Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Bawa Alisha kemari


__ADS_3

Hari mulai gelap saat Narendra tiba di rumah. Jonathan menurunkannya tepat di depan teras depan, lalu pamit undur diri setelah memastikan dirinya aman.


Ada sesuatu yang sedikit berbeda dari biasanya. Lara tiba-tiba berhambur memeluknya manja sebagai bentuk sambutan. Gadis itu terlihat ceria, mungkin kebahagiaan itu tercipta karena hubungannya dengan Dante baru-baru ini. Ya, Narendra tentunya lebih merasa bahagia jika putrinya bahagia. Pastinya.


"Bagaimana harimau, Sayang?" tanya Narendra usai mengurai pelukan, lalu melingkarkan tangannya di bahu kanan Lara. Kini mereka berdua melangkah masuk beriringan.


"Baik." Lara menjawab singkat, dengan senyuman yang tak pudar.


"Bagus. Papa senang mendengarnya."


Mendekati ruang makan, wangi aroma masakan langsung menguar merasuk ke indera penciuman. Makanan kesukaan Narendra yang telah lama tak pernah Helena masak lagi untuk dirinya. Narendra menoleh pada sang putri, lalu mereka saling pandang.


"Wangi sekali bau masakan ini. Ada perayaan apa, heum?" Narendra mengangkat alisnya selagi bertanya. Dibalas senyuman oleh Lara beserta penjelasannya.


"Mama baru kembali dari Bali dan langsung berinisiatif masak makanan kesukaan Papa. Sudah lama kan, kita tidak makan bersama?"


"Benar juga." Narendra mengangguk senang.


Di sana, di samping meja makan mewah berukuran besar, Helena tengah menata hidangan dibantu beberapa pelayan berseragam.

__ADS_1


Wanita yang selalu terlihat cantik itu tersenyum melihat kedatangan Narendra. Ia tidak langsung menyambut suaminya dengan mendekat, melainkan menyelesaikan pekerjaan dan membiarkan dua orang tercintanya itu yang mendekat.


"Aku memasak semua makanan kesukaanmu. Kita makan bersama, ya. Aku merindukan kalian berdua." Helena meraih tangan Narendra, menatap pria itu dengan mesra lalu beralih menatap Lara ketika mengucapkan kata 'kalian berdua'.


Narendra menyambut hangat perubahan sikap istri dan anaknya. Toh perubahan sikap mereka menuju ke arah yang baik. Meskipun sempat terbesit tanya dalam benak mengapa baru sekarang mereka diberi kesadaran, tetapi setidaknya tak ada kata terlambat bagi orang yang ingin melakukan pertobatan. Hanya saja, Narendra berharap Helena dan Lara akan bersikap baik selamanya. Bukan ketika sedang ada maunya saja.


Suasana ruang makan di rumah megah itu kini terasa hangat dan bahagia. Selain suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, obrolan seru ketiganya pun terdengar sangat meriah. Tak hanya pemilik rumah yang merasakan bahagia, tetapi seluruh asisten rumah tangga yang mengabdikan diri di sana.


Harapan dan doa baik pun dipanjatkan, semoga ini menjadi awal yang baik mengingat malam-malam sebelumnya ruangan itu hanya diwarnai lengang meskipun meja makan dipenuhi hidangan.


"Pa, Lara boleh minta sesuatu?" tanya Lara di tengah santap malam. Mulutnya juga masih dipenuhi oleh makanan.


"Katakan. Memangnya apa yang tak pernah bisa Papa berikan?" Narendra segera menyahut meski tengah mengunyah makanan. Ia menatap putrinya lekat-lekat demi meyakinkan.


Melihat gelagat sang putri, Narendra mengerutkan kening lantaran diperam heran. Ia menaruh sendok di tangannya, lalu memfokuskan perhatian pada Lara.


"Lara, ada masalah?" tanyanya kemudian.


Lara menggeleng.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Narendra lagi, merujuk pada sikap diam Lara.


"Pa ... belakangan ini aku merenung setiap hari. Sekarang aku sadar, ternyata aku menguasai Papa yang sebenarnya milik Alisha juga." Lara menjeda ucapannya saat melihat air muka Narendra berubah seketika.


"Maksud kamu, Nak?" Narendra bertanya tak sabaran. Tak bisa dipungkiri jika jantungnya berpacu lebih cepat hanya karena Lara menyinggung nama Alisha. Entah mengapa, firasat baik langsung hinggap di benaknya, membuat dia tak bisa menunggu lama untuk Lara mengatakan keinginannya.


"Bawa Alisha ke rumah ini, Pa."


Degg.


Lara kembali melanjutkan kata-katanya dengan penuh harap. "Alisha layak mendapatkan apa yang Lara dapatkan. Alisha anak Papa juga. Lara merasa tidak adil bagi Alisha jika Lara hanya bahagia sendirian. Bawa Alisha kemari, Pa. Lara mohon."


Tercekat, Narendra tak bisa berkata apa-apa. Meski masih merasa tak percaya, tetapi rasa bahagia sangat nampak di wajahnya.


"Apa Papa tidak salah dengar?" Narendra bertanya memastikan. Bukan tanpa alasan. Bukankah awalnya Lara yang keberatan dirinya mengakui Alisha sebagai anak? Lara bahkan menjanjikan akan berperilaku baik asalkan Narendra tak menemui Lara dan menduakannya sebagai seorang anak, sehingga Narendra terpaksa pergi diam-diam jika ingin menemui Alisha.


Lantas, sekarang apa? Lara bahkan memohon padanya agar Alisha ia rawat sebagaimana mestinya. Secepat itukah perubahan suasana hati Lara? Gadis yang sangat manja itu bahkan bisa bersikap bijak, berlapang dada mau menerima saudari tirinya.


Memang sedikit janggal. Namun, melihat keseriusan Lara, ditambah persetujuan Helena, membuat Narendra akhirnya menepis segala praduga.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertiannya, Sayang. Papa cinta kalian berdua. Papa janji, tidak akan mengurangi sedikitpun kadar sayang terhadap kalian. Papa hanya ingin mempertanggung jawabkan segala tindakan salah di masa lalu. Izinkan Papa menebus segala kesalahan Papa terhadap Alisha."


Kedua tangan Narendra menggenggam lembut jemari istri dan anaknya. Selain batu es yang mencair oleh kehangatan, ketiganya pun diliputi haru dalam kebersamaan.


__ADS_2