
Alisha begitu antusias saat rombongan keluarga besar Dante tiba di hotel. Meski acara baru akan dimulai beberapa jam lagi, tetapi keluarga Dante berinisiatif untuk datang lebih awal. Tentunya agar persiapan lebih matang.
Alisha sendiri tidak muncul untuk menyambut kedatangan mereka. Ia hanya mengintip dari kejauhan. Ada puluhan mobil yang sekaligus datang.
Selain membawa penumpang manusia, mobil itu juga membawa bermacam-macam hantaran dan seserahan. Kemasannya sangat cantik sebagai pendukung isinya yang tentu saja berharga fantastis.
Meski ada rasa getir di dalam hatinya, tetapi Alisha ikut bahagia untuk Lara. Ini benar-benar tulus dari hatinya. Lara kelak mendapatkan keluarga baru seperti yang diidamkan banyak gadis di luaran sana.
Namun, dari sekian banyak dari keluarga calon besan yang datang, hanya satu yang mencolok pemandangan Alisha. Siapa lagi jika bukan pemeran utamanya? Yup. Dante! Pemuda itu terlihat semakin tampan dan berwibawa dengan balutan celana jeans dan atasan kemeja serba hitam.
Tampaknya Dante memang sengaja tidak mengenakan dulu pakaian tunangannya. Pemuda itu terlihat sibuk mengurus ini dan itu. Sesekali ia terlihat mengobrol, bercanda, dan tertawa ringan bersama temannya. Dante terlihat ceria. Tak terlihat raut sedih ataupun muram dari wajahnya.
Alisha hanya bisa mengusap dada. Ekspresi Dante benar-benar menyadarkannya. Ia tidaklah berarti apa-apa bagi pemuda itu. Sepertinya selama ini hanya dirinya yang terlalu tinggi menggantungkan asa. Dante tak secinta itu pada dirinya. Sampai-sampai ia tak tahu harus tertawa atau justru menangis meratapi kebodohannya.
Berbalik badan, Alisha berniat menghampiri Lara yang tengah berdandan di ruangan khusus. Tentu saja untuk menyampaikan kabar berita bahagia jika keluarga Dante telah tiba. Namun, gadis itu langsung mengerutkan keningnya melihat sang mama tengah berjalan cepat ke arahnya dengan raut wajah cemas.
"Mama?"
"Alisha, kamu lihat Lara?" tanya Helena setelah dekat. Meski wanita itu berusaha bertanya pelan, tetapi kepanikan tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.
"Bukannya Lara lagi dirias?" jawab Alisha setengah mengingatkan.
"Tapi di sana nggak ada."
Mata Alisha membulat saat mendengar bisikan penuh penekanan dari bibir Helena. Gadis itu sontak menatap mamanya tanpa bisa berkata apa-apa. Terkejut sekaligus panik.
"Al, gimana dong ...!" desak Helena.
"Mama udah cari ke toilet?"
"Udah, Alisha ..., tapi Lara nggak ada!" Helena menggigit bibir bawahnya.
Alisha diam sejenak sembari berpikir. Ditatapnya wajah sang mama yang pucat pasi dan berkeringat. Benar-benar terlihat kacau dan khawatir. Merasa iba dan prihatin, ia pun mengusap bahu wanita itu untuk menenangkan.
"Mama yang tenang, ya. Kita cari Lara sama-sama. Lara pasti ketemu. Dia nggak ke mana-mana," tegasnya meyakinkan. Walaupun dirinya tak kalah panik, tentu saja ia harus tetap terlihat tenang.
__ADS_1
"Mama udah coba telepon Lara?" Seperti mendapatkan sebuah ide yang brilian, Alisha buru-buru mencari ponselnya yang tersimpan di dalam tas jinjing. Ia menatap Helena dengan seulas senyuman penuh harap. "Biar aku coba telepon ya, Ma."
"Sudah, Alisha. Tapi panggilan Mama nggak diangkat."
"Siapa tau pas Alisha yang telepon, Lara mau angkat." Gadis itu tak patah semangat.
Satu kali panggilan. Dua kali panggilan. Hingga beberapa kali panggilan masih belum ada jawaban.
Melihat wajah Helena yang kian tak tenang membuat Alisha menjadi semakin panik. Namun, ia tetap menanamkan sebuah harapan.
"Alisha coba sekali lagi ya, Ma. Mungkin Lara lupa bawa ponselnya."
Helena tak menjawab dengan kata. Hanya bahasa tubuhnya yang menunjukkan bagaimana paniknya dia. Dan ketika tahu panggilan terakhir Alisha tak mendapat jawaban juga, wanita itu mulai uring-uringan.
"Gimana dong, Al?" Helena mengguncang lengan Alisha. Wanita itu sudah ingin menitikkan air mata.
"Tenang dulu ya, Ma. Kita pikirkan cara lain."
"Apa keluarga Dante sudah datang?" Kali ini Helena bertanya penuh rasa ingin tahu, lalu langsung bertambah stress setelah melihat anggukan penuh sesal Alisha.
Alisha tak tahu harus menjawab apa. Ia pun sama paniknya seperti sang mama. Perhatian Alisha kemudian teralihkan oleh suara derap langkah yang mendekat. Terlihat Narendra dan Wanda tengah berjalan ke arah mereka. Wanda terlihat cantik dan segar dengan balutan kebaya warna biru malam. Rambutnya disanggul rapi dengan polesan makeup minimalis masa kini.
Namun, yang membuat Alisha makin tak tenang, wajah dua orang tuanya itu juga sama paniknya dengan mereka. Ternyata Narendra juga sudah menyadari hilangnya Lara.
"Bagaimana, Helena. Apa kau menemukan Lara?" Narendra langsung bertanya pada intinya. Dan pria itu langsung menggeram melihat gelengan kepala istrinya. "Astaga, Lara. Ke mana perginya dia!"
Meski perasaannya campur aduk tak menentu, tetapi Narendra tak bisa meluapkannya dengan lantang lantaran suasana sekeliling yang ramai. Banyak orang yang dikenal berlalu-lalang. Sedangkan perginya Lara masih menjadi rahasia di antara mereka.
"Bagaimana dengan orang suruhan kamu? Sudah ada yang melapor?" tanya Helena pada Narendra, tetapi gelengan kepala pria itu seketika memupuskan harapannya. Wanita itu mengerang lirih lalu kemudian terdengar isakan.
Wanda yang berdiri di sampingnya seketika mengusap bahu Helena untuk menguatkan. Tak ada penolakan yang ditunjukkan Helena. Wanita itu justru menangis di pundak Wanda.
Sudah lebih satu jam empat orang itu berkumpul di ruangan khusus. Hanya ada mereka berempat dengan kepanikan yang belum terurai. Tak ada obrolan yang terjadi. Hanya desah nyaris putus asa untuk membuang sesak yang bersarang di dada.
Narendra mulai melonggarkan dasinya. Ia melepas jas mahal yang melekat di badannya. Ia mondar-mandir tanpa tahu harus melakukan apa. Menunggu kabar yang belum tahu kapan datangnya. Sementara tiga wanita lainnya masih duduk di sofa berbeda. Tanpa ada yang bicara. Tak ada wajah cerah dan senyum bahagia seperti ketika tiba.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ponsel di saku Narendra berdering. Pria itu bergegas merogoh lalu menempelkan pada daun telinga.
Tiga wanita yang duduk itu menatap dan mendengarkan pembicaraan pria itu dengan seksama. Dan ketika kabar yang diterima tak sesuai dengan harapan mereka, kesedihan itu kembali melenyapkan harapan.
"Terpaksa." Satu kata terlontar dari bibir Narendra yang membuat ketiga wanitanya membelalakkan mata dan bangkit dari duduk bersamaan.
"Apa yang kau pikirkan, Narendra?" tanya Wanda memastikan.
"Aku harus mengatakannya pada Robby."
"Jangan!" cegah Helena. Wanita itu langsung mendekati suaminya. "Untuk apa memberi tahu Robby? Yang ada semuanya jadi gempar!"
"Lalu kita harus melakukan apa, hah! Diam saja? Menunggu kabar Lara yang tak tahu di mana rimbanya?"
"Tapi jika Robby tau Lara kabur, mereka akan membatalkan lamaran!"
"Jika memang tidak ada Lara bukankah itu lebih baik?" sanggah Narendra cepat.
Helena terduduk lemah di atas sofa. Wanita itu terdiam untuk beberapa lama. Isak lirih kemudian terdengar disusul ungkapan bernada penuh sesal. "Kita semua sudah mempersiapkan segalanya sedemikian rupa, Narendra. Mana bisa dibatalkan begitu saja. Pernahkah terpikirkan olehmu bagaimana imbasnya nanti? Kita bukan hanya mendapat malu! Tapi hubungan kita dengan Robby juga akan buruk karena mereka pasti pikir kita telah membuat malu!"
Narendra terdiam. Pria itu mengusap kasar wajahnya lalu kemudian menggeram. "Ini semua karena putrimu yang selalu membuat ulah itu, Helena!"
Bukan hanya Helena yang terkejut hingga sontak membulatkan mata. Alisha dan Wanda yang juga ada di sana pun terlihat sama terkejutnya. Tudingan penuh amarah Narendra itu terang saja membuat Helena tak terima. Wanita itu seketika bangkit lalu mendekati Narendra dengan jemari mengepal kuat.
"Apa tidak ada kata-kata lain selain menyalahkan orang, Narendra!" geram Helena.
"Kenapa? Kau tak terima?" balas Narendra seperti menantang.
Helena sudah hendak membalas, beruntung Wanda dan Alisha bergerak cepat melerai sebelum pertengkaran semakin memanas.
Keempat orang itu akhirnya kembali duduk dan berusaha tenang. Alisha berdekatan dengan Narendra, sedangkan Wanda bersama Helena dalam satu sofa. Mereka harus mengambil opsi lain agar tidak merusak acara. Sementara waktu terus berjalan dan acara yang ditentukan semakin dekat.
"Sudah tak ada lagi yang bisa kita harapkan dari Lara. Orang suruhan Papa sampai sekarang belum menemukan dia." Suara Narendra mengurai keheningan yang sempat menguasai beberapa saat. Semua mata tertuju ke arah Narendra.
Tak terkecuali Alisha yang seketika langsung merasakan firasat buruk ketika tatapan Narendra terpancang pada dirinya. Dan benar saja.
__ADS_1
"Alisha," panggil Narendra yang seketika menciutkan nyali anaknya.