Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Jangankan sekali, seumur hidup juga berani


__ADS_3

"Nona, Anda baik-baik saja?"


Seketika senyuman Alisha memudar begitu pertanyaan bernada menyindir itu Lisa lontarkan. Diliriknya pula sang maid yang tengah mengemudikan mobil. Terlihat sekali jika Lisa tengah menahan senyum dari caranya mengatupkan bibir.


Jelas sekali jika gadis itu tengah menyindir, mengingat jika sebelumnya ia tengah senyum-senyum sendiri tanpa melihat situasi. Mungkin pertanyaan Lisa barusan tidak akan terdengar aneh jika saat ini dirinya sedang menangis.


"Apa! Apa kau ingin menertawakanku!" ketusnya tak suka.


"Untuk apa saya tertawa? Toh tidak ada yang lucu dari Nona."


"Bohong," desis Alisha. Ia membuang pandangan ke arah luar jendela demi menghalau rasa jengah.


Bukan Lisa namanya jika gadis itu berhenti menggoda Alisha. Ia melirik ke kiri, di mana Alisha tengah cemberut sambil bertopang dagu. Tingkah sang nona membuatnya diam-diam mengulum senyum.


"Ekhem." Lisa berdeham. "Marcel tampan juga ya, Nona. Masih muda sudah mandiri, pula."


Alisha sontak menoleh kemudian bertanya heran. "Kenapa tiba-tiba membicarakan Marcel?"


"Ah, sepertinya tidak tiba-tiba. Bukankah tadi Nona sudah mengobrol lama dengan dia? Saling bertukar cerita, makan bersama ... bahkan bertukar nomor ponsel, pula," balas Lisa dengan nada menggoda.


"Bagaimana kau bisa tau? Bukankah kau tadi pamit pergi untuk melakukan sesuatu?" Alisha menatap maid-nya dengan mata menyipit seperti menyelidik. "Jangan-jangan ... kau tidak benar-benar pergi dari sana? Kau mengawasiku dari kejauhan ya? Ngaku!" desak Alisha yang membuat Lisa seketika menyunggingkan senyuman.


"Yup. Saya melihat semuanya. Saya melihat dengan jelas bagaimana tatapan Marcel terhadap Nona yang penuh cinta, bagaimana cemburunya Dante melihat kebersamaan Marcel dengan Nona, dan bagaimana–"


"Lisa!" pekik Alisha agar gadis itu berhenti mengoceh.


"Kenapa Nona? Saya bahkan belum menceritakan bagaimana saya berusaha keras menahan tawa melihat Nona Lara yang diam-diam meradang, hahaha!" Lisa tergelak meski tangannya sibuk memegangi setir. Mengabaikan tatapan terperangah Alisha yang seolah-olah tak percaya.


"Ngelunjak kamu, ya. Siapa yang nyuruh kamu ketawa!"


Meski dalam hati suka, tetapi Alisha terlalu gengsi untuk mengakuinya. Gadis itu terlihat salah tingkah ketika Lisa memperhatikan. Demi menutupi malu, ia kembali menatap Lisa dengan mata menyipit.


"Kau sepertinya sangat menyukai Marcel. Kenapa tak kau ambil saja dia untukmu? Aneh sekali kau ini. Kenapa malah sibuk menjodohkan aku dengan dia? Padahal kau yang cinta."


"Karena dia cocok dengan Nona," jawab Lisa dengan lugas.


"Kalau aku tidak mau?"


"Harus mau!"


"Ini pemaksaan."


"Biar saja."


Selanjutnya, keduanya menikmati perjalanan pulang dalam keheningan. Alisha memilih memejamkan mata walau tidak benar-benar tidur. Sementara Lisa, fokus pada kemudinya dan membiarkan sang nona beristirahat.


***


Pagi-pagi sekali Alisha sudah bangun dan bersiap-siap mempercantik diri. Meski ini hari Minggu, gadis itu sama sekali tak ingin bermalas-malasan seperti saudari tirinya yang justru masih terbuai mimpi di bawah hangatnya selimut tebal. Saat turun ke lantai dasar dan menghampiri meja makan, ia mendapati Narendra dan Helena yang sudah siap dengan pakaian olahraga.


"Sayang? Hari Minggu sudah cantik saja? Mau ke mana?" Narendra yang menyadari kedatangan Alisha akhirnya menyapa dengan kening berkerut heran.


"Mau ke rumah Ibu, Pa. Alisha rindu," jawab gadis itu sembari duduk.

__ADS_1


Narendra terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Sudah beberapa hari terakhir Alisha tak bertemu dengan Wanda. Sudah barang pasti gadis itu begitu merindukan ibu kandungnya. Wajar, mengingat sebelumnya mereka tak pernah hidup berjauhan seperti sekarang.


"Dengan siapa kau ke sana?" Helena yang tengah mengolesi selai kacang pada roti tawar Narendra akhirnya angkat bicara dengan melontarkan pertanyaan bernada perhatian. Bagaimanapun juga ia ingin Alisha menganggap dia sebagai orang tuanya juga.


"Sendiri, Ma. Alisha bisa minta antarkan sopir."


"Oke." Helena mengangguk. Ia menaruh roti berselai tadi pada piring lalu memberikannya pada Narendra, lalu mengambil satu lagi dan menatap Alisha setelahnya. "Kamu mau sarapan pakai roti selai apa? Biar sekalian Mama buatkan?"


"Cokelat aja, Ma."


"Oke."


Narendra mengangkat pandangan ke atas untuk beberapa saat, lalu kemudian mengalihkan pandangan pada Alisha. "Lara mana, Sayang? Dia nggak turun buat sarapan?" tanyanya kemudian.


"Dia ingin bersantai hari ini, Pa." Helena yang menyahut. "Semalam dia udah pesan sama Mama untuk tidak dibangunkan. Ia ingin bermalas-malasan katanya."


"Memangnya nggak ada kegiatan? Nggak ada janji keluar sama Dante?" tanya Narendra lagi. Namun, kali ini kepada istrinya.


Helena mengedikkan bahunya. "Entah." Ia lantas memberikan roti yang sudah dibaluri selai cokelat kepada Alisha. "Ini, Al. Dimakan ya," titahnya.


"Makasih, Ma."


"Emm," balas Helena seraya melabuhkan diri duduk di kursi. Ketiganya pun menikmati sarapan dengan keheningan. Tak ada percakapan yang terjadi hingga beberapa saat, sampai salah satu asisten rumah tangga mereka muncul di ruang makan dengan membawa seseorang.


"Pagi, Om Narendra, Tante Helena." Orang itu menyapa dan menarik atensi semua orang yang ada di sana. Alisha yang tengah meneguk minuman bahkan nyaris tersedak lantaran tak menyangka.


"Dante?" balas Narendra setengah tak percaya. Namun, sejurus kemudian pria itu menyunggingkan senyum dan mempersilahkan Dante gabung sarapan bersama dengan sikap yang ramah. "Kamu datang rupanya. Pas banget kita lagi sarapan. Yuk sini, ikut sarapan sekalian."


"Makasih, Om." Dante terlihat tak keberatan. Ia tersenyum tak kalah ramah lalu menempati salah satu kursi kosong di antaranya.


"Cokelat aja, Tante."


"Oke. Sama kayak Alisha," ujar Helena tanpa ada maksud lain. Namun, mendengar nama Alisha disebutkan mau tak mau Dante jadi bertanya-tanya lantaran tak paham.


"Maksudnya, Tante?"


"Apanya?" Alih-alih menjawab, Helena juga malah balik bertanya.


"Apanya yang sama?"


"Owh, selainya, Dante. Alisha tadi juga makan roti pakai selai cokelat."


"Owh." Dante mengangguk paham seraya melirik Alisha yang melongo menatapnya. Walaupun dalam hati berbunga-bunga karena memiliki kesamaan dengan Alisha, tetapi ia berusaha memasang muka sedatar mungkin pada gadis itu.


"Dante ada janji jalan sama Lara?" Narendra akhirnya bertanya pada Dante di tengah sarapan. Hanya sekadar memastikan, mengingat perkataan Helena tadi yang menjelaskan jika Lara tak ingin diganggu hari ini.


"Enggak sih, Om. Cuma pas kebetulan lewat sini jadi pengen mampir."


"Tapi nggak ada rencana ke mana-mana?"


Dante tersenyum sembari menggeleng. "Enggak ada, Om."


"Nah, gitu dong. Kalau gini kan Om jadi tambah suka," ujar Narendra. "Walaupun nggak ada janji sama Lara, usahakan mampir kemari jika kebetulan sedang lewat, ya. Bagaimanapun juga, kelak kita akan menjadi keluarga."

__ADS_1


"Iya, Om." Obrolan pun terjeda ketika mereka melanjutkan makan.


Jika Narendra, Helena dan Dante tampak tenang dan biasa saja ketika menyantap makanan, hal berbeda justru dirasakan oleh Alisha. Meski hanya diam berusaha bersikap biasa saja saat Makan, tetapi nyatanya hati Alisha merasa tidak tenang. Keberadaan Dante lah pemicunya. Demi kesehatan jantungnya dan menghindari suasana tidak nyaman, ia memilih bergegas pamit pada Narendra.


"Pa, Alisha jalan sekarang, ya."


"Oh, mau sekarang?"


"Dengan sopir siapa?"


"Pak Rahman, Pa."


Melihat Alisha tiba-tiba beranjak mau tak mau membuat Dante jadi memperhatikan. Ia melihat gadis itu memakai tas mungil dan mencium punggung tangan orang tuanya bergantian.


"Hati-hati ya, Sayang." Narendra berpesan. Sementara Alisha tersenyum dan mengangguk meyakinkan.


Jujur, bukan ini yang Dante harapkan. Bertemu Alisha hanya sebentar, kemudian ditinggal pergi tanpa tahu kemana tujuannya. Andai kata dirinya bukanlah calon tunangan Lara dan hubungan mereka baik-baik saja, pasti Dante akan dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan.


Namun, mengingat bagaimana sikap angkuh Alisha ketika menolaknya, Dante jadi gengsi untuk menawarkan diri. Toh Alisha juga tak mengharapkan untuk ditemani. Akhirnya Dante pun menyerah pasrah dan berniat untuk pamit pulang setelahnya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat Dante tak bisa berharap banyak lagi, Narendra justru memanggil Alisha untuk menghentikan langkahnya.


"Alisha."


"Ya, Pa?" Gadis itu berhenti dan menoleh, menatapnya penuh tanya.


"Tunggu dulu, Sayang." Narendra mengalihkan pandangan pada Dante yang sudah menghabiskan sarapannya. "Dante habis ini mau ke mana?" Ia bertanya pada pemuda itu dan langsung dijawab oleh Dante.


"Mau langsung pulang, Om."


"Kalau Om minta tolong, kamu keberatan nggak?"


"Apa itu, Om?"


"Antar Alisha ke rumah ibunya. Dia belum bisa bawa mobil sendiri lantaran baru beberapa kali masuk kursus mengemudi. Rumah ibunya nggak terlalu jauh kok dari sini. Kamu mau kan? Sekali ini aja, Dante. Om titip Alisha sama kamu."


Jangankan cuma sekali, Om. Seumur hidup juga saya berani. Eh. Dante membatin. Meskipun dalam hati berbunga-bunga, tetapi ia berusaha bersikap biasa saja.


"Nggak pa-pa, Om. Selagi bisa, saya nggak keberatan kok." Ia menjawab sopan.


Namun, reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Alisha. Melihat keterpaksaan Dante membuatnya merasa tak enak hati. Agak panik, buru-buru saja ia menolak dengan memberikan alasan sekenanya.


"Nggak usah ya Pa, Alisha bisa sendiri, kok."


"Kenapa Sayang? Papa lebih merasa tenang kalau Dante yang antar."


"Tapi Alisha mau mampir-mampir dulu sebelum ke rumah Ibu. Nggak enak sama Dante, Pa. Nanti merepotkan dia."


"Gitu ya?" Narendra mengangguk paham. Akan tetapi Dante buru-buru saja melontarkan sebuah sanggahan.


"Nggak repot kok, Om. Nggak pa-pa kalau Alisha mau mampir-mampir dulu."


"Tuh kan. Dante aja nggak keberatan, Sayang," ucap Narendra lagi.

__ADS_1


Tersenyum kecut, mau tak mau Alisha menyanggupi. Setelah sekian lama tak saling bertegur sapa, entah apa yang akan terjadi nanti jika dirinya dan Dante berada dalam satu mobil. Belum apa-apa saja ia sudah panas dingin. Iya kalau Dante akan bersikap ramah. Kalau justru masih memendam dendam dan akan menuntaskannya sekarang bagaimana?


Lindungi aku, Tuhan, batin Alisha gemetaran.


__ADS_2