
"Selamat datang, Mas Dante." Seorang wanita paruh baya dengan balutan tunik warna coklat menyambut kedatangan pemuda itu di depan pintu.
Dante yang terlihat lesu hanya tersenyum kecil menanggapi sapaan asisten rumah tangganya. Dengan langkah gontai ia lantas melewati begitu saja. Melemparkan jaket yang sedari tadi dipegang, lalu melabuhkan bokong di sofa ruang tamu kediaman orang tuanya yang empuk dan mahal.
"Mama mana, Bi?" tanyanya setelah itu. Saat suasana hatinya sedang kacau sekarang, yang ada di benaknya hanya wanita itu. Ia ingin bermanja dan melepas penat dengan berbantal pangkuannya. Atau meminta wanita itu bercerita untuk melupakan kesedihannya. Namun, sayangnya jawaban yang kemudian terlontar dari sang asisten rumah tangga dengan nama Kumala itu membuatnya merasa kecewa.
"Ibu sedang keluar kota bersama Bapak, Mas. Mungkin akan menginap di hotel sana. Atau paling cepat juga baru pulang nanti malam."
Dante mendengkus lirih. Ia mengembuskan napas kasar lalu memanyunkan bibir sambil menyandarkan badan.
Melihat reaksi Dante yang tak mengenakkan membuat wanita itu buru-buru mengalihkan perhatian dengan memberikan tawaran. "Mas Dante mau mandi sekarang? Air hangatnya sudah Bibi siapkan. Atau mau makan dulu mungkin?"
"Mau istirahat aja, Bi. Aku masih kenyang."
"Baik, Mas." Kumala membiarkan Dante meraih jaketnya lalu bangkit dari duduk. Ia hanya membuntuti di belakang ketika pemuda itu melangkah menuju ruang tengah. Sebenarnya, ada sesuatu hal yang ingin ia katakan. Namun, itu urung dilakukan sebab tidak memiliki kesempatan.
"Baru pulang?"
Langkah Dante terhenti di anak tangga terbawah ketika suara bariton itu menyapanya. Seketika ia menoleh ke sumber suara dan terkejut mendapati Marcel sudah duduk di atas sofa.
Marcel? Sejak kapan dia di sana?
"Ngapain lo di sini?" Dante bertanya ketus tanpa berniat menutupi ketidaksukaannya. Jelas ia tidak suka. Marcel telah membuatnya seperti pecundang di hadapan Alisha. Ia sukses menarik simpati gadis itu hanya dalam sekali tatap muka. Sedangkan dirinya apa? Hanya pemuda malang yang mendapatkan penolakan.
"Tentu saja karena ingin jumpa dengan saudara sepupu gue, lah," jawab Marcel ringan. Menyadari ekspresi tidak bersahabat saudara sepupunya, mau tak mau membuat ia mengerutkan kening penuh tanya. "Kenapa lo? Nggak suka gue samperin ke sini?"
__ADS_1
"Itu tau. Pulang gih! Gue capek pengen istirahat." Dante mengedikkan dagunya ke arah pintu luar.
Alih-alih tersinggung dengan pengusiran Dante, Marcel justru tergelak seketika. Terang saja Dante jadi mengerutkan dahinya bertanya-tanya. Apanya yang lucu coba? Kenapa Marcel menertawakannya? Ini sekarang dia sedang marah loh ya. Bukannya melawak.
Melihat reaksi Dante yang terperangah, Marcel pun menghentikan tawanya dan hanya mengulum senyum seraya geleng pelan.
"Sini dulu. Duduk. Gue pengen ngobrol sama lo sebentar," titahnya sambil menepuk sofa kosong di sebelah.
"Ngobrolin apa lagi sih? Lo nggak denger tadi gue bilang capek?" tolak Dante malas.
"Tentang Lara."
"Halah, dia lagi. Males gue." Dante menanggapi acuh tak acuh.
"Tapi kalau soal Alisha?"
"Kok gitu banget ekspresinya?" Terang saja Marcel merasa heran. Dante acuh tak acuh pada calon tunangannya. Tetapi mendengar nama Alisha disebutkan ia langsung naik pitam. "Kenapa? Lo sama Alisha udah kenal lama ya? Atau mungkin pernah menjalin sebuah hubungan dengan dia sebelumnya?"
"Hubungan apaan! Kenal juga lantaran dia saudari tirinya Lara," dustanya tanpa memandang lawan bicara.
"Ya kalau nggak ada apa-apa ngapain kesel gitu ya kan. Santai lah. Nggak masalah juga kan kalau kita ngobrol-ngobrol bentar. Lagian, gue juga kangen tau sama lo. Sejak lo kabur waktu itu, kita jadi jarang ketemu. Ya kan?"
Dante memandang wajah Marcel sebentar kemudian mendesah pelan. Kata-kata saudara sepupunya itu memang ada benarnya juga. Sebelumnya mereka sangat akrab dan banyak menghabiskan waktu dengan kebersamaan. Namun, setelah ia pergi dan kembali pulang dengan membawa luka, ia disibukkan dengan ratapan yang sia-sia.
Tanpa sepatah kata, Dante bergerak mendekati sofa. Ia sedikit menyeret kaki seperti malas. Bukannya menempati kursi yang ditunjuk Marcel, ia justru mengambil posisi tepat di seberang sepupunya.
__ADS_1
"Jadi si Lara, yang udah bikin lo kabur waktu itu?" tanya Marcel dengan tatapan penuh selidik ketika dirasa Dante sudah duduk dengan nyaman.
"Iya!" ketus Dante.
Marcel berdecak. Ia menyadarkan tubuh sambil buang muka sejenak. "Gue udah ngira pas pertama kali lihat dia tadi."
"Memangnya apa yang lo pikirin?" tanya Dante ingin tahu dan setengah ingin menguji.
"Lo nggak cinta sama dia."
"Emang," sahut Dante membenarkan.
"Ya kalau nggak cinta kenapa lo malah balik lagi? Pake nerima perjodohan itu pula!"
"Gue terpaksa!"
"Terpaksa atau putus asa?"
"Terpaksa! Masih kurang jelas gue ngomong apa!" Dante meninggikan nada bicaranya. Dan seketika suasana hening untuk sesaat.
"Alasan yang bikin lo tiba-tiba balik terus nerima perjodohan?" tanya Marcel kemudian.
"Rahasia. Lo nggak perlu tau." Dante membuang muka menghindari tatapan penuh selidik sepupunya. Jika dulu ia akan menceritakan segala yang terjadi, maka akan berbeda dengan saat ini.
Penolakan Alisha waktu itu terlalu menyakitkan untuk diceritakan. Tak menutup kemungkinan Marcel akan menertawakan gara-gara itu. Atau bisa jadi Marcel akan tertawa senang dan merasa menang.
__ADS_1
Dante melihat pandangan Marcel terhadap Alisha memang ada yang berbeda. Bisa jadi itu cinta dan ada indikasi ingin memiliki seutuhnya. Jika benar begini, maka ia merasa posisinya kian tidak aman saja.
What? Posisi? Come on, Dante. Kau dengan Alisha tidak ada apa-apa! Fokuslah pada pertunanganmu dengan Lara. Okay! batin Dante pun berperang.