
"Mamaaa ...!"
Helena yang baru saja memasuki rumah dibuat terkejut oleh sambutan putrinya. Tak seperti sebelumnya yang selalu abai, kali ini Lara bersikap layaknya anak kecil yang merindukan ibunya. Gadis itu langsung berhambur memeluk begitu mengetahui kedatangannya. Sepertinya Lara memang sengaja menantinya pulang.
"Ih, tumben anak Mama jadi manja gini. Kenapa Sayang, lagi sedih ya?" tebak Helena seraya menjauhkan tubuh Lara demi bisa menatap wajahnya.
Insting seorang ibu memang tidak pernah meleset. Lara yang terlihat sedih sontak memanyunkan bibir dan mengangguk pelan. Gadis itu secara terang-terangan membenarkan.
Helena mendesah pelan, lalu menggandeng tangan Lara untuk ikut duduk di sofa. Melihat tanggapan enteng sang mama itu membuat Lara semakin kesal dan akhirnya memprotes tindakan Helena.
"Ma! Ini Lara lagi kesel, loh Ma. Kok tanggapan Mama biasa gitu?"
"Lah, terus harusnya Mama gimana?"
"Ya gimana ajalah! Panik kek. Atau ikutan sedih gitu." Memutar posisi duduk jadi membelakangi Helena, Lara melirik wanita itu dengan marah. "Lah ini, Mama malah gak ada simpatinya sama sekali. Sebenarnya Mama ini ibuku bukan sih?"
__ADS_1
"Halah, lebay." Alih-alih bersimpatik, Helena justru berkelakar. Seperti yang telah ia duga, Lara nyaris membuka mulut hendak mengomel seperti biasa saat sedang kesal, tetapi buru-buru saja ia bungkam dengan sesuatu yang Helena ambil dari kopernya. "Nih, oleh-oleh dari Bali."
Lara mendelik, Lalu memegangi paper bag kecil yang membungkus sesuatu itu. "Apa ini, Ma?" tanyanya ingin tahu dengan ekspresi biasa tanpa sedikit pun gurat marah. Secepat itukah perubahan moodnya?
"Buka aja." Bukan malas memberi tahu, tetapi Helena ingin Lara melihatnya sendiri apa isi hadiah yang ia beri.
Lara sudah hendak membuka hadiahnya, tetapi ingatannya akan wajah Dante membuatnya tak lagi berselera. Mencebik sambil menatap mamanya kesal, ia lantas mengeluarkan jurus merengeknya.
"Maaaaa! Nggak usah ngalihin kesedihan aku pakai hadiah ini, deh! Percuma! Nggak mempan! Wajah Dante terus menari di pelupuk mata, Ma, bikin aku kesel terus!" Lara menaruh paper bag-nya lagi dan menghempaskan punggung pada sandaran kursi. Helena yang melihat tingkah putrinya hanya bisa tergelak meski tak pernah meninggalkan sikap elegan.
Ingin benar-benar memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan putri kandungnya, ia mulai memfokuskan perhatian pada sang buah hati. Ditatapnya lekat-lekat sepasang bola mata milik Lara, lalu mendengarkan dengan baik curhatan putrinya dengan penuh sayang.
Sekian waktu larut dalam kehidupan glamor dan mengesampingkan urusan pribadi membuat Helena sadar telah melewatkan banyak waktu untuk tumbuh kembang putri semata wayangnya. Ia terlalu asyik dengan urusan sendiri hingga lupa jika Lara juga membutuhkan kasih sayang darinya, merindukan dirinya, meski banyak asisten rumah tangga yang mendapatkan tugas untuk merawat Lara.
Kini ia sadar, anak tetaplah anak. Lara sangat membutuhkan dirinya juga Narendra. Bukanlah uang. Bukan juga kemewahan. Ia merasa menjadi seorang ibu yang tak berguna. Sebab, setelah bertahun-tahun ia baru menyadari akan hal itu.
__ADS_1
Kesadaran Helena bukanlah datang begitu saja. Ini adalah buah dari dipertemukannya Narendra dengan orang-orang di masa lalunya.
Helena tak pernah merasakan hidup susah sejak dulu. Dengan keberadaan Alisha dan Wanda yang notabene-nya adalah istri pertama Narendra meski tanpa persetujuan orang tuanya, hal itu tak pelak membuat Helena merasa terancam.
Ia sadar, selama ini hubungannya dengan Narendra sebenarnya jauh dari kata harmonis. Tentu saja ia tak mau jika kelak Narendra ingin kembali pada Wanda dan memboyong keluarganya untuk ikut kemari. Narendra hanya miliknya sendiri. Hanya milik Helena! Dan sejak saat itu ia berusaha membenahi diri.
Sementara itu di tempat lain, Narendra yang tengah berdiri menghadap dinding kaca, tampak termenung sembari menatap pemandangan ibu kota dari lantai teratas gedung pencakar langit tempatnya berada. Sudah lebih lima menit ia dalam posisi itu, berdiri tegap dengan jemari menelusup ke saku celana.
Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar, menyusul sosok Jonathan masuk ke dalam. Seperti sudah bisa menebak siapa yang datang, Narendra bertanya tanpa menoleh ke belakang.
"Sudah kau dapatkan apa yang kuminta?"
"Sudah, Tuan. Anda bisa melihatnya sekarang." Jonathan menunjukkan amplop coklat berukuran besar di tangan saat Narendra berbalik badan. Ia lantas menyodorkan benda itu setelah Narendra menempati kursi kebesarannya.
Tanpa ragu Narendra membuka isi amplop itu. Giginya menggemertak saat melihat satu persatu lembaran itu. Menggemaskan kembali kertas bergambar itu ke atas meja kerja, tangannya tanpa sadar mengepal kuat. Meski tak mengucapkan sepatah kata, terapi raut wajahnya menyiratkan kemarahan yang amat besar.
__ADS_1
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Jonathan yang menyadari perubahan air muka sang bos besar sontak bertanya khawatir seraya maju satu langkah. Namun, tangan Narendra yang terangkat sudah cukup mengatakan jika pria itu baik-baik saja.