Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Dingin dan menjengkelkan


__ADS_3

Sepeninggalnya Alisha dari sana, Dante menurunkan tangannya yang masih menggantung di udara. Diletakkan pula sendok berisi nasi hingga menimbulkan suara denting saat beradu dengan piring. Ia lantas menyandarkan tubuhnya dengan lemah, hingga membuat Lara yang sudah ternganga mulutnya sontak mengerutkan kening lantaran kebingungan.


"Sayang? Kok tiba-tiba murung gitu? Bukannya tadi mau nyuapin aku lagi?" tanya Lara dengan wajah heran. Ia menggerakkan tangannya berniat ingin menggenggam jemari Dante. Namun, ia kembali dibuat kesal lantaran Dante menepis tangannya itu dengan kasar.


"Gosah panggil-panggil sayang! Bisa, kan?" Dante membuang muka dan mengembuskan napas kasar setelah menatap Lara tajam. Ia kemudian bangkit dari kursi usai mengusap wajahnya kasar. Gebrakan pada meja sukses membuat Lara berjingkat.


"Loh, mau ke mana?" tanya Lara lagi.


"Pulang." Dante menjawab singkat.


Lara melirik piring nasi Dante sekilas, lalu kembali menatap punggung Dante. "Tapi kan makanan kamu belum habis."


"Gue tiba-tiba kenyang!"


Dante tak menggubris kata-kata Lara. Ia justru berjalan menghampiri Lastri yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Bu Lastri, Dante pulang dulu, ya," ujarnya berpamitan.


"Loh, kan nasinya belum habis," tutur Lastri pula dengan sopan.


"Tiba-tiba kenyang, Bu," balasnya sambil memberikan uang pembayaran nasi di telempap tangan Lastri. "Makasih, ya. Nanti lain kali Dante pasti mampir lagi."


Lastri mengangguk lemah. Ia yang awalnya sendu dibuat melongo saat menyadari uang yang diberikan Dante terbilang sangat banyak jika hanya untuk membayar dua porsi makan dan minum mereka.


"Dante! Uangnya masih sisa banyak banget ini!" serunya sambil tergopoh, berniat menyusul Dante yang sudah bergerak keluar dari warungnya.


Lastri yang berdiri di depan pintu dibuat tersenyum haru sambil menggenggam beberapa lembar uang pecahan seratus ribu itu. "Terima kasih ya, Dante. Semoga kelak kamu berjodoh dengan orang yang kamu cinta."


"Aamiin!"


Tak seperti Dante yang mengamini doa Lastri, Lara yang hendak keluar dari warung sengaja berucap ketus pada Lastri.

__ADS_1


"Minggir!"


Lastri menoleh ke arah belakang, di mana Lara sudah berdiri sambil menatapnya tajam. Wanita paruh baya itu hanya mendengkus lirih, lalu menyisih untuk memberi gadis itu jalan.


Dante yang melihat itu hanya tersenyum tipis sambil membuka pintu mobilnya. Ia masuk ke sana setelah tersenyum lebar ke arah Lastri yang masih memandanginya.


"Pokoknya aku nggak mau mampir ke sini lagi!" ketus Lara yang kini sudah duduk di samping Dante setelah menutup pintu mobil dengan cara membanting. Terlihat jelas sekali jika gadis itu kesal oleh doa yang Lastri panjatkan tadi.


"Nggak mau ya udah. Siapa juga yang tadi ngotot minta mampir ke sini?" Seperti tak mau ambil pusing, Dante menanggapi gerutuan Lara dengan sikap santai. Sambil bicara ia mulai menyalakan mesin mobil untuk bertolak pergi meninggalkan warung.


Lara yang masih tak puas hati kembali menyerang Dante dengan janji pemuda itu pada Lastri tadi. "Tapi tadi kamu bilang bakalan mampir lagi kapan-kapan!"


"Iya itu kan gue!" sahut Dante dengan nada meremehkan. "Jangan kepedean dulu kalau entar gue bakal ajak elu!"


Lara meneguk ludahnya. Ia terdiam sesaat, menatap Dante dengan marah sambil mengeratkan rahang. Sadar jika ia tak akan menang dalam perdebatan, ia memilih bungkam seraya membuang pandangan.

__ADS_1


Selain dingin, rupanya Dante juga menjengkelkan. Apa jadinya jika kelak mereka benar-benar menikah?


__ADS_2