Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Sosok di kegelapan


__ADS_3

"Dante. Kamu nggak pa-pa?" Sena bertanya cemas pada Dante yang terlihat shock. Wajah putih pemuda itu memucat dan bibirnya sedikit ternganga seperti tak percaya setelah mendengar semua ceritanya. Ia memang terpaksa bercerita kendati Alisha minta dirahasiakan. Tentu saja demi menghindari kesalahpahaman antara keduanya.


Dante mengusap wajahnya kasar. Ada sejejak penyesalan yang teramat di sana. Ia menghembuskan napas kasar sebelum menjawab pertanyaan Sena. "Aku baik-baik saja."


Sena menghela napas lega. "Syukurlah." Ia kemudian menatap diam pada Dante yang bersandar sambil mengatupkan kelopak mata. Dahinya berkerut, sementara rahangnya tampak mengetat.


Mengubah posisinya dengan gusar, Dante menutup wajahnya lalu mengerang. "Astaghfirullah. Apa yang udah gue lakukan. Bisa-bisanya gue mikir negatif tentang Alisha."


"Namanya juga nggak tau, Dan," sahut Sena menenangkan.


"Tapi aku udah jahat banget sama Alisha, Sen. Pemikiranku terlalu picik. Aku buru-buru men-judge dia hanya dari yang terlihat di mataku saja. Padahal Alisha nggak seperti itu! Aku bahkan tadi udah nguji dia lebih jahat lagi. Astaga ... aku nggak yakin dia bakalan maafin aku."


Dalam diamnya, Sena makin dibuat trenyuh oleh mata Dante yang berkaca-kaca. Ia bisa pastikan jika Dante sangat tulus terhadap Alisha dan menyesali perbuatannya. Namun, jika Alisha sudah terlanjur kecewa, ia pun ikut ragu gadis itu akan memaafkan Dante.

__ADS_1


Memang sih, selama ini Alisha sudah berusaha sabar. Ia juga gadis yang baik dan penyayang. Akan tetapi, bukankah kesabaran manusia itu juga ada batasnya? Begitu juga dengan Alisha.


Namun, lagi-lagi penyesalan Dante membuatnya semakin merasa iba. Ia juga tahu jika Alisha masih menyimpan rasa. Menyudutkan Dante atas kesalahannya hanya akan memperburuk keadaan.


Maka, inilah gunanya dia ada di sini. Selain menjadi pendengar yang baik dan menyampaikan fakta secara terang-terangan, ia juga perlu mendukung Dante agar hubungan percintaan sahabatnya berjalan lancar. Ia ingin melihat Alisha bahagia.


"Jangan hilang semangat gitu dong, Dante. Kamu itu belum berusaha, masa udah mau nyerah aja. Alisha itu cewek yang baik. Aku yakin dia bakal maafin kamu asal kamu benar-benar minta maaf."


"Andai aja aku nggak gegabah, Sena. Tinggal selangkah lagi aku akan beri Lara pelajaran." Dante mengurut keningnya yang terasa pening. "Entah gimana ceritanya sampai-sampai aku nguntit Alisha dan Marcel yang ke hotel waktu itu. Coba, bayangin aja jika kamu jadi aku! Lihat cewek yang kamu cinta pergi ke hotel berdua sama cowok lain. Pasti mikirnya mereka check-in kan? Mana aku tau kalau ternyata mereka cuma ketemuan sama teman Marcel yang dari luar negeri itu."


Dante hanya bisa mengangguk pasrah. Ini salahnya. Dan ia harus segera memperbaikinya.


***

__ADS_1


Hari sudah beranjak malam saat Alisha memutuskan keluar kamar. Menangisi hal yang tak penting ternyata cukup menguras tenaga. Tiba-tiba ia kehausan dan tenggorokannya kering kerontang. Sementara air mineral stok di kamarnya juga habis tak tersisa.


Keadaan rumah sudah gelap gulita, pertanda para penghuninya sudah naik ke peraduan. Padahal jam baru menunjuk angka sepuluh malam.


Alisha sebenarnya takut gelap, tetapi demi tak mengusik penghuni lain ia memutuskan pergi ke dapur dengan bantuan senter ponsel sebagai penerangan. Sebisa mungkin juga ia tak menimbulkan suara agar tak ada yang terjaga.


Alisha merasa lega setelah menghabiskan setengah botol dingin air mineral. Ia berniat kembali ke kamar sambil membawa sisa minumannya. Hari ini sepertinya ia akan terjaga hingga larut malam. Wajah Dante selalu menari-nari di pelupuk mata, dan itu benar-benar menyiksanya.


Saat hendak menaiki tangga, Alisha dikejutkan dengan seseorang yang mengendap-endap di bawah cahaya remang-remang lampu hiasan. Ia spontan menghentikan langkah lalu sembunyi agar tidak ketahuan.


Seketika suasana ruangan itu terasa mencekam. Badan Alisha mendadak panas dingin dan bulu kuduknya terasa meremang. Memangnya siapa yang bergentayangan malam-malam begini? Mungkinkah itu hantu? Ataukah maling yang menginginkan sesuatu?


Alisha tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa dilema. Ia memang bisa dibilang gadis mandiri. Namun, jika berhadapan dengan hantu ia pasti takut sekali. Kepada maling juga begitu. Bagaimana jika ia nanti diserang?

__ADS_1


Dari tempatnya bersembunyi, Alisha bisa melihat sosok itu berjalan mengendap-endap mendekati pintu. Alisha bisa melihat rambutnya tergerai ke belakang. Tanpa diikat dan pakaiannya warna putih terang.


Namun, yang membuatnya meras aneh adalah ketika pintu itu dibuka. Kenapa setan harus membuka pintu sedangkan sejatinya setan itu bisa menghilang?


__ADS_2