Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Bisakah waktu diulang kembali?


__ADS_3

Ciiiit!


Suara decitan rem berbunyi menyusul suara klakson yang nyaring tadi. Sementara raungan mobil mahal masih membahana di tengah jalan. Alisha masih bergeming di tempatnya dalam keadaan tubuh yang bergetar. Ia sama sekali tak menyangka kehadiran mobil itu lantaran sebelumnya keadaan jalan masih lengang. Hingga ... suara bariton seseorang terdengar memakinya menyusul suara pintu mobil yang terdengar dibanting.


"Woy! Lo pengen mati atau gimana? Ada mobil lewat bukannya minggir malah duduk manis di tengah jalan!"


Suara itu?


Alisha hapal betul suara pemuda yang tengah marah-marah itu. Refleks, ia langsung membuka mata dan menoleh ke sumbernya.

__ADS_1


Benar saja. Suara seseorang yang tengah berusaha keras ia lupakan kini berdengung di telinga. Ini bukan halusinasi belaka sebab pemiliknya tengah berdiri di sana, di samping mobil mewahnya dengan wajah merah padam menahan marah.


Jantung Alisha berdentum hebat. Tanpa sadar ia mematung dan menatap sosok yang ternyata adalah Dante itu dengan penuh kerinduan. Tak bisa dipungkiri jika rasa itu masih ada. Seolah sudah berkelindan dengan jiwa, rasa itu tetap bersemi meski ia berusaha membunuhnya, selama dirinya masih bernyawa.


Entah bagaimana bisa Alisha terlupa jika keadaan telah berbeda. Ia hanya bisa menelan getir lantaran mata elang itu tak menunjukkan tatapan teduhnya lagi. Pemuda yang awalnya begitu penyayang itu kini tak menunjukkan kehangatannya lagi.


"Maaf," lirihnya sambil mengangguk sopan layaknya pada orang asing yang belum dikenal. Meski dia tak menatap lawan bicara, tetapi Alisha yakin jika Dante mendengarnya. Sebab terdengar decakan pelan dari bibir pemuda itu.


Seperti tak ingin membuang-buang waktu, Alisha memunguti barang dagangannya yang bercecer di jalan dan bergegas memasukkan ke dalam kotak. Ia menatanya dengan cepat meski sekujur tubuh terasa lemas dan gemetar. Sambil berkemas ia tak henti merutuki diri dalam hati akan reaksi tubuhnya yang sangat berlebihan.

__ADS_1


Harusnya ia bisa setenang air di danau yang dalam. Harusnya ia bisa setegar karang yang dihempas ombak lautan. Bukannya seperti keong, menunjukkan jiwa lemah di balik cangkang yang pura-pura kuat.


Tanpa memandang pemuda yang masih geming di tempatnya, Alisha buru-buru mengayuh sepeda dan menjauh dari sana. Meski ia bersikeras ingin terlihat baik-baik saja, nyatanya paru-paru di dalam rongga dada masih enggan bekerja sama. Entah sejak kapan ia memiliki penyakit sesak napas dan nyeri di bagian sana. Semakin ia berusaha menahan tangis maka akan semakin terasa sakit.


Puncak kesakitan Alisha adalah ketika mobil Dante mendahuluinya dengan kecepatan tinggi. Tanpa menoleh, apalagi menyapa. Hanya meninggalkan debu jalanan yang membuatnya makin teriris sedih. Seperti menyadarkan, kurang lebihnya begitulah dirinya di mata Dante. Layaknya debu-debu jalanan yang tak berarti apa-apa. Selamanya hanya akan dipandang sebelah mata karena hanya akan merusak udara segar saja.


Tangis Alisha pecah saat mobil Dante menghilang di ujung jalan. Gadis itu tersedu-sedu sambil memukuli dadanya yang terasa sesak. Andai waktu itu ia berani bersikap egois pada Lara, mungkin sekarang ia masih bahagia bersama Dante sekalipun pemuda itu tak memiliki apa-apa.


Tuhan, bisakah waktu bisa diulang kembali? Aku ingin bersama Dante seperti waktu itu, Tuhan ...

__ADS_1


__ADS_2