Harga Sebuah Kesucian

Harga Sebuah Kesucian
Pertemuan Dante dengan Sena


__ADS_3

Dante menatap nanar punggung Alisha yang bergerak menjauhinya untuk masuk ke dalam rumah. Boro-boro mendapatkan ucapan terima kasih setelah mengantar pulang. Atau paling tidak senyuman manis dan lambaian tangan. Gadis itu bahkan tak mau bicara di sepanjang perjalanan.


Dante merasa kesalahannya kali ini sangatlah fatal. Jika Alisha saja sampai tak mau menatap wajahnya, maka mendapatkan maafnya adalah sebuah kemustahilan.


"Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya, Al?" lirih Dante tanpa mengalihkan pandangan. Ia masih duduk di belakang kemudi tanpa mematikan mesin mobil. Memandangi Alisnya yang berjalan setengah berlari. "Aku pengen kita baikan. Aku pengen kita sama-sama kayak dulu. Andai kamu tau tahapan kita untuk bersama hanya tinggal selangkah lagi ...."


Dante menghela napas berat. Seumur hidup berada di sana pun tak akan berguna jika tidak melakukan apa-apa. Akhirnya ia memutuskan pergi setelah yakin Alisha masuk ke rumah dalam keadaan aman. Kini tugasnya hanya memikirkan cara agar Alisha mau memaafkan.


Di tengah perjalanan pulang, pandangan Dante menangkap sosok gadis di pinggir jalan. Gadis itu terlihat seperti sedang menunggu seseorang.


Dante mengurangi kecepatan dan menatap si gadis sambil menyipitkan mata. Gadis itu seperti tidak asing baginya.


"Itu bukannya Sena? Lagi ngapain dia di sana?" Dante bergumam. Tanpa pikir panjang, ia pun menghentikan mobil tepat di depan Sena lalu menurunkan kaca mobilnya. Tanpa sungkan ia menyunggingkan senyum pada Sena yang terlihat bingung. Gadis itu setengah membungkukkan badan untuk bisa melihat wajahnya.


"Dante? Kamu beneran Dante?" tanyanya setengah tak percaya.


"Iya. Kamu Sena, kan? Aku takutnya salah orang," ujar Dante ramah.


"Iya. Aku Sena." Gadis itu menjawab sambil melebarkan senyumnya. Matanya memperhatikan mobil Dante bagian dalam, dan ia memastikan jika Dante sendirian.


Dante yang menyadari itu hanya menyunggingkan senyum tanpa bicara. Mungkin Sena mengira dirinya bersama Alisha.


"Kamu mau ke mana, Dan? Kok berhenti di sini?" tanya Sena dengan wajah penasaran. Ia tak menyangka jika Dante yang kaya raya ternyata masih mengingatnya. Benar-benar pemuda yang luar biasa.


"Aku tadinya mau pulang. Tapi pas lihat kamu di sini, entah kenapa pengen menghampiri."


Sena tersenyum malu-malu mendengar penuturan Dante. Kemudian ia pun mendengarkan saat Dante melanjutkan bicara dengan melontarkan pertanyaan.


"Kamu sendiri mau ke mana?"


"Oh, aku? Aku sebenarnya mau jalan sama teman. Tapi sampai jam segini belum datang."


"Janjian ketemuan di sini?"


Sena mengangguk.


"Kenapa nggak jemput ke rumah kamu sekalian aja?" Dante bertanya heran. Ia berpikir teman Sena tak berakhlak. Membiarkan gadis itu menunggu lama berdiri di pinggir jalan.


"Aku tadi habis dari sana, jadi sekalian aja minta jemput di sini. Gitu," jelas Sena. Ia menunjuk sebuah bangunan kafe ketika mengatakan kata 'sana'. "Tapi ini udah dua jam lebih aku nunggu. Sepertinya dia nggak jadi datang deh."


Kasihan. Dante membatin melihat wajah murung Sena.

__ADS_1


"Aku antar ke tempat janjian mau nggak?" tawar Dante tulus. "Dari pada nunggu di sini lama-lama."


Seketika wajah murung Sena berubah semringah. "Beneran? Nggak ngerepotin, nih?" tanyanya memastikan.


"Sama sekali nggak kok."


"Iya. Mau deh. Kapan lagi numpang mobil mahal ya kan." Sena tertawa sambil membetulkan selempang tas mungilnya. Ia segera masuk ke mobil setelah dibukakan pintu oleh Dante. Sekalian, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Dante tentang Alisha.


"Makasih banyak ya, Dante. Jadi ngerepotin kamu, nih."


"Ah, nggak ngerepotin kok," balas Dante ramah. Pemuda itu pun mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berhubung ia tidak tahu tempat yang dituju Sena, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya. "Oh iya, kalian mau ketemuan di mana?"


"Nggak jadi ketemuan aja deh, Dan. Aku mau pulang aja. Udah terlanjur kecewa aku sama dia." Sena menjawab kesal saat mengingat temannya, dan hal itu membuat Dante tergelak.


"Temen ya?"


"Bukan."


"Terus?"


"Klien."


"Kayaknya aku di PHP-in deh. Untung ada kamu yang mau ngantar aku." Sena menoleh pada Dante dan kemudian tersenyum kecut. Ia merasa terselamatkan berkat kebaikan pemuda itu.


"Lain kali hati-hati kalau mau terima job dari klien yang belum dikenal. Takutnya malah ngerugiin kamu."


Sena menghela napas berat. "Iya Dan. Tadinya aku kira dia bisa dipercaya."


Dante menanggapi keluhan Sena dengan senyuman. Ia diam sejenak, kemudian memanggil Sena dengan sangat hati-hati.


"Sen."


"Ya."


"Kamu nggak berniat pengen alih profesi? Plis, jangan tersinggung ya. Maksud aku kerja sewajarnya gitu. Seperti orang-orang pada umumnya. Memangnya kamu nggak berniat bangun rumah tangga? Kamu nggak mungkin selamanya akan gini terus, kan?"


Sena menunduk penuh sesal mendengar kata-kata Dante. "Sebenarnya aku pengen hidup normal kayak yang lainnya, Dan. Tapi gimana lagi, aku nggak ada keahlian lain."


Sena menjeda ucapannya sambil mengembuskan napas berat. "Aku udah coba lamar kerja sana-sini, Dante. Tapi belum ada panggilan sama sekali. Bahkan ada yang langsung tolak. Ijazahku hanya lulusan SMP. Sedangkan yang mereka cari adalah lulusan sarjana. Sangat jauh, kan?"


Dante tersenyum penuh pengertian. "Aku bisa kok, bantu kamu cari kerjaan."

__ADS_1


"Ah, yang bener." Sena tertawa meragukan. Namun, seketika ia merasakan angin segar dan sebuah harapan besar. Jujur, sudah lama ia ingin meninggalkan lembah hitam, tetapi dunia seperti tidak pernah berpihak kepadanya. Dan sekarang, jika Dante sudah memberikan penawaran bantuan, bisakah dia menolaknya. Secara, Dante adalah anak orang kaya. Sudah pasti pemuda itu memiliki kuasa atas perusahaan orang tuanya.


Langsung terbayang sesuatu yang indah di benak Sena. Pekerjaan bagus. Teman banyak. Bos pengertian. Syukur-syukur ada yang tulus cinta dia. Dan yang penting, ia tak dipersulit saat proses lamarannya. Ia tak berharap muluk. Yang penting pekerjaan dengan gaji halal yang sesuai dengan pendidikannya. Bukankah setelah menikah nanti tanggung jawabnya akan beralih pada suaminya?


"Iya bener. Papaku ada pabrik besar yang memperkerjakan ribuan orang. Nggak perlu ijazah untuk masuk ke sana. Yang penting punya skill dan pekerjaan keras. Kalau memang belum bisa, calon karyawan bisa ikut training dulu."


"Aku mau, Dante! Aku mauuu!" Sena menjerit antusias. Ia bahkan sampai mengguncang lengan Dante saking senangnya.


"Iya, iya. Nanti aku bilangin ke HRD sana."


"Oke," ujar Sena dengan wajah semringahnya. Keduanya pun ngobrol santai mengenai pekerjaan. Hingga, Sena yang tak bisa menahan diri akhirnya menyinggung nama Alisha. "Dan, Alisha apa kabar? Pasti kalian sering ketemuan, kan?"


"Iya. Lumayan sering. Kalau kamu sendiri gimana? Masih berhubungan baik sama dia?" ujar Dante yang kemudian dilanjutkan dengan balik bertanya.


"Masih dong. Tiap hari kami chatting dan teleponan. Kami sering cerita-cerita. Alisha itu bukan tipe manusia macam kacang yang lupa kulitnya setelah bahagia. Sayangnya kegiatan dia masih padat. Kuliah dan les privat. Saat libur nanti kita janji bakal ketemuan."


Dante tersenyum mendengar cerita Sena. Kadar kekagumannya pada Alisha kian bertambah saja.


"Kamu sendiri gimana, Dan. Masih mau lanjut tunangan sama Lara?"


"Entahlah, Sen. Aku bingung."


"Bingung kenapa? Kamu dalam dilema? Kamu cinta sama Lara nggak sih?"


"Sen, mungkin Alisha udah cerita ke kamu kalau aku dan Lara itu bertunangan lantaran dijodohkan. Tapi Alisha pernah cerita nggak kalau yang aku cinta adalah dia?"


Sena terdiam mendengar pertanyaan Dante. Ia bingung harus menjawab apa sedangkan Alisha minta semua ceritanya harus dirahasiakan.


"Sen, dari awal aku itu udah cinta sama Alisha. Aku udah nyatakan perasaanku sama dia. Tapi kamu tau jawaban dia apa?" Dante menatap Sena sejenak dengan wajah sedihnya sebelum kembali fokus ke jalan raya. "Dia nolak aku, Sen. Dan alasannya karena aku miskin. Padahal andai dia tahu kekayaan papaku seperti apa, dia pasti menyesal telah menolakku."


Dante diam sejenak. Tangan kanannya meraup wajah dengan gusar. Sementara itu Sena masih diam dan memperhatikan Dante dengan tatapan kasihan. Ia pun mendengarkan dengan baik ketika Dante melanjutkan lagi ceritanya.


"Aku tau, ada cinta di mata Alisha buat aku. Tapi aku nggak ngerti kenapa dia nolak aku! Aku memang nggak kriteria cowok idaman Alisha itu seperti apa. Tapi apa kurangnya aku, Sena! Aku bahkan tak mempermasalahkan masa lalu Alisha. Aku akan terima dia apa adanya, dan aku rela berikan segalanya."


"Eh, tunggu-tunggu." Sena menyela setelah mendengar kata-kata 'masa lalu' dari mulut Dante. "Maksudnya masa lalu Alisha yang bagaimana? Perasaan masa lalu Alisha baik-baik aja. Normal aja tuh."


Dante menatap Sena dengan wajah tak mengerti. Sena yang memahami perasaan Dante pun melanjutkan penjelasannya.


"Oke, Alisha memang terlahir dari ibu yang miskin karena ditinggal papa kandungnya. Tapi kamu tau sendiri seperti apa kehidupan Alisha sekarang. Dia bahkan sudah sepadan sama kamu, kan?"


"Bukan masa lalu yang itu, Sena. Tapi pekerjaan Alisha. Maaf sebelumnya, Sena. Tapi bukankah Alisha sama sepertimu juga? Bukankah dia ...."

__ADS_1


__ADS_2