
Baik saat bersama Alisha waktu lalu maupun dengan sekarang saat dirinya bersama Lara, rutinitas Dante masih tetaplah sama, yaitu jadi kang ojek. Satu hal yang membedakan antara dulu dengan sekarang, ialah perasaan.
Dante bersedia antar jemput Lara lantaran terpaksa, sedangkan saat antar jemput Alisha dulu ia jalani dengan suka cita karena dilandasi rasa cinta. Seperti saat ini, ia tetap mengupayakan menjemput Lara meski hatinya terasa berat dan sangat malas.
Seharusnya Dante merasa senang lantaran tuan putri yang akan menaiki mobil mercy-nya sudah menyambut dengan wajah segar. Seharusnya dia bahagia lantaran calon istrinya kelak adalah putri konglomerat dan berparas jelita. Sayangnya Dante tidak senang juga bahagia. Ia justru terbayang-bayang pada bintang lain yang lebih bercahaya dibandingkan Lara.
Siapa lagi jika bukan Alisha orangnya? Dante nyaris membalas senyuman Alisha yang berdiri di belakang Lara andai Marcel tak menepuk pundaknya sebelum berjalan mendahului.
Sialan. Dia sudah sampai di sini sepagi ini. Mau ngapain si Marcella ini? Geram, Dante mengumpat dalam hati. Rupanya Alisha berdiri di sana untuk menyambut Marcel. Untung saja ia tidak lupa diri dan berharap Alisha tersenyum padanya. Jika tidak, maka jatuhlah harga dirinya.
"Sudah siap?" tanya Marcel pada Alisha setelah dekat. Sebelumnya ia berjalan melewati Lara dan hanya menyunggingkan senyuman tipis sebagai bentuk formalitas.
"Sudah." Alisha membalas dengan seulas senyum ceria. "Yuk berangkat," ajaknya kemudian.
"Bentar. Aku mau pamit sama Om Narendra dulu." Bukan bermaksud cari muka, tetapi Marcel hanya ingin menjalankan adab bertamu dan membawa anak orang dengan baik saja.
__ADS_1
Tentu saja Alisha menyambutnya dengan senang hati. Bahkan keduanya masuk rumah bersama dan berjalan bersisian. Melihat itu Dante hanya bisa mendengkus lirih. Sementara Lara yang menyadari kecemburuan Dante pada Alisha memilih pura-pura tak peduli, walaupun dalam hati ia ingin tertawa dan menangis dalam satu waktu.
Ketika mengantar pulang pun batin Dante masih merasa tidak tenang. Hari sudah sore. Jam sudah menunjukkan angka lima, tetapi Alisha belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sebenarnya mereka berdua ke mana sih? Masa sampai sore gini belum pulang juga! Di kampus juga mereka nggak kelihatan! Jangan-jangan mereka bukannya ke kampus, melainkan ke hotel. Dasar! Kira-kira Om Narendra tau nggak ya kelakuan anaknya di luaran sana seperti apa?
"Ya?" Dante berjingkat saat merasakan tepukan di pundak. Ia langsung menoleh ke sisi kiri, di mana Lara tengah menatapnya dengan kening yang berkerut.
"Dante. Papa nanyain kamu tuh, kok bengong aja. Kamu mikirin apa sih?" tukas Lara dengan ekspresi sebal.
"Ya Om, maaf barusan saya nggak fokus." Dante mengakui dengan wajah penuh sesal. Namun, bukannya kesal, Narendra justru menanggapi dengan senyuman lembut.
"Kita sedang membicarakan kelangsungan hubungan kalian, Dante."
"Owh, soal itu? Saya ... saya serahkan sepenuhnya sama Om Narendra aja gimana baiknya aja." Dante menyahut dengan senyuman rikuh. Walaupun sebenarnya di awal tidak bisa mendengar kata-kata Narendra dengan baik lantaran pikirannya sedang bercabang, ia memutuskan patuh lantaran terlanjur malu. Tanpa diduga, Lara dan Narendra menanggapi ucapannya dengan sorak gembira.
__ADS_1
Hah, memangnya apa yang tadi dikatakan Om Narendra? Bingung, Dante menatap ayah dan anak itu bergantian.
"Terima kasih Dante. Karena Lara ingin pertunangan kalian dipercepat, sepertinya memang nggak perlu ditunda-tunda lagi ya kan. Toh kamu sendiri sudah menyetujuinya."
Apa? Pertunangan? Bukannya tadi bilang mau ditunda nggak sih?
"Pertunangan? Dipercepat?" Tanpa sadar Dante memasang wajah blo'on.
"Iya Sayang. Kita akan secepatnya bertunangan." Lara membalasnya dengan girang.
"Saya akan menghubungi orang tua kamu untuk pembicaraan lebih serius."
Eh tunggu! Ini salah paham! Bukan gitu maksud saya, Om!
Terlambat. Sekeras apa pun batin Dante menjerit, Narendra dan Lara tak akan mendengarnya. Narendra bahkan sudah beranjak dari kursinya untuk menghubungi seseorang. Kini pria itu tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Siapa lagi jika bukan papanya?
__ADS_1
Seketika Dante bisa merasakan wajahnya memucat. Tubuhnya mendadak lemas. Demi apa pun, ia belum siap bertunangan. Apalagi dengan Lara.