
Robby meletakkan ponselnya dengan lemas setelah mengakhiri sambungan telepon. Tangannya bergerak memijat pelipis yang mendadak terasa pening. Barusan adalah telepon dari calon besannya, Narendra. Pria itu mengutarakan keinginan agar pertunangan putra-putri mereka dipercepat. Entah apa sebabnya. Yang jelas Robby kini berada dalam dilema.
Tepat saat itu putranya muncul dari arah belakang. Wajahnya terlihat ceria. Mungkin hendak ke ruangan gym yang berada di area dekat kolam lantaran Dante sudah mengenakan pakaian olahraga. Pemuda itu hanya menatapnya sekilas sambil berlalu melewatinya yang duduk di sofa ruang tengah.
Tak ingin menunda sesuatu, ia lekas memanggil putranya untuk mendekat. "Dante. Sini sebentar. Papa mau bicara."
"Bicara apa, Pa? Dante mau nge-gym."
"Sini dulu. Duduk." Robby menepuk sofa kosong di sampingnya.
Dante pun bersikap patuh. Ia menghampiri Narendra dan duduk di sampingnya. Tidak bicara apa-apa, hanya tatapan mata sebagai ganti kata tanya.
"Barusan Om Narendra telepon Papa."
"Terus?"
Narendra menatap Dante yang tengah serius menatapnya. Pemuda titisannya itu terlihat seperti mendesak. Ia paham betul bagaimana perangai anaknya sekarang ini. Sejak lari dari rumah, banyak perubahan positif yang ditunjukkan oleh Dante. Fisik pemuda itu lebih kuat. Pikirannya lebih dewasa. Ia tidak suka omongan basa-basi. Lebih patuh kepada orang tua meski terkadang melakukannya dengan terpaksa. Mungkin karena tak ingin mengecewakan dirinya.
Namun, semakin ke sini Robby pun merasa kian resah lantaran cemas anaknya itu memendam perasaan demi kebahagiaan orang tuanya. Dante sekarang tak banyak mengeluh juga tak banyak bicara. Mengobrol dengannya juga hanya seperlunya saja. Robby merasa kedekatan mereka perlahan memudar, seperti tercipta suatu batasan yang tak kasat mata. Dante terkesan seperti menjauhinya.
Jujur, ia kini merasa takut. Sangat takut bahkan. Takut jika perasaan hormat Dante terhadapnya perlahan berubah menjadi kebencian. Dante adalah anak satu-satunya yang kelak akan mewarisi hartanya. Penerus keturunannya. Ia berusaha mendidik Dante dengan sangat baik. Agar kelak putranya tumbuh dewasa berwawasan luas, berakhlak mulia dan beriman kepada Tuhan.
"Pa. Om Narendra bilang apa?" desak Dante. Narendra yang mendadak terdiam buru-buru mengakhiri perenungannya.
"Lara ingin pertunangan kalian dipercepat lagi."
"Ya sudah. Kalau mau dipercepat ya dipercepat saja."
Mata Robby membeliak. "Kamu serius?"
__ADS_1
"Memangnya aku kelihatan sedang melawak?" Dante berbicara datar. Pembawaannya tetap tenang. Wajahnya menunjukkan kehambaran. Tanpa emosi. Tetapi justru itu yang membuat Robby kian khawatir. Khawatir jika ternyata putranya sudah putus asa.
Putranya bukanlah pemuda biasa saja. Selain kaya, Dante juga memiliki postur ideal dan wajah rupawan. Ia pasti menjadi idola banyak gadis. Bahkan bisa mendapatkan siapa saja yang ia mau tanpa sebuah perjodohan. Rasanya ini sangat tidak adil bagi Dante. Haruskah ia menjadi papa yang egois? Namun, bisakah ia memperbaiki? Sedangkan perjodohan ini sudah terjadi dan tak bisa dibatalkan lagi. Kecuali ... jika memang anak-anak mereka sendiri yang tidak menghendaki.
"Dante, Papa hanya mengatakan apa yang Om Narendra katakan. Jujur, kali ini Papa tak akan lagi memaksa. Jika kamu merasa keberatan, alangkah baiknya jika itu dikatakan. Jangan bilang iya jika memang kamu nggak suka."
"Mau sekarang, atau besok atau nanti, tapi pada akhirnya aku akan bertunangan dan menikah dengan Lara juga kan, Pa. Jadi nggak ada gunanya lagi mengulur-ulur waktu."
"Dante–"
"Udah ya, Pa. Aku mau nge-gym dulu. Bilang sama Om Narendra kalau aku bersedia." Tanpa menunggu kata-kata papanya, Dante pun beranjak pergi.
***
Lara merasa sangat bahagia setelah Narendra menyampaikan pesan dari calon besannya. Tanpa gadis itu duga, ternyata Dante menyetujui usulannya. Bagaimana dia tidak berbunga-bunga, coba.
Namun, ia sedikit merasa kecewa lantaran pagi itu mendapat kabar jika Dante tak bisa pergi ke butik itu bersamanya. Dante beralasan sibuk kuliah dan belajar membantu papanya mengurus perusahaan.
Masalah benar dan tidaknya alasan Dante itu Lara sendiri tidak tahu. Belakangan ini Dante sudah sering menolak pas diajak ketemuan. Ia juga sudah terbiasa dengan kesendirian. Jika memang untuk acara hang out biasa mungkin ia masih bisa memaklumi, tetapi ini ceritanya beda. Mereka akan bertunangan dan Dante harus mencoba bajunya juga. Bisa-bisanya pemuda itu menolak datang? Tak bisakah menyisihkan waktu sebentar saja hanya untuk mencoba pakaian itu?
Lara terduduk sebal di sofa ruang tengah. Gadis itu bingung mau pergi dengan siapa. Ia yang akan bertunangan, jadi mana mungkin ia pergi sendirian. Papanya sudah pergi ke kantor beberapa saat lalu. Sementara mamanya juga sudah keluar untuk sebuah urusan.
Saat itulah Alisha muncul dengan balutan outfit kekinian yang sopan dan tidak terbuka. Wajahnya juga terlihat fresh dengan sapuan make up natural. Rambutnya diatur sedemikian rupa hingga terlihat bergelombang.
Lara mendecih lirih tanpa sepengetahuan Alisha. Ia merasa tak suka jika gadis itu lebih unggul dari dirinya.
Belakangan ini Alisha memang sering ke kampus sendirian sebab Lisa memang sudah dipindah tugaskan oleh papanya. Memang Alisha sendiri yang minta, tapi entah untuk alasan apa. Lisa hanya sesekali datang ke rumah untuk menemui Alisha. Tak tahu juga dengan apa yang mereka berdua lakukan saat berdua. Lara sama sekali tak peduli.
Tiba-tiba mata Lara berbinar senang saat ide brilian hinggap di benaknya. Kenapa tidak minta antar Alisha saja? Gadis itu perlu tahu sebagus apa gaun yang akan ia kenakan saat pertunangan.
__ADS_1
Ia yakin, sesibuk apa pun Alisha dengan kegiatannya, gadis itu tak akan menolak jika dirinya yang minta. Alasannya simpel, karena mereka bersaudara. Alisha pasti akan melakukan apa saja demi dirinya. Dan nanti ia akan melihat sendiri bagaimana Alisha akan tersiksa melihat kebahagiaannya. Begitu pikir Lara.
"Al, kamu mau ke mana?" Lara menghampiri Alisha dan bertanya. Alisha yang sedang berjalan sontak berhenti karena Lara memanggilnya.
"Mau ke kampus, Ra, seperti biasa." Alisha menjawab pertanyaan Lara dengan senyuman ramah. Ia berusaha mengesampingkan sakit hati lantaran pemikiran buruk Lara terhadapnya kemarin. Ia lebih baik mengalah agar saudarinya bahagia. Toh ia sudah merasa bahagia dengan menemukan papa kandungnya.
Mungkin kata-kata Lara memang ada benarnya. Kebanyakan orang yang menusuk dari belakang adalah orang-orang terdekat mereka sendiri. Alisha tak menampik itu. Ia menyadari kesalahannya. Bertemu dengan Dante dan bercengkerama dengan Niken hanya akan membuat percikan cinta jadi membara. Ia nyaris terpesona dan lupa jika Dante hanyalah milik Lara semata. Apa kata dunia jika dia sampai merebut calon tunangan saudaranya. Maka mulai saat ini, ia bertekad untuk menjauhi Dante selamanya.
Air muka Alisha mendadak berubah lantaran melihat wajah murung Lara. Karena sikap pedulinya yang terlalu tinggi, akhirnya ia memutuskan bertanya dengan kening yang berkerut. "Kenapa, Ra. Ada masalah?"
"Hu'um." Lara mengangguk. "Kamu tau kan, sebentar lagi aku mau tunangan."
"Ya." Alisha mengangguk. Ia menunggu Lara melanjutkan.
"Hari ini aku harus fitting baju, tapi aku nggak ada temen buat pergi ke butiknya," ujar Lara dengan ekspresi sedihnya.
"Loh kok gitu. Memang Dante ke mana?"
"Katanya sibuk."
"Sibuk? Kok bisa sih. Memang jadwalnya nggak bisa digeser dikit ya. Maksudku nunggu bentar sampai Dante selesai sama urusannya."
"Nggak bisa, Al. Mereka mendesak aku supaya cepat-cepat. Maklum lah gaun mahal. Tentunya mereka mengerjakannya dengan penuh kehati-hatian. Nggak sembarangan gitu deh."
Alisha mendesah pelan. "Terus maunya kamu gimana?"
"Anterin aku bisa nggak, Al? Sebentar aja kok. Plis ..." Lara memohon dengan menangkubkan tangannya di depan dada.
Sedangkan Alisha ... memangnya apa lagi yang bisa gadis itu lakukan selain mengabulkannya?
__ADS_1