
Matahari sudah condong ke arah barat ketika Lara terjaga dari tidurnya. Gadis itu menggeliat, lalu kemudian menguap oleh sisa rasa kantuk setelah hampir seharian bergelung di bawah selimut.
Sebenarnya ia masih ingin tidur, tetapi rasa perih di perut membuatnya terpaksa bangkit untuk mengisi lambung. Alhasil, tanpa mandi dan menukar pakaian tidurnya, gadis itu turun ke lantai dasar demi mendapatkan makanan berat.
"Bi, makan!" Lara yang sudah berada di ruang makan memberi isyarat pada Saras untuk menyiapkan. Wanita yang sedang berada di ruang tengah segera mendekat begitu dengar namanya dipanggil. Ia segera menghampiri sang nona ketika dilihatnya gadis itu sudah duduk di kursi.
"Non Lara sudah bangun? Kenapa tidak minta dibawakan makanan ke kamar saja?" ujarnya khawatir. Sebab melihat raut marah di wajah Lara. Barangkali saja gadis itu sudah berteriak-teriak dari lantai dua tetapi tak ada maid yang mendengarnya.
"Aku mau di sini aja, Bi."
"Owh gitu?" Syukurlah. Saras membatin lega. Ia bergegas mengintruksikan pada pelayanan agar menyiapkan makanan untuk nonanya.
"Mama mana?" Lara bertanya sambil mengunyah makanannya.
"Ada di kamar, Non," jawab Saras yang masih berdiri menemani Lara.
"Sama Papa?"
"Betul."
"Kalau Alisha?"
"Pergi ke rumah ibunya."
Lara tak bertanya lagi. Ia fokus dengan hidangan di depannya. Makan dengan santai dan penuh kenikmatan. Saras pun menemaninya dengan sabar sambil sesekali melayani apa yang nonanya butuhkan.
Sebenarnya tak penting bagi Lara saudari tirinya itu ada di mana. Ia hanya ingin memastikan gadis itu tak mengganggu calon tunangannya lagi.
"Sayang kamu sudah bangun?" Itu suara Helena yang bertanya. Wanita cantik dengan gaun warna marun itu mendekat seraya tersenyum.
Sementara Lara, sepertinya tak terpengaruh. Ia tetap menunduk menikmati makanannya tanpa menjawab atau menengok ke arah Helena.
Meski begitu Helena tak mengapa. Watak Lara memang kadang seperti itu. Ia memilih duduk pada kursi di samping Lara kemudian kembali bertanya. "Bagaimana tidur kamu? Nyenyak tidak? Tidak ada yang mengganggumu, kan?"
Lara menggeleng tanpa mengangkat pandangan. "Enggak, Ma. Lara bangun karena lapar."
__ADS_1
"Kenapa nggak minta supaya bibi antar makanan ke kamar kalau kamu malas turun, Sayang?"
"Nggak pa-pa, Ma. Aku memang pengen turun."
"Dengan muka kusut dan pakaian seperti ini?" tanya Helena dengan nada agak tinggi. Dan itu membuat Lara mendesah kasar.
"Memangnya kenapa sih? Apa mata Mama merasa terganggu melihatku seperti ini?"
"Bukan Mama yang terganggu, Lara. Tapi Dante!"
"Bodo amat. Toh dia lagi nggak di sini, kan?" tutur Lara santai. Kemudian kembali melanjutkan makan.
Helena menghela napas kemudian menggeleng lemah. Ia tak habis pikir pada putrinya. Untung saja Lara tidak tau kalau Dante ditugaskan papanya untuk mengantar Alisha. Bila dia tau, sudah bisa dipastikan akan terjadi perang dunia antara dirinya dengan Lara.
"Ma, Papa mana?" Lara bertanya setelah beberapa saat ruangan itu dijebak hening. Helena yang sepertinya tengah melamun sontak menoleh pada Lara kemudian tersenyum.
"Sedang di ruang tamu."
"Ada tamu ya?"
Helena mengangguk.
"Klien papa yang kebetulan memiliki tempat tinggal di sekitar sini."
"Owh." Lara kembali melanjutkan makan hingga habis, sementara Helena menemani dengan sabar. Juga penuh cinta saat memandangi putrinya. Tak lama kemudian piring makan Lara sudah kosong sebab isinya berpindah ke perut. Gadis itu segera bangkit dan beranjak tanpa sepatah kata pada Helena.
"Loh, kamu mau ke mana?" Helena sontak bertanya.
"Mau tidur lagi."
"Astaga, ini udah sore Lara. Buruan mandi!"
"Masih ngantuk, Ma!" rengek Lara.
"Buruan mandi! Gimana Dante mau cinta sama kamu kalau kamunya seperti ini!"
__ADS_1
"Dante lagi! Dante lagi. Kenapa sih Ma! Sebel." Lara menggerutu. Namun, meski begitu ia tetap berjalan menuju kamarnya. Tapi bukan untuk mandi. Melainkan berjalan menuju pintu yang menghubungkan langsung antara kamar dan balkon luar.
Berdiri menghadap taman, ia lantas merentangkan tangan dan memejamkan mata lalu menghirup udara sore itu banyak-banyak. Sekadar meregangkan otot-otot yang kaku sembari menikmati udara yang sejuk. Hari ini memang ia merasa tenang dan puas tidur tanpa ada yang mengganggu. Namun, Lara tak tahu kejutan apa yang sedang menantunya setelah itu.
Baru beberapa lama di sana perhatiannya sudah teralihkan oleh sebuah mobil mewah yang berjalan melewati gerbang dan memasuki halaman. Mata Lara berbinar senang lantaran mobil itu sudah sangat familiar.
"Dante sayang. Kamu merindukan aku ternyata." Lara tersenyum bangga sambil menatap mobil yang masih berjalan pelan itu dengan penuh puja. Ia tak ingin melewatkan sedikitpun pemandangan indah itu. Bagaimana mobil itu berhenti nanti dan keluarlah sosok pemuda tampan yang begitu ia dambakan.
Dulu memang ia tak mau dijodohkan. Tak suka pada pemuda yang bahkan belum pernah ia lihat tampilannya. Tapi sekarang ia merasa bodoh lantaran dulu pernah menolak. Mungkin saat ini Dante belum mencintainya. Namun, Lara bersumpah akan membuat Dante kelak tunduk dan bertekuk lutut di kakinya.
Menyadari suatu hal, Lara tersentak lantas menunduk memperhatikan kondisinya sendiri.
Oh tidak! Lara diserang panik. Lihatlah penampilannya. Sangat kacau balau. Rambut acak-acakan, muka kusut, tubuh belum tersentuh air sama sekali. Astaga, pantaskah ia disandingkan dengan Dante?
Tenang. Tenang. Lara berusaha mengendalikan diri. Ia hanya butuh sedikit waktu untuk mandi dan merias diri. Dante juga sudah barang pasti akan sabar menanti. Iya. Dia harus mandi.
Eh tunggu sebentar.
Lara yang hendak masuk kamar mendadak mengurungkan niat. Ia ingin melihat Dante turun dan memakai out fit warna apa sekarang. Barangkali ia bisa menyesuaikan dengan out fit yang akan ia kenakan.
Loh? Lara mengerutkan kening saat justru pintu penumpang yang lebih dulu terbuka.
Dante sama siapa? Ia bertanya-tanya, dan seketika langsung mendapat jawabannya. Gadis itu sontak membulatkan mata melihat siapa yang keluar dari sana.
"Loh, apa-apaan ini. Ngapain Alisha naik mobil Dante?" Masih menatap ke arah bawah, jemari Lara menggenggam kuat. Tanpa sadar giginya menggemertak dan napasnya memburu kasar. Sesaat kemudian ia menggeleng tak percaya.
"Enggak. Ini nggak bisa dibiarin. Aku harus menuntut penjelasan pada mereka. Kalau perlu aku melabrak Alisha."
Dengan pikiran berkecamuk tak keruan, Lara berlari keluar kamar dan turun ke lantai dasar. Berharap ia mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Namun, alih-alih merasa lega, Lara justru melihat pemandangan tak terduga. Gadis itu tercekat dan memaku tubuh di ambang pintu depan tatapan nanar ke arah depan.
Apa yang dilihatnya? Sebuah pemandangan yang amat memilukan. Papa mamanya tampak bertegur sapa dengan Dante Dan Alisha. Entah itu basa-basi saja atau apa, yang jelas keempatnya sama-sama menyunggingkan senyuman.
Hari Lara kian sakit. Bisa-bisanya sang mama membiarkan Dante membawa Alisha, padahal sudah jelas-jelas Dante adalah calon tunangannya.
__ADS_1
Dan itu apa? Dante langsung pamit setelahnya. Bahkan menyempatkan diri menatap Alisha dan memberikan senyumannya. Lupakah pemuda itu akan keberadaannya? Dia yang jelas-jelas calon tunangan, bukannya Alisha, gadis yang mengancam posisinya.
Tanpa bisa ditahan lagi, air mengalir dari pelupuk mata. Kurang sedih apa menjadi dirinya? Hanya calon tunangan yang sejatinya tak pernah diharapkan.