Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Sekali ini saja


__ADS_3

Mata Alisha memanas. Napasnya tak beraturan. Meski kata-katanya terdengar sopan, tetapi tuduhan keji serta hinaan kejam telah bertubi-tubi pria itu lontarkan.


Ia tak tahan lagi berada di sini. Tanpa berpamitan, Alisha memutuskan pergi dengan membawa kaki untuk berlari. Meninggalkan dua orang beda usia yang tengah tersenyum menang atas kekalahannya. Bahagia di atas lukanya.


Seperti kehilangan arah, Alisha tak tahu mesti membawa diri ke mana. Tempat yang ia pijak bukanlah belahan bumi bagian lain yang tak pernah dikunjunginya. Rasa malu dan sakit hati sukses membuat pandangannya gelap gulita. Malu karena pandangan miring orang-orang di kafe yang menatapnya penuh kejijikan. Sakit, lantaran bertubi-tubi mendapatkan penghinaan.


Ia lupa bagaimana Tuhan mempertemukan dirinya dengan Dante pertama kalinya. Ia hanya ingat bagaimana pemuda itu memberinya warna yang beragam dalam kehidupan. Kebahagiaan. Suka cita. Namun, ia tak menyangka jika perkenalannya dengan Dante akan menyisakan air mata sebagai pelengkapnya.


Sementara Lara ....


Alisha tak menyangka gadis itu akan membalasnya sekeji ini. Ia yang tak tahu apa-apa langsung dihantam bertubi-tubi kejutan dalam sekali waktu. Kejutan yang menyakitkan hingga nyaris membuatnya ingin segera menemui ajal. Mulai dari fakta mengejutkan tentang ayah kandungnya. Berlanjut dengan kenyataan Lara adalah saudari tirinya. Kemudian tadi, seorang pria asing tiba-tiba datang dan memperkenalkan diri sebagai papanya Dante. Lalu Dia memperkenalkan Lara sebagai calon istri pemuda yang ia cintai.


Hebat sekali, bukan? Begitu lengkap penderitaannya. Jika sudah begini, mampukah dia bertahan? Bahkan untuk menopang badan saja kakinya seperti tidak kuat.


Entah berapa lama Alisha menangis di sebuah toilet umum. Suara gedoran dari luar membuatnya tersentak dari kesedihan. Ia buru-buru menyeka air mata dan membasuh wajah dari air kran untuk menyamarkan sembab. Ia berusaha memperbaiki penampilan dan memasang wajah ceria. Cukup dia sendiri yang tahu jika Alisha Anindita adalah gadis yang menyedihkan.


"Ngapain aja sih di dalam! Tidur kah? Buang air aja lamanya nggak kira-kira. Memangnya toilet ini milik nenek moyangmu apa!" Seorang ibu-ibu paruh baya mengumpat pada Alisha setelah pintunya gadis itu buka. Wajah wanita itu merah padam. Sedangkan tangannya memegangi pantat bagian bawah. Mungkin karena tidak tahan lagi ingin buang hajat, maka ia buru-buru menarik tangan Alisha untuk keluar dan segera masuk dan membanting pintu.


Alisha hanya bisa mengusap dada seraya beristighfar. Ini adalah salahnya. Menggunakan tempat umum untuk menangis berlama-lama. Dasar lemah.


Dalam keadaan seperti ini tak tahu harus ke mana. Ia tak mungkin menyeret kakinya untuk melangkah gontai pulang ke rumah. Ibunya pasti akan cemas dan memberondong dirinya dengan banyak pertanyaan. Wanita itu sudah lama menderita. Ia tak mungkin menambah penderitaan ibunya dengan masalah baru pula. Cukup dirinya sendiri yang tahu betapa pedihnya hati.

__ADS_1


Sena. Hanya nama itu yang hinggap di kepala. Gadis itu tak akan banyak bertanya dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Pelac*r memang pekerjaannya, tetapi Sena tak akan mengkhianati seorang teman. Sena akan mendukung apa pun yang dirinya lakukan.


"Alisha?" Sena yang membuka pintu langsung memindai penampilan Alisha dengan ekspresi heran. Ia yang baru bangun tidur langsung disuguhi pemandangan tidak mengenakkan. Wajah teman lamanya tampak pucat dan matanya juga sembab. "Lo nangis, ya?"


Alisha menggeleng lemah, lalu menerobos masuk paksa ke kontrakan sahabatnya.


"Ih kok masuk duluan? Gue kan belum nyuruh lo masuk?" sungut Sena kesal sambil mengikuti langkah Alisha. Ia memanyunkan bibir dan menatap sebab pada Alisha yang sontak berbalik badan.


"Kelamaan, Sen. Lo mau, gue pingsan dan terkapar di depan kontrakan lo? Badan gue udah lemes ini Sen, udah nggak ada tenaga lagi," kilah Alisha dengan nada lemas lalu menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa. Meski hidup sendirian, tetapi kontrakan Sena jauh lebih layak jika dibandingkan kontrakan Alisha yang ditempati bersama ibunya. Furniture-nya juga lengkap sekalipun harganya terbilang murah.


Sena yang melihat kejujuran di mata Alisha langsung menatap iba pada sahabatnya. Gadis itu menyusul duduk di sofa dan bertanya dengan nada cemas.


"Kenapa sih, Al. Lo ada masalah? Sini dong cerita. Gue siap dengerin kok. Sukur-sukur bisa bantu."


"Siapa?" Sena bertanya penasaran sambil melongok ponsel Alisha. Dari foto profil yang tertera, ia langsung tahu siapa yang menghubungi sahabatnya.


"Kok didiemin aja?" Melihat Alisha hanya bergeming membuatnya bertanya penasaran. Karena tak ada tanda-tanda Alisha hendak mengangkatnya maka ia merebut ponsel gadis itu dengan paksa.


"Sena! Balikin nggak!" Alisha bersungut karena terkejut. Ia menggapai-gapai hendak merebut ponselnya dari tangan Sena.


"Iya. Entar gue balikin," ujar Sena sambil tertawa sambil mengangkat tinggi-tinggi ponsel Alisha. Postur Sena yang lebih tinggi rupanya menyulitkan usaha Alisha. Gadis itu pun menyerah, lalu kembali duduk di kursi dengan lemah. Namun, jangan tanya seperti apa tatapannya ke arah Sena. Lebih tajam dari belati.

__ADS_1


"Halo Dante, cari Alisha ya." Sena benar-benar menerima panggilan Dante di handphone Alisha. Sambil cengengesan pula. "Iya, dia ada di rumah gue. Datang aja ke sini kalau mau jumpa dia, oke."


Sambungan pun terputus setelahnya. Entah Sena yang memutus sambungan atau justru Dante yang mengakhiri panggilan.


Sena tersenyum penuh arti seraya mengembalikan ponsel pada sang pemiliknya. Dia bukannya tak tahu hubungan Alisha dan Dante seperti apa. Dua orang beda genre yang sebenarnya saling mencintai. Namun, entah apa yang membuat keduanya belum juga dipersatukan dalam sebuah hubungan yang resmi. Nyatanya sampai sekarang Alisha dan Dante masih betah menjalin kedekatan berkedok teman.


Kenapa harus ditunda-tunda sih? Toh mereka serasi. Alisha cantik dan Dante lucu. Walaupun gayanya cool, tetapi Dante sangat pengertian jika berhadapan dengan Alisha. Sena bahkan tak keberatan menjadi cadangannya. Apalagi jadi yang utama, hehe.


Namun, apa yang dibayangkan Sena tak sejalan dengan kenyataannya. Alisha justru memberikan sambutan tak menyenangkan oleh kedatangan Dante.


"Dante. Ngapain kamu ke sini?"


"Sengaja mau jemput kamu, Al. Aku pengen ngomongin sesuatu hal yang sangat penting. Tapi nggak bisa di sini. Sesuatu hal tentang kita berdua." Dante menegaskan.


Entah apa yang ada di benak Dante sekarang, Alisha menangkap ada sesuatu yang mendesak. Ia juga bisa menangkap tatapan tak mengenakkan dari mata Dante kepadanya. Dante memang pernah melarangnya bergaul dengan Sena setelah mengetahui pekerjaan gadis itu sehari-harinya apa. Pemuda itu tak ingin dirinya terjerumus terlalu dalam pada lembah hitam. Ya, sampai sekarang Dante masih terjebak salah paham.


"Ngomong di sini nggak bisa, ya? Aku lagi ada perlu sama Sena jadi nggak bisa ke mana-mana dulu. Kalau mau ngomong ya sekarang, kalau nggak mau ya udah," ucap Alisha dengan nada meremehkan. Ia berbalik badan dan nyaris melangkah. Namun, kakinya mendadak berhenti saat merasakan pergelangan tangannya dicekal.


"Plis, Al. Sekali ini saja. Ini akan menjadi penentu hubungan kita selanjutnya." Dante memohon.


Sejenak Alisha terdiam seperti berpikir. Hingga beberapa saat kemudian, ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Oke. Aku mau."


__ADS_2