Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Kok jadi gini


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore ketika Dante sampai di kediamannya. Pemuda itu langsung masuk rumah selesai memarkirkan mobil. Melewati ruang tamu dan ruang tengah dengan wajah letih. Ia hendak menjejakkan kaki di anak tangga pertama, tetapi suara yang tiba-tiba terdengar memanggil sukses membuatnya berhenti. Ia pun menoleh ke sumber suara.


"Ya, Ma?"


"Baru pulang?"


"Emm." Ia menjawab malas. Karena berpikir sang mama tak ingin melanjutkan mengajaknya bicara, ia memutuskan kembali meniti tangga. Namun, Niken terdengar memanggilnya lagi sehingga ia terpaksa berhenti.


"Kamu tadi dari mana aja sih?"


"Nurutin kemauan Lara, calon mantu Mama yang nggak jelas itu!" ketus Dante.


"Calon mantu nggak jelas?" Niken mengulangi kata-kata anaknya dengan nada aneh.


"Iya. Nggak jelas!" Dante menegaskan dengan nada kesal.


"Kok kamu kayak nggak suka gitu? Bukannya kamu yang mau sendiri perjodohan ini terjadi?"


"Iya! Tapi terpaksa."


Tanpa suara, Niken memberengut sedih melihat sikap putranya. Pemuda itu menampakkan ekspresi tidak suka sedangkan di awal jelas-jelas Dante sendiri yang berkeinginan. Maksudnya apa?

__ADS_1


"Dante, kemari. Mama ingin bicara sama kamu." Niken menepuk sofa di sampingnya sebagai isyarat agar anaknya tempati. Ia merasa perlu berbicara serius sebelum hal yang tidak diinginkan benar-benar terjadi.


"Bicara soal apa sih, Ma? Dante capek, mau istirahat."


"Soal hubungan kamu sama Lara. Sebenarnya kalian ini saling cinta nggak sih?"


Alih-alih menjawab, Dante malah balik bertanya. "Kelihatannya gimana?"


"Iiih, kok jawabnya gitu?"


"Mama tuh yang nanyanya aneh-aneh."


"Bukan aneh, Dante. Mama cuma ingin memastikan saja." Wajah Niken yang awalnya murung kini berubah antusias seketika. "Oh iya. Mama mau cerita sedikit boleh?"


"Mama tadi ke mall ditinggal sama Laura. Eh, pas lagi kebingungan, tau-tau Mama ketemu sama gadis cantik terus diantar pulang deh."


"Terus?"


"Kok terus?" Kini gantian Niken yang geregetan. Bisa-bisanya Dante bersikap biasa saja menanggapi kata-katanya. Ini benar-benar reaksi yang sama sekali tidak ia harapkan. "Mama ini baru ditolong orang loh, Dante. Kalau nggak ada gadis itu entah gimana keadaan Mama tadi."


"Itu kan salah Mama sendiri yang pengen sok-sokan pergi ke mall tanpa pendampingan bodyguard. Tau sendiri Laura itu orangnya kayak apa. Masih juga minta antar. Sekarang tau sendiri kan gimana akibatnya."

__ADS_1


Tanpa menunggu izin Niken, Dante berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Niken yang masih cemberut di tempatnya.


"Kok jadi gini sih?" Niken bergumam sambil garuk kepala. "Niatnya mau pamer malah yang ada kena marah."


***


Alisha keluar dari kamarnya setelah menunaikan kewajiban empat rakaat. Saat menuruni anak tangga, telinganya samar-samar mendengar suara Lara dan Helena di ruang tengah. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi tak lama kemudian Helena muncul sendirian dari sana.


"Alisha? Kamu belum tidur?" Helena bertanya heran sembari berjalan.


"Belum Ma, sebentar lagi," jawab Alisha sebelum kemudian melayangkan tanya. "Lara mana, Ma? Tadi aku dengar suara dia."


"Owh, Lara baru aja berangkat ke rumah temennya. Katanya mau nginap sambil selesaikan tugas kuliah."


"Sama siapa, Ma?"


"Sendiri." Helena menatap wajah heran Alisha kemudian menjelaskan. "Lara sudah terbiasa ke mana-mana sendirian, Alisha. Sudah nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."


Alisha tersenyum lembut menanggapi penjelasan Helena meski dalam hati ia keberatan Lara dilepas begitu saja. Ini bukan kali pertama Lara keluar di malam hari akhir-akhir ini. Sebelumnya Lara juga pernah beberapa kali menginap di rumah teman dengan dalih tugas kuliah. Lisa lah yang memberitahunya.


"Mama ke kamar dulu, ya. Kamu juga buruan tidur."

__ADS_1


"Iya Ma."


__ADS_2