinta terhadapnya. Benarkah apa yang dipikirkannya?
Saat sedang sibuk mencerna semua yang terjadi, tiba-tiba Dante kembali bersenandung seolah-olah menuntut jawaban darinya. Bahkan sambil bertekuk lutut sambil memegang lembut jemarinya, diiringi alunan musik, dan diikuti semua tamu undangan yang datang.
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Alisha tak bisa berkata-kata selain menitikkan air mata. Ia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Bahkan ternyata seluruh keluarganya telah merancang ini tanpa sepengetahuan dirinya.
Dan Dante. Apakah sikap ketusnya semalam itu adalah bagian dari rencana? Entahlah. Yang jelas ia hanya ingin melampiaskan kekesalan pada pemuda itu. Tentu saja tidak sekarang. Tapi nanti. Setelah acara usai.
Dan setelah serentetan drama telah dilewati, tibalah saatnya Alisha memberikan jawabannya. Maka, dengan bersimbah air mata, gadis itu pun berkata.
"Dengan seizin Allah ... aku menerima pinangan kamu.
Aku bersedia menjadi bagian dari hidup kamu,
Menjalani hidup bersama kamu, dalam suka maupun duka.
Aku akan dengan senang hati menjadikanmu raja di hatiku,
Menjadikanmu belahan jiwa ini.
Insya 'allah aku akan menerimamu apa adanya,
Saling menjaga tanpa ada batasan waktu."
Tepuk tangan akhirnya riuh terdengar. Semua orang bersorak bahagia, tak terkecuali Dante yang sampai kelepasan memeluk Alisha tanpa sadar.
"Terima kasih, Alisha. Terima kasih banyak," bisiknya penuh kebahagiaan.
***
"Kenapa kau ingin menikahiku? Boleh aku tau alasannya?" tanya Alisha ketika dirinya dan Dante sedang jalan-jalan berdua saja di area taman hotel. Tanpa memudarkan senyumannya, gadis itu menatap calon suaminya dengan lekat.
"Simpel saja," jawab Dante. "Karena aku cinta."
"Benarkah?" tanya Alisha meragukan. Gadis itu tertawa ringan sebelum melanjutkan kata-katanya. "Bukankah kau bilang aku ini kupu-kupu malam? Aku sudah tidak suci?"
Dante mendesah panjang penuh sesal. "Maaf untuk itu. Kuakui aku telah salah menilaimu."
Alisha hanya tersenyum tanpa menanggapi dengan kata-kata.
"Asal kau tahu Alisha, perasaan ini tetap tumbuh meski pikiranku berkata buruk tentang dirimu. Karena apa? Karena aku yakin jodohku itu adalah kamu."
"Dan kamu tau Dante?" balas Alisha tak mau kalah. "Bagiku kesucian itu tak bisa ditukar dengan kemewahan seperti apa pun juga. Kesucian itu tak ternilai harganya. Dan akan kupersembahkan hanya untuk lelaki yang menyandang status sebagai suamiku saja."
Dante menatap wanitanya lekat-lekat, kemudian menyunggingkan senyum penuh arti.
"Oh ya? Bagaimana caranya supaya aku yakin bahwa kau ini masih suci? Bolehkah aku mengujinya sekarang?" godanya dengan senyuman nakal.
Terang saja Alisha membelalak. Meski ia sendiri tahu jika Dante hanya menggoda saja, tetapi tak bisa dipungkiri jika dirinya merasa ngeri juga.
Maka demi menetralkan perasaan dan debaran jantungnya, ia pun mendekatkan bibir ke telinga Dante lalu berbisik mengatai pemuda itu.
"Dasar buaya darat."
Mata Dante yang sempat berkabut itu seketika membeliak. Senyuman jahil kemudian tersungging di bibirnya. Namun, sebelum ia sempat mendekap tubuh Alisha, gadis itu sudah lebih dulu melesat meninggalkannya.
"Buaya darat .... Wekk!" cibir gadis itu pada Dante. Lalu kemudian mengangkat ujung bawahan kebayanya demi bisa lari dengan kencang. Sebab si buaya darat kini sedang mengejar untuk menerkamnya.
.
TAMAT~~~
.
.
Yeyyyy!! Akhirnya saya bisa menamatkan cerita Dante dan Alisha ☺️☺️☺️🤗
Alhamdulillah, Terima kasih banyak kepada Allah SWT, terima kasih banyak pada kalian semua yang sudah mau bersabar dan mengikuti sampai sekarang. Terima kasih juga atas dukungan kalian, baik melalui like, komentar bahkan poin yang diberikan. Aku sangat-sangat berterima kasih🙏🙏🙏
Sampai bertemu di novel aku yang baru ya. Jangan lupa follow akun aku di novel toon ini biar ada pemberitahuan jika aku update karya baru. See you again
__ADS_1