Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Nyaris menitikkan air mata


__ADS_3

Hening. Untuk sesaat obrolan sempat terjeda meski empat orang yang terdiri dari dua pemuda dan dua pemudi itu kini telah duduk bersama mengelilingi meja yang sama. Keempatnya sama-sama diam dan di antaranya malah ada yang sengaja buang pandangan.


"Sepi, ya. Ayo dong, dimakan baksonya. Jangan dianggurin aja. Bakso kantin ini terkenal enak, loh." Marcel akhirnya buka suara dan memulai percakapan. Demi mengusir situasi tidak nyaman, ia tetap bersikap ceria dan ramah pada semuanya. Senyum semringah tercetak jelas di wajah pualamnya ketika memandangi satu persatu dari mereka seraya menarik mangkuk di depannya untuk kemudian mengaduk pelan. Sehingga, mau tak mau yang lainnya pun ikut turut serta meski dengan gerakan rikuh dan senyum canggung.


Namun, hal berbeda justru ditunjukkan Lara. Gadis itu terlihat senang dengan kondisi yang memerangkap mereka sekarang.


"Jadi, kau saudari tirinya Alisha?" Marcel akhirnya melontarkan tanya bernada memastikan pada Lara yang duduk di depannya. Gadis yang tengah menuangkan kecap manis ke mangkuk baksonya itu tersenyum tipis sembari mengangguk mantap.


"Yap," ujarnya singkat.


"Bisa gitu, ya." Marcel tersenyum seperti tak percaya. "Sepertinya kalian seumuran. Dan kelihatannya kalian sangat akur. Apa mama-mama kalian juga tinggal seatap dengan papa kalian?" Ia menjeda pertanyaannya sejenak. Namun, setelah melihat ekspresi Alisha yang terlihat tidak nyaman, buru-buru saja Marcel berdeham kecil dan meralat ucapannya. "Ups, sorry. Sepertinya pertanyaan gue terlalu kejauhan. Nggak enak banget didengar."

__ADS_1


"Oh, nggak pa-pa, kok. Nggak pa-pa. Beneran. Aman aja. Kita sama sekali nggak tersinggung, kok Marcel. Iya kan, Al?" Lara menyahuti cepat seraya menggeser pandangan pada Alisha yang duduk di sisi kiri Marcel untuk sejenak. Anggukan Alisha menjadi pertanda jika gadis itu tak keberatan. Setelah itu, ia pun melanjutkan penjelasan. Sekalipun anggukan itu terlihat terpaksa dilakukan.


"Alisha adalah anak dari istri papa yang terdahulu. Mereka berpisah lantaran papa lebih memilih mama aku. Kau tahu lah Marcel, perbedaan kasta selalu menjadi penghalang hubungan cinta antara dua manusia. Kurang lebih begitulah yang terjadi di antara mereka." Lara berucap dengan lancar lalu menyantap bola basonya tanpa dosa. Seolah-olah tak peduli akan perasaan saudari tirinya yang mendadak berubah air mukanya. Tak sadarkah ia jika kata-katanya bisa saja menyakiti perasaan Alisha? Justru Dante dan Marcel lah yang merasa tidak suka dengan ucapan Lara yang terkesan mengerdilkan posisi ibu Alisha.


Dua pemuda itu sama-sama menatap Lara dengan kening yang berkerut, lalu beralih menatap Alisha dengan wajah cemas ketika gadis itu tiba-tiba meneguk minumannya hingga tandas.


"Apa kau tahu, Marcel?" Lara kembali bicara setelah menelan makanan di mulutnya. Panggilan terhadap Marcel itu mau tak mau menarik atensi Dante juga. Jelas, ia sangat penasaran. Selama ini pemuda itu tak tahu menahu bagaimana kisah hidup dua gadis itu hingga memiliki takdir menjadi saudara.


"Emm, percaya." Marcel menjawab setengah ragu. "Kenapa Lara. Apa kau pernah mengalaminya?"


"Yup. Sebelum mengetahui ikatan persaudaraan kami, aku dan Alisha pernah bersahabat, loh. Kami sering saling curhat dan membicarakan tentang banyak hal. Iya kan, Alisha? Bahkan secara tanpa sadar, yang kita bicarakan itu adalah orang yang sama. Yaitu papa." Lara berucap sangat antusias tanpa memudarkan garis senyumnya. Berusaha menunjukkan melalui sikap jika dirinya benar-benar bahagia.

__ADS_1


"Wow, amazing," sahut Marcel. "Cara Tuhan meramu takdir memang tidak bisa ditebak ya. Mungkin kalian tidak pernah menyangka jika kelak akan bersaudara."


"Benar hahaha." Lara tergelak.


"So, apa kau langsung menerima begitu saja setelah tahu semuanya?" Lara tertegun sejenak ketika Marcel memberikan pertanyaan itu. Perubahan yang terjadi pada mimik wajah Lara membuatnya mengulas senyum sebelum kemudian kembali menambahkan. "Jika aku jadi kamu, tentu saja akan marah pada papamu. Mengapa? Karena marah itu adalah hal yang lumrah sebagai reaksi pertama. Bisa saja pada saat itu kamu sangat syok dan belum bisa menerima kenyataan bahwa cinta papamu harus terbagi dua. Bukan begitu?"


"Enggak. Aku sama sekali nggak marah. Justru aku bahagia." Sebuah kebohongan yang tercetus begitu saja. Entah demi apa Lara melakukan itu semua. Padahal jelas-jelas waktu itu hatinya hancur porak-poranda.


"Good." Marcel mengacungkan jempolnya pada Lara. Namun, setelahnya ia menoleh pada Alisha di sampingnya, lalu kemudian meraih dan menggenggam jemari gadis itu dengan hangat.


"Dan untuk ibu kamu," kata Dante pada Alisha dengan nada pelan dan sambil mengeratkan genggaman. "Aku yakin dia adalah wanita yang luar biasa. Sebab, meski telah menghilang lama, menjauh dari jangkauan, tetapi mampu membuat hati papamu tetap bertahan. Dan aku juga yakin, kau adalah anak yang baik hingga membuat papamu tetap berusaha mencarimu ke mana-mana. Percayalah ... bahagia akan menyambutmu, Alisha."

__ADS_1


Sebuah untaian kata indah yang tak pernah Alisha duga. Marcel yang baru dikenal saja bisa mengerti betul bagaimana kehidupannya. Ia masih tak habis pikir bagaimana pemuda itu bisa menilai kepribadian seseorang hanya melalui cara bicara dan sorot mata. Mana mungkin ia tidak terharu karena pemuda itu. Ia bahkan nyaris menitikkan air mata karena saking terharunya.


__ADS_2