Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Pengantin bar-bar


__ADS_3

"Kita nikah beneran yuk. Kamu mau kan jadi istri aku?"


Mata Alisha membeliak. Ia menatap Dante dengan sorot tak percaya. "Gila. Kalau becanda tuh jangan kelewatan."


Tetapi pemuda itu justru meyakinkan dengan nada serius. "Aku nggak becanda, Al. Aku serius."


Alisha tak bisa berkata-kata. Antara kaget, senang dan takut di waktu yang bersamaan. Di saat seperti itu ia bahkan tidak sadar jika kedua tangannya sudah dalam genggaman Dante, dan pemuda itu menatapnya seperti memohon.


Seperti tercekat, Alisha hanya bisa menelan ludah. Tak bisa dipungkiri, mendengar pernyataan Dante dan diperlakukan seperti itu membuatnya seperti melayang di atas awan. Ia seperti menari-nari di udara lalu terhempas di atas tumpukan kelopak bunga. Sangat indah.


Namun, ketika bayangan wajah Lara yang marah itu menari di pelupuk mata, seketika itu pula ia tersentak. Bisa-bisanya ia terpesona lalu lupa Dante milik siapa.


Beruntung, saat itu Selena datang dan menyelamatkan ia dari kekhilafan.


"Dante, Dante, ada-ada aja kamu tuh. Masa iya pake latihan melamar Lara segala. Kamu itu udah jago, Dante. Nggak perlu latihan lagi."


Kening Dante sempat mengerut tak mengerti dengan kata-kata Alisha barusan. Gadis itu bahkan tertawa lepas seperti menertawai dirinya. Akan tetapi setelah menyadari kehadiran Selena, barulah ia memahami maksud gadis itu. Buru-buru ia bangkit dari jongkok dan tersenyum gusar pada Selena yang ikut tertawa.


Sial. Acara nembak dadakannya jadi berantakan. Padahal ia sudah mengatakan yang sebenarnya. Menurunkan ego. Sampai-sampai memberantas habis rasa malunya. Bukannya jawaban iya, tetapi justru gelak tawa yang didapatnya.


Entah apa yang ada di benak Alisha, ia tak tahu. Bisa jadi gadis itu tak percaya dengan lamarannya barusan. Atau meragukan, mungkin.


Namun, untuk tawa dan kebohongan yang gadis itu ucapkan, tentunya ada unsur kesengajaan lantaran tak ingin Selena salah paham. Wanita pemilik butik itu terlanjur memergoki mereka dengan posisi seperti tadi. Yang pastinya sangat mesra. Sebab mereka tengah saling pandang dengan kedua tangan saling berpegangan, terlepas dari Alisha suka atau tidak.


Dalam hati Dante merasa lega. Alisha sudah melakukan tindakan yang benar untuk menjaga nama baiknya.


Apa kata dunia jika tahu calon tunangan sang adik justru jatuh cinta pada kakaknya. Mungkin jadi aib yang memalukan. Namun, meski begitu Dante tak peduli apa kata orang. Cinta tetaplah cinta. Perasaan tak bisa dipaksa-paksa. Dan ia bisa melihat adanya rasa cinta dari tatapan Alisha kepadanya.


Sesi pemotretan akhirnya dimulai. Selena meminta Dante dan Alisha untuk berdiri dengan jarak sangat dekat. Ia mulai mengarahkan beberapa adegan. Namun, lantaran ini pengalaman pertama, membuat pose Alisha terlihat sangat kaku.


Bukan karena tidak bisa. Hanya saja, jantungnya bertalu-talu tak menentu. Jika terlalu dekat dengan Dante, ia khawatir pemuda itu bisa mendengar debaran jantungnya yang tak menentu.

__ADS_1


"Alisha, senyum dong Sayang. Ini ceritanya foto pernikahan loh, bukannya foto kesedihan. Plis, jangan murung gitu, oke," pinta Selena dengan nada lemah. Ini sudah yang kesekian kalinya ia memberi arahan pada Alisha, tetapi gadis itu masih mengulangi kesalahan yang sama.


Bukannya tidak bisa senyum. Hanya saja ia merasa gelisah dan khawatir. Berkali-kali ia melihat ke arah pintu. Takut, jika tiba-tiba Lara muncul di sana sambil membawa sapu. Sedang asyik-asyik foto pengantin, tiba-tiba dipukul mempelai aslinya. Benar-benar adegan yang tidak lucu, bukan.


"Bisa senyum nggak sih?" tegur Dante yang mulai merasa kesal. Beberapa saat lalu Selena keluar dari ruangan untuk melakukan sesuatu hal, sedangkan fotografer tengah sibuk mengotak-atik kameranya. Ia berpikir, ni adalah kesempatan mereka untuk mengobrol berdua saja.


Namun, alih-alih menjawab pertanyaannya, Alisha malah memanyunkan bibir seperti kesal. Apa gadis itu tak sebenarnya tidak mau menjalani sesi foto hanya berdua? Kalau memang tidak mau kenapa tadi bersedia? Apa dia melakukan ini hanya karena terpaksa?


Ya, Dante akhirnya menerka-nerka alasannya apa. Ia melihat gadis itu berkali-kali melihat ke arah pintu, seperti khawatir seseorang tiba-tiba muncul di sana.


Mungkin yang gadis itu takutkan adalah Lara. Tepatnya tak enak hati. Dia kan orangnya nggak enakan. Nggak tegaan. Namun, seharusnya Alisha tak perlu setakut itu kan. Kalau memang nantinya ketahuan, bukannya malah bagus tuh. Ia tak perlu lagi susah payah menjelaskan pada Lara. Toh, ia juga berhak untuk marah. Lara telah meninggalkan tanggung jawabnya seenak hati. Harusnya gadis itu mendapatkan ganjaran yang sepadan. Bahkan lebih dari ini.


"Bukannya nggak bisa," kata Alisha pelan setelah beberapa saat diam. Dante mendengar itu, lalu menatap si gadis yang menunduk itu dengan kening berkerut.


"Terus?"


"Kalau nanti Lara datang bagaimana?"


"Ya bagus lah."


"Iya baguslah. Jadinya aku nggak perlu susah-susah kasih penjelasan, kan. Toh dari apa yang dia lihat sudah cukup mewakili."


"Maksudnya?"


Bukannya menjelaskan dengan kata-kata, Dante justru tersenyum nakal sambil menatap pakaian mereka bergantian, seolah-olah menunjukkan situasi yang saat ini sedang terjadi, akan menjadi kenyataan untuk mereka berdua kelak.


Alisha yang memahami itu seketika memukul lengan Dante lalu memanyunkan bibir. "Ish, apaan sih. Aku cuma pengantin pengganti, tau!"


"Iya sekarang. Tapi nanti, kamu akan jadi pengantin sejati," bisiknya nakal.


"Gombal." Alisha mendengkus lirih. Namun, saat memalingkan muka ia tak bisa menahan diri untuk diam-diam tersenyum. Entah karena apa. Ia hanya merasa ada banyak bunga-bunga yang mewarnai hatinya.

__ADS_1


"Aciee." Dante berkelakar sambil mencolek pipi Alisha dari belakang. Terang saja hal itu sontak membuat Alisha membelalak. Terkejut. Jangan-jangan pemuda itu tau dirinya sedang bahagia.


"Apa sih cie-cie?" tukasnya dengan nada sinis.


"Muka kamu memerah. Sedang bahagia ya?" tunjuk Dante pada Alisha, tepat di wajahnya.


"Mana? Enggak kok." Alisha mengusap wajahnya dengan gusar. Dengan gerakan pelan sih. Takut make-upnya rusak.


Dante terbahak melihat Alisha yang salah tingkah. Sudah kepalang tanggung bagi gadis itu. Ia pun akhirnya menyerang Dante dengan pukulan bertubi-tubi untuk meluapkan kekesalan dan menutupi rasa malunya.


"Aduh! Stop, Al! Sakit ini!" Dante mengaduh. Ia mengangkat lengannya untuk melindungi wajah dari amukan Alisha, tetapi gadis itu sepertinya tak peduli.


"Bodo'! Siapa suruh ledekin aku terus!"


"Dasar pengantin bar-bar!" ledek Dante di sela tawanya.


Mendengar kata-kata pengantin bar-bar membuat Alisha seketika tersadar. Apa-apaan yang dia lakukan? Ini adalah gaun Lara, bisa-bisanya ia berbuat bar-bar. Kalau rusak bagaimana coba?


Dante melongo melihat Alisha seketika mematung dengan napas naik turun. "Heh, kok diem? Ayo hajar lagi."


Alisha menggeleng cepat dengan wajah polosnya. Seperti menyadari suatu hal, ia pun membenahi posisi gaunnya dan berdiri tegap dengan gaya elegan. Belum juga sejam Selena melatihnya susah payah, ia sudah lupa daratan dan lupa yang diajarkan. Benar-benar bar-bar.


Saat itulah Selena masuk dengan senyuman yang mengembang. Sepertinya urusan wanita itu sudah kelar. Dante dan Alisha saling pandang dengan mata saling memberi isyarat. Kali ini mereka harus serius agar tidak mengecewakan wanita itu. Namun, yang terjadi selanjutnya ....


"Kalian udah istirahat, kan? Udah santai, udah rileks. Sekarang, mulai pemotretan lagi yuk," ajak Selena yang langsung ditanggapi anggukan penuh kesiapan keduanya.


Namun, seketika itu juga sang fotografer menolaknya dengan sebuah alasan yang membuat Dante dan Alisha kompak saling pandang.


"Kayaknya nggak perlu deh Aunty."


"Why, Dito? Kenapa?"

__ADS_1


"Kita udah dapat apa yang kita cari," ujar pria berambut sebahu itu dengan senyuman penuh arti. Alisnya juga digerakkan naik turun, membuat Selena penasaran lalu bergerak cepat mendekati untuk melihat hasil jepretannya.


Dante dan Alisha masih diam di tempatnya dengan ekspresi tak mengerti. Dan semakin bertambah tak mengerti sebab Selena juga tersenyum penuh kepuasan.


__ADS_2