
"Apa melawan habis-habisan dengan cara seperti ini yang lo maksudkan?" Meski Dante mengatakan itu dengan pelan dan diiringi senyuman, tetapi reaksi Lara benar-benar mengherankan.
Ada kepanikan yang begitu hebat dari wajahnya. Mata gadis itu membulat sempurna. Mulutnya ternganga tak percaya. Dari keterkejutannya, ia seolah-olah tak menyangka akan begini kejadiannya.
"Dante stop!"
Otak Lara meneriakkan alarm berbahaya. Saraf motoriknya bekerja dengan baik, sehingga tangannya bergerak cepat terulur hendak meraih ponsel yang tengah digenggam Dante, tetapi sayangnya gagal sebab pemuda itu dengan gesit menjauhkan dari jangkauannya.
"Hey, jangan main rebut aja kali, Ra. Mendingan lo nonton ini. Seru," ujar Dante santai sambil tertawa. Namun, tawanya kali ini jelas-jelas terdengar mengejek di telinga Lara. Gadis itu tahu Dante sedang mengejeknya.
Sebagai orang yang berinisiatif menyerang Lara, tentu saja Dante sudah memperhitungkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi, salah satunya adalah kemungkinan Lara akan merebut ponselnya. Benar saja. Dengan ekspresi panik tak karuan, gadis itu berupaya merampas ponselnya walau selalu gagal.
Lagi-lagi Dante terbahak. Serangan Lara baginya tak berarti apa-apa. Ia begitu menikmati kepanikan Lara. Lara bahkan terlihat sangat kacau lantaran frustasi. Rambutnya berantakan. Wajahnya merah padam. Matanya menampakan riak-riak air yang sebentar lagi akan banjir.
"Dante stop!" Lara memekik lagi. Kini ia terduduk lemas lantaran kehabisan tenaga. Ia menatap Dante putus asa. Kedua sudut bibirnya tampak melengkung, tetapi kali ini melengkung ke arah bawah.
"Dinaikin volumenya dikit lebih seru kali, ya." Kata-kata Dante bukanlah isapan jempol belaka. Mengabaikan permohonan Lara, dengan gampangnya jemari itu menekan tombol untuk menaikkan volume ponselnya. Ia kembali tersenyum lebar tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Lara. Dante benar-benar tak ingin melewatkan sedetikpun perubahan wajah Lara. Ia masih menunjukkan layar ponselnya ke arah Lara meski sedikitpun tak ada niatan untuk turut serta menontonnya.
"Bagaimana? Seru, bukan?" Lagi-lagi nada bicara Dante terdengar mengejek.
Sementara Lara yang sudah tidak tahan lagi tiba-tiba menarik tuas untuk membuka pintu mobil. Dari pada tersiksa dengan perbuatan Dante lebih baik ia keluar dan kembali ke rumah. Persetan dengan kuliah.
__ADS_1
Sayangnya lagi-lagi usaha lara tak membuahkan hasil. Pintu mobil tak mau terbuka meski Lara sudah mendorongnya. Terlalu panik sampai-sampai ia memukulnya, bahkan terakhir mendorong dengan kaki.
"Maksud kamu apa, Dante! Cepat buka!" Lara berteriak histeris. Kali ini ia benar-benar ingin menangis.
"Kenapa buru-buru? Lihat ini dulu!" Kali ini Dante tak bisa menahan diri untuk tidak mencengkeram dagu Lara, memaksa gadis itu untuk melihat layar ponselnya.
Lara yang tak terima berusaha melepaskan diri dari Dante, memukul tangan pemuda itu agar menyingkir dari sana. Suara tangisan akhirnya lolos di bibirnya. Kedua tangan ramping itu bersamaan bergerak naik lalu menutupi kedua sisi telinganya.
"Kumohon hentikan, Dante!" pintanya di sela tangis.
"Kenapa? Apa film ini masih kurang seru?"
Lara menggeleng kuat-kuat dan menutup matanya rapat.
Jelas, Lara tahu itu suara siapa. Video yang memperlihatkan dua orang sedang bertukar peluh dengan panas itu adalah dirinya dengan penculik yang menjaganya. Meski temaram lantaran minim pencahayaan, tetapi di sana terlihat jelas jika mereka melakukan penyatuan tanpa sehelai benang.
"Dengar, Lara. Dengar suaranya!" bentak Dante sambil menggamit dagu Lara. "Dengar bagaimana si cewek mendesah keenakan. Bagaimana si cowok menghentak penuh nafsu. Dua-duanya sama-sama dikuasai nafsu. Mereka sama-sama terbakar gairah yang membara."
"Cukup Dante!" Lara memekik histeris sebelum kemudian tersedu sedan. Marah bercampur malu tak terkira. Ia tak pernah membayangkan Dante akan merekam semuanya. Bagaimana bisa? Seharusnya ini menjadi rahasia antara dirinya dengan penjaga itu.
"Kenapa? Lo malu? Oh iya, gue lupa. Cewek kayak lo itu nggak punya rasa malu." Dante tersenyum miring lalu mematikan video di ponselnya. Setelah menyimpan kembali benda pipih itu, ia mendekatkan wajahnya pada Lara yang tengah meringkuk, kemudian mendesis. "Lo adalah cewek paling menjijikkan yang pernah gue kenal, Lara. Lo rela menukar kehormatan hanya karena tidak sabar. Ternyata harga dirimu hanya segitu?"
__ADS_1
"Lima jam!" Dante menunjukkan lima jarinya untuk meyakinkan. "Gue cuma minta waktu lima jam untuk menguji kesabaran lo. Cuma lima jam, Lara. Cuma lima jam gue suruh preman buat jagain lo. Bukannya tuh preman udah jelasin jika dia bakalan lepasin lo setelah lima jam lo disekap? Tapi nyatanya apa? Lo bahkan udah nyerah hanya dalam dua jam saja."
Ya, Lara mengakui itu. Pada saat dirinya memberikan penawaran, penjaga itu awalnya menolak dan beralasan dirinya akan dilepaskan setelah lima jam. Namun, dirinya yang tak sabaran justru tak percaya begitu saja. Lara malah menawarkan apa pun agar dirinya dilepaskan.
Sebagai manusia normal yang butuh uang, tentu saja preman itu tak akan menampik jika bisa mendapatkan itu dengan cara mudah. Dante memang membayarnya sangat mahal hanya untuk menjaga Lara. Namun, Dante juga tidak melarang jika ia dan Lara terikat kerja sama. Apa lagi ini menguntungkan dirinya. Ini bukan keinginannya. Toh Lara yang mendesak.
"Gue nggak butuh uang!" ujar preman itu sok jual mahal ketika Lara memberi iming-iming. Terang saja ia menolak. Ada hal yang lebih berharga dari pada uang yang saat ini sedang ia incar.
"Apa kau mau mobil? Ambillah mobilku jika kau menginginkannya. Aku bisa mengatakan pada Papa jika mobilku masuk jurang," tawar Lara. Wajahnya menunjukkan keseriusan.
Mobil mewah memang sangat menggiurkan. Namun, merampas mobil orang kaya pasti akan berbuntut panjang. Bahkan bisa-bisa ia ditangkap polisi. Seketika preman itu pun menolak dengan tegas.
"Lalu apa yang kau inginkan? Aku rela memberikan apa saja yang penting bebas dari sini secepatnya." Lara hampir menangis lantaran benar-benar putus asa. Entah apa yang preman itu inginkan, ia bahkan hampir menyerah memberi penawaran.
"Kau benar-benar rela memberikan apa saja?"
Pertanyaan preman itu membuat Lara merasa takut tapi juga sedikit memiliki harapan. Matanya melebar saat melihat senyuman aneh di bibir sang preman. Tubuhnya seketika menegang saat pria itu memberikan sebuah sentuhan.
"Kau cantik. Dan menggairahkan. Jika benar-benar ingin dilepaskan, maka turuti keinginanku tanpa banyak alasan." Bulu kuduk Lara langsung meremang mendengar kata-kata sang preman. Meski merasa ngeri, tetapi gadis itu langsung memahami ke mana arah pembicaraannya.
Keinginan untuk bebas mampu membutakan mata hati Lara. Gadis itu tak memberi perlawanan ketika si preman melepaskan ikatan sampai melucuti pakaiannya. Di dalam ruangan tertutup dan hanya ada dua orang berlainan jenis, tentu saja pihak ke tiga adalah setan.
__ADS_1
Lara tak pernah membayangkan kebebasan dari penculikan harus dibayar dengan mahal. Dirinya yang berkelas bahkan disentuh seorang preman. Meski di awal hampir menangis tidak rela, tetapi lama kelamaan Lara akhirnya menikmati permainan mereka. Keahlian bercinta sang preman yang begitu mumpuni bahkan mampu mengantarnya menuju puncak kenikmatan.