Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Penguntit amatiran


__ADS_3

Alisha membulatkan bola matanya setelah mengucek berkali-kali. Ia seolah-olah sedang memastikan apa yang saat ini ia lihat.


"Lara?" gumamnya setengah tak percaya. Kali ini ia benar-benar yakin jika sosok berbaju putih itu adalah Lara. Tapi kenapa dia harus mengendap-endap? Tanpa menyalakan lampu sebagai penerangan. Dan sekarang, Lara bahkan membuka pintu rumah lalu keluar setelah menengok ke belakang.


Beruntung, saat itu Alisha cepat-cepat bersembunyi, sehingga Lara tak mendapatinya sedang mengintai.


Alisha menggeleng tak habis pikir. "Ini pasti ada yang nggak beres." Ia bergumam. "Aku harus mengikuti ke mana Lara pergi. Aku harus tau apa yang diam-diam dia lakukan di luar rumah." Gadis itu bertekad.


Tanpa pikir panjang, ia mengikuti Lara secara diam-diam. Meski masih bingung kenapa Lara pergi ke area samping rumah, tetapi Alisha tetap mengikuti. Tentunya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara dan merusak semuanya.


Alisha membelalak tak percaya melihat Lara menaiki sebuah tangga. Rupanya gadis itu sudah menyiapkan semuanya, termasuk tangga dan sebagainya untuk akses keluar dari tembok menjulang yang dibangun untuk memagari rumah mereka.


Menyimpan ponselnya ke saku baju tidurnya, Alisha melakukan apa barusan Lara lakukan. Yaitu dengan menaiki tangga untuk keluar dari pagar. Jantungnya berdetak kencang dan pikirannya tidak tenang. Antara takut jatuh dan takut ketahuan. Rupanya hal ini tidak segampang yang dibayangkan. Namun, lagi-lagi Alisha merasa tak habis pikir, bagaimana Lara bisa semudah itu melakukan? Dan entah sejak kapan.


Ia meyakini jika Lara sudah terbiasa, sebab gadis itu terlihat tenang-tenang saja. Jelas, memanjat tembok setinggi ini bukanlah perkara mudah untuk gadis dengan berpakaian rok mini seperti Lara.


Saat sampai di atas, Alisha bahkan merasa pusing melihat ke bawah. Ia lupa kapan terakhir kali main panjat-panjatan. Mungkin saat masa kanak-kanak.


Ia sengaja menurunkan kepala saat Lara seperti hendak menengok ke belakang. Menyembunyikan kepalanya di balik tembok bagian atas. Alisha memejamkan mata sambil menggigit bibir bawah. Takut jika Lara memergokinya.


Namun, ketakutan Alisha itu tak berlangsung lama, sebab sesaat kemudian Lara pergi dari sana. Mungkin karena sudah terbiasa melakukan dan selalu aman, sehingga kali ini pun ia tak merasa curiga jika ada orang yang mengikutinya.


Alisha menghela napas lega sambil mengusap-usap dadanya. Jantungnya berdebar-debar. Ia menatap punggung Lara di kegelapan, lalu buru-buru beranjak turun dari sana untuk mengejar. Jangan sampai dirinya kehilangan jejak. Beruntung, Lara tidak menggeser posisi tangga bagian luar. Entah karena lupa atau mungkin sengaja untuk mempermudahnya saat kembali nanti.


Alisha sudah berhasil menyeberangi tembok dan mulai berpijak pada tangga bagian luar. Sial, kakinya malah gemetaran. Untung ia tidak mengenakan sepatu hak tinggi. Sandal jepit rumahan setinggi satu ruas jari itu ternyata selain nyaman juga aman. Tidak licin saat dikenakan.


Ia bisa bernapas lega setelah berhasil memijakkan kaki di tanah. Kemudian buru-buru mengikuti Lara sebelum dirinya kehilangan jejak. Alisha sudah tertinggal jauh dari saudari tirinya.


Dari kejauhan, Lara terlihat berlari kecil di tepian jalan. Suasana jalan sekitar rumah mereka memang tergolong sepi. Jarak dari rumah satu dengan yang lain juga cukup jauh, mengingat ukuran rumah dan tanahnya yang luas. Namun, jarak jalan raya tak begitu jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Alisha berhenti dan bersembunyi di balik sebuah mobil ketika Lara menghentikan langkah. Namun, meski demikian mata Alisha tetap mengawasi saudarinya kejauhan. Rupanya Lara menghampiri sebuah mobil yang terparkir, kemudian berbincang-bincang dengan pengendaranya melalui kaca mobil yang terbuka.

__ADS_1


Mungkinkah mobil itu sengaja menunggunya?


Benar saja. Tak lama kemudian Lara masuk ke sana lalu mobil melaju ke arah depan. Rupanya mereka sudah janjian.


Lagi-lagi lantaran tak ingin kehilangan jejak, Alisha berniat mengikuti Lara. Tapi dengan cara apa? Ia tak membawa kendaraan.


Hey, kenapa ia lupa. Bukankah ini kota. Yang mana angkutan umum tersebar di mana-mana. Sepertinya Tuhan memang merestuinya, sebab di saat itu muncul sebuah motor dengan pengendara yang mengenakan jaket khas tukang ojek online.


Meski awalnya sempat menolak lantaran Alisha tak memesan melalui aplikasi, tetapi akhirnya tukang ojek bersedia karena ini situasinya mendesak. Alisha mengintruksikan agar pria itu mengikuti mobil yang ditumpangi Lara dengan jarak aman.


Cukup jauh mereka berkendara, hingga mobil itu menepi dan parkir di sebuah kelab malam. Sambil menatap bangunan di depannya, Alisha menggeleng tak percaya. Ternyata beginikah kebiasaan Lara? Pergi diam-diam dari rumah hanya untuk mendatangi tempat hiburan malam? Entah dengan siapa pula Lara datang, tetapi dari mobil yang digunakan jelas sekali bukan mobil milik Dante.


Tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri. Pusing. Ia merasa kasihan pada Dante yang tak tahu apa-apa. Pemuda itu dijodohkan paksa dengan gadis yang tak tahu etika. Lara benar-benar licik. Sudah menekannya untuk menjauhi Dante, tetapi masih juga mengkhianati Dante.


"Mbak."


Alisha berjingkat, lalu spontan menoleh ke arah kanan. Rupanya kang ojek online lah yang menepuk bahunya hingga ia tersadar dari lamunan.


"Ngojeknya sudah? Kalau sudah saya minta ongkosnya."


Alisha diam sejenak sembari berpikir. Setelah tahu Lara di sini ia bahkan tak terpikirkan selanjutnya akan bagaimana. Masuk atau pulang? Ia benar-benar bingung, sedangkan kang ojek terus saja mendesaknya.


Ah, dasar penguntit amatiran. Payah. Alisha membatin, merutuki dirinya sendiri.


"Gimana, Mbak? Saya buru-buru mau pulang soalnya. Istri saya udah nungguin. Rumah saya juga nggak jauh dari daerah sini."


Ah, terpaksa Alisha membayarnya. Beruntung ia yang tak sempat membawa dompet masih menyimpan uang di dalam casing ponselnya. Ternyata bermanfaat juga.


"Terima kasih ya, Mas." ucapnya setelah menerima kembalian.


"Sama-sama, Mbak. Mbak yakin mau masuk ke sana? Dengan pakaian seperti ini?" tanya kang ojek memastikan. Dan seketika Alisha menunduk melihat penampilannya.

__ADS_1


Ah benar juga. Ia hanya mengenakan setelan piyama sutra.


"Enggak kok, Mas. Saya mau pulang aja. Saya mau cari ojek lain dulu."


"Owh, gitu. Maaf ya, Mbak, saya nggak bisa ngantar."


"Nggak pa-pa, Mas."


"Itu yang Mbak ikuti tadi memangnya suami Mbak?"


Spontan Alisha menggeleng sambil tertawa. "Bukan, ih Mas. Itu saudari tiri saya."


"Owalah adeknya. Saya pikir suaminya. Berarti aman ya, Mbak."


"Aman kok, Mas."


"Kalau adeknya mending ditegur aja, Mbak. Kasihan sama masa depannya kalau yang dikunjungi tempat-tempat seperti ini."


Ah, Alisha jadi dilema. Ia bingung harus bagaimana. Satu sisi, ia sangat penasaran dengan yang Lara lakukan di dalam itu apa, tetapi di sisi lain ia juga takut ketahuan. Atau bahkan diusir oleh penjaga sebelum sempat masuk ke dalam.


Setelah berpikir beberapa saat usia ditinggalkan kang ojek, akhirnya Lara memantapkan diri untuk masuk ke dalam. Yang penting ia sudah berusaha, sedangkan untuk hasilnya ia serahkan pada sang pencipta.


Benar saja, baru berjalan mendekat saja ia sudah menjadi pusat perhatian. Sampai-sampai dua orang penjaga berpakaian serba hitam mendatanginya dengan wajah heran.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Sa-saya me-mencari adik saya," jawab Alisha terbata. Ia jadi manusia gagap tiba-tiba. Terang saja, ini tempat asing yang tak pernah terpikirkan akan ia kunjungi seumur hidupnya. Nuansa mencekam langsung melingkup sangat pekat. Padahal ia belum melihat suasana di dalam.


"Bb-boleh saya masuk?" Alisha bertanya memastikan.


"Maaf, tidak bisa. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam." Sudah Alisha duga, pia itu menjawab tegas dan dengan wajah datar. Tanpa bisa berkata apa-apa, ia hanya mendesah putus asa. Memaksa juga percuma. Pergi dari sini secepatnya itu adalah hal yang utama. Banyak mata nakal yang menatapnya dengan lapar. Padahal ia hanya mengenakan setelan piyama lengan kaki panjang.

__ADS_1


Namun, saat berbalik badan, Alisha dibuat membelalak dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_2