
Takdir. Cara Tuhan meramunya memang tak bisa ditebak oleh manusia. Seperti saat ini. Pertemuan Alisha dengan orang yang masih dicintainya. Tak pernah terbesit dalam benaknya akan bertemu dia di sini. Dalam keadaan seperti ini.
"Dante?" Tanpa sadar nama itu terucap. Sementara mata, menatap pemuda di depannya dengan penuh damba.
Cinta. Nyatanya rasa itu masih ada. Jarak yang membentang tak cukup menjadi penghalang. Takhta yang tak setara tak mampu membunuh rasa. Kini keduanya saling berhadapan, dengan sepasang mata saling pandang.
Namun, mungkinkah cinta itu hanya dirasakan oleh Alisha? Hanya sedetik ia melihat tatapan hangat seorang Dante. Sebab, di detik lainnya, pemuda itu kembali menunjukkan sikap angkuhnya.
"Jalan pakai mata!" sinisnya seraya menunjuk mata sendiri, lalu pergi begitu saja melewati Alisha.
Bukan hanya hati yang terasa sakit. Benturan pada bahu Alisha oleh bahu Dante juga membuat gadis itu memekik.
"Nona baik-baik saja?" Lisa bertanya cemas, lalu mengalihkan pandangan pada Dante kemudian berteriak. "Hey, kurang ajar!"
"Stop, Lisa." Alisha menahan Lisa yang sudah hendak bergerak.
"Tapi dia kurang ajar sama Nona!"
"Dia nggak salah!" tegas Alisha penuh amarah.
Terpaksa, Lisa mengurungkan niatnya. Jika saja Alisha mengijinkan, ia ingin sekali memberi pemuda itu pelajaran. Sayangnya Lisa tak tahu pemuda itu sebenarnya siapa. Ia hanya orang terpilih Narendra yang baru memasuki kediaman tuannya bersamaan dengan Alisha. Tepatnya sehari sebelum Alisha tiba.
__ADS_1
"Nona baik-baik saja?" Lisa kembali memastikan setelah menghela napas panjang.
"Aku baik-baik saja."
Bohong. Pada kenyataannya ekspresi Alisha tak senada dengan ucapannya. Gadis itu mendadak murung setelah pertemuan dengan Dante terjadi. Dan puncaknya ketika sosok Lara yang diketahui Lisa adalah anak kandung Narendra juga, yang itu berarti saudari tiri nonanya.
Lisa melihat luka menganga di mata Alisha kala menyaksikan dua orang itu bergandengan mesra. Bahkan Dante merangkul Lara layaknya sepasang kekasih.
Alisha tampak berusaha keras menahan hujan dari kedua kelopak matanya. Lisa melihat adanya keterikatan pada ketiga orang itu, tetapi anehnya Alisha seperti tak memiliki daya untuk melakukan apa-apa. Seperti memasrahkan diri pada keadaan.
Itu membuat Lisa merasa khawatir sekaligus bertanya-tanya. Sayangnya ia tak bisa mengajukan pertanyaan itu untuk sekarang. Suasana hati nonanya sedang buruk saat ini. Mungkin nanti. Saat semua sudah membaik.
***
"Maksudnya?" Alisha mengernyitkan dahi. Merasa aneh lantaran pertanyaan itu Lisa lontarkan di tengah perjalanan pulang.
"Saya tahu Nona bersedih."
Alisha sempat terperangah mendengar celetukan maid-nya. Namun, sesaat kemudian ia justru tergelak kencang.
"Sok tau, kamu!" serunya di sela tawa.
__ADS_1
Sayangnya Lisa bukanlah gadis bodoh yang begitu mudah dibohongi. Tawa Alisha sama sekali tak mempengaruhinya. Ekspresinya tetap datar dengan pandangan fokus ke jalan.
"Apa kalian terlibat cinta segitiga?" Tebakan Lisa tak meleset. Detik itu juga Alisha tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk-uhuk!"
"Minum, Nona." Secepat kilat Lisa memberikan minuman.
Sejenak Alisha dibuat tercengang, tetapi tetap menerima botol air mineral itu dan meminumnya perlahan.
"Bisa tidak menanyakan itu lagi?" tanya Alisha setengah memperingatkan. Ia menatap sinis pada Lisa dan gadis itu membalas tatapan dengan ekspresi tak paham. Alisha kemudian menambahkan penuh penekanan. "Aku tidak suka membahas ini."
"Baik. Saya mengerti." Lis mengangguk paham. Selanjutnya, tak ada lagi percakapan hingga mobil memasuki gerbang dan berhenti di pelataran.
Alisha yang meminta Lisa menghentikan mobil di sana. Sebab seharusnya Lisa menurunkan Alisha di depan pintu.
"Bagaimana kuliah hari pertamamu?"
Sambutan tak terduga datang dari Helena. Wanita cantik itu berdiri dari duduknya di sofa ruang tengah, kemudian berjalan menghampiri Alisha yang tiba-tiba membeku.
Entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan wanita cantik itu suasana jadi mencekam. Alisha seperti berdiri di dalam rumah tua berhantu seperti di film-film horor yang pernah ia tonton. Sangat menakutkan. Lebih-lebih lagi tatapan Helena yang seperti mengintimidasi kepadanya.
__ADS_1
"Ba-baik, Ma." Alisha tergagap saat Helena kian mendekat. Ia membayangkan wanita yang ia panggil mama itu sebentar lagi akan menerkam.
"Bagus." Seharusnya itu kata-kata pujian, bukan? Tetapi anehnya justru terdengar mengerikan di telinga Alisha. Lebih-lebih saat Helena menyodorkan tangan seperti hendak menampar. Terang saja Alisha langsung refleks memejamkan mata.